
Di ruang CEO gedung Group Xander......
"Tuan Muda, siang ini Tuan Muda harus terbang ke negara tetangga untuk menandatangani kerjasama yang akan kita lakukan dengan Group Ying." Ucap Pak Bimo di ruangan Erlan.
"Batalkan." Balas Erlan santai.
"Ba-batalkan?" Ucap Pak Bimo tak percaya.
"Iya. Apa kau sudah tuli Pak Bimo? Aku bilang batalkan." Balas Erlan.
"Tapi Tuan Muda, CEO Group Ying sudah mengatur tempat dan jadwal pertemuannya nanti malam."
"Aku tidak perduli, aku bilang batalkan ya batalkan. Apa kau lupa aku adalah bosnya bukan kau Pak Bimo."
"Baiklah Tuan Muda." Ucap Pak Bimo pasrah.
Pak Bimo kemudian hendak berjalan keluar ruangan.
"Pak Bimo...." Panggil Erlan.
"Iya Tuan Muda."
"Siapkan semua jas terbaik untukku, dan kirimkan tuxedo serta gaun yang aku pilih ini untuh Noah dan Bella. Malam ini aku harus tampil dengan baik di acara konser orkestra Noah." Perintah Erlan.
Pak Bimo terdiam.
"Oh jadi ini alasannya sampai Tuan Muda membatalkan pertemuan dengan Group Ying.' ucap Pak Bimo dalam hati.
"Pak Bimo, kau tuli ya." Teriak Erlan.
"Eh, ti-tidak Tuan. Akan segera saya laksanakan." Balas Pak Bimo.
"Segera periksa telinga mu ke dokter. Akhir-akhir ini kau sering tidak mendengarkan aku. Kau sepertinya sudah tuli." Ejek Erlan.
Pak Bimo menghela nafas panjang.
"Saya permisi Tuan Muda." Ucap Pak Bimo kemudian keluar dari ruangan Erlan.
Sore harinya, Erlan bersama beberapa orang pengawalnya datang ke rumah Bella dengan membawa beberapa gaun untuk Bella dan tuxedo untuk Noah.
Bella yang terlihat tengah menyiram tanamannya menghentikan aktivitasnya kemudian berjalan mendekat ke arah Erlan.
"Untuk apa kau kemari?" Teriak Bella.
"Aku datang untuk menemui mu." Balas Erlan dengan tenang.
"Aku tidak mau bertemu denganmu. Pergi dari rumahku." Usir Bella.
"Aku datang membawakan gaun untuk kau kenakan malam nanti." Balas Erlan.
"Tidak perlu, aku sudah punya gaun sendiri. Segera angkat kakimu dari rumahku." Ucap Bella.
Brakk!!!
Suara pintu depan rumah Bella dibanting keras.
"Aku tidak mengerti, apa sebenarnya yang diinginkan wanita." Ucap Erlan.
Dari arah belakang.....
__ADS_1
"Papa Erlaan...." Teriak Noah.
"Loh, kenapa bisa disini Noah? Bukannya harus siap-siap untuk acara nanti malam?" Ucap Erlan.
"Ini Noah pulang untuk bersiap-siap ganti pakaian dan langsung kembali ke sekolah. Nantinya dari sekolah, Noah akan dibawa menuju teater."
"Ini tuxedo untuk Noah." Ucap Erlan menunjukkan sebuah tuxedo yang dipegang oleh seorang penjaganya.
"Tapi, Noah sudah diberikan dari sekolah agar seragam dengan yang lainnya." Balas Noah.
"Warna hitam kan?" Ucap Erlan dibalas anggukan oleh Noah.
"Kalau begitu tidak apa-apa pakai yang Papa Erlan berikan. Ini warnanya juga hitam. Jadi tenang saja, tidak akan berbeda dengan teman-teman yang lain." Lanjut Erlan.
"Tapi, bagaimana kalau tuxedo yang Papa Erlan berikan kebesaran atau kekecilan?"
"Tenang saja, Papa Erlan sudah tahu bagaimana ukuran pakaianmu."
Dari dalam rumah, Bella mengintip lewat jendela.
"Kenapa aku selalu merasa gemetar bertemu orang itu. Apa ada yang salah denganku?" Ucap Bella.
Tak lama Noah masuk ke dalam rumah diikuti dua orang pengawal Erlan yang membawakan beberapa gaun untuk Bella.
"Apa semua ini Noah?" Ucap Bella.
"Ini gaun untuk Mama dari Papa Erlan."
"Tidak. Mama tidak membutuhkannya, Mama sudah punya gaun Mama sendiri." Balas Bella.
Bella kemudian menatap dua pengawal yang meletakkan gaun-gaun yang diberikan Erlan diatas meja.
Namun, kedua pengawal itu tidak menggubris ucapan Bella. Mereka berjalan keluar rumah begitu saja.
"Hei, kalian berdua tuli ya." Teriak Bella.
"Mah, Papa Erlan bilang kalau Mama tidak mau memakai gaun yang diberikan itu, Papa Erlan akan masuk kesini dan memakaikan sendiri pada Mama." Ucap Noah lalu masuk ke kamarnya dengan membawa tuxedo yang diberikan Erlan.
"Hahaha jangan bercanda, aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu." Teriak Bella kemudian mengambil semua gaun yang diberikan Erlan dan hendak membawanya keluar.
"Selangkah lagi kakimu berjalan membawa gaun itu keluar rumah. Aku akan menerobos masuk dan memakaikannya sendiri padamu." Ucap Erlan dengan santai duduk di kursi yang ada di teras rumah Bella.
"Jangan bercanda, aku tidak membutuhkan....."
"Aku tidak bercanda." Ucap Erlan memotong ucapan Bella seraya berdiri secara tiba-tiba.
Pandangan mata Erlan terlihat serius dan sangat menyeramkan bagi Bella. Bella yang hendak melangkahkan kaki keluar rumah mengurungkan niatnya. Ia memutuskan berjalan mundur dan membawa gaun itu kembali ke dalam rumah kemudian menutup pintu dengan pelan.
'Menyeramkan sekali.' pikir Bella.
"Keputusan yang sangat bagus." Teriak Erlan seraya kembali duduk di kursi teras rumah Bella.
'Kenapa pandangan matanya begitu menyeramkan. Seolah-olah dia seekor harimau yang hendak menerkam mangsanya.' pikir Bella.
Setelah beberapa saat menunggu, Noah keluar dari dalam rumah mengenakan tuxedo yang diberikan Erlan.
"Sangat cocok sekali. Kau terlihat sangat tampan Noah." Ucap Erlan.
"Hehehe Noah memang tampan, sama seperti Papa Erlan." Balas Noah.
__ADS_1
"Tentu saja, ayo sekarang Papa Erlan yang akan mengantar Noah ke sekolah. Tapi tunggu sebentar ya, Papa Erlan harus menemui Mama Noah dulu."
Noah mengangguk, kemudian berdiri dibelakang Erlan yang berdiri di depan pintu rumah Bella.
"Cinderella. . . . " Teriak Erlan.
"Sejak kapan nama Mama berubah jadi Cinderella? Bukannya nama Mama itu Isabella?" Gumam Noah.
"Papa Erlan yang menggantinya, sebab Mama Noah itu adalah Cinderella untuk Papa Erlan, dan Papa Erlan ini adalah Pangeran untuk Mama Noah." Ucap Erlan menjelaskan.
"Ooh begitu." Balas Noah.
"Jangan dengarkan orang bodoh ini sayang. Mama bukan Cinderella, dia ini hanya mengada-ada." Ucap Bella yang tiba-tiba berdiri di pintu rumah dengan berkacak pinggang.
Erlan tertawa mendengar ucapan Bella seraya berjalan mendekat ke arah Bella.
"Tentu saja kau adalah Cinderella-ku. Siapa lagi orang yang meninggalkan pangerannya secara tiba-tiba di tengah malam kalau bukan Cinderella." Ucap Erlan menyindir Bella.
"Apa maksud kamu hah?" Teriak Bella.
"Kau lupa atau pura-pura lupa. Sabtu malam pada tujuh tahun yang lalu, di hotel Mawar kau meninggalkanku sendirian tertidur di sebuah kamar tengah malam setelah kita melakukan...."
Dengan refleks Bella menutup mulut Erlan dengan telapak tangannya. Keduanya berpandangan cukup lama hingga Noah menyadarkan mereka berdua.
"Khem.... Khemm... Mama sama Papa Erlan pacarannya nanti saja ya. Sekarang Erlan harus pergi dulu." Ucap Noah.
Bella melepaskan tangannya dari mulut Erlan.
"Hati-hati sayang." Ucap Bella.
"Iya sayang." Balas Erlan.
"Aku bicara pada Noah. Bukan padamu." Ucap Bella mendekati Noah lalu mencium keningnya.
"Apa kau tidak akan mencium keningku juga?" Tanya Erlan.
"Mimpi saja." Balas Bella kemudian membanting pintu dengan keras.
Erlan tertawa lalu menggandeng tangan Noah menuju mobil.
Bersambung....
NB:
Hai semuanya.....
Aku La-Rayya, terima kasih ya buat kalian yang sudah berkenan membaca cerita receh ini.... 🙏😊
Oh ya sekedar untuk mengingatkan, jangan lupa like, komen atau vote & berikan hadiah ya... 😁😁🙏🙏
Karena setiap like, komen, vote dan hadiah yg kalian berikan akan sangat berarti untuk karya ini... ❤️
Sekali lagi, terima kasih ya... 😍😘😘
Tetap jaga kesehatan ya semuanya. 💪💪
Salam hangat,
La-Rayya ❤️
__ADS_1