
"Ayo banguunn...." Bella mengguncang tubuh Erlan yang masih tertidur lelap.
Pagi ini adalah jadwal Bella dan Erlan kembali ke rumah. Agenda honeymoon mereka berakhir kemarin. Setelah sepuluh hari berbulan madu, keduanya harus kembali karena telah berjanji pada Noah untuk menemaninya pergi ke Jerman.
Bella menepuk pipi bahkan mencubit hidung Erlan agar segera bangun. Namun, Erlan sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan segera membuka matanya. Erlan malah semakin menarik selimut dan menutupi seluruh tubuh hingga kepalanya.
Bella yang kesal malah menunggangi Erlan dan menarik selimut Erlan seraya berteriak di telinga Erlan.
"Erlaaaannn baaaanguuuunn... Kita bisa terlambat nanti." Teriak Bella.
Erlan seketika bangkit dan memutar tubuh Bella dan mengubah posisi mereka. Erlan menindih tubuh Bella dengan tangannya yang bertumpu di kasur untuk menahan berat badannya agar tak membuat Bella merasa sesak.
"Beraninya kau membangunkan macan yang sedang tidur. Sekarang rasakan akibatnya." Bisik Erlan mulai menciumi Bella.
Bella mendorong Erlan dan berusaha bangun, namun lagi-lagi tenaga Erlan yang lebih kuat membuatnya tak berdaya.
"Erlan ku mohon, hari ini kita harus pulang. Apa kau lupa kita sudah berjanji pada Noah." Ucap Bella.
"Aku tahu sayang. Hanya saja aku tidak rela bulan madu kita harus berakhir secepat ini." Balas Erlan manja seraya menciumi wajah Bella berkali-kali.
"Ayolah Erlan jangan seperti ini. Bangunlah, aku merasa sesak." Bella berusaha mendorong Erlan lagi.
Erlan bangun lalu duduk di atas ranjang, tepat saat Bella bangun dengan cepat Erlan membaringkan kepalanya di pangkuan Bella.
"Aku masih ingin berdua denganmu. Kalau kita kembali ke rumah, kita tidak akan bisa bebas seperti disini." Erlan bersikap manja dengan menciumi tangan Bella.
Bella menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Walaupun di rumah, bukan berarti kita tidak bisa bermesraan kan? Bukan berarti kita tidak bisa tidur bersama kan?" Bella mengelus kepala Erlan dengan lembut. "Bukankah aku ini sudah sah menjadi isterimu? Jadi tidak ada lagi jarak diantara kita. Kau bisa melakukan apapun padaku dimanapun tanpa memikirkan apa pikiran orang. Karena kita sudah suami istri. Tapi, dengan tanda kutip, yang kau lakukan itu tidak sampai melewati batas kewajaran seperti yang kau lakukan sekarang." Sambung Bella.
Erlan cekikikan, Bella memicingkan matanya karena tangan Erlan tengah menjamah ke dalam pakaian yang Bella kenakan.
"Tangan nakal." Ucap Bella menepuk tangan Erlan.
"Aku punya satu permintaan." Erlan kali ini berbicara sambil duduk berhadapan dengan Bella.
"Apa itu?"
"Mulai sekarang kau tidak boleh memanggil namaku secara langsung."
__ADS_1
Bella mengernyitkan dahinya.
"Apa maksudmu? Waktu itu kau yang memintaku memanggilmu Erlan. Tapi sekarang kau malah melarang ku untuk...."
"Aku ingin kau memanggilku sayang atau suamiku."
"Baiklah suamiku sayang." Balas Bella seraya mencium pipi Erlan. Hal itu membuat Erlan terlihat semakin bersemangat. Ia kembali membaringkan Bella.
"Apalagi ini? Kau mau apa?" Bella mulai terlihat kesal. "Kita harus segera pulang."
"Kita pasti akan pulang hari ini, tapi aku ingin melakukannya sekali lagi. Sebagai penutup bulan madu kita." Bisik Erlan.
Bella tak bergerak, ia membiarkan Erlan melakukan apa yang ia ingin lakukan pada tubuh Bella.
'Apa laki-laki ini tak pernah puas bermain denganku? Sepuluh hari ini hampir setiap hari melakukannya. Punggungku sampai sakit, sikapnya pun sekarang menjadi berubah manja. Aahh Erlan, sikapmu ini malah semakin membuatku jatuh cinta padamu.' pikir Bella.
*****
Di Kediaman Alexander...
Sejak hari di mana Clarissa datang memberikan Noah Kalimbas, Clarissa jadi sering datang berkunjung ke Kediaman Alexander. Meski sering menjadi bulan-bulanan Noah, Clarissa terus bertahan guna mendapatkan simpati dari Keluarga Alexander.
Meskipun begitu, Clarissa tetap saja pada tujuannya. Ia ingin menjadi Nyonya Erlan Alexander. Sedangkan Vino, ia juga hanya menikmati hubungan tanpa status yang diberikan Clarissa.
"Opaaa sore ini Mama dan Papa pulang..." Teriak Noah.
"Noah terlihat senang sekali." Balas Tuan Besar Adam.
"Tentu saja Noah senang. Sudah sepuluh hari Noah tak bertemu Mama dan Papa."
Clarissa yang memang ada di rumah itu, mendengarkan dengan baik obrolan Noah dan Tuan Besar Adam sambil terus fokus mengupas buah apel untuk Noah.
'Wah sebentar lagi Erlan pulang, aku bisa bertemu dengannya.'
Clarissa membayangkan dirinya tengah tidur di satu ranjang dengan Erlan dan melakukan hubungan badan.
'Vino si kurus itu saja bisa memuaskan aku, bagaimana dengan Erlan yang memiliki tubuh yang atletis. Waahh bahagianya jika bisa menjadi istrinya.' pikir Clarissa cengar cengir.
"Aku harus bisa mendapatkan dia." Ucapnya.
__ADS_1
"Hei Mama Clarissa kenapa malah senyum-senyum sendiri? Gila atau bahagia karena hubungan Mama Clarissa dan Om Vino berjalan baik?" Tanya Noah yang seketika membuyarkan lamunan Clarissa.
"Aaawww..." Jari Clarissa terluka karena pisau yang dipegangnya untuk mengupas apel.
"Waahh Mama Clarissa payah. Masa kupas apel saja sampai terluka begitu. Noah tidak jadi makin apel."
"Eh kenapa tidak, ini apelnya sudah dikupas bersih.," Clarissa memberikan apel itu pada Noah.
"Tidak, bisa saja apel itu sudah terkontaminasi oleh darah kotor Mama Clarissa.," Ucap Noah ketus kemudian berjalan menuju kamarnya.
'Dasar bocah nakal, awas saja jika nanti aku sudah menjadi isteri Papa mu, aku akan membuatmu menderita.'
Pukul lima sore, Bella dan Erlan tiba di rumah. Raut wajah bahagia Noah terlihat sangat jelas. Noah menceritakan apa saja yang sudah dilakukannya selama sepuluh hari tanpa kehadiran kedua orang tuanya. Noah juga me ceritakan tentang Clarissa.
"Oh ya?" Tanya Bella penasaran.
"Iya Ma, Noah bahkan diurus dengan baik. Meski Noah sering mengerjainya." Jawab Noah.
Clarissa datang dari kamar mandi dan langsung memeluk Bella. Matanya celingukan mencari sosok Erlan.
"Siapa yang kau cari?" Tanya Bella.
"Tidak Kak, aku hanya...." Ekor mata Clarissa menangkap bahwa Erlan tengah berjalan keluar rumah.
"Sebentar ya Kak, aku mau ambil charger aku di mobil."
Bella tak menghiraukan Clarissa, ia sibuk mendengar penuturan Noah sambil sesekali mencium putera kesayangannya itu berkali-kali.
Clarissa yang berpapasan dengan Erlan di teras rumah berencana pura-pura tersandung dan jatuh tepat dipelukan Erlan. Namun kenyataannya tak sesuai ekspektasi Clarissa.
Erlan justru menghindar dan membiarkan Bella terjatuh di lantai.
"Aawww sakit sekali." Ringis Clarissa.
"Ada apa denganmu? Kau tidak apa-apa? Kenapa bisa terjatuh? Padahal disini tidak licin ataupun ada benda yang bisa membuatmu tersandung." Ucap Erlan seraya berlalu meninggalkan Clarissa yang meringis kesakitan.
'Awas saja kau Erlan, sebentar lagi kau akan bertekuk lutut dihadapanku.'
Bersambung.....
__ADS_1