
Bella mulai merapikan tempat tidurnya dengan wajah yang emosi. Bantal yang diaturnya di tepuk dengan sangat keras. Ia sama sekali tak menoleh ke arah Erlan yang masih saja berdiri mematung.
'Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan...?' pikir Erlan.
Bella kemudian menuju lemari yang khusus berisi pakaian Erlan dan mengambil sebuah t-shirt berwarna putih serta celana pendek berwarna coklat dan meletakkannya diatas tempat tidur.
"Pakai itu." Titah Bella tanpa melihat ke arah Erlan.
Bella lalu menuju kamar mandi dan menit berikutnya suara gemercik air mulai terdengar.
"Wah seram sekali. Dia sudah seperti singa betina jika sedang marah." Ucap Erlan seraya mengganti pakaiannya.
Setelah berpakaian lengkap, Erlan kemudian menghubungi Pak Bimo.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan Muda?" Tanya Pak Bimo.
"Tidak ada yang perlu kau lakukan. Aku hanya ingin bertanya." Jawab Erlan.
"Baik. Apa itu Tuan Muda?" Tanya Pak Bimo lagi.
"Begini Pak Bimo, aku sebenarnya sedang dalam masalah yang sangat serius. Dan kau harus membantuku untuk mencari solusinya. Kalau sampai salah sedikit saja, aku bisa mati."
"Apa?" Teriak Pak Bimo dari seberang telepon. "Cepat beritahu saya Tuan Muda, apa yang sedang terjadi? Saya akan membereskan semuanya. Apa Tuan Muda perlu perlindungan ekstra?" Pak Bimo mulai panik.
"Tenang Pak Bimo, kau ini kenapa sih. Aku bukan sedang berurusan dengan mafia atau penjahat lainnya."
"Lalu apa itu Tuan Muda?"
"Begini. Emmm apa kau pernah melakukan kesalahan hingga membuat istrimu marah?"
Pak Bimo terdiam, 'Kenapa Tuan Muda tiba-tiba bertanya seperti ini?' pikir Pak Bimo yang sedang duduk bersama sang istri di rumahnya.
"Hey Pak Bimo, kenapa kau diam?" Erlan mulai berteriak.
"Mmm itu, sepertinya saya tidak pernah melakukan hal itu Tuan Muda. Selama ini saya selalu melakukan yang terbaik. Hingga saya tidak pernah melihat istri saya marah. Apa Tuan Muda telah melakukan kesalahan pada Nona Bella?"
Erlan menghembuskan nafas dengan kasar.
"Bukankah tadi sudah ku katakan, aku tengah menghadapi masalah dengan Bella. Dan sekarang aku mau minta saran darimu bagaimana supaya dia tidak marah lagi denganku."
'Apa aku yang salah? Ku pikir tadi Tuan Muda tidak menyebutkan apapun tentang Nona Bella.'
"Halo Pak Bimo! Kau mau mati ya? Kenapa tidak menjawab ku." Teriak Erlan yang sontak membuyarkan lamunan Pak Bimo.
"Ma-maaf Tuan Muda, saya hanya sedang berpikir. Sepertinya kali ini saya tidak bisa membantu Tuan Muda. Karena saya tidak memiliki pengalaman apapun dalam membujuk wanita yang tengah marah."
__ADS_1
"Sial!" Ucap Erlan seraya melihat ke arah kamar mandi.
"Apa kau tidak tau..."
"Begini saja Tuan Muda." Ucap Pak Bimo memotong ucapan Erlan.
"Apa? Cepat katakan, singa betinaku akan segera datang."
Pak Bimo ingin sekali tertawa mendengar ucapan Erlan yang terdengar khawatir. Sebisa mungkin Pak Bimo menahan tawanya yang hampir saja pecah.
"Hei Pak Bimo, kau benar-benar cari mati ya? Kau pikir aku tidak tahu saat ini kau tengah menertawakan aku?"
Jleb!
Pak Bimo segera melihat ke kiri kanan, hingga ke belakang.
'Bagaimana Tuan Muda bisa tahu, apa dia ada disini?' pikir Pak Bimo celingukan.
"Halooo kau dengar aku tidak." Teriak Erlan lagi.
"Maaf, maaf Tuan Muda. Begini saja, lebih baik Tuan Muda langsung bertanya saja pada istri saya. Mungkin dia punya solusinya." Ucap Pak Bimo seraya menyerahkan paksa ponselnya pada sang istri yang sejak tadi duduk penuh tanda tanya disampingnya.
"Apa ini Mas?" Tanya Bu Sarah, istri dari Pak Bimo.
"Tuan Muda Erlan ingin bicara denganmu." Sahut Pak Bimo seraya berlalu menuju ruang belakang.
Sejak Erlan beranjak dewasa, bu Sarah memang tak lagi dekat dengannya. Berbeda saat masih kecil, bisa dikatakan Bu Sarah lah yang mengurus dan merawat Erlan.
"Ha-halo Tu-tuan Muda...," Bu Sarah tiba-tiba gagap.
"Halo, Bu Sarah cepat katakan padaku bagaimana menghadapi wanita yang tengah mengamuk?"
*******
Sesuai arahan Bu Sarah, Erlan duduk di pinggiran tempat tidur menunggu Bella selesai mandi.
Setelah begitu lama berada di kamar mandi, Bella akhirnya keluar dan langsung menuju lemarinya dan memilih pakaian yang akan ia gunakan.
Secepat kilat Erlan berdiri dibelakangnya dan memeluk dirinya.
"Apa yang kau lakukan? Cepat lepaskan aku?" Teriak Bella.
"Aku tidak akan melepaskan pelukanku sampai kau memaafkan aku." Balas Erlan.
"Terserah kau saja."
__ADS_1
Bella melanjutkan aktifitasnya memilih pakaian yang ia gunakan. Setelah dapat, Bella berpindah tempat. Berjalan menuju meja rias sambil Erlan terus memeluknya dari belakang.
Bella yang mulai kesal berusaha melepaskan pelukan Erlan.
"Lepaskan aku..."
"Tidak. Sebelum..."
"Aku bilang lepaskan."
"Tidak mau!"
"Kenapa kau tidak memeluk wanita lain saja. Aku tidak suka dipeluk oleh pria yang suka memeluk wanita sembarangan."
"Sayang dengarkan aku dulu..."
"Aku tidak mau." Teriak Bella.
Erlan yang gemas kemudian melepas pelukannya lalu mengangkat tubuh Bella dan merebahkannya diatas tempat tidur.
"Kau mau apa?" Teriak Bella karena Erlan sudah menindih tubuhnya.
"Ku mohon dengarkan aku dulu." Ucap Erlan lembut dengan memandangi istrinya yang terlihat marah itu.
Bella memalingkan wajahnya saat Erlan berusaha mencium bibirnya. Erlan tersenyum, seraya beralih mencium pipi istrinya itu.
"Aku tidak pernah bermaksud untuk menyakiti hatimu atau membuatmu cemburu dengan memeluk wanita lain. Aku benar-benar tidak sengaja." Erlan berusaha menjelaskan.
"Aku tidak cemburu." Ucap Bella yang tetap memalingkan wajahnya ke sisi kiri.
Sedangkan Erlan yang menindih tubuhnya terus saja memandangi wajahnya yang mulai memerah itu.
"Sayang, aku tahu aku salah karena tidak bisa membedakan antara kau dan adikmu itu."
"Dia bukan adikku." Sela Bella lagi.
"Baiklah, baiklah, dia bukan adikmu. Kalau begitu biar ku sebut saja dia si penggoda." Lanjut Erlan. "Aku sama sekali tidak menyangka kalau yang aku peluk itu adalah si penggoda karena ku pikir itu adalah istriku, Cinderella-ku, Bella-ku, Cinta-ku, hidup dan mati ku."
Bella mulai menahan tawanya saat nada suara Erlan berubah menjadi terdengar seperti tengah membaca puisi.
"Oh sayangku, hanya kaulah wanita yang aku cintai. Aku tidak akan pernah tergoda oleh yang lainnya. Aku berjanji, tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi."
Bella tak dapat lagi menahan tawanya.
"Hahahahaha suaramu jelek sekali."
__ADS_1
Bella tertawa terbahak-bahak, sementara Erlan yang berada diatas tubuhnya tersenyum puas.
'Aku berhasil, sepertinya dia sudah tidak marah lagi. Saran dari Bu Sarah memang hebat. Aku akan memberinya hadiah nanti.' pikir Erlan.