
Erlan masih berdiri di depan rumah Bella, menatap pintu rumah itu, berharap akan dibuka lagi.
"Tuan Muda, lebih baik kita pergi dulu. Sepertinya Nona Bella sedang tidak ingin diganggu. Tuan Muda bisa kembali kapan saja, yang terpenting kita sudah tau dimana keberadaan wanita yang selama ini Tuan Muda cari." Ucap Pak Bimo.
Erlan mengangguk, lalu tiba-tiba berteriak, "Bella, aku akan kembali. Aku mencintaimu."
Bella yang ternyata juga tak beranjak dari tempatnya berdiri di balik pintu memegang dadanya yang terasa berdegup kencang.
Suara deru mobil terdengar, Bella berpikir Erlan sudah pergi. Bella pun membuka tirai jendela sambil menengok keluar. Alangkah kagetnya Bella saat mendapati wajahnya berada begitu dekat dengan Erlan, hanya dibatasi kaca bening.
Mata Bella membelalak kaget, spontan Erlan mencium kaca yang membatasi mereka, seolah-olah ia tengah mencium bibir Bella.
Bella yang semakin kaget, refleks mundur. Dari luar terdengar tawa Erlan.
"Hahahaha aku sudah mencium mu." Teriak Erlan.
'Apa-apaan laki-laki itu! Bisa-bisa para tetangga akan salah paham.' pikir Bella.
Tanpa pikir panjang Bella keluar, berusaha mengejar Erlan yang terlihat berjalan keluar dari halaman rumahnya.
"Hei kau. Jangan pernah datang lagi ke rumahku." Teriak Bella sambil menimpuk punggung Erlan dengan sandalnya.
Bug!!!
Erlan memungut sandal Bella yang mengenai punggungnya itu.
"Sepertinya kau berniat menjadi Cinderella ku ya?" Ucap Erlan seraya berjalan mendekat ke arah Bella.
Perlahan Bella berusaha berjalan mundur, namun terlambat. Erlan sudah menangkap tangannya.
"Lepaskan aku!" Teriak Bella. "Kalau tidak . . . ."
"Kalau tidak apa?" Ucap Erlan.
"Aku akan teriak bahwa kamu maling."
"Hahaha kamu pikir orang-orang akan percaya kalau aku ini maling, dengan penampilan ku yang seperti ini. Lagipula mana ada maling yang tampan seperti aku."
"Dasar . . ." Cibir Bella.
Tiba-tiba Erlan memutar tubuh Bella untuk membelakangi dirinya. Dengan sebelah tangan Erlan mengangkat kaki Bella yang sedari tadi memang berdiri berjinjit karena sandalnya masih ada pada Erlan.
"Kamu mau apain aku hah? Jangan macam-macam kamu." Teriak Bella lagi.
Erlan mengusap telapak kaki Bella kemudian memasangkan sandalnya.
"Kau sudah resmi menjadi Cinderella ku." Ucap Erlan kemudian melepaskan kaki Bella. "Cinderella, aku mencintaimu." Lanjut Erlan.
"Lebih baik kau pergi dari rumahku. Sudah ku katakan kau salah orang. Cepat pergi, lagipula kau tak kasian pada orang yang dari tadi berdiri menunggumu disana." Ucap Bella menunjuk Pak Bimo yang berdiri mematung sambil terus menatap jam yang ada dipergelangan tangannya itu.
Erlan tersenyum ke arah Bella.
"Aku tidak mungkin salah orang. Kau-lah Cinderella yang selama ini ku cari." Balas Erlan. "Aku akan pergi sekarang, tapi aku akan kembali lagi. Dan aku yakin, kau sendiri pasti akan merindukan aku."
__ADS_1
"Tidak mungkin . . ."
"Kita lihat saja." Balas Erlan. "Sayonara Cinderella...."
Erlan sebenarnya enggan meninggalkan rumah Bella. Tapi sebuah pesan singkat dari Tuan Adam, membuat Erlan mau tidak mau harus pergi.
Erlan masuk ke dalam mobil kemudian berteriak memanggil Bella.
"Cinderella-ku. . . ." Teriak Erlan, membuat Bella yang tengah berjalan hendak masuk ke dalam rumah berbalik.
Erlan kemudian melakukan kiss bye pada Bella saat Bella melihat ke arahnya. Bella seolah menangkap kiss bye yang dilemparkan Erlan. Namun detik berikutnya, Bella terlihat tengah membuang kiss bye itu ke dalam bak sampah yang kebetulan ada didekatnya.
Kemudian Bella masuk ke dalam rumah dan membanting pintu rumah dengan keras.
"Pufttt....." Pak Bimo menahan tawa.
"Pak Bimoooooo . . . . Apa kau menertawakan aku ha? Mulai hari ini gajimu aku potong." Teriak Erlan kesal.
"Tidak Tuan Muda, saya tidak menertawakan Tuan Muda."
'Aduh bagaimana ini? Harus cari alasan apa?' pikir Pak Bimo.
"Mmmm itu Tuan, saya tertawa karena melihat anak itu jatuh dari sepeda." Ucap Pak Bimo asal.
"Anak yang mana?" Teriak Erlan lagi.
'Mati aku!' seru Pak Bimo dalam hati.
Secara kebetulan seorang anak seusia Noah memang lewat disamping mobil Erlan menggunakan sepeda.
"Ayo jalan, langsung pulang ke rumah." Titah Erlan.
'Syukurlah aman, aku tidak jadi mati.'
Sementara di dalam rumah, Noah tengah mengintrogasi Bella.
"Mama kenal Om Erlan dari mana?" Tanya Noah.
"Mama gak kenal sama dia." Balas Bella dengan ketus.
"Terus tadi Mama kenapa peluk-pelukkan sama Om Erlan?"
"Itu..... Itu.... Ah sudahlah Mama sudah bilang, Mama gak kenal sama dia." Balas Bella lagi.
"Atau jangan-jangan, Mama dan Om Erlan pernah pacaran?"
"Kamu tuh ya, kecil-kecil sudah tau kata pacaran. Memangnya kamu mengerti?" Tanya Bella balik.
"Atau jangan-jangan Om Erlan itu adalah Papa Noah, tapi kalian bercerai? Iya kan Ma?""
Bella terdiam, ia kembali mengingat malam petaka yang menimpanya dulu.
'Apa orang itu adalah memang papanya Erlan?' pikir Bella melamun.
__ADS_1
.
"Mah, kalaupun Om Erlan bukan Papa kandung Noah. Tapi Noah mau kok Om Erlan yang jadi Papa Noah. Mama menikah saja dengan Om Erlan.
Jleb!
"Noah kalau berbicara jangan sembarangan kamu." Ucap Bella lalu masuk ke dalam kamar dengan membanting pintunya.
'Sepertinya memang ada sesuatu antara Mama sama Om Erlan.' pikir Noah.
*********
Tiba di rumah, Erlan langsung menuju kamar Sang Papa untuk menemuinya.
"Pah....." Panggil Erlan.
"Masuk aja Kak, pintu gak dikunci." Teriak Vino dari dalam kamar Sang Papa.
Saat Erlan masuk, ia melihat Vino tengah memijit kaki Tuan Adam.
"Kemarilah Erlan." Ucap Tuan Adam.
Erlan lalu duduk disamping Tuan Adam.
"Bagaimana keadaan Papa?" Tanya Erlan.
"Papa baik-baik saja. Papa memanggilmu pulang, hanya untuk menagih janjimu pada Papa."
"Janji? Janji apa Pa?" Tanya Erlan bingung.
"Ini nih, karena udah tua jadi pikun." Celetuk Vino.
"Diam kamu." Bentak Erlan.
Tuan Adam menghela nafas panjang.
"Apa kamu lupa, kamu pernah berjanji sama Papa untuk menemukan wanita yang selama ini kamu cari dalam waktu satu bulan. Kalau kau sampai tidak menemukannya dan membawanya menemui Papa, maka kau harus setuju dengan perjodohan yang Papa atur ."
"Pa, kasih Erlan waktu sedikit lagi."
"Sudahlah Pa, nikahin aja nih bujang lapuk. Sudah tiga puluh tahun, belum mau nikah juga. Heran, padahal tampang sudah tampan, meski lebih tampan aku sih. Tapi setidaknya tidak akan sulit untuk membuat kakak menemukan seorang wanita untuk dinikahi. Aku saja, sudah ada seratus wanuta yang mengantri untuk aku nikahi." Ucap Vino.
Erlan yang kesal, langsung menarik telinga Vino, menjewernya hingga ke pintu dan mendorongnya keluar.
"Penjahat kau Kak Erlan." Teriak Vino dari luar, sambil memegang telinganya yang memerah.
"Pah, aku benar-benar tidak mau dijodohkan. Aku sudah mempunyai wanita yang aku cintai." Ucap Erlan lagi pada Tuan Adam.
"Kalau memang begitu, bawa dia kemari. Tunjukkan pada Papa, dan segera nikahi."
"Aku butuh waktu Pa."
"Kalau begitu tidak ada alasan bagimu untuk menolak perjodohan yang sudah Papa atur. Sekarang kau keluar saja. Papa ingin istirahat."
__ADS_1
Erlan melangkah keluar kamar Tuan Adam dengan perasaan tak karuan.
'Aku harus segera mendapatkan hati Bella.' ucap Erlan dalam hati.