
Noah berhenti di depan sebuah warnet yang ia lewati saat pulang sekolah. Sejak kemarin ia mencari cara, bagaiman ia bisa bertemu dengan Erlan.
"Sepertinya aku bisa mencari tahu tentang Om Erlan lewat internet." Ucap Noah lalu masuk ke dalam warnet.
"Eh bocil, mau main PS ya?" Tanya si pemilik warnet.
"Nggak Bang. Saya mau cari informasi tentang seseorang lewat internet." Jawab Noah.
"Waah hebat juga nih bocil. Kamu sepertinya anak yang pintar."
"Biasa aja Bang." Balas Noah.
Noah lalu masuk ke bilik nomor 3 dan mulai menggunakan komputer. Sebelumnya Noah tidak pernah menggunakan komputer. Tapi Noah begitu lancar, mulai dari menghidupkan hingga mengoperasikannya ke menu pencarian.
Noah mulai mengetik nama Erlan di kolom pencarian. Tak lama beberapa wajah laki-laki tampil di layar komputer. Namun sosok Erlan yang dicari Noah lah yang paling banyak muncul.
"Bagaimana cara menghubunginya ya?" Ucap Noah.
Kemudian Erlan mengingat saat seorang teman kelasnya tengah bermain sosial media.
"Aku tahu!" Seru Noah girang.
Noah mulai membuat akun sebuah media sosial dengan data sembarangan. Kemudian ia mencari akun milik Erlan.
Tak butuh waktu lama, Noah akhirnya dapat menghubungi Erlan dengan mengiriminya pesan.
(Om Erlan, masih ingat saya tidak, saya Noah. Saya mau ketemu lagi sama Om. Kalau bisa sore ini ya di taman tempat kita ketemu pertama kali. Saya tunggu ya Om.)
"Selesai." Ucap Noah.
Setelah selesai mematikan komputer, Noah keluar untuk membayar.
"Berapa Bang?" Tanya Noah.
"Ya elah ni bocah, cuma segitu doang? Belum juga dua puluh menit."
"Nih buat abang, kembaliannya ambil aja." Ucap Noah seraya berjalan keluar.
"Woy bocil, kebanyakan nih. Cuma seribuan aja."
Noah tak menggubris panggilan si pemilik warnet. Ia melenggang pergi begitu saja.
'Semoga Om Erlan baca pesan aku.' pikir Noah.
Noah tiba di rumah pukul tiga sore. Ia kemudian langsung mandi dan berganti pakaian.
"Noah, mau kemana lagi nak?" Tanya Bella.
"Emmm . . . . Itu Mah, Noah mau latihan buat konser." Jawab Noah bohong.
"Konser?"
"Iya Mah. Gini Mah, Bu Sindy mempertemukan Noah dengan beberapa komposer terkenal. Mereka semua menawarkan Noah untuk ikut dalam konser itu, membawakan musik Noah sendiri sebagai komposer termuda." Ucap Noah menjelaskan.
Bella langsung memeluk Noah dengan erat.
__ADS_1
"Noah gak capek? Sejak pagi sudah berangkat sekolah. Pulang siang, bahkan sering sekali pulang sore. Noah sekarang sudah tidak pernah tidur siang. Sekarang malah tambah lagi kegiatannya dengan latihan." Ucap Bella mengusap kepala Noah.
"Sayang, mama bangga sama Noah. Tapi mama juga gak mau Noah lelah."
"Mama tenang saja, Noah gak capek kok. Di sekolah, kalau Noah ngantuk, Noah bisa langsung tidur kok Mah diruang UKS atau di kelas."
"Gak dimarahin?" Tanya Bella.
Noah menggeleng cepat.
"Nggak Mah, guru-guru Noah baik semua." Jawab Noah.
Bella tersenyum kemudian mencium pipi Noah. Namun dengan cepat Noah mengusap bekas ciuman Bella. Hal itu membuat Bella tertawa.
"Sudah ya Mah, Noah pergi dulu."
"Hati-hati sayang." Ucap Bella.
Sementara di tempat lain, di perusahaan Xander Group.
Di ruangan CEO, Erlan tengah menandatangani beberapa berkas.
"Tuan Muda, ada pesan masuk di akun sosial media Tuan Muda." Ucap Pak Bimo.
"Untuk apa Pak Bimo memberitahu aku tentang itu. Bukankah hal itu sudah biasa." Ucap Erlan ketus tanpa melihat ke arah Pak Bimo.
Erlan fokus menandatangani berkas-berkas yang diberikan Pak Bimo sebelumnya.
"Itu . . . Anu . . . ."
"Itu apa?" Potong Dimas. "Sudahlah pasti cuma pesan yang tidak penting." Lanjutnya.
"Noah!" Teriak Erlan seraya membuang pena yang tadi di pegang nya bergegas mendekat ke arah Pak Bimo.
"Kenapa tidak bilang dari tadi sih Pak Bimo." Ucap Erlan dengan raut wajah kesal.
'Kenapa aku selalu salah.' gumam Pak Bimo dalam hati.
Wajah Erlan berbinar saat membaca isi pesan dari Noah.
'Bocah pintar.' pikir Erlan.
"Pak Bimo, segera siapkan mobil. Sekarang juga kita menuju ke taman kota." Titah Erlan.
"Tapi Tuan Muda harus . . . ."
"Tidak ada tapi-tapian. Cepat, ikuti saja perintahku. Aku tidak menggaji mu untuk hanya berkomentar." Ucap Erlan ketus.
Di taman . . . .
Sudah setengah jam Noah menunggu, Erlan tak kunjung datang juga.
"Apa Om Erlan gak akan datang ya?" Ucap Noah. "Mana laper banget lagi. Tadi aku lupa makan. Apa aku pulang aja ya." Lanjut Noah seraya berdiri dari duduknya.
"Tapi gimana kalau Om Erlan datang?"
__ADS_1
Noah kembali duduk ke bangku taman.
Dari arah belakang, Erlan datang dan mengagetkan Noah. Refleks Noah langsung memeluk Erlan saat melihatnya.
"Noah kenapa sendiri aja?"
Kruuukk!
Erlan menatap Noah, keduanya kemudian tertawa.
"Laper ya?"
"Iya Om, cacing diperut Noah sudah minta dikasih makan." Balas Noah.
Keduanya lalu menuju sebuah Mall yang tak jauh dari taman.
"Mama kamu mana? Kenapa kami bisa sendirian nungguin Om disana?" Tanya Erlan sambil menatap Noah yang tengah fokus makan dihadapannya.
"Mama di rumah Om. Noah gak ngasih tau Mama kalau Noah mau bertemu sama Om." Jawab Noah dengan mulut yang penuh ayam goreng.
"Terus Noah bilang apa? Emang Noah gak takut dimarahin papa Noah?" Tanya Erlan lagi.
"Noah gak punya papa Om. Selama ini, Noah cuma tinggal sama Mama. Gak tau deh papa Noah itu siapa dan dimana." Balas Noah jujur.
Tiba-tiba Erlan merasa iba terhadap Noah.
"Gimana kalau sekarang Om belikan Noah ponsel. Biar Noah bisa dengan mudah menghubungi Om."
Noah terlihat berpikir.
"Kenapa? Apa Noah tidak tahu cara menggunakan ponsel?" Tanya Erlan.
"Tahu dong Om. Cuma Noah takut ketahuan Mama. Mama pasti gak akan suka Noah terima barang dari orang yang tidak dikenal Mama."
"Kalau gitu, Noah kenalin Om sama Mama Noah." Balas Erlan.
"Wah susah Om. Mama Noah itu tidak suka kenalan sama laki-laki." Ucap Noah polos.
"Kok gitu?"
"Gak tau juga Om. Udah mau malem nih Om. Anterin Noah pulang yuk."
Erlan mengangguk dan kemudian berjalan keluar caffe dengan menggandeng tangan Noah.
"Kita beli ponsel dulu ya buat kamu." Ucap Erlan, Noah hanya mengangguk.
Keduanya kemudian menuju sebuah toko penjualan ponsel. Tanpa pikir panjang, Erlan membelikan Noah ponsel keluaran terbaru.
"Untuk sementara waktu, ponsel ini Noah pakai sembunyi-sembunyi aja ya dari Mama Noah. Sampai akhirnya nanti Om bisa berkenalan sama Mama Noah." Ucap Erlan setelah membelikan Noah ponsel baru.
"Baik Om." Balas Noah. "Tapi ponsel ini mahal Om, lebih mahal dari harga sewa rumah Noah satu tahun."
Erlan tersenyum kemudian berlutut mensejajarkan tinggi badannya dengan Noah yang berdiri.
"Gak tau kenapa Om sayang sama banget kamu. Jadi Om pengen kasih yang terbaik buat kamu. Anggap aja papa ini Om kamu." Ucap Erlan spontan.
__ADS_1
Noah yang bahagia langsung memeluk Erlan.
'Aku tidak pernah melihat Tuan Muda begitu menyukai anak kecil. Kalau dilihat-lihat wajah mereka berdua memang terlihat mirip.' pikir Pak Bimo yang sedari tadi mengikuti Erlan dan Noah.