
"Sudah tertawanya?" Tanya Erlan saat akhirnya tawa Bella mulai mereda.
"Cepat bangun." Lagi-lagi raut wajah Bella berubah.
Erlan bangun dan menarik tubuh Bella agar ikut duduk bersamanya.
"Apa kau sudah memaafkan aku?" Tanya Erlan.
"Masih belum?"
"Apa?" Erlan terlihat frustrasi. "Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Kau tidak boleh tidur denganku malam ini."
Raut wajah Erlan yang tadinya memelas kini berubah garang. Membuat Bella takut, ia memundurkan tubuhnya hingga bersandar di kepala tempat tidur.
Wajah Erlan terlihat bringas, ia menyudutkan Bella dengan menaruh kedua tangannya bertumpu di kepala dipan.
"Apa yang kau katakan barusan? Kau memintaku untuk tidak tidur denganmu malam ini? Bukankah itu sudah keterlaluan istriku? Aku sudah mengakui kesalahanku dan kau masih saja mau menghukum ku begitu berat?" Sorot mata Erlan memperlihatkan kemarahan.
"Kau boleh memintaku untuk mendaki gunung, membuatkan mu istana atau bahkan melukai diriku sendiri. Tapi jangan pernah memintaku untuk terpisah darimu walau hanya satu malam. Berani-beraninya kau mengatakan hal itu? Sedetik saja aku sungguh tidak bisa berpisah denganmu. Tapi kau memaksa untuk memasak, mandi sendiri dan melakukan hal lainnya sendiri. Padahal aku tidak menyukai hal yang akan membuatmu tidak berada di sampingku walau sedetik. Tapi aku menyanggupi semuanya karena aku mencintaimu. Sekarang kau malah memintaku untuk...."
Cup!!!
Untuk pertama kalinya Bella berani berinisiatif untuk mencium Erlan lebih dulu. Hingga akhirnya ia melepaskan ciuman itu.
"Maaf." Ucap Bella.
"Sudah terlambat." Balas Erlan kemudian mencium Bella dengan garang, ia mulai menciumi leher Bella membuat wanita yang masih mengenakan pakaian mandi itu menggeliat.
"Hentikan sa-sayang. Aku mohon."
Erlan menghentikan aksinya karena bahagia mendengar Bella memanggilnya dengan sebutan 'sayang.'
"Katakan sekali lagi, kau memanggilku apa?"
"Sayang." Ucap Bella malu-malu.
"Kalau begitu aku memaafkan kesalahanmu. Ayo cepat berpakaian. Aku lapar."
Bella turun dari atas tempat tidur dengan mendengkus kesal, 'dia yang salah, malah ujung-ujungnya aku yang minta maaf.'
Bella duduk di depan meja rias memolesi wajahnya dengan make up tipis. Ia menyadari bahwa lehernya yang putih memiliki banyak tanda merah.
"A-apa ini?" Pekiknya. "Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku? Sekarang bagaimana caraku menutupinya?"
Erlan tersenyum penuh kemenangan.
"Tidak perlu kau tutupi, itu adalah stempel kepemilikan dariku. Kini yang harus kau lakukan adalah memberikan stempel kepemilikan padaku. Ayo, kau boleh melakukannya sekarang." Ucap Erlan menunduk dan mengarahkan lehernya pada Bella.
__ADS_1
'Sial!'
Namun wajah Bella tiba-tiba berubah cerah melihat leher Erlan di depan matanya.
'Hahaha aku akan balas dendam.'
Bella menarik Erlan kemudian membenamkan wajahnya di leher Erlan dan mulai menggigitnya dengan keras.
"Aaaarrggghh kau mau cari mati ya?" Teriak Erlan. "Lepaskan aku! Kau ini manusia atau Drakula."
Bella melepaskan gigitannya dan menyisakan tanda merah bekas gigitan di leher Erlan.
"Wah, meski sakit stempel kepemilikan mu bagus juga. Kau boleh melakukannya lagi. Ini...." Erlan memberikan lengannya pada Bella.
"Kau benar-benar sudah gila." Ucap Bella seraya berdiri.
"Aku memang tergila-gila padamu." Bisik Erlan.
Keduanya kemudian turun ke lantai bawah menuju ruang makan, dimana semua orang sudah duduk bersiap untuk makan malam bersama.
Mata Bella menangkap sosok Clarissa yang duduk disamping Noah. Dia terlihat asyik berbicara dengan Vino yang juga duduk disebelahnya.
"Mama Papa lama sekali turunnya." Protes Noah.
"Maaf ya sayang, tadi Mama kelamaan mandi." Balas Bella asal.
"Ku pikir kau sudah pulang." Ucap Bella menatap Clarissa.
"Mmm itu, maaf Kak. Tadi..."
"Papa yang minta dia tinggal untuk makan malam dulu. Tidak baik pulang begitu saja jika makanan sudah dihidangkan diatas meja." Ucap Tuan Besar Adam.
Bella terdiam tak mau berbicara lebih panjang karena hanya akan menjadi masalah. Sementara Clarissa tersenyum penuh kemenangan.
'Kalian berdua tidak bisa mengusirku.'
Bella mulai menghidangkan makanan untuk Erlan dan Noah di piring mereka, kemudian saat hendak menaruh lauk di piring Tuan Besar Adam, Clarissa sudah lebih dulu melakukannya.
Bella menghela nafas panjang, Erlan yang menyadari itu mengelus punggung Bella dan mengambil tangan kiri Bella kemudian menciumnya dengan lembut.
"Sup ayamnya lezat sekali." Ucap Erlan.
Bella tersenyum kemudian mulai makan.
Noah sejak tadi terus saja memperhatikan Bella. Matanya fokus pada leher Bella dan juga Erlan.
"Mah, Pah, leher Mama dan Papa kenapa ya? Kenapa bisa ada tanda merah itu?" Tanya Noah.
Huk.. huk..!!
__ADS_1
Bella dan Erlan batuk bersamaan. Keduanya saling pandang, wajah Bella bersemu merah sementara Erlan tersenyum nakal sambil menurun naikkan alisnya.
"Kenapa Ma?" Tanya Noah lagi.
"Wah, apa Noah tidak tahu kalau itu bekas ci...."
"Mama digigit nyamuk sayang." Ucap Bella memotong ucapan Vino.
"Nyamuk yang sangat besar." Vino tertawa terbahak.
"Kenapa di leher Papa malah terlihat seperti gigi?" Tanya Noah lagi.
"Sepertinya Papamu sudah berbuat nakal." Imbuh Tuan Besar Adam ikut tertawa.
"Benar. Papa tadi nakal jadi Mama yang gigit Papa." Ucap Erlan akhirnya.
"Sudah-sudah. Lebih baik sekarang lanjut saja makannya. Tidak baik makan sambil bicara." Protes Bella.
Semua orang tersenyum kemudian melanjutkan makan mereka.
'Kenapa aku harus melihat adegan ini, sungguh keterlaluan.' pikir Clarissa sakit hati.
Selesai makan malam, semua orang duduk di ruang keluarga. Melihat Noah bermain piano. Bella dan Erlan duduk saling berangkulan, sementara Vino berdiri di samping Noah yang tengah fokus bermain piano.
"Kenapa kau belum pulang juga. Ini sudah larut." Ucap Bella saat melihat Clarissa yang belum juga beranjak pergi.
"Kakak kenapa sih sejak tadi selalu saja memintaku untuk pulang. Om Adam, apa aku tidak boleh berlama-lama disini?" Protes Clarissa.
"Aku tidak berhak untuk melarang mu untuk berada di rumah ini. Karena rumah ini terbuka untuk siapapun, apalagi untuk anggota keluarga." Balas Tuan Besar Adam yang membuat Clarissa tersenyum penuh kemenangan. "Tapi, karena sekarang Bella sudah menjadi Nyonya utama di rumah ini. Jadi dialah yang berhak mengatur semuanya. Termasuk mengizinkan siapa saja yang bisa masuk ke rumah ini. Apalagi menurut Om sendiri, tidak baik untuk anak gadis sepertimu belum pulang ke rumah sampai jam segini."
'Sialan, si tua bangka ini juga mengusirku.'
"Vinoo..." Teriak Tuan Besar Adam.
Vino berlarian dan segera menghampiri Tuan Besar Adam.
"Antar kan Clarissa pulang." Perintah Tuan Besar Adam.
Vino kemudian berjalan ke arah Clarissa namun di hadang Bella.
"Tidak perlu Pa. Clarissa bawa mobil sendiri kok. Biar Bella yang antar dia sampai depan."
Bella menarik paksa tangan Clarissa sampai keluar rumah.
"Sekali lagi aku katakan, jangan pernah berharap untuk bisa mengganggu hubunganku dengan Erlan. Hari ini aku bisa memaafkan mu, tapi lain kali. Kalau kau sampai melakukan kesalahan lagi, kau akan terima akibatnya." Ancam Bella kemudian masuk ke dalam rumah sambil membanting pintu dengan keras.
'Awas kau Bella, aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan Erlan. Meski itu aku harus membunuhmu sekalipun.' ucap Clarissa dalam hati.
Bersambung....
__ADS_1