NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Anak Erlan


__ADS_3

Beberapa hari setelah liburan di Jerman. Erlan, Bella dan Noah kembali.


Hari-hari berlalu, kehidupan mereka sangat bahagia. Noah semakin terkenal sebagai komposer cilik yang genius. Selain itu Noah semakin mengembangkan kemampuannya dengan bermain berbagai jenis alat musik yang lainnya. Bahkan ia sudah menguasai berbagai jenis alat musik tradisional lainnya.


Bella mengingatkan Noah juga harus fokus pada pendidikan bukan hanya melulu soal musik. Meski Noah disibukkan dengan agenda latihan musiknya. Ia juga fokus home schooling.


Setiap hari kecuali sabtu dan minggu ada guru yang datang mengajari Noah. Namun, semua guru sepertinya tak banyak mengajar. Karena Noah sendiri sudah mempelajari semua materi yang akan para guru ajarkan.


Hari ini, seorang guru yang biasa di panggil Miss Hana duduk bersama Bella di ruang tamu. Bu Hana mengajak Bella untuk mengobrol.


"Ada apa Bu Hana, sepertinya ada suatu hal yang ingin anda sampaikan. Apa Noah tidak belajar dengan serius?" Tanya Bella.


"Bukan begitu Nyonya Bella. Saya malah ingin memberitahu Nyonya Bella bahwa perkembangan Noah sangat pesat, melewati anak-anak yang seusia dengannya. Bahkan bisa dikatakan ia lebih pintar dari remaja yang berusia delapan belas tahun." Jelas Bu Hana.


"Saya tidak mengerti. Apa sebenarnya yang ingin anda sampaikan?"


"Begini Nyonya Bella. Kepintaran Noah itu benar-benar diatas rata-rata. Semua yang kami ajarkan padanya sudah lebih dahulu ia pahami sebelumnya. Setiap harinya justru Noah yang mengajukan pertanyaan kepada kami dan sungguh sulit sekali bagi kami untuk menjawabnya. Noah tidak membutuhkan pendidikan dasar, atau dengan kata lain, dia tidak perlu bersekolah dasar, bahkan menengah. Yang Noah butuhkan sekarang adalah pendidikan lebih lanjut yaitu di sebuah universitas ataupun pergiruan tinggi." Ujar Bu Hana panjang lebar.


"Tapi usia Noah baru saja masuk tujuh tahun. Bagaimana dia bisa melanjutkan ke jenjang yang setinggi itu?" Bella terlihat penuh tanya.


Setelah percakapan itu, Bella menelepon Erlan dan mengajaknya berbicara dengan Noah.


Malam harinya ketiganya duduk bersama di kamar Noah dan berbincang.


"Sayang, bagaimana belajarnya hari ini?" Tanya Bella seraya mengelus pucuk kepala Noah.


"Biasa aja." Jawab Noah cuek, matanya fokus menatap layar tablet yang sedang dimainkannya.


Erlan mendekat dan ikut mengusap kepala Noah.


"Lagi main apa sih anak Papa ini sampai serius sekali."


"Lagi belajar Pa." Balas Noah sambil memperlihatkan layar ponselnya tentang manajemen ekonomi.


Erlan dan Bella saling menatap.


"Noah suka pelajaran apa?" Tanya Erlan lagi.


"Semua pelajaran Pa. Tapi Noah paling suka hal-hal yang berkaitan dengan musik." Balas Noah sambil terus menatap layar ponselnya.

__ADS_1


"Kalau Mama tanya Noah mau sekolah dimana, Noah mau jawab apa?" Tanya Bella.


"Juilliard School." Balas Noah santai.


Bella dan Erlan kembali saling pandang tak percaya.


"Bukankah itu sekolah musik terbaik yang ada di...."


"Berada di Lincoln Center of Performing Arts, New York City, Amerika Serikat, sekolah bidang tari, drama, musik tersebut sudah berdiri sejak tahun 1905 sehingga reputasinya sudah dikenal seluruh dunia sekaligus menjadi konservatorium seni paling bergengsi secara internasional." Noah menyela ucapan Bella.


"Agar dapat kuliah di Juilliard School, membutuhkan persiapan sangat matang karena proses seleksi tinggi. Tapi Noah yakin, dengan kemampuan yang Noah miliki, Noah mampu bersaing dan bisa bersekolah disana."


"Bukannya Noah sudah terkenal? Apa Noah yakin untuk..."


"Pa, Noah benar-benar ingin bersekolah disana. Juilliard School merupakan sekolah musik impian Noah." Lagi-lagi Noah menyela ucapan sang Papa.


"Baiklah, kalau Noah sudah memutuskan. Papa akan mengurus semuanya, sisanya tinggal Noah sendiri yang berusaha." Ucap Erlan kemudian berjalan keluar dari kamr Noah.


Bella terdiam, ada rasa bangga sekaligus sedih dalam hatinya. Noah akan bersekolah di luar negeri, dan terpisah jauh dari dirinya. Seolah mengerti akan apa yang tengah dipikirkan Bella, Noah melepaskan tablet yang sedari tadi menjadi fokus perhatiannya. Ia lalu memegang tangan Bella.


"Ma, Noah tahu Mama sedih karena harus berpisah dari Noah. Tapi Mama setidaknya juga ikut senang karena Noah juga bahagia."


Bella tersenyum lalu mencium kening putera kesayangannya itu. Noah kemudian memeluk Bella dengan sangat erat.


Di tempat lain...


"Sial... Sial... Sial... Kenapa aku bisa kecolongan begini? Pantas saja aku belum datang bulan juga. Kenapa aku tidak menyadarinya. Aaahhh sial sekali."


Clarissa tak henti-hentinya mengumpat di dalam kamarnya setelah mendapati hasil tes kehamilan yang baru dicobanya menunjukkan hasil positif.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Siapa ayah dari anak ini?"


Clarissa mengacak-acak rambutnya. Ia mengambil ponselnya dan berusaha menelepon Vino. Tapi Vino sudah lama tak bisa ia hubungi. Akun media sosial Vino pun sudah memblokir dirinya.


"Dasar kau Vino. Kalaupun ini anakmu, aku juga bukan mau memintamu untuk bertanggung jawab. Aku hanya mau kau menemani aku untuk menggugurkannya."


Lagi-lagi Clarissa mengumpat. Ia mulai mengingat-ingat dengan siapa ia tidur satu bulan belakangan.


"Selain Vino, aku hanya tidur dengan pria bule itu dua kali. Apa aku harus menghubungi Andrew?"

__ADS_1


Pria bule yang bernama Andrew itu kembali bertemu dengan Clarissa dua hari setelah pertemuan pertam mereka di hotel.


Clarissa sama sekali tak menyadari pintu kamarnya terbuka. Sosok Bu Maya masuk dan langsung merampas tes kehamilan yang ada di tangan Clarissa.


"Ma-Mama..."


"Apa ini? Kenapa kamu bisa hamil? Anak siapa? Cepat katakan siapa yang menghamili mu?" Bentak Bu Maya.


Clarissa terdiam, dia sendiri tak tahu pasti siapa ayah dari anak yang tengah dikandungnya.


"Clarissa.... Lihat Mama. Cepat katakan siapa..."


"Aku gak tahu..." Teriak Clarissa tiba-tiba.


Bu Maya terkejut atas jawaban yang diberikan Clarissa.


"Apa maksud kamu tidak tahu? Bagaimana mungkin kamu tidak tahu siapa pria yang sudah menjamah kamu? Atau.... Jangan bilang kau tidur dengan banyak pria?" Tebak Bu Maya.


Clarissa kembali diam.


"Ya Tuhan Clarissa.... Kenapa kamu bisa sebodoh ini? Kamu hamil dan tidak tahu siapa ayah dari anak yang kamu kandung. Lalu bagaimana dengan mimpimu yang ingin bersanding dengan Erlan Alexander? Apa kau pikir Erlan mau menerima wanita yang sudah jamah laki-laki lain? Ha.. kau benar-benar bodoh Clarissa." Bu Maya sangat marah lalu menarik rambut Clarissa kasar.


Beberapa saat Clarissa terdiam tak berusaha melepaskan diri dari kemarahan Mamanya.


'Erlan... Mimpi bersanding dengan Erlan... Ah tentu saja.'


Tiba-tiba sebuah ide muncul dipikiran Clarissa.


"Cukup Ma. Aku sudah tahu siapa ayah dari anak ini." Ucap Clarissa membuat Bu Maya melepaskan jambakan nya.


"Siapa?"


"Erlan." Jawab Clarissa mantap.


"Jangan gila kamu, mana mungkin Erlan..."


"Ma, sudah ku katakan. Anak yang ada dikandungan ku ini anak Erlan. Mama hanya perlu menolongku untuk membuat anak ini menjadi anak Erlan."


"Mama tidak mengerti. Sebenarnya apa yang mau kamu lakukan."

__ADS_1


"Mama turuti saja ucapan ku. Dan sebentar lagi, aku akan menjadi istri Erlan. Dan anak yang di kandunganku ini sudah pasti anak Erlan."


Bersambung....


__ADS_2