NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Tragedi


__ADS_3

Berita pernikahan Noah dan Sherly menjadi tajuk berita di media massa. Berita itu pun sampai ke telinga Clarissa. Ia marah besar karena puterinya gagal melakukan apa yang ia inginkan. Hari itu juga, Clarissa memutuskan untuk meninggalkan Rusia.


Clara yang tengah makan siang bersama dengan Jimmy melihat nomor baru menelepon ke ponselnya.


"Siapa?" Tanya Jimmy.


Clara hanya mengangkat bahunya.


"Halo." Ucap Clara.


"Hei anak bodoh. Kau dimana sekarang?" Terdengar suara seorang wanita diseberang telepon.


"Mama...." Ucap Clara.


"Mama sekarang di bandara kota X. Kau cepat kemari. Mama akan melakukan apapun untuk menggagalkan pernikahan si penerus Alexander itu." Ucap Clarissa lalu memutuskan sambungan telepon.


Clara mematung. Ia tak menyangka bahwa Mama nya akan senekat ini, bahkan sampai terbang dari Rusia.


"Hei, ada apa?" Tanya Jimmy yang melihat Clara melamun.


"Mama.... Mama mau bertindak. Aku tidak bisa membiarkan Mama melakukannya. Mama itu nekad Jim. Ayo cepat, sekarang juga kita harus ke kota X. Aku tidak mau Mama melakukan hal bodoh yang akan merugikan Mama sendiri." Jawab Clara.


"Baiklah. Ayo bersiap-siap. Aku harus menelepon Noah dulu untuk memperingatinya." Balas Jimmy.


Clara dan Jimmy lalu bergegas kembali ke apartemen Clara untuk menyiapkan pakaian yang harus ia bawa ke kota X. Sementara Jimmy sendiri memang berencana akan mengajak Clara berangkat besok ke kota X, guna menghadiri acara pernikahan Noah dan Sherly.


Jimmy sudah menelepon Noah. Dan Noah menjawab dengan santai, "tidak ada yang perlu kau khawatirkan.'


Tepat saat Jimmy dan Clara menuju bandara. Ponselnya kembali berdering, menampilkan nomor ponsel yang tadi digunakan Clarissa.


"Iya Ma. Ada apa? Aku udah jalan ke bandara nih." Ucap Clara.


"Halo selamat siang. Maaf, apa anda adalah anggota dari keluarga pemilik ponsel ini?" Tanya seorang pria.


"I-iya. Sa-ya anaknya. Ada apa? Ini siapa ya?" Tanya Clara dengan perasaan gugup. Ia merasa ada yang tidak beres.


"Mohon maaf. Tolong anda segera menuju rumah sakit di kota X. Taxi yang ditumpangi ibu anda mengalami kecelakaan. Dan dengan sangat menyesal saya katakan bahwa ibu anda sudah meninggal dunia di lokasi kecelakaan." Ucap pria yang tak lain adalah anggota kepolisian yang menangani kasus kecelakaan tunggal yang menimpa Clarissa.


Brukk...!!!


Ponsel Clara jatuh begitu saja. Dia berteriak dan menangis sejadi-jadinya membuat sopir taxi yang mereka tumpangi kaget.


"Ada apa?" Tanya Jimmy panik.

__ADS_1


"Mama Jim... Mama...." Ucap Clara lirih.


"Tenang. Coba tenangkan dirimu. Sekarang katakan ada apa?"


"Mama meninggal Jim. Meninggal." Isak Clara pilu.


Jimmy langsung memeluk Clara yang terisak. Di peluknya dengan erat serta mengusap-usap rambut Clara lembut.


"Tenanglah, aku disini." Ucap Jimmy.


"Mama meninggal Jim. Aku gak punya siapa-siapa lagi." Ucap Clara semakin terisak.


"Aku ada bersamamu. Aku janji akan selalu bersamamu." Ucap Jimmy. "Pak sopir. Tolong lebih cepat sedikit." Titah Jimmy.


Sebelumnya...


Clarissa memanggil taxi untuk membawanya ke hotel. Dalam perjalanan ia merasa sang sopir mengemudi dengan lamban.


"Pak sopir, cepat sedikit. Saya sudah terlambat." Bentak Clarissa.


"Maaf Bu saya tidak bisa. Itu sudah ada tanda batas kecepatan yang di pasang dipinggir jalan. Anda bisa lihat sendiri. Lagipula disini jalanan nya bergelombang." Ucap pak sopir.


"Hah, kau itu memang bodoh. Ngebut sedikit saja tak bisa. Cepatlah, aku harus bergegas." Ucap Clarissa.


**********


Mata Clara sembab saat tiba di bandara. Dia sudah tak menangis lagi. Tapi, tatapannya kosong. Ia seolah putus asa tak tahu harus bagaimana lagi. Satu-satunya keluarga yang ia punya meninggal dunia. Kini ia seorang diri.


Jimmy meninggalkan dirinya duduk sendirian di kursi terminal keberangkatan. Jimmy mengatakan ada suatu keperluan dan akan kembali secepatnya. Tak lama Jimmy kembali dan keduanya pun berjalan masuk ke dalam pesawat yang memang akan segera berangkat.


"Duduklah. Buat dirimu merasa nyaman. Sekarang minum dulu. Sejak tadi kau tak mau minum." Ucap Jimmy.


Pesawat pun lepas landas. Di atas ketinggian, Jimmy mengeluarkan sesuatu dari sakunya lalu duduk di hadapan Clara dengan berjongkok.


"Aku tahu ini bukan waktu yang tepat. Tapi sejak awal melihatmu aku sudah jatuh cinta padamu dan ingin menjadikanmu sebagai pendamping hidupku hingga tua nanti. Aku ingin menjagamu, menjadi pelindungmu dan akan terus bersamamu selamanya." Ucap Jimmy.


Clara terdiam, setetes air matanya jatuh ke pipinya. Dalam hatinya ia memang masih mencintai Noah. Tapi, ia juga tak bisa membohongi perasaannya bahwa ia merasa nyaman berada disamping Jimmy.


"Kau pria yang baik Jim. Aku tak pantas untuk...."


"Katakan 'iya'..." Potong Jimmy.


Clara kembali berpikir dan memutuskan untuk mengangguk.

__ADS_1


'Aku akan mencoba untuk mencintai Jimmy.' ucap Clara dalam hati.


************


Di kediaman Alexander....


Semua orang tengah bersiap-siap menuju rumah sakit. Jimmy sebelumnya sudah memberi tahu Noah tentang kabar meninggalnya Clarissa.


Bella menjadi begtu syok saat mengetahui apa yang telah menimpa wanita yang pernah tumbuh bersamanya itu.


"Aku tak pernah menyangka bahwa Clarissa akan bernasib seperti ini." Ucap Bella.


"Semuanya sudah ditakdirkan Tuhan sayang." Ucap Erlan berusaha menenangkan Bella yang masih syok.


"Seperti yang kau dengar dari Noah. Clarissa punya seorang puteri bernama Clara. Sekarang dia sudah tak punya siapapun lagi. Aku mau dia tinggal bersama kita dan menjadi puteri kita."


"Tentu saja sayang. Bagaimanapun Clarissa tetaplah wanita yang pernah menjadi adikmu. Jadi anaknya itu adalah anak kita juga." Balas Erlan.


Di mobil lain, Noah dan Sherly sama-sama diam. Beribu pertanyaan bersemayam di kepala Sherly. Ia ingin mengatakannya, tapi takut akan menyinggung perasaan Noah. Ia hanya sesekali melihat ke arah Noah.


"Ada apa? Tanyakan saja." Ucap Noah.


'Wah, pria ini peka sekali.'


"Mmmm jika Mama nya Clara itu adik dari Mama mu, bukankah itu artinya kau dan dia itu sepupuan? Jadi kenapa kalian bisa tidak saling kenal?" Tanya Sherly.


"Pertama, Mama dan Tante Clarissa itu bukan saudara kandung. Kedua jangan kau tanya lagi kenapa bisa seperti itu. Ketiga tanpa aku menjawab apa hubungan ku dan Clara kau pasti sudah mengerti." Jawab Noah cepat.


Sherly langsung terdiam. Hingga tiba di rumah sakit, ia tak lagi bertanya apapun.


Bella langsung membuka kain putih yang menutupi wajah Clarissa. Tampak Clarissa sudah terbujur kaku dengan kepala yang dibalut perban karena masih mengeluarkan darah.


"Ya Tuhan...." Ucap Bella langsung berbalik dan memeluk Erlan.


"Apa kalian merupakan keluarga dari korban?" Tanya salah seorang polisi yang berjaga.


"Iya Pak. Dia adik isteri saya."


"Tapi, tadi kami menghubungi seorang wanita yang mengaku sebagai anaknya. Dimana dia?"


"Dia masih dalam perjalanan dari kota Y. Tolong Pak, lakukan pengurusan jenazah agar bisa kami bawa pulang." Ucap Erlan tegas.


"Baik, akan kami laksanakan segera."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2