NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Merasa Bersalah


__ADS_3

Pagi menjelang...


Sherly terbangun dengan perasaan yang aneh. Ia merasa semalam dirinya bermimpi berciuman dengan seorang pangeran dan rasanya sangat begitu nyata bagi dirinya. Sherly bergegas menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya lalu menatap pantulan dirinya di cermin.


"Kenapa mimpi itu terasa begitu nyata?" Ucap Sherly seraya menyentuh bibirnya.


Cukup lama ia berada di dalam kamar mandi hingga akhirnya ia berjalan keluar dan mendapati Noah tengah tidur diatas sofa. Sherly berdiri menatap wajah Noah dengan lekat.


"Pria ini, semakin di pandang semakin tampan juga." Ucap Sherly.


Noah tiba-tiba terbangun dan pandangan keduanya beradu, membuat Sherly jadi salah tingkah dan langsung kembali ke tempat tidur. Noah yang masih setengah sadar bangun dan langsung berjalan menuju kamar mandi.


Tak butuh waktu lama, Noah pun keluar dari dalam kamar mandi lalu berjalan menuju balkon rumah dan langsung melakukan aktifitas rutinnya yaitu berolahraga ringan. Noah mengangkat barbel dan sekedar melompat-lompat dengan tali dengan sebuah headphone melekat di telinganya.


Sementara Sherly ia langsung berlarian ke arah kamar mandi lagi karena sakit perut.


Sherly pun memilih langsung mandi dan ternyata ia lupa membawa pakaian ganti langsung ke dalam kamar mandi. Sementara pakaian yang tadi ia kenakan sudah ia bilas.


"Bagaimana ini? Aku tidak mungkin kan keluar dengan hanya menggunakan handuk kecil ini?" Ucap Sherly.


"Aku juga tidak mungkin mengenakan pakaian Noah." Ucap Sherly lagi.


Perlahan Sherly berjalan membuka pintu kamar mandi dan menengok ke kanan dan ke kiri lalu berusaha lari sekencang mungkin ke arah kopernya untuk mengambil pakaian yang harus ia kenakan.


Brukk....!!!


Karena tak hati-hati dan tak saling melihat, Sherly dan Niah yang berjalan masuk ke dalam kamar bertabrakan.


"Oh my God, what are you doing?" (Ya Tuhan, apa yang kau lakukan?) Teriak Noah dengan Sherly yang berada diatas tubuhnya.


Rambut Sherly yang basah mengenai wajah Noah. Aroma mentol dari shampo yang dipakai Sherly menguar di hidung Noah. Bagian perut Noah pun merasakan sesuatu yang kenyal. Saat menyadarinya, Noah langsung terdiam.


"Tutup matamu." Teriak Sherly.


Noah menurut saja dan langsung menutup mata.


'Situasi macam apa ini?' pikir Noah.


"Ayo cepat bangun." Titah Noah.

__ADS_1


"Apa kau sudah menutup matamu dengan bagus?" Tanya Sherly.


"Tentu saja. Cepat bangun." Kini giliran Noah yang berteriak.


Dengan susah payah Sherly bangun dan memperbaiki handuknya lalu segera berlari menuju meja yang ada di samping tempat tidur untuk mengambil pakaiannya.


Noah lalu duduk membelakangi Sherly, dirinya juga hanya mengenakan celana hingga menampilkan bentuk dada dan otot perutnya. Kejadian tadi terjadi begitu cepat. Baik Sherly maupun Noah, masih mencerna semuanya.


"Hey... Apa-apaan kau ini? Kenapa berkeliaran di dalam kamar hanya mengenakan handuk?" Ucap Noah akhirnya setelah terdiam beberapa saat.


"Aku lupa membawa pakaian ganti tadi saat mandi." Teriak Sherly. "Kau sendiri, kenapa tak pakai baju. Kau kan tahu kalau di kamar ini sekarang ada aku?" Kini Sherly balik berteriak.


"Aku habis berolahraga dan lupa bahwa ada makhluk lain yang kini menghuni kamarku." Jawab Noah sewot.


'Makhluk lain? Memang dia pikir aku ini kuntilanak apa?' gumam Sherly dalam hati.


Sherly yang sudah mengambil baju ganti segera masuk ke dalam kamar mandi lagi untuk mengganti pakaiannya sambil terus menggerutu. Sementara Noah nyengir tidak jelas membayangkan sesuatu yang menindih perutnya tadi.


"Lumayan besar." Ucap Noah dengan tertawa.


******


Semua orang duduk di ruang makan untuk sarapan pagi. Hari ini agendanya adalah Sherly akan diperkenalkan dengan anggota keluarga yang lainnya yang akan datang sebentar lagi. Bella mengatakan kepada calon menantunya itu untuk tidak usah terlihat gugup karena ini hanya pertemuan kekeluargaan saja.


Semua keluarga berkumpul di halaman belakang. Berkumpul dan berbincang-bincang mengenai agenda pernikahan Noah dan Sherly. Sherly memilih duduk seorang diri di sebuah ayunan dengan model bangku yang memanjang yang berada di antara dua pohon pucuk merah.


Seorang gadis mendekat ke arahnya.


"Hai, apa aku boleh duduk?" Tanya gadis berparas cantik itu.


"Tentu saja." Balas Sherly.


Keduanya duduk berdampingan lalu berayun dengan perlahan.


"Kenalkan, aku Lika. Sahabat Noah saat kecil dulu." Ucap gadis berlesung pipi itu.


"Hai Lika. Aku Sherly." Jawab Sherly.


Keduanya tersenyum dan terdiam sesaat.

__ADS_1


"Aku tak pernah menyangka bahwa Noah akhirnya menikah. Sejak dulu, aku sama sekali tak pernah mendengar dia tertarik pada seorang perempuan. Satu hal yang aku tahu tentang Noah adalah musik. Dia mencintai musik sepenuh hati. Hidupnya selalu dipenuhi musik. Bahkan masa kecilnya jauh berbeda dengan kami. Jika anak lain bermain lompat tali atau robot bahkan bersepeda, Noah malah diusianya yang masih 8 tahun sudah bersekolah musik di Amerika. Semuanya bukan karena dipaksa oleh Om Erlan ataupun Tante Bella. Semuanya karena Noah yang suka. Jadi, aku cukup heran ketika tiba-tiba Noah pergi keluar kota selama kurang dari dua bulan dan kembali dengan kabar sudah menikah." Ujar Lika panjang lebar.


'Kenapa gadis ini memberitahuku semua ini?' pikir Sherly.


"Kau pasti bertanya-tanya, kenapa aku memberitahumu semua ini. Padahal sebagai isteri Noah kau harusnya sudah tau semuanya. Tapi nyatanya, aku tidak yakin kau mengetahui semuanya."


Deg!


Sherly langsung menatap ke arah wajah Lika yang melihat lurus ke depan ke arah Noah tengah berdiri bersama Javi teman semasa kecilnya juga.


"Apa kau..."


"Menyukai Noah?" Ucap Lika menyela ucapan Sherly.


Sherly terdiam, ia menatap Lika dengan lekat.


"Wanita mana yang tak menyukai Noah. Noah pria tampan, mapan, dan begitu menarik. Tapi aku tahu diri. Tante Bella dan Om Erlan pernah menjodohkan aku dengan Noah. Tapi Noah menolak. Dia bukan tipe pria yang suka dipaksa. Dan aku juga tidak ingin memaksakan kehendak. Aku memang menyukai Noah. Tapi, aku juga sadar diri bahwa Noah tidak menyukaiku." Ucap Lika.


Sherly semakin terdiam, ia hanya fokus mendengarkan ucapan Lika.


"Keluarga Alexander adalah keluarga terpandang dan begitu baik. Aku harap kau tidak mengambil kesempatan untuk.... Ahj sudahlah, aku hanya mendoakan agar kau dan Noah bisa bahagia. Mari berteman, karena setelah ini kau akan menjadi Nyonya Alexander. Dan kau akan tinggal di lingkungan ini. Rumahku ada diseberang jalan." Ucap Lika seraya menyodorkan tangannya pada Sherly dengan tersenyum.


Keduanya bersalaman dengan sama-sama menampilkan senyuman. Setelah itu keduanya bergabung bersama keluarga lainnya masuk ke dalam ruang keluarga.


'Ada apa ini?' pikir Sherly.


Ternyata Noah akan memainkan piano di depan semua orang karena diminta oleh sang kakek, Tuan Besar Adam Alexander.


Sherly begitu terpana melihat sosok Noah yang tengah bermain piano dengan begitu serius. Mata Noah tertutup, dan tangannya seolah menyatu dengan tut piano. Irama yang dimainkan Noah membuat orang-orang merasa tenang, hingga nada musik yang dimainkan Noah berubah menjadi nada yang cocok untuk mengiringi sebuah dansa.


Erlan dan Bella berdansa pertama kali, lalu disusul beberapa pasangan yang lainnya. Semua orang tampak begitu senang. Tuan Besar Adam mendekati Sherly dan mengajaknya berdansa.


"Nona Manis, maukah kau berdansa dengan Opa yang sudah tua ini?"


"Tentu saja." Balas Sherly.


Sherly memegang tangan Tuan Adam yang duduk di kursi roda dan mulai menggerakkan badannya seolah tengah berdansa. Tanpa terasa Sherly menitikkan air mata, ia merasa seperti memiliki keluarga baru.


Keluarga Alexander menyambutnya dengan begitu ramah, membuat Sherly semakin merasa bersalah karena secara tidak sengaja ia memanfaatkan Noah untuk membantunya dengan menikah pura-pura.

__ADS_1


'Maafkan aku....' ucap Sherly dalam hati.


Bersambung.....


__ADS_2