NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Menyadarkan Clara


__ADS_3

Jimmy tak hentinya menyalahkan dirinya atas tindakan yang sudah ia lakukan terhadap Noah. Dirinya telah membuat kesalahan dengan tidak percaya pada Noah dan menuduh Noah telah melakukan hal tak senonoh terhadap Clara.


"Semuanya karena aku menyukai Clara. Ah ternyata benar yang dikatakan orang-orang, bahwa wanita itu racun dunia." Ucap Jimmy seraya meremas rambutnya dengan kasar.


Jimmy masih berada di dalam kamar hotel tempat Clara tertidur. Ia masih menunggu hingga Clara terbangun, guna menanyakan apa motif dibalik semua yang dilakukan Clara.


'Setelah ini aku akan menemui Noah.' pikir Jimmy.


Menurut Dokter yang memberi obat bius pada Clara, ia akan bangun setelah tiga jam. Dan sekarang sudah tepat jam dua belas malam. Sudah hampir tiga jam Jimmy menunggu Clara siuman. Dan akhirnya Clara pun tersadar saat Jimmy tengah duduk disampingnya menatap layar ponselnya.


"Ji-jimmy..." Ucap Clara dengan suara yang terbata-bata.


Jimmy sontak menggenggam erat tangan Clara dan mengusap kepala wanita berwajah oval itu.


"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Jimmy.


Clara berusaha duduk dan Jimmy langsung membantunya.


"Kepalaku sakit." Ucap Clara memegang kepalanya.


Jimmy mengambil segelas air lalu memberikannya pada Clara. Clara menerima gelas itu lalu meminumnya hingga tandas. Setelah itu Clara terdiam. Ia berpikir keras, apa yang sudah terjadi padanya. Perlahan saat ia mengingat semuanya Clara langsung menutup mulutnya sambil menatap Jimmy dengan mata yang membulat sempurna.


Jimmy menatap Clara sambil melipat tangannya di dada.


"Aku yakin kau sudah mengingat semuanya. Sekarang, apa kau bisa jelaskan apa yang sebenarnya kau rencanakan?" Tanya Jimmy dengan sorot mata yang berubah mengancam.


"A-aku..." Clara jadi terbata-bata.


"Aku tahu kau sangat menyukai Noah. Tapi bukan begitu caranya untuk mendapatkan cinta seseorang dengan merendahkan dirimu sendiri." Ucapan Jimmy semakin membuat Clara tertunduk malu.


"Aku tak pernah menyangka gadis sepolos dirimu sampai melakukan semuanya. Dan sekarang aku akan memberitahumu satu hal. Noah itu pria yang sangat jenius. Akan sulit untukmu melakukan sesuatu padanya. Karena dia akan selangkah lebih depan darimu. Dengan kata lain, sebelum kau bertindak, dia sudah tahu lebih dulu." Lanjut Jimmy.


"Jimmy, aku...."


"Clara, ingatlah satu hal. Apa yang kau tabur itu juga yang kau tuai. Apa kau ingat apa yang sudah kau lakukan padaku semalam?" Tanya Jimmy.

__ADS_1


Clara ingat betul apa yang sudah ia lakukan. Setelah meminum air putih itu, tubuhnya langsung bereaksi. Ia hampir saja kehilangan kesuciannya jika Jimmy tak bisa mengendalikan dirinya. Clara juga menyadari bahwa ia telah mempermalukan dirinya sendiri di pesta ulang tahunnya. Ja bahkan memberikan ciuman pertamanya pada Jimmy dihadapan semua tamu undangan yang hadir.


Clara menggeleng keras dan mulai terisak. Jimmy mengusap kepala wanita yang dicintainya itu lembut.


"Kau berencana menjebak Noah. Dan hasilnya kau sendiri yang terjebak. Kalau saja aku terlambat datang, kau sudah habis oleh pelayan laki-laki itu."


"Lalu kenapa tak kau lakukan? Karena kau tak melakukannya, aku malah mempermalukan diriku dihadapan orang banyak karena pengaruh obat itu." Isak Clara.


"Karena aku menyukaimu." Balas Jimmy yang membuat Clara sontak mendongak menatap wajah Jimmy.


"A-apa?"


"Iya. Kau tak salah dengar. Aku menyukaimu, sangat menyukaimu. Tapi, aku tak mau memaksakan kehendak ku karena aku tahu kau menyukai Noah. Kalau aku mau, bisa saja aku memanfaatkan situasi semalam untuk bisa bersamamu. Tapi aku bukan orang seperti itu. Aku tidak akan merusak gadis yang aku sukai. Aku akan melindunginya." Ucap Jimmy.


Clara merasakan jantungnya berdegup kencang. Ucapan Jimmy membuatnya tersentuh.


"Aku tidak akan memaksamu untuk balik menyukai aku. Karena aku tahu kau menyukai Noah. Tapi, aku hanya ingin katakan. Jangan sia-siakan waktumu untuk mengejar Noah. Karena sekali ia menolak, hal itu tidak dapat diubah lagi. Lagi pula sekarang dia sudah punya seseorang yang disukainya."


Clara kembali terdiam.


Jimmy kemudian beranjak menuju villa dimana dia dan Noah tinggal.


"Semoga Noah memaafkan aku." Ucap Jimmy mulai menyetir mobil menuju villa.


Malam yang mempesona. Nuansa malam yang indah. Di langit, bintang-bintang berkelip-kelip memancarkan sinarnya. Banyak bintang berjatuhan. Rembulan bercahaya terang. Angin meliuk-liuk berhembus pelan dan tenang. Hawa dingin menusuk kulit. Sesekali terdengar suara jangkrik, burung malam, dan kelelawar mengusik sepinya malam ini. Malam yang sepi dan sunyi.


Meski arloji di tangannya sudah menunjukkan pukul 23:30, Noah belum beranjak dari tempat ia duduk di balkon depan kamarnya. Ia terus memandang langit malam yang bertabur bintang sambil sesekali memejamkan matanya.


Sesaat malam menjadi mencekam. Mendung pun kembali datang. Serentak alam menjadi kelam. Awan tertutup kabut dan tampak semakin menghitam. Sekejap malam menjadi kian gelap. Kini semilir angin bertiup kencang. Membuat Noah akhirnya beranjak masuk ke dalam kamarnya. Ia lalu duduk di dekat jendela.


Dari balik tirai jendela kamar mulai terdengar rintik hujan. Rintik hujan membasahi pepohonan. Sepanjang jalan menjadi licin. Tercium aroma tanah yang tersirami air hujan. Seolah memecahkan kesepian dan kesunyian malam yang sudah sangat larut.


"Dimana si dewa cinta itu? Apa dia tak akan pulang?" Ucap Noah.


Noah menjadi khawatir tentang Jimmy, karena hujan turun semakin deras.

__ADS_1


'Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?' pikir Noah


Sementara di tengah jalan yang mulai licin, Jimmy perlahan-lahan menerobos hujan yang sangat deras. Jarak pandangnya yang terbatas membuat laju mobil yang dikendarai Jimmy melambat. Jika ia biasanya membutuhkan waktu hanya tiga puluh menit untuk sampai ke rumah dari hotel tadi. Tapi, kali ini Jimmy harus menyetir selama satu jam.


Jimmy akhirnya tiba di villa. Dari kamarnya yang berada di lantai atas, Noah menatap mobil Jimmy yang berhenti tepat di depan villa.


Jimmy keluar dari dalam mobil dan langsung berjalan masuk ke dalam rumah.


"Dingin sekali." Ucap Jimmy. "Apa Noah sudah tidur?" Tanya Jimmy sambil berjalan menuju kamar Noah.


Jimmy berdiri di depan kamar Noah dan hendak mengetuk pintu. Namun, Noah lebih dulu membuka pintu kamarnya.


"Eh, kau belum tidur." Ucap Jimmy canggung.


"Belum." Balas Noah singkat.


"Mmm itu, aku..."


"Aku sudah memaafkan mu." Noah memotong ucapan Jimmy dan langsung menutup pintu kamarnya.


"Eh...." Jimmy kaget, karena Noah menutup pintu kamarnya dengan keras dan tiba-tiba.


"Woy...." Teriak Jimmy. "Aku belum selesai bicara. Aku...."


"Aku ngantuk, mau tidur. Kalau kau mau aku pecat, silahkan saja." Ucap Noah dengan pintu yang sudah terbuka.


"Ah, tidak-tidak. Terima kasih, sudah memaafkan aku Bos." Balas Jimmy seraya menggaruk kepalanya.


Saat Noah hendak menutup pintu kamarnya lagi, ia kembali berbicara.


"Lain kali, kau harus lebih percaya padaku. Sekalipun itu dengan isterimu nanti, kau harus lebih percaya padaku." Ucap Noah lalu menutup pintu.


Jimmy tersenyum lalu berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tak akan pernah meragukan Bos nya itu.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2