
Kediaman Tuan Tama....
"Gawat Tuan. Polisi sudah mengetahui tentang dalang dibalik penembakan Pak Indra. Sebentar lagi Tuan Tama akan di tangkap oleh polisi." Ucap salah seorang pengawal yang bekerja dengan Tuan Tama.
"Bagaimana ini Mas. Aku gak mau di penjara." Ucap Bu Maya.
"Mereka tidak akan semudah itu menangkap ku tanpa bukti. Lagipula bukan aku yang menembak si Indra itu, jadi aku tidak akan bisa di tahan. Tapi, demi menjaga kemungkinan terburuk segera minta Clarissa untuk meninggalkan kota ini. Bila perlu minta dia berangkat ke luar negeri. Aku tak ingin puteriku yang tengah hamil ikut dijebloskan ke penjara." Ucap Tuan Tama.
"Lalu bagaimana denganku Mas?" Tanya Bu Maya.
"Kau diam disini. Temani aku, apa kau ingin kabur meninggalkan aku, ha?" Bentak Tuan Tama.
"Ti-tidak Mas."
"Kalau begitu segera laksanakan perintahku." Teriak Tuan Tama.
Hari itu juga Clarissa langsung bertolak menuju Rusia. Disana sudah ada kerabat Tuan Tama yang akan menjaga dirinya. Sementara Tuan Tama dan Bu Maya akhirnya di tangkap polisi karena mereka terbukti menjadi otak dibalik penculikan terhadap Noah dan Bella. Serta pembunuhan terhadap Pak Indra.
Di pengadilan, Bu Maya mengakui bahwa ia yang meminta si pelaku pembunuhan untuk menculik Noah dan Bella.
"Saya mengakui perbuatan saya yang mulia. Tapi, saya tidak meminta si pelaku untuk membunuh mantan suami saya. Niat saya hanya untuk membalas Bella karena sudah membuat saya dan anak saya diusir keluar dari rumah." Ucap Bu Maya.
Sementara Tuan Tama di denda pasal berlapis. Selain terbukti juga menjadi dalang dibalik penculikan dan penyediaan senjata api. Tuan Tama juga terbukti melakukan praktek prostitusi di hotelnya. Selain itu bukti yang paling memberatkannya juga menjadi bandar narkoba yang telah lama menjual barang haram itu.
Pelaku pembunuhan dijatuhi hukuman dua puluh tahun penjara. Bu Maya di jatuhi hukuman sepuluh tahun kurungan penjara. Sementara hukuman berat diterima Tuan Tama, yaitu seumur hidup. Karena terbukti telah melakukan berbagai kejahatan berat.
Di ruang sidang, air mata Bella luruh.
'Akhirnya keadilan bisa di tegakkan juga.' ucap Bella dalam hati.
Sebelum di bawa kembali ke tahanan, Bella ingin bertemu Bu Maya. Keduanya dipertemukan disebuah ruangan ditemani Erlan dan dua orang polisi wanita.
"Kenapa? Kenapa anda lakuin semuanya?" Tanya Bella.
"Karena aku benci sama kamu. Aku ingin kamu menderita. Bila perlu kamu mati sekalian menyusul Papa kamu itu. Sekarang kamu lagi-lagi sudah membuat kemarahan di hatiku, dengan memisahkan aku dengan suami dan puteriku. Aku mengutuk mu tak akan pernah bahagia seumur hidupmu. Suamimu akan berselingkuh, dan anakmu akan menjadi pembangkang. Dia akan melawan mu suatu saat nanti." Ucap Bu Maya.
Plakk!
Di hadapan kedua polisi wanita itu Bella menampar Bu Maya dengan keras.
"Kau pikir, kutukan dari orang hina sepertimu akan berlaku di hidupku. Enggak, nggak akan berlaku sama sekali. Tuhan tidak akan pernah mengabulkan doa dari orang jahat seperti dirimu. Kau mendoakan ku untuk mati? Heh, ingat usiamu berapa, bisa saja dua atau tiga tahun lagi kau yang akan meninggal. Atau bisa jadi malam ini juga kau akan mati karena kedinginan tidur di ubin penjara." Balas Bella.
Dengan tangan yang terborgol Bu Maya hendak memukul Bella. Dengan cepat Erlan mendorongnya, hingga membuat tubuh Bu Maya membentur tembok.
"Tolong segera bawa orang jahat ini ke penjara. Bila perlu tambah hukumannya karena sudah begitu jahat." Ucap Erlan.
Kedua polisi wanita itu kemudian membawa Bu Maya pergi. Seiring kepergian Bu Maya, Bella kembali menangis.
"Kenapa nangis lagi sayang? Bukankah seharusnya kau senang, karena mereka semua sudah di hukum dengan berat?" Ucap Erlan seraya mengusap lembut punggung Bella.
"Aku hanya kecewa, kenapa bertahun-tahun Papa harus mencintai wanita seperti itu. Padahal...."
"Sudahlah sayang, semuanya sudah berakhir. Tak akan ada lagi orang yang mengganggu keluarga kita. Clarissa tidak terbukti melakukan kejahatan yang dilakukan kedua orang tuanya. Tapi, yang membuat aku heran kenapa dia bisa sampai menghilang bak di telan bumi. Sudahlah, yang penting sekarang kita sudah tenang dan semoga Papa juga sudah tenang disana." Ucap Erlan.
************
Satu tahun berlalu....
__ADS_1
Kehidupan Bella dan Erlan berjalan sempurna. Hari ini keduanya bertolak untuk berlibur ke negeri Paman Sam sekaligus bertemu dengan Noah yang juga tengah libur sekolah.
Bella dan Erlan landing dengan selamat di John kennedy airport. Perjalanan yang sangat panjang bagi keduanya.
Hari pertama di New York mereka putuskan untuk singgah di Brooklyn. Dari airport ke hotel jarak tempuh sekitar 20 menit. Mereka tiba saat malam hari.
Gedung-gedung tinggi dan lampu-lampu sepanjang perjalanan menuju hotel benar-benar luar biasa. Jalanan begitu padat, setiap sisi jalan banyak mobil mobil parkir.
Noah sudah menunggu mereka di hotel yang sudah di pesan sebelumnya. Awalnya Noah ditemani Vino, tapi setelah Bella dan Erlan tiba, Vino langsung pergi.
"Selamat datang Ma, Pa. Pasti melelahkan ya?" Sapa Noah.
"Lumayan sayang. Oh ya mana Om Vino?" Tanya Bella.
"Katanya ada urusan Ma."
"Sudah biarkan dia. Mungkin masih malu bertemu kita." Ucap Erlan.
Ketiganya kemudian masuk ke dalam hotel untuk beristirahat.
"Kita keluar yuk." Ajak Bella saat mereka sudah beristirahat selama satu jam.
"Memangnya Mama gak capek?" Tanya Noah.
"Mama malah lebih capek duduk atau tiduran kayak gini. Habisnya di pesawat kan gak ada yang bisa dilakuin selain tidur, duduk, makan, nonton... Ah bosan."
"Ya sudah, ayo kita keluar." Ucap Erlan menggandeng tangan Bella.
Ketiganya lalu menuju Times Square. Di Times Square, mereka mulai mencoba hotdog yang banyak dijual dipinggir jalan.
"Mama tahu gak, katanya hotdog ini beda dari hotdog kota lain." Ucap Noah.
"Hahahahahha..." Erlan tertawa melihat tingkah isteri dan anaknya itu.
Mereka kembali berjalan dan melihat ada banyak pertunjukan semacam replika hidup tokoh-tokoh heroes marvels dan lain-lain di sepanjang jalan yang bisa diajak foto dengan catatan asal di bayar. Dan, ada juga patung Liberty berjalan.
*********
Pagi harinya, agenda liburan mereka berkunjung ke Statue of Liberty. Ketiganya sengaja berangkat ke Liberty Island pagi sekali, karena tak ingin panas-panasan disana.
Untuk masuk ke Liberty Island mereka harus membeli tiket kapal ferry dulu. Perjalanan ke Liberty Island membutuhkan waktu cuma 15 menit.
"Sini Mah, foto dulu." Ucap Noah.
Mereka bertiga mengabadikan beberapa foto saat berada di Statue of Liberty. Mereka disana tak berlama-lama, hanya mengambil foto sekitar satu jam, lalu langsung pulang.
Siang harinya setelah selesai makan siang mereka mengunjungi Rockefeller Center di Top of the Rock atau lantai 68 gedung tersebut untuk berfoto dengan view Empire State Building.
Mereka kembali berfoto dengan view keseluruhan New York City,
"Indah sekali." Ucap Bella takjub melihat seluruh pemandangan keseluruhan kota New York yang terlihat jelas dari atas gedung.
"Mah, lihat itu." Tunjuk Noah ke sebuah taman. "Itu Central Park NYC. Mama tahu kan pohon natal yang besar banget yang biasa muncul di berita tv bulan December, itu adanya di Taman Rockefeller Center, kita kesana juga ya nanti buat foto-foto atau sekedar ngeliat aja." Lanjut Noah, sementara Erlan hanya mengikuti saja.
"Sekarang, giliran Papa yang menentukan kita mau kemana." Ucap Erlan menarik tangan Bella dan Noah.
Ternyata Erlan membawa mereka mampir ke Apple Store New York, lokasinya berada di depan Plaza Hotel di Midtown Manhattan.
__ADS_1
"Hotel itu terlihat sangat familiar!" Seru Bella.
"Sayang, pernah nonton Home Alone movie gak? Kalau pernah, pasti tahu dengan hotel itu." Balas Erlan.
Bella terlihat tengah berpikir.
"Apa itu Home Alone Movie Ma?" Tanya Noah.
"Aaahh, aku ingat. Film tentang anak yang namanya Kevin McCallister itu kan?" Ucap Bella.
"Benar. Itu lah hotel yang ada di dalam film itu." Balas Erlan.
"Mama sama Papa lagi omongin apa sih?" Tanya Noah.
Erlan dan Bella hanya tertawa.
"Sudahlah, Noah tidak akan mengerti. Ayo lebih baik kita masuk." Ajak Erlan membawa Noah dan Bella masuk ke Apple store.
Lokasi Apple store itu terlihat sangat unik, dengan toko yang berada di underground.
"Lucu ya toko nya!" Seru Bella.
"Sepertinya mereka menggunakan konsep green house, jadi mengurangi penggunaan energi disiang hari." Ucap Noah menjelaskan kepada
Setelah puas melihat-lihat, Noah jatuh hati pada sebuah earphone model baru yang dikeluarkan Apple store.
"Beliin ya Pah." Rengek Noah.
"Bungkus. Mau yang mana lagi?" Tanya Erlan. "Sayang, gak mau ponsel baru atau laptop baru, atau yang lainnya?" Tawar Erlan pada Bella.
"Ah, gak perlu. Ponselku masih baru kok." Tolak Bella.
Setelah membayar barang yang diinginkan Noah, mereka ber jalan ke Central Park, karena jaraknya yang hanya beberapa meter dari Apple Store. Di park itu, mereka menemukan banyak orang yang sedang berlatih yoga, ataupun sedang tidur- tidur indah, karena memang lokasi nya teduh dan di kelilingi pohon rindang.
"Capek gak?" Tanya Erlan saat ketiganya duduk di rerumputan dibawah rindangnya pepohonan.
"Lumayan. Cuma tetap saja banyakan senangnya daripada capeknya." Balas Bella.
"Pa, Noah mau es krim." Ucap Noah.
"Oke tunggu bentar, Papa beliin dulu. Sayang, mau juga?" Tanya Erlan lagi.
"Eemm boleh, yang coklat ya."
"Noah juga mau yang coklat." Teriak Noah girang.
"Siap Boss. Tunggu ya." Ucap Erlan kemudian berlalu.
Untuk pertama kalinya Bella dapat melihat sisi anak-anak dari Noah. Selama ini Noah selalu bersikap dewasa dihadapannya. Namun, sejak liburan ini Noah bertingkah sesuai dengan usianya. Anak laki-laki berusia delapan tahun yang terlihat sangat ceria.
'Semoga kau selalu bahagia Nak.' ucap Bella dalam hati sambil mengelus pucuk kepala Noah.
"Ahh Mama, Noah bukan balita tiga tahun yang masih di perlakukan seperti ini." Ucap Noah menepis tangan Bella yang tiba-tiba mencubit pipinya itu.
Bella hanya tertawa bahagia dan semakin menjahili puteranya itu.
Sore harinya, sebagai penutup jalan-jalan mereka di hari pertama di New York. Mereka menikmati suasana sunset di Brooklyn Bridge. Hingga akhirnya kembali lagi ke hotel untuk istirahat.
__ADS_1
Bersambung......