NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Gagal Menikah


__ADS_3

Malam semakin larut, tak ada lagi hiruk pikuk yang terdengar. Sherly tak dapat memejamkan matanya. Harusnya ia tidur dengan cepat, karena besok adalah hari besar baginya. Dimana ia akan menyandang status sebagai Nyonya Noah Alexander.


Wanita mana yang tak bahagia dan bangga bisa menyandang status sehebat itu. Tapi tidak bagi Sherly, yang ia rasakan adalah beban yang mendalam. Rasa bersalah benar-benar menghantui dirinya. Masih terbayang kala Tuan Erlan memanggil dirinya dan memintanya untuk menjelaskan semuanya. Tapi, Noah datang untuk menutupinya dari rasa malu.


Hanya saja, yang dilakukan Noah malah semakin membuat Sherly merasa bersalah. Sejujurnya ia sudah ingin mengakui semuanya dihadapan Tuan Erlan. Setelah keluar dari ruang kerja, Noah langsung menarik tangan Sherly menuju kamar. Masih teringat jelas bagaimana Sherly bicara pada Noah untuk membongkar semuanya.


"Kenapa kamu semakin berbohong. Biarkan aku mengatakan semuanya." Ucap Sherly.


"Tidak. Apa kamu sudah gila ya? Kamu gak lihat persiapan pernikahan sudah rampung, dan kita hanya tinggal menikah besok." Balas Noah.


"Aku tidak ingin berbohong lebih banyak lagi."


"Apa kamu mau di deportasi?" Tanya Noah.


"Aku tidak mau. Tapi, ...."


"Tidak ada tapi-tapian. Sekarang lebih baik kamu tidur, karena besok kamu harus bangun lebih awal." Ucap Noah dengan nada yang tinggi.


Noah lalu hendak berjalan keluar kamar. Namun, Sherly meraih tangannya.


"Kenapa kau mau membantuku?" Tanya Sherly lagi.


Sesaat Noah terdiam, seperti tengah berpikir untuk menjawab apa.


"Noah kau....."


"Anggap saja karena aku mau kasihan padamu." Ucap Noah santai lalu berjalan pergi keluar kamar.


Hingga jam dinding menunjukkan pukul 2 dini hari, Noah tak kunjung kembali ke kamarnya. Sherly menghela nafas panjang. Dirinya berandai-andai.


'Kalau saja Noah memiliki perasaan yang sama denganku. Tentu pernikahan kami akan bahagia. Tapi, semua ini terjadi karena diriku sendiri.'


Sherly kembali menghembuskan nafas panjang. Sejak dulu, ia selalu bermimpi untuk bisa menikah dengan seorang pria yang ia cintai dan juga sangat mencintai dirinya. Tapi, yang akan terjadi sekarang adalah, cintanya bertepuk sebelah tangan. Sherly lalu mencoba memejamkan matanya dan mulai tertidur lelap.


Baru satu jam ia terlelap, ia kembali bangun karena bermimpi buruk. Dengan cepat Sherly mengemasi barang-barangnya ke dalam koper. Mimpi tadi membuatnya tersadar bahwa semua yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan.


Saat sedang mengepak semua pakaiannya, Sherly merasakan matanya memanas dan tiba-tiba air matanya jatuh berlinang.


"Ada apa denganku?" Tanya Sherly pada dirinya sendiri.


Dalam hatinya, Sherly merasa begitu sedih karena batal menikah dengan pria yang sebenarnya sudah merebut hatinya itu. Tapi di lain sisi, ia tak mau memulai semuanya dengan kebohongan. Kebaikan hati keluarga Alexander, membuat Sherly merasa tak enak hati jika harus membohongi mereka lebih jauh.


'Maafkan aku Noah, karena harus membuatmu malu.' ucap Sherly dalam hati seraya menulis sebuah catatan diatas kertas.


Air mata Sherly luruh saat menulis permintaan maaf kepada seluruh keluarga Alexander, terutama pada Bella, sang calon ibu mertuanya.


Sherly berjalan mengendap-endap keluar rumah. Namun, tak semulus yang ia kira. Karena nyatanya ada banyak pelayan dan pengawal yang masih terjaga.

__ADS_1


'Bagaimana ini?' pikir Sherly.


Sherly benar-benar tak bisa bergerak. Ia tak tahu harus berbuat apa. Hingga akhirnya ia memilih menunggu hingga pagi hari tiba.


"Tunggu sampai besok saja, saat orang mulai ramai. Aku bisa menyusup diantara mereka tanpa ada yang mengenali." Ucap Sherly.


******


Pagi tiba, Sherly sama sekali tak bisa tidur lagi. Ia hanya bisa menunggu hingga para tamu undangan mulai berdatangan. Karena Noah memutuskan untuk melangsungkan pernikahannya di rumah saja secara sederhana dan kekeluargaan. Sherly yang memang sejak awal meminta untuk tak perlu memakai jasa penata rias, memilih akan merias dirinya sendiri. Dan hal itu bisa menguntungkan posisinya yang saat ini memang ingin kabur tanpa ada yang mengetahui.


Semua orang mulai berdatangan, Noah mulai mengenakan pakaian pengantinnya, berupa jas berwarna putih dengan celana hitam di ruangan yang berbeda dengan Sherly.


Bella memutuskan untuk memeriksa persiapan Sherly. Sementara Erlan hanya terdiam dan berharap semuanya berjalan lancar dan yang dikatakan pihak imigrasi tentang Sherly itu salah. Bella berdiri di pintu kamar Noah dan mengetuknya.


"Sherly, apa kamu sudah siap sayang? Sebentar lagi acaranya akan segera dimulai." Teriak Bella dari balik pintu.


"Sebentar lagi Ma." Balas Sherly berteriak.


Bella tersenyum lalu kembali ke ruangan Noah. Saat itulah Sherly mencuri kesempatan dengan kabir dari rumah Noah setelah sebelumnya ia menghubungi taxi online. Sherly mengenakan syal untuk menutupi rambut dan kepalanya. Tak lupa ia mengenakan kacamata hitam dan juga masker untuk mengelabui para pelayan dan pengawal di rumah Alexander.


Dengan susah payah, akhirnya Sherly mampu keluar dari kediaman Alexander dan langsung menaiki taxi yang sudah menunggunya. Di dalam taxi, dengan cepat Sherly menelepon pihak imigrasi, Pak Andre.


"Temui aku di bandara. Sekarang juga kita kembali ke kota Y dan kau bisa segera men deportasi ku." Ucap Sherly tanpa basa-basi.


Pak Andre yang tengah duduk di kursi tamu undangan tersenyum mendengar ucapan Sherly dan berjalan keluar dari kediaman Alexander.


Semua irang sudah duduk di kursi mereka masing-masing. Jimmy dan Clara pun sudah duduk berdampingan dan akan segera mengucap janji suci mereka dihadapan semua orang. Namun, Sherly belum juga keluar dari dalam kamar.


Clara dan Jimmy pun mengucap janji suci pernikahan mereka dihadapan keluarga dan para tamu undangan sembari menunggu Sherly datang. Bella sudah meminta dua orang pelayan untuk melihat Sherly apakah sudah siap. Bella pergi menjemput Sherly ke dalam kamar karena prosesi pernikahannya akan segera dimulai. Sementara Noah sudah memiliki perasaan yang buruk.


Bella tiba di depan kamar dan mengetuk pelan. Tak ada jawaban dari dalam.


"Sherly... Kamu sudah siap nak?" Tanya Bella.


Lagi-lagi tak ada sahutan, hingga Bella pun memutuskan masuk kd salam kamar. Bella berjalan perlahan masuk ke dalam kamar. Ia tampak begitu anggun dengan mengenakan gaun warna soft pink. Ia begitu kaget saat masuk ke dalam, tak ada siapapun di dalam kamar.


'Dimana Sherly?'


Bella berjalan ke arah kamar mandi, dan tak juga menemukan keberadaan Sherly. Pandangan Bella beralih ke arah meja rias karena terdapat sebuah kertas. Bella membaca isi kertas itu.


'Noah, Tuan Erlan, Tuan Besar Adam, dan terkhususnya untuk wanita yang saat ini ku panggil Mama Bella, maafkan aku...'


Bella yang bingung langsung berjalan keluar dan menemui Noah yang tengah menunggu kedatangan Sherly. Saat Bella berjalan seorang diri dengan memegang secarik kertas, barulah Noah menyadari bahwa sesuatu yang salah telah terjadi.


"Dimana Sherly?" Tanya Noah panik.


"Ada yang bisa jelaskan sama Mama, apa maksud dari surat ini? Kenapa Sherly minta maaf? Kenapa dia harus pergi seperti ini?" Tanya Bella.

__ADS_1


Noah terdiam dengan menatap kertas yang diambilnya dari tangan Bella.


Semua orang yang hadir mulai riuh. Sementara pasangan Jimmy dan Clara yang sudah menikah hanya bisa diam. Tuan Besar Adam dan Erlan mendekat ke arah Bella.


"Ada apa?" Tanya Tuan Besar Adam.


"Sherly pergi." Balas Bella dengan memijat keningnya.


"Sudah aku duga." Ucap Erlan.


Bella langsung menatap Erlan dan menanyainya,


"Apa maksud kamu? Apa kamu mengetahui sesuatu tentang ini?" Tanya Bella.


"Maafkan aku sayang. Aku tidak memberitahumu sejak semalam. Kemarin seseorang dari pihak imigrasi datang dan mengatakan bahwa Sherly menikah dengan Noah kemungkinan untuk mendapatkan status kewarganegaraannya saja. Mereka berdua berbohong tentang segalanya." Ucap Erlan. "Aku hanya tak menyangka bahwa gadis yang terlihat baik itu bisa melakukan semua ini." Lanjut Erlan.


Bella terdiam, ia mencoba mencerna semuanya.


"Gak bisa begini. Aku harus menemuinya." Ucap Noah hendak pergi mengejar Sherly.


Tangan Noah ditarik oleh Erlan yang berusaha menahannya.


"Untuk apa lagi kau mengejarnya. Sudah jelas dia memanfaatkan mu." Ucap Erlan.


Noah melepaskan tangan Papa nya.


"Aku lah yang menyarankannya melakukan semua ini." Balas Noah yang membuat raut wajah Erlan terlihat bingung. "Jangan tanyakan apa alasanku melakukannya. Semuanya karena berhubungan dengan hati." Lanjut Noah lalu berjalan keluar.


Semua orang terdiam dan tanpa mengatakan apapun Bella berjalan mengikuti Noah ke arah depan rumah. Noah tengah menaiki mobil dan hendak mengendarainya keluar halaman rumah. Namun, Bella berteriak membuat Noah mengerem mendadak.


"Bawa menantu Mama pulang..." Teriak Bella.


Noah hanya menengok dan tersenyum lalu menjalankan mobilnya.


"Ada apa denganmu sayang? Kau sama bodohnya dengan putera mu. Masih saja mau mengejar gadis itu." Protes Erlan.


"Kau yang bodoh." Balas Tuan Besar Adam. "Apa kau tak lihat putera mu itu sudah jatuh cinta pada gadis itu. Bukankah kau melakukan hal yang sama dulu. Kau begitu tergila-gila pada isterimu ini. Kau bahkan seperti orang gila mencarinya selama 7 tahun, tanpa berpikir bisa saja dia sudah menikah."


Erlan terdiam.


"Sherly gadis yang baik sayang. Lihatlah sekarang, buktinya dia pergi dari pernikahannya karena dia tak ingin memanfaatkan Noah." Ucap Bella seraya mengusap pipi Erlan. "Sekarang, ayo masuk. Kita harus merayakan pesta pernikahan Clara." Lanjut Bella kemudian mendorong Tuan Besar Adam masuk ke dalam rumah.


Erlan terdiam dan menatap ke arah gerbang.


"Ternyata aku lah yang sama bodohnya dengan putera ku. Kami berdua dibodohi oleh cinta." Ucap Erlan kemudian berjalan masuk.


'Ah, Sherly calon menantuku. Maafkan aku yang sudah meragukan mu.'

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2