
Acara konser orkestra yang dibawakan Noah berjalan sempurna. Semua penonton kagum dengan kemampuan Noah, diusianya yang menginjak tujuh tahun Noah dapat menjadi seorang komposer dan di kenal oleh seluruh dunia.
Keesokan harinya, Erlan mengajak Noah dan Bella liburan mengelilingi Berlin. Mereka bertiga mengunjungi beberapa tempat wisata populer yang ada di pusat kota Berlin.
Ini kali pertama bagi ketiganya untuk berlibur ke luar negeri. Sebelumnya, tiga hari yang lalu Erlan dan Bella baru saja pulang berbulan madu. Kini keduanya kembali berlibur lagi meski tidak dalam agenda bulan madu.
"Ma, Pa, lain kali kita pergi liburan ke Itali ya." ucap Noah.
"Boleh saja." balas Erlan. "Bila perlu, kita keliling dunia sekalian." sambung Erlan.
*****
Vino tengah uring-uringan di dalam kamar. Niat hati ingin ikut pergi ke Jerman, tapi tugas kuliahnya tidak mungkin ia tinggalkan. Hingga ia akhirnya memilih menghubungi Clarissa.
"Ayolah, temani aku hari ini. Aku sedang tidak ada jadwal kuliah." ajak Vino.
"Kita mau bertemu dimana? Aku juga sedang bosan gak ada kegiatan." balas Clarissa.
Setelah beberapa saat berbicara via telepon, keduanya sepakat untuk menghabiskan waktu bersama.
Dan disinilah keduanya sekarang, di meja resepsionis sebuah hotel berbintang. Mereka berdua berencana menghabiskan waktu seharian berdua hanya di dalam kamar.
Vino memberikan kartu kredit yang diberikan Erlan untuk pembayaran.
"Atas nama Erlan Alexander." Ucap Clarissa.
"Kamu...."
"Sssttt... Ini demi kebaikan kamu." Ucap Clarissa menyela ucapan Vino.
Sang resepsionis hotel tak bicara banyak. Ia tahu betul bagaimana rupa Erlan, dan yang ada dihadapannya sekarang adalah Vino Alexander adik dari Erlan Alexander.
'Kenapa mereka malah check-in menggunakan nama Tuan Erlan?' pikir sang resepsionis.
Resepsionis itu menatap Vino dan Clarissa penuh selidik.
"Apa lihat-lihat? Gak pernah lihat orang ganteng ya?" Ucap Clarissa ketus sambil bergelayut manja pada Vino.
"Dasar ulat bulu." Ucap resepsionis dengan berbisik.
Setelah selesai check-in, Vino dan Clarissa lalu berjalan menuju kamar yang mereka pesan.
Tak butuh waktu lama, begitu tiba di kamar keduanya langsung berhubungan badan. Tanpa ada ikatan pernikahan maupun hubungan cinta keduanya tampak tidak memiliki rasa canggung sama sekali.
__ADS_1
Setelah selesai berhubungan, Vino duduk menghadap jendela kaca tembus pandang yang langsung memberikan pemandangan seluruh kota. Sementara Clarissa sudah tertidur lelap.
Vino mengambil ponselnya lalu berselancar di dunia maya. Postingan Bella muncul di layar ponselnya. Bella memposting beberapa foto tentang kegiatan liburan mereka. Salah satu foto mencuri perhatian Vino.
Foto tersebut menampilkan Erlan dan Noah yang mencium pipi Bella bersamaan.
Sesaat Vino terenyuh melihat potret kebersamaan sang kakak dengan keluarga kecilnya.
'Duh, ingin punya keluarga manis seperti ini.' tulis Vino di kolom komentar.
Tak berselang lama, komentar Vino di balas Erlan, 'Cepetan nikah, jangan cuma mau kawin aja,' dengan tambahan emoticon tertawa.
Vino tersenyum, tanpa disangka Bella juga ikut berkomentar.
'Menikahlah jika kamu sudah tidak dapat menahan dirimu. Carilah perempuan yang baik-baik. Karena aku yakin adik iparku lelaki yang baik juga. Kalau sekarang sudah punya pacar, maka jaga pacarmu itu dengan baik. Jangan melakukan sesuatu yang akan membuat cinta kalian menjadi tak suci lagi.'
Vino termenung, ia berulang kali membaca postingan Bella.
'Mungkin selama ini aku memang salah. Kakak ipar ada benarnya juga.' pikir Vino.
Clarissa yang terbangun, langsung mendekati Vino masih dengan tubuhnya yang tanpa busana. Vino yang tiba-tiba merasa risih, memilih bangun menuju kamar mandi.
'Kenapa sih tuh orang.' pikir Clarissa.
"Mau kemana Vin?" Tanya Clarissa manja.
"Pulang." Balas Vino singkat.
"Kok pulang sih? Katanya mau seharian sama aku. Lagi pula sayang loh, hotel mewah gini sudah dibayar full malah dipakai cuma satu jam."
"Kalau kamu mau, tinggal saja. Aku mau pulang." Ucap Vino ketus, ia kemudian berjalan menuju pintu dan dikejar Clarissa.
"Kamu kenapa sih? Kok tiba-tiba jadi kayak gini. Aku kurang puasin kamu ya?"
Tangan Vino sudah hendak membuka pintu, namun ditahannya lagi.
"Mulai hari ini kita tidak usah bertemu lagi. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Ku harap kamu mengerti. Toh kita sudah sepakat tidak ada hubungan apapun diantara kita. Jadi aku ataupun kau bebas melakukan apa saja. Tutupi tubuhmu, aku akan membuka pintu." Ucap Vino, kemudian berjalan keluar kamar meninggalkan Clarissa yang berdiri mematung dengan santai padahal tak ada sehelai benangpun yang menempel padanya.
Disaat bersamaan, seorang pria bule melewati kamar Clarissa dan tanpa sengaja melihat tubuh Clarissa.
Pria besar itu mengerlingkan matanya, tanpa basa-basi Clarissa langsung menarik pria itu ke dalam kamarnya.
********
__ADS_1
Vino tiba di rumah...
Dia mendapati Tuan Adam tengah duduk menatap bunga-bunga yang bermekaran di halaman belakang rumah. Vino segera mendekatinya.
"Dari mana?" Tanya Tuan Adam.
"Main Pa." Jawab Vino singkat.
"Main perempuan?" Ucap Tuan Adam lagi.
Sontak saja Vino terkejut, ia menjadi kikuk. Tak tahu harus berkata apa.
"Vin, Papa tidak mau kamu terjerumus pada pergaulan bebas. Kalau kau sudah siap, lebih baik menikah saja. Jangan melakukan sesuatu yang akan membuat dirimu dan nama baik keluargamu menjadi rusak."
Vino semakin bingung, kenapa hari ini semua orang terdekatnya seolah mengetahui dan ingin Vino menghentikan semua perbuatannya yang tak baik.
"Jangan bingung begitu. Apa kamu pikir Papa akan lepas tangan begitu saja pada anak Papa yang bandel seperti kamu?"
Vino menunduk.
"Papa tahu kalau kamu sering membawa perempuan ke kamar hotel. Bahkan kamu pernah berbuat mesum dengan adik dari kakak ipar mu di rumah ini."
Deg! 'Kenapa jadi begini?'
"Menikahlah dengan Clarissa jika kalian saling mencintai. Apalagi kau sudah...."
"Nggak Pa." Potong Vino. "Vino nggak mau nikah sama wanita itu. Dia bukan wanita yang baik-baik."
"Lalu apa bedanya denganmu yang berhubungan dengannya? Apa kau pikir dirimu itu lebih baik dari dia? Tidak. Tentu saja tidak."
Kepala Vino tertunduk malu. Dalam hati ia mengakui bahwa dirinya memang salah.
"Untuk itu Papa mau kamu menikahi...."
"Gak Pa. Vino mengaku salah, sangat salah. Vino janji akan berubah dan tidak akan seperti itu lagi. Tapi Papa jangan sampai menikahkan Vino dengan wanita itu."
"Ada apa memangnya dengan Clarissa?" Tanya Tuan Adam.
"Dia bukan gadis yang cocok untuk menjadi bagian keluarga kita. Papa tidak perlu menanyakan kenapa. Karena memang pada intinya di bukan gadis yang baik. Lagipula kami sudah bersepakat untuk tidak menikah walau berhubungan fisik."
Tuan Adam menggeleng pelan.
Bersambung....
__ADS_1