NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Hasil Tes DNA


__ADS_3

Beberapa hari berikutnya hasil tes DNA pun keluar. Pihak rumah sakit menghubungi Erlan, dan menyatakan bahwa Noah memang benar anak kandung dari Erlan.


Hal itu membuat Erlan begitu bahagia, hingga tak dapat menyembunyikan kesenangannya. Ia yang tengah berada dalam ruangan rapat berteriak kegirangan.


"Yeaaahhh....." Teriak Erlan.


Semua orang didalam ruangan itu memandang Erlan dengan heran. Namun saat Erlan menatap mereka semua, dengan cepat semua orang menunduk.


"Meski aku tidak suka dengan hasil kerja kalian hari ini. Tapi karena hatiku sedang senang hari ini, aku akan memaklumi semua hasil kerja kalian. Silahkan keluar ruangan ku dan satu hal lagi." Ucap Erlan dengan raut wajah sumringah.


"Pak Bimo, hari ini juga beri bonus untuk setiap karyawan yang memiliki anak. Tak terkecuali para OB." Lanjut Erlan. "Setelah itu pergilah ke rumah sakit untuk mengambil data yang aku katakan."


"Baik Tuan Muda." Ucap Pak Bimo.


*******


Siang hari, saat jam makan siang, Erlan memutuskan untuk pergi ke sekolah Noah untuk menjemputnya.


Keduanya kemudian tiba di rumah saat Bella tengah sibuk melayani pembeli tanaman hiasnya.


Dua orang ibu-ibu yang tengah membeli tanaman hias, menatap Erlan dengan terpesona.


"Mba Bella, itu siapa? Tampan sekali, persis seperti artis sinetron. Eh bukan-bukan, dia lebih ganteng malah." Ucap salah seorang ibu-ibu.


Erlan yang mendengar ucapan itu, berjalan mendekat ke arah mereka sambil menggandeng tangan Noah.


"Halo semuanya, perkenalkan saya Papa nya Noah." Ucap Erlan penuh percaya diri.


"Wah pantas saja terlihat mirip dengan nak Noah."


'Apa-apaan sih dia? Pakai acara memperkenalkan diri sebagai Papa nya Noah lagi.' pikir Bella.


Setelah ibu-ibu itu pergi, Erlan dan Bella duduk di ruang tamu sementara Noah tengah menulis di kamarnya.


Erlan lalu mengeluarkan sebuah amplop dari dalam jasnya. Lalu memberikannya pada Bella.


"Bacalah!" Titah Erlan.


Dengan pelan Bella membuka amplop itu lalu membacanya.


"Seperti yang kamu baca itu, rumah sakit sudah membuktikan bahwa Noah memang anak kandungku. Untuk itu aku...."


"Sudah ku katakan, kau tidak boleh mengambilnya dariku." Teriak Bella tiba-tiba.


"Hadeh, bertengkar lagi." Ucap Noah yang mendengar teriakan Bella dari dalam kamar.


Noah lalu mengambil headset nya lalu memutar musik ditelinganya.

__ADS_1


"Sekarang aman." Celetuk Noah.


Sementara di ruang tamu, Bella masih saja terisak. Erlan tetap berupaya menenangkannya.


"Jangan pernah berpikir untuk mengambil Noah dariku. Dia anakku, satu-satunya keluargaku." Isak Bella.


"Bella dengarkan aku dulu...."


"Tidak. Aku tidak mau. Yang jelas aku tidak akan mengizinkanmu untuk membawa Noah pergi dariku. Huuu...."


"Bella...." Teriak Erlan dengan raut wajah emosi, spontan Bella langsung terdiam.


Erlan menarik dan membuang nafasnya dengan perlahan.


"Dengarkan aku dulu." Ucap Erlan dengan suara lembut memegangi wajah Bella agar mau menatapnya.


"Sudah ku katakan sebelumnya, bahwa aku tidak akan mengambil paksa Noah darimu. Aku tidak akan membawa dia pergi kemanapun tanpa izin darimu. Aku tidak akan membawa dia untuk menemui Papa ku tanpa ada kau disampingnya." Ujar Erlan dengan raut wajah yang serius.


"Bella berikan aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku benar-benar mencintaimu. Terimalah cintaku, menikahlah denganku, agar keluarga kita lengkap. Dan aku akan langsung memboyongmu dari tempat ini ke kediamanku." Lanjut Erlan.


"Aku perlu waktu." Balas Bella.


"Maka aku akan menunggumu, sampai kapanpun."


Setelah itu, Erlan kemudian mohon diri untuk pulang seraya mencium kening Bella dengan hangat.


Bella tak lagi mampu menghalangi perlakuan lembut Erlan padanya.


*******


"Papa ikut bahagia untukmu Erlan." Ucap Tuan Adam.


"Kalau begitu Papa harus membatalkan perjodohan ku."


"Tentu saja, Papa akan segera menghubungi Pak Indra sekarang juga."


"Terima kasih Pa."


Malam harinya Pak Indra datang ke kediaman keluarga Alexander.


"Sepertinya ada suatu hal yang penting sehingga Tuan Adam sampai meminta saya untuk datang kemari." Ucap Pak Indra.


"Sebelumnya aku mau minta padamu Pak Indra. Ini mengenai perjodohan anak kita." Balas Tuan Adam.


"Saya mengerti Tuan Adam. Nak Erlan pasti menolak untuk dijodohkan dengan Clarissa. Saya sangat mengerti Tuan."


"Aku sebenarnya merasa tak enak padamu Pak Indra. Tapi seperti yang kau lihat, Erlan sejak awal sudah mengatakan bahwa dia sudah mempunyai pilihannya sendiri. Dia tetap memilih untuk menolak perjodohan yang telah kita sepakati."

__ADS_1


"Sebenarnya ini bukan salah nak Erlan. Anak-anak kita memang berhak memilih pasangan hidup mereka masing-masing."


"Kau benar Pak Indra, mereka berhak memilih dengan siapa mereka akan hidup di masa depan. Hanya saja aku merasa tak enak hati dengan mendiang isteriku yang meminta perjodohan ini terlaksana. Dia bersahabat baik dengan mendiang isteri pertama Pak Indra. Aku bahkan masih ingat, bagaimana sedihnya dia saat mendiang isteri pertama Pak Indra meninggal." Ujar Tuan Adam.


Memori tentang kepergian Mama Bella kembali diingat Pak Indra.


Mama Bella memang bersahabat sangat baik dengan Mama Erlan. Keduanya begitu dekat, bak saudara kandung. Hingga pada akhirnya Mama Bella meninggal saat melahirkan Bella.


Mama Erlan begitu terpuruk, ia berjanji pada Mama Bella bahwa ia akan merawat Bella dengan baik, dan kelak di masa depan ia akan menikahkan Bella dengan Erlan yang saat itu masih berusia tiga tahun.


Air mata Pak Indra menggenang, mengingat bahwa ia tidak bisa menjadi Papa yang baik untuk Bella. Ia tak bisa menjaga buah cinta pertamanya dengan baik.


"Aku minta maaf Pak Indra." Ucap Tuan Adam membuyarkan lamunan Pak Indra.


"Tidak perlu minta maaf Tuan Adam. Anda tidak bersalah sama sekali." Balas Pak Indra.


********


Matahari mulai terbenam, membuat hari mulai terlihat gelap. Rintik hujan semakin membuat suasana malam semakin dingin.


Di depan rumah Bella, Erlan berdiri dengan pakaian yang basah kuyup. Erlan kemudian mengetuk pintu rumah Bella perlahan.


"Kamu kenapa bisa basah kuyup seperti ini?" Tanya Bella.


'Hachuuuu....'


Erlan mulai bersin-bersin dan terlihat menggigil.


"Ayo masuk, keringkan tubuhmu dulu." Ucap Bella seraya menggandeng Erlan masuk ke dalam rumah.


"Papa kenapa Ma?" Tanya Noah yang tengah duduk menonton televisi.


Bella sudah memberitahu Noah tentang hasil tes DNA yang dilakukannya bersama Erlan.


"Jadi Noah boleh panggil Papa Erlan dengan sebutan Papa, tidak perlu menyebut nama lagi. Waah senangnya." Ucap Noah kala itu.


"Papa kehujanan sayang, tolong ambilkan handuk untuk Papa di lemari itu ya." Perintah Bella.


"Siap Ma." Balas Noah.


Bella bergegas menuju kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk Erlan.


"Masuklah ke kamar mandi, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu." Ucap Bella.


"Terima kasih." Balas Erlan.


Bella lalu meninggalkan Erlan masuk ke kamarnya, begitu juga dengan Noah.

__ADS_1


"Pah, Noah masuk ke kamar dulu ya." Ucap Noah dibalas anggukan oleh Erlan.


'Rencanaku berhasil, tidak sia-sia aku hujan hujanan tadi.' pikir Erlan tersenyum licik.


__ADS_2