NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Video Vino


__ADS_3

Di sebuah apartment di kota New York, seorang laki-laki tengah duduk di balkon apartemen nya. Menatap kota yang disebut kota yang tak pernah tidur itu. Cahaya lampu membuat kota itu terlihat begitu bersinar di tengah gelapnya malam.


Lelaki yang tak lain adalah Alvino Alexander itu terlihat muram. Ia tinggal sendirian di apartemen nya, sementara Noah sang keponakan memilih tinggal di asrama sekolahnya.


"Seharusnya aku tahu sejak awal, bahwa wanita rubah itu suatu hari akan berulah seperti ini. Semuanya salahku, aku yang sudah membuat kekacauan ini. Jadi aku harus membereskannya." Ucap Vino pada dirinya sendiri.


Vino kemudian bangun dari duduknya, kemudian mengambil ponsel lalu memasangnya ke tripod. Vino lalu duduk di depan tripod dan mulai berbicara.


*********


Pukul sepuluh pagi di negara berbeda, Erlan dan Bella tengah duduk di ruang keluarga di villa mereka sambil menunggu hasil penyelidikan orang suruhan mereka atas skandal yang dituduhkan pada Erlan.


Terdengar deru dari beberapa mobil masuk ke halaman depan villa. Tak lama beberapa orang masuk ke dalam villa bersama Tuan Besar Adam yang di dorong seorang perawat laki-laki berpakaian serba putih.


"Papa..." Sapa Bella.


Tuan Besar Adam mengangguk, kemudian sang perawat mengatur posisi kursi rodanya agar duduk berdekatan dengan Erlan.


"Bagaimana semua berita itu bisa muncul ke publik? Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Tuan Besar Adam.


"Aku sendiri bingung Pa. Sepertinya Clarissa sudah merencanakan semuanya dengan matang." Jawab Erlan.


"Papa sama sekali tidak menyangka wanita itu bisa berbuat seperti ini." Ucap Tuan Besar Adam seraya memijit pelipisnya.


"Maafin Bella ya Pa." Bella memegang tangan Tuan Besar Adam.


"Menantuku, kenapa kau harus meminta maaf. Clarissa lah yang bersalah. Kenapa malah kamu yang meminta maaf."


Bella tak mampu berkata apa-apa. Ia hanya tak menyangka bahwa Clarissa akan bertindak sejauh ini.


"Saya ada laporan Tuan Muda." Ucap Pak Bimo yang sedari tadi berdiri bersama dua orang lainnya yang berpakaian serba hitam.


Erlan, Bella dan Tuan Besar Adam sontak menatap Pak Bimo dengan serentak.

__ADS_1


"Katakan." Ucap Erlan.


"Pagi ini saya sudah tidak lagi mendapati semua berita di media sosial tentang tuduhan skandal yang terjadi. Bahkan media elektronik lainnya seperti televisi tak lagi menayangkan berita itu. Padahal pihak kita belum melakukan apapun." Lapor Pak Bimo.


"Bagaimana itu bisa terjadi!" Seru Tuan Besar Adam.


"Ada laporan bahwa semuanya dilakukan oleh seorang hacker yang berada di New York."


"New York!" Seru Erlan yang dibalas anggukan oleh Pak Bimo.


Semua orang terlihat berpikir. Bella berpikir keras, lalu tiba-tiba ia tersenyum.


"Aku tahu siapa yang sudah melakukannya." Ucap Bella.


"Siapa?" Ucap semua orang serempak bertanya.


"Noah." Jawab Bella.


Semua orang semakin dibuat bingung dengan jawaban Bella.


"Cucu ku benar-benar genius." Ucap Tuan Besar Adam.


Sementara Erlan hanya tersenyum penuh kebanggan.


"Satu hal lagi Tuan Muda." Ucap Pak Bimo. "Saya baru saja melihat sebuah video yang posting Tuan Muda Vino. Video yang akan semakin memperjelas semuanya. Tapi video itu juga boomerang untuk keluarga Alexander, terutama untuk Tuan Muda Vino sendiri."


"Cepat perlihatkan padaku." Titah Tuan Besar Adam.


Pak Bimo lalu meminta seorang pria yang berdiri dibelakangnya untuk menyiapkan sebuah laptop dan mulai memutar video yang di posting Vino di media sosial.


"Halo semuanya. Aku Alvino Alexander, putra kedua dari keluarga Alexander. Aku membuat video ini guna mengklarifikasi semua kegaduhan yang terjadi di negeri kita tentang skandal yang dituduhkan kepada kakakku, Erlan Alexander." Ucap Vino dalam video itu.


Vino tampak memperbaiki posisi duduknya dan kembali berbicara.

__ADS_1


"Semua yang dituduhkan Clarissa adalah tuduhan palsu. Kakak ku tidak pernah berselingkuh dengannya. Aku mengakui dihadapan kalian semua bawa akulah yang berhubungan dengan Clarissa."


Sontak semua orang yang menonton video itu tampak kaget, terutama Bella.


"Nama Kak Erlan yang tercantum di hotel Y itu, memang sengaja disebut Clarissa karena memang kartu kredit yang aku gunakan dengan Clarissa saat memesan kamar itu adalah atas nama Kak Erlan. Sekali lagi ku katakan aku lah yang bersama Clarissa, bukan Kak Erlan. Hari dimana kami check in ke hotel itu adalah dimana Kak Erlan dan Kakak Ipar Bella tengah berbulan madu."


Bella menggeleng tak percaya dengan apa yang dikatakan Vino, air matanya luruh.


'Jadi inilah alasan Vino pindah ke New York. Ia sempat mengatakan padaku bahwa ia berjanji untuk berubah. Ya Tuhaann....'


"Untuk kejadian yang di hotel X, aku yakin semua itu rancangan Clarissa. Dapat aku katakan pada kalian semua bahwa Clarissa itu wanita yang licik. Sejak awal dia memang sudah mengincar Kak Erlan." Vino terlihat menunduk, ia seperti tengah menahan air matanya.


"Disini aku mau minta maaf kepada keluargaku. Pada Papa, Kak Erlan, dan terutama Kakak ipar Bella. Maafkan kelakuanku yang kotor seperti ini. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya. Tapi untuk masalah kehamilan Clarissa, aku tidak mau mengakuinya sampai anak itu memang terbukti adalah anakku."


Bella dan Tuan Besar Adam tampak membelalak.


"Apa yang dikatakan anak itu?" Teriak Tuan Besar Adam.


"Aku tidak mau mengakuinya, karena anak itu belum tentu anakku. Aku memang bukan seorang pria yang baik, namun Clarissa juga bukan wanita polos. Sebelum denganku, dan setelah denganku dia selalu melakukan hubungan itu dengan pria lain. Aku berkata seperti ini karena aku memiliki bukti. Sejak pertama kali berhubungan dengannya aku sudah waspada akan kejadian seperti ini, itulah sebabnya aku selalu mengawasinya. Entah sudah berapa banyak pria yang sudah tidur dengannya." Lanjut Vino.


"Ya Tuhaaan...." Pekik Bella.


Tuan Besar Adam memijit keningnya yang terasa berkedut.


"Itu saja yang dapat aku katakan. Semoga yang aku sampaikan ini dapat membuat semua mata kalian terbuka. Pesan ini ku tujukan khususnya pada wartawan yang telah menyebarkan berita yang belum pasti kebenarannya. Berhati-hatilah pada kalian semua yang berprofesi sebagai wartawan atau peliput berita. Karena apa yang kalian sampaikan akan mempengaruhi seluruh dunia. Bila kalian memuji, seluruh dunia ikut memuji. Begitupun sebaliknya, jika kalian mencaci maka seluruh dunia juga ikut mencaci."


Erlan tak dapat berkata apa-apa, ia hanya fokus menatap wajah adiknya yang ia sebut anak nakal itu di layar laptop.


"Sekali lagi, maafkan aku yang sudah membuat kalian malu, Kak Erlan, Papa, dan Kakak ipar Bella."


Video pun selesai, semua orang terdiam dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


'Clarissa, aku tidak akan pernah memaafkan mu.' ucap Bella dalam hati.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2