
Tiga bulan kemudian.....
"Papa gimana sih, katanya aja mau balasin dendam aku ke si Bella itu. Sekarang udah tiga bulan malah gak ngelakuin apa-apa."
Clarissa tengah kesal ada Tuan Tama karena tak kunjung melakukan tindakan apapun untuk membalaskan dendamnya pada Bella.
Bu Maya yang tengah duduk bersama Tuan Tama yang kini sudah menjadi suaminya itu terlihat santai sambil bersandar di bahu suaminya.
"Kamu tenang saja sayang. Papa kamu juga sedang berusaha. Lebih baik kamu jangan banyak pikiran. Urus kandungan kamu itu." Ucap Bu Maya.
"Berusaha apanya? Butuh waktu berapa lama lagi untuk menunggu." Clarissa duduk dengan kesal.
Tuan Tama yang tengah menghisap cerutu tampak tenang.
"Untuk melakukan sesuatu pada keluarga Xander, kita harus bersabar. Apa kau pikir selama ini Papa diam saja. Papa sudah memiliki mata-mata di dalam keluarga itu. Dan sebentar lagi kamu akan melihat apa yang akan Papa lakukan." Ucap Tuan Tama.
"Memang Papa mau ngelakuin apa?" Tanya Clarissa penasaran.
"Lihat saja besok. Mata-mata Papa tadi sudah melaporkan pada Papa bahwa besok putra dari keluarga Xander akan pulang dari Amerika."
"Noah?" Ucap Clarissa. "Apa yang mau Papa lakukan dengan Noah?"
"Kalau kau ingin dendam mu terbalaskan, lebih baik kau diam saja, dan lihat apa yang akan Papa lakukan."
******
Di Amerika....
Libur musim panas telah tiba. Noah tengah bersiap-siap untuk pulang. Namun ia akan pulang seorang diri tanpa ditemani Vino. Vino berencana untuk liburan ke Hawaii, sebab itulah ia tak bisa menemani Noah.
"Kamu tidak apa-apa pulang sendiri?" Tanya Vino yang mengantar Noah ke bandara.
"Gak apa-apa Om. Noah bisa sendiri. Lagipula Noah juga naik jet pribadi. Jadi Om Vino tidak usah khawatir. Lebih baik Om juga bersiap-siap pergi ke Hawaii."
"Baiklah, kalau begitu Noah hati-hati ya."
"Siap Om." Balas Noah seraya masuk ke dalam pesawat.
Perjalanan Noah pun dimulai. Sepanjang perjalanan, Noah mendengarkan musik sesekali bermain game. Kemudian tertidur dalam waktu yang lama.
Setelah menempuh perjalanan hampir 24 jam, Noah akhirnya tiba di bandara. Dirinya sudah di tunggu oleh Bella yang sejak semalam tak sabar bertemu puteranya.
Keduanya akhirnya bertemu. Bella yang sudah begitu rindu berlari dan langsung memeluk Noah serta menciumnya berulang kali. Namun, anak yang dipeluk sama sekali tak merespon. Ia hanya diam seperti patung. Fokusnya justru mengarah pada orang-orang yang menatap dirinya dan Sang Mama.
"Sudah puas Ma!" Seru Noah saat Bella melepaskan pelukan dan ciumannya.
"Aduh sayang, Noah kenapa sih. Sudah begitu lama tidak bertemu Mama masih juga bersikap dingin. Apa Noah gak kangen sama Mama." Ucap Bella seraya mencubit pipi Noah.
"Kangen." Balas Noah singkat. "Ayo pulang." Lanjut Noah.
__ADS_1
Bella menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum. Ia kemudian berjalan sambil menggandeng tangan Noah.
"Papa mana?" Tanya Noah.
"Papa lagi ada rapat penting sayang. Awalnya mau jemput juga. Tapi, Mama yang larang. Kan Mama bisa jemput kamu sendiri."
"Hmmm...." Balas Noah.
"Noah marah ya?"
"Nggak."
"Terus, kenapa..."
"Capek Ma. Kita ngobrolnya nanti aja ya." Balas Noah.
Bella terdiam, ia sangat memahami bagaimana sifat puteranya itu.
Keduanya masuk ke dalam mobil dan sopir segera menyetir keluar dari area bandara.
Setelah lima belas menit berjalan, Bella baru menyadari bahwa supirnya berkendara ke arah yang salah.
"Pak, kita mau kemana? Ini bukan arah ke rumah. Ini arah yang salah." Ucap Bella.
Sang sopir hanya menyeringai dan semakin mempercepat laju mobilnya.
'Ada yang tidak beres ini.' pikir Noah.
Sejak tadi Bella berusaha untuk menghubungi Erlan. Tapi, ponsel yang ia cari di dalam tas, tak kunjung ia dapatkan.
Seseorang membuka pintu mobil dari luar.
"Cepat keluar." Teriak laki-laki berpenampilan sangar.
Bella berusaha bersikap tenang. Dia khawatir Noah akan ketakutan. Jadi, dia memegang tangan Noah. Para lelaki itu rata-rata memiliki senjata api ditangan mereka.
'Bagaimana ini?' pikir Bella.
"Kalau kami tidak mau keluar kau mau apa?" Ucap Noah tenang dengan melepaskan pegangan tangan Bella lalu melipat tangan di dadanya.
Bella yang kaget berusaha menutup mulut Noah.
"Mama kenapa sih, diam aja deh." Titah Noah.
"Hahaha nyali mu besar juga anak kecil. Kalau begitu aku akan menembak Mama mu ini." Pria sangar itu mengacungkan senjata api ke kepala Bella.
Bella terdiam, ia tak berani bergerak. Namun, ia semakin dibuat kaget dengan Noah yang tiba-tiba terbahak.
"Apa kau pikir senjata mainan mu itu bisa membunuhku?" Ucap Noah sombong.
__ADS_1
"Selain kau punya nyali yang besar, kau juga begitu sombong anak kecil." Balas pria sangar.
"Pistol 719. 7,92 milimeter. Memiliki 5 peluru. Kelemahan, kinerja kemampuan rendah, pembuatan kasar bukan desain yang ideal. Kurangnya tempat peluru. Saat menggenggam senjata tidak ada tempat untuk menempatkan jari kelingking. Tembakan lambat, perlu menggunakan kedua tangan untuk petikan keamanan. Tempat peluru genggaman nya tidak sesuai. Peluru tidak bisa dipercaya. Tim penembakan bisa dengan mudah terbang mengenai mata. Tidak bisa meledak, butuh waktu luang untuk mengisi ulang, setidaknya 15 detik. Peluru kecil, penetrasi lemah. Suara tembakan kecil, nyala api kecil, hasil ledakan tidak jelas, mudah terbakar dan menggunakan peluru karet non fatal. Energi kinetik tidak cukup. Desain rendahan, merupakan model yang tersingkir." Ucap Noah menjelaskan.
"Senjata itu bahkan tidak akan membunuhku. Apa kau menggunakannya untuk menakuti ku? Apa kau memperlakukan ku seperti anak berusia 3 tahun?" Lanjut Noah.
Bella dan si pria sangat tercengang mendengar penjelasan Noah.
'Bagaimana bisa Noah mengetahui tentang senjata itu?' pikir Bella.
"Kau bocah kecil. Bagaimana kau tahu barang seperti ini?" Teriak pria sangar.
'Ya Tuhan. Dia mampu mengenali barang seperti ini. Anak ini tidak bisa dipercaya.' pikir pria sangar.
"Kau berani menculik aku dan Mamaku. Aku bisa pastikan kau akan memiliki akhir yang mengerikan." Balas Noah.
"Kau berada di tanganku sekarang. Aku tidak percaya Papamu akan melakukan sesuatu kepadaku. Dia akan tetap berada dalam kendali ku." Ucap pria sangar dengan sombong.
"Aku berusaha menyelamatkan nyawamu, karena kau terlihat sedikit bodoh. Aku tidak akan menghentikan mu karena kau mencari mati. Aku jamin dalam waktu kurang dari satu jam, kau akan berlutut memohon pada Papa ku." Ucapan Noah semakin membuat Bella tak habis pikir. Bagaimana bisa bocah seusia Noah bisa bersikap berani seperti itu.
'Aku percaya padamu Pa. Papa pasti akan menyelamatkan aku dan Mama.' pikir Noah.
"Banyak bicara. Cepat keluar, kalau tidak...."
"Kalau tidak apa?" Tantang Noah.
Plakk...!
Kepala Bella dipukul menggunakan senjata. Darah segar mengalir di kening Bella.
"Mama....." Teriak Noah.
Bella berusaha menenangkan Noah yang terlihat syok.
"Tenang sayang. Mama gak apa-apa. Lebih baik sekarang kita ikuti kemauan orang ini. Ayo turun." Bujuk Bella.
Noah mengangguk, ia merasa bersalah terhadap Bella.
'Kalau bukan karena aku, Mama tidak akan terluka. Awas kau pria jahat. Aku tidak akan pernah memaafkan mu.'
Keduanya turun dari dalam mobil dan diminta masuk ke dalam mobil yang baru.
"Bawa mereka ke luar kota. Jangan sampai terlihat mencurigakan." Ucap pria sangar pada sang sopir kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi depan.
'Erlan, ku mohon. Selamatkan kami.' ucap Bella dalam hati.
Noah berusaha menahan air matanya, ia mengusap darah di kening Bella menggunakan tissue yang ada di kantung jaket yang ia kenakan.
"Maafin Noah Ma." Ucapnya.
__ADS_1
"Sudah sayang. Ini bukan salah Noah." Balas Bella tersenyum berusaha bersikap tenang dihadapan puteranya.
Bersambung......