NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Bandara


__ADS_3

Di bandara kota XXX.....


Mungkin bagi sebagian orang, bandara hanyalah sebuah tempat umum untuk datang dan pergi. Datang dari satu kota ke kota lain, dari negara satu ke negara lain. Atau, pergi dari satu kota ke kota lain, dari negara satu ke negara lain. Sebagian lainnya memaknainya hanya sebagai tempat transit, sebatas tempat tunggu untuk menuju satu kota ke kota lain, dari negara satu ke negara lain.


Bandara bisa jadi tempat yang mengantarkan dari kegembiraan satu ke lainnya. Atau, yang seperti lebih sering di rasakan, dari kesedihan satu ke kesedihan lainnya. Sementara di dalam pesawat, jendela adalah magnet yang membuat siapa saja mendadak sendu, sedih.


Kurang lebih seperti itu salah satu ritme kehidupan manusia urban. Beberapa dari mereka mungkin sudah menghabiskan setengah hidupnya untuk mondar-mandir di bandara. Menggeret koper, selalu takut terlambat, dan mengular di antrian bagasi adalah keseharian di luar kepala.


Tapi tidak bagi seorang Sherly yang punya jiwa petualang tingkat akut. Saking akut nya kalau bisa tinggal di bandara mungkin dia akan pindah dan buat rumah di dalam bandara. Ia bisa jadi mendirikan tenda kecil atau memanfaatkan satu sudut yang sepi untuk berdiam lama-lama. Ia bisa menghabiskan waktu mendengar derap orang lewat, bersama roda kecil yang terus berdecit.


'Toh, bandara tidak pernah tidur, selalu ada suara di sana.' ucap Sherly dalam hati.


Bandara menjadi pelarian bagi Sherly dari rumahnya dulu. Setiap kali pergi ke Bandara atau hanya sekadar lewat bandara, Sherly merasa ada angin segar yang lewat di depan wajahnya. Wajahnya mendadak sumringah. Seperti ada suara malaikat yang menenangkan dirinya.


Sherly sudah pergi ke banyak bandara. Mulai dari bandara di kota-kota besar yang nyaman dan wangi, sampai bandara untuk pesawat perintis di antah berantah sudah ia singgahi. Semua bandara mempunyai kenangan tersendiri bagi Sherly. Namun, yang membuat Sherly pertama kali merasakan getaran itu adalah adalah Bandara kota XXX Terminal 3 ini. Pilihannya spesifik pada terminal ini. Bukan karena didominasi penerbangan internasional. Terminal 3 adalah tempat yang membuat dia berkata “Ok, i like this place.”


Bukan hanya menyukai Bandara nya. Hal lain juga karena Sherly menyukai seseorang yang tinggal di kota dimana Bandara ini terletak. Sejak dulu, Sherly memang sangat menyukai Bandara karena memang sejak orang tuanya masih hidup, Sherly sering bepergian dan singgah di berbagai Bandara.


Pagi ini, dengan outfit kaos polos putih, jeans biru, jaket, dan sepatu sneaker kesayangan warna putih dan pink, Sherly membawa koper silver nya masuk ke dalam bandara. Seperti hafalan di luar kepala, ia menunjukkan tiket dan boarding pass ke petugas, kemudian menaruh koper dan tas ransel ke mesin x-ray barang. Ia sengaja tidak memakai aksesoris yang akan membuatnya sibuk di depan mesin pemindai metal.


Sambil mendorong koper, Sherly berjalan menyusuri setiap lantai menuju ke ruang tunggu penumpang. Hiruk pikuk bandara, keresahan, kecemasan, keribetan, dan kegembiraan penumpang yang hendak datang atau pergi adalah peristiwa yang lazim di bandara.

__ADS_1


Sementara itu, telinganya juga menangkap berbagai bebunyian yang ada di bandara. Suara karyawan restoran menawarkan produk, suara petugas yang memanggil penumpang untuk segera naik ke pesawat, juga suara penumpang yang protes kenapa koper mereka tidak bisa masuk ke kabin. Yang terakhir cukup sering terdengar.


Di ujung mata, terlihat seorang penumpang berlari ke ruang tunggu karena ketinggalan pesawat. Awalnya Sherly mengira sosok pria yang berlarian itu adalah Noah.


"Ah, mana mungkin dia mau mengejar ku kemari." Ucap Sherly.


Pemandangan seperti itu, memang sering terlihat di penerbangan pertama, pagi-pagi buta. Atau, kepanikan penumpang yang lupa membawa identitas, dan penumpang yang salah lihat jam keberangkatan adalah hal-hal yang sering terjadi di bandara. Tempat keberangkatan begitu besar dan setiap hari diisi oleh kepanikan dan ketergesaan. Sementara tempat kedatangan biasanya tidak begitu megah, tetapi sesak oleh senyum dan raut wajah bahagia. Entah bagaimana ceritanya bandara menjadi tempat mengantar panik dan ketergesaan dan menyambut raut wajah gembira.


Namun, justru itu yang membuat Sherly menyukai tempat ini. Meskipun ia nyaris selalu terbang sendirian, tapi ia bisa merasakan kesedihan dan kebahagiaan melalui orang-orang di sekitarnya.


Sherly selalu menyukai aroma khas roti rasa kopi yang menyeruak di lorong-lorong, di hidung orang yang tergesa-gesa. Ini adalah hiburan tersendiri untuk hidungnya.


Beberapa lainnya memilih berbincang dengan penumpang lain, walau hanya sekadar bertanya “Mau kemana Mbak, Mas?”, “Pesawatnya apa Mbak, Mas?”, “Pesawat XXX bener ke sini ya Mbak, Mas?”, ”Berapa lama Mbak, Mas ke sananya?”


Setiap Sherly berada di bandara, ia merasa seperti sedang berperan sekaligus melihat sebuah film dengan berbagai potongan gambar dengan ekspresi aktornya. Ia menikmati semua itu dan merasa benar-benar menjadi dirinya. Itulah awal bagaimana seorang Sherly sangat menyukai bandara.


"Ayo berangkat." Ucap pria yang tak lain adalah Pak Andre yang dari tadi memang ikut bersama Sherly.


Keduanya pun berjalan menuju pesawat yang akan membawa mereka ke kota sebelah. Setelah itu, Sherly akan segera di deportasi.


****************

__ADS_1


Sebuah mobil sporty warna kuning menyala, berhenti di area parkir bandara. Seorang pria yang masih mengenakan pakaian pengantinnya berlarian masuk ke dalam bandara. Ia tak memperdulikan pandangan aneh dari orang-orang yang melihatnya.


Noah tahu, ini adalah tindakan bodoh pertama yang ia lakukan. Entah ada dorongan apa yang membuatnya berani mengambil jalan seperti ini. Mencari Sherly di tengah hiruk pikuk penumpang lain di bandara. Kini Noah bisa mengerti alasan yang dilakukan beberapa aktor dan aktris saat mengejar kekasih mereka di bandara. Sementara Noah sendiri tidak mengerti maksud dirinya berada di bandara ini.


'Apakah ini jalan yang aku inginkan?' tanya Noah dalam noah dalam hati.


Matanya terus berpendar ke seluruh area ruang tunggu dan ruang check-in bandara. Namun tidak ada satu orang pun yang dia kenal berada di bandara ini. Noah tahu bahwa dirinya sangat bodoh kali ini, karena mengejar seseorang yang jelas-jelas sudah pergi dari bandara ini sejak pagi tadi.


'Tapi hati ini menginginkan aku untuk terus mencarinya.'


Di tengah keputusasaan, entah bagaimana ceritanya air mata Noah tiba-tiba jatuh menerjuni pipinya. Kini Noah resmi menangisi kepergian gadis itu. Menangisi rasa yang mulai dapat diterima oleh logikanya. Menangisi hati yang terlambat berkompromi dengan logika.


'Tapi percuma. Semua sudah terlambat. Bagaimanapun aku mencoba menerima rasa ini, tidak akan mengembalikan Sherly padaku lagi. Tidak akan.'


Noah menutup matanya, menahan rasa sakit yang lebih sakit daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya. Noah berharap rasa sakitnya akan hilang seketika. Namun, apa yang terjadi? Rasa sakit Noah justru kian mendera. Noah mendekap kan kedua tangannya untuk menahan rasa sakit akan kehilangan seseorang yang ternyata diam-diam sudah mengisi relung hatinya.


Noah membuka mata sambil melihat sekeliling. Lalu lalang penumpang dengan wajah sibuk mereka, membuat Noah menyadari satu hal, bahwa ia harus pergi meninggalkan tempat ini.


'Sia-sia saja mencari seseorang yang sudah pergi dan tak akan kembali lagi.'


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2