
Masih di tempat yang sama, di ruang keluarga kediaman keluarga Dinata.
Setelah beberapa saat kepergian Bu Maya dan Clarissa, Tuan Besar Adam dan Pak Bimo kembali ke rumah utama, begitu juga dengan para wartawan yang hadir meliput langsung kejadian tadi. Sementara Bella dan Erlan masih duduk bersama Pak Indra.
"Maafin aku Pa. Mungkin tindakan yang ku lakukan berlebihan dan sangat kelewatan terhadap Clarissa dan...."
"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Yang terpenting sekarang semuanya sudah membaik. Tidak akan lagi gosip rumah tangga kalian." Pak Indra memotong ucapan Bella.
"Sejujurnya aku merasa bersalah karena memperlakukan Clarissa seperti itu. Aku pernah berada diposisinya saat ini. Sangat sulit untuk bertahan hidup diluar sana karena sebelumnya sudah terbiasa hidup serba ada. Apalagi sekarang ia tengah mengandung. Sama persis seperti yang aku alami dulu."
Bella kembali teringat akan kenangan masa lalunya. Saat ia harus diusir keluar oleh Papa nya dari dalam rumah, bahkan lebih parah dari yang menimpa Clarissa. Bella keluar rumah tanpa membawa barang apapun kecuali baju yang melekat di tubuhnya.
Tubuh Bella bergeridik, ia merasa merinding dan tanpa disadari air matanya jatuh begitu saja. Erlan yang duduk disamping Bella dengan cepat mendekap wanita yang paling dicintainya itu.
"Kau harus mengalami semua itu karena kesalahanku. Maafkan aku sayang, tolong jangan menangis lagi. Aku tak bisa melihatmu menitikkan air mata. Itu membuatku terluka sayang." Ucap Erlan seraya semakin mengeratkan pelukannya.
"Bella puteriku, sudahlah. Untuk apalagi kau pikirkan mereka yang telah berbuat jahat kepadamu. Inilah yang pantas mereka dapatkan karena sudah menyakiti kamu." Ucap Pak Indra.
"Papa benar sayang. Mereka sudah terlalu jahat pada keluarga kita, terutama padamu. Jadi wajar saja mereka menerima semua ini." Sambung Erlan.
"Tapi Pa, bagaimanapun juga Clarissa itu anak Papa juga. Jadi Papa...."
"Bella, karena semuanya sudah seperti ini. Maka Papa akan mengatakan yang sejujurnya sama kamu." Pak Indra terlihat serius.
Bella menyeka air matanya, kemudian menggenggam tangan Erlan erat. Bagi Bella setiap sentuhan yang diberikan Erlan dapat menenangkan dirinya dikala merasa gundah.
"Ada apa Pa?" Tanya Bella.
__ADS_1
Pak Indra menghela nafas panjang. Sorot matanya menerawang jauh ke depan. Ia terlihat tengah berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan sesuatu.
"Ini tentang Clarissa." Ucap Pak Indra. "Dia sebenarnya bukan anak kandung Papa." Sambungnya.
Ucapan Pak Indra membuat Bella membelalakkan mata, ia menggenggam tangan Erlan semakin erat. Sementara Erlan tak menunjukkan ekspresi apa-apa. Ia hanya diam, tengah mencerna setiap perkataan yang keluar dari mulut sang mertua.
"Papa tahu kau pasti terkejut dan bertanya-tanya. Tapi semuanya benar. Clarissa itu memang bukan anak Papa." Lanjut Pak Indra.
"Kenapa bisa begitu Pa?" Tanya Bella penuh penasaran.
"Sebelum kamu lahir dulu. Papa pernah menjalani operasi karena penyakit yang disebut hernia. Karena operasi iy, dokter mengatakan Papa tidak akan bisa memiliki keturunan lagi. Waktu itu Mama kamu tengah mengandung kamu diusia enam bulan. Jadi Papa sangat bersyukur bahwa Tuhan sudah memberikan Papa keturunan sebelum Papa terkena hernia itu." Ujar Pak Indra.
"Lalu, bagaimana dengan Clarissa?" Tanya Bella lagi.
"Maya itu sekretaris Papa di kantor. Karena pertemuan yang intens dan perhatian yang ia tunjukkan pada Papa membuat Papa jatuh hati padanya. Awalnya Papa tidak terlalu memikirkan untuk menikah. Tapi, Papa memikirkan dirimu yang harus mendapat kasih sayang seorang Ibu. Jadi, Papa memutuskan untuk menikahi Maya. Ternyata keputusan yang Papa buat terlalu terburu-buru. Papa tak pernah tahu bagaimana sifat aslinya Maya." Pak Indra memijit pelipisnya kemudian meminum air putih yang ada dihadapannya sebelum kembali melanjutkan bicaranya.
"Papa pergi ke luar kota untuk mengembangkan bisnis selama dua bulan. Dan tebak saja, saat Papa kembali Maya mengaku hamil dan usia kandungannya baru satu bulan. Awalnya Papa berpikir positif saja, tapi pada akhirnya bangkai tercium juga. Selingkuhan Maya berulah dan meminta uang tutup mulut pada Maya agar tak melapor pada Papa tentang hubungan mereka. Namun, Papa bukannya menceraikan Maya. Tapi, malah semakin merangkulnya. Papa kasihan padanya, karena wajahnya yang babak belur setelah dihajar selingkuhannya karena menolak memberikan uang. Jadi Papa membiarkan dia hidup bersama Papa hingga hari ini. Dia memang berubah, menjadi lebih mencintai Papa. Tapi cintanya pada Clarissa membuatnya lupa untuk mencintai anak Papa hingga ia sampai melakukan hal seperti sekarang ini. Padahal dulu ia selalu menunjukkan perhatiannya padamu didepan Papa." Ucap Pak Indra panjang lebar.
Bu Maya selalu memprioritaskan Clarissa dalam hal apapun dibanding Bella. Namun, ia akan berubah baik terhadap Bella dihadapan Pak Indra.
'Cih, benar-benar....' pikir Erlan.
*******
Sementara itu, di tengah teriknya matahari. Dua orang wanita berbeda usia berjalan menenteng koper dengan pakaian bermerk yang mereka kenakan.
Keduanya berhenti di sebuah taman dan duduk dibangku panjang.
__ADS_1
"Sekarang kita kemana Ma?" Pekik Clarissa seraya mengusap peluh di keningnya.
"Mama gak tahu." Balas Bu Maya yang terlihat ngos-ngosan.
"Ma, terus kita mau gimana sekarang. Kita gak punya tempat tinggal lagi. Seharusnya Papa itu gak memperlakukan aku seperti ini. Paling tidak dia itu memberikan aku fasilitas rumah atau apa kek biar gak susah gini. Bagaimanapun juga aku ini kan anak dia juga. Huh dasar Pak Tua Bangka." Gerutu Clarissa.
"Sudahlah, jangan berharap banyak. Kau tidak akan mendapat apa-apa darinya meski kau harus bersimpuh di kakinya." Balas Bu Maya santai.
"Maksud Mama apa? Aku ini juga a anak kandung Papa. Jadi aku juga punya hak atas kekayaan Papa." Ucap Clarissa.
"Dia itu bukan Papa kandung kamu." Ucapan Bu Maya membuat Clarissa membelalakkan matanya.
"Mama jangan bercanda deh."
Clarissa berpikir bahwa apa yang dikatakan Bu Maya hanyalah lelucon.
"Kalau kamu gak percaya dengan apa yang Mama katakan. Maka, pergilah temui dia dan minta dia menerimamu kembali sebagai puterinya. Mama yakin dia akan menendang mu keluar." Ucap Bu Maya dengan santai.
Clarissa terdiam, ia tak menyangka bahwa dirinya bukan puteri kandung Indra Dinata.
'Berarti selama ini, aku hanya menumpang hidup pada Papa? Kalau dia bukan Papa ku lalu siapa?' tanya Clarissa dalam hati.
"Kalau tenaga mu sudah pulih. Ayo jalan lagi." Ucap Bu Maya.
"Kemana?"
"Menemui Papa kandung kamu."
__ADS_1
"Papaku?"
Bersambung.....