NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Aku Percaya Suamiku


__ADS_3

Erlan masuk ke kamar yang telah disediakan Manager hotel. Ia tersenyum dengan dekorasi yang disediakan. Ada taburan bunga mawar diatas tempat tidur dan berbagai lilin-lilin kecil yang menghiasi ruangan itu.


"Silahkan Tuan Erlan. Ini adalah kamar yang sudah di set sesuai dari permintaan Nona Bella." Ucap Manager hotel.


"Kau boleh pergi." Balas Erlan.


Erlan kemudian duduk di sofa dan mengambil ponsel dari saku celananya.


"Cinderella kau memang yang terbaik." Ucap Erlan sambil mengetik pesan untuk Bella.


Sementara itu di rumah Keluarga Adinata, setelah setengah jam berkutat dengan adonan tepung, Bella akhirnya bisa duduk di ruang keluarga bersama Papa nya. Tepat saat itu juga ponselnya berdering menandakan sebuah pesan masuk.


[Sampai kapan kau buat aku menunggu? Aku sudah menerima kejutan mu di hotel XX. Cepatlah datang. Aku sudah tak sabar.]


Membaca pesan dari Erlan, Bella menjadi bingung.


'Sejak kapan aku memberinya kejutan?' pikir Bella.


Bella memasukkan ponselnya kembali ke dalam tasnya lalu berpamitan pada Pak Indra.


"Mau kemana? Kita belum makan siang." Ucap Pak Indra.


"Gak apa-apa Pa. Aku ada janji sama Erlan, nanti makan siang sama dia aja. Maaf ya Pa." Ucap Bella kemudian bergegas pergi.


Dari dalam dapur, Bu Maya yang melihat kepergian Bella segera mengirim pesan pada Clarissa.


[Ikan sudah memakan umpan.] Kirim Bu Maya pada Clarissa.


Clarissa yang mendapat pesan tersenyum, kemudian mulai menjalankan rencananya.


Pertama dia menelepon beberapa wartawan mengatakan bahwa ada berita besar. Yaitu skandal tentang perselingkuhan CEO Group Xander dengan seorang wanita yang sudah berjalan lama. Kedua, ia meminta seorang pelayan di hotel untuk memberikan Erlan sebuah minuman.


Seorang pelayan masuk ke dalam kamar setelah mengetuk pintu, mengantarkan minuman dan buah segar.


"Silahkan Tuan Erlan, ini semua sudah disiapkan Nona Bella." Ucap pelayan kemudian berjalan keluar.


Erlan yang kebetulan haus, langsung meminum jus yang diberikan.


Tak butuh waktu lama, Erlan langsung merasakan panas ditubuhnya. Ia kemudian membuka jas yang ia kenakan.


"Kenapa aku merasa gerah sekali?" Ucap Erlan seraya mengarahkan remote AC dan menyetelnya agar lebih dingin lagi.


Namun suhu AC yang sudah dingin tak dapat membuat Erlan nyaman. Ia malah merasakan tubuhnya bergairah. Tepat saat ia merasa tak tahan, pintu kamar terbuka dan menampilkan seorang wanita yang ia sangka adalah Bella. Karena wanita itu berpakaian persis seperti Bella dan mengenakan masker.


Dengan cepat Erlan menyambar tubuh wanita itu dan menjatuhkannya ke atas tempat tidur. Saat Erlan menatap wajah wanita itu, Erlan tersadar bahwa dia bukan Bella meski wajahnya sudah ditutupi dengan masker sebagian.

__ADS_1


"Kau bukan Bella." Ucap Erlan berusaha bangun dari atas tempat tidur.


Namun secepat kilat, wanita itu menindih tubuh Erlan dan membuka maskernya.


"Cla-Clarissa.... Apa yang kau lakukan?" Ucap Erlan.


Clarissa hanya tersenyum, ia malah membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan Erlan hingga membuat dada bidang Erlan nampak jelas.


Erlan berusaha melepaskan diri, tapi meski tubuhnya terasa sangat bergairah entah kenapa Erlan merasa otot-ototnya seperti tak bisa diajak bekerjasama. Ia kehilangan tenaganya hingga membuat Clarissa leluasa menciumnya.


"Lepaskan aku wanita ******." Teriak Erlan.


Namun, Clarissa semakin liar, ia malah membuka pakaian yang melekat pada tubuhnya. Menampilkan tubuhnya putihnya yang dipenuhi tanda merah.


'Apa ini? Apa wanita ini berusaha menjebak ku.' pikir Erlan yang sekuat tenaga berusaha lepas dari Clarissa.


*****


Bella tiba di hotel XX, ia langsung di sambut Manager hotel.


"Selamat datang Nona Bella. Mari ikut saya, Tuan Erlan sudah menunggu anda di kamar." Ucap Manager hotel sopan.


Sepanjang perjalanan menuju kamar, Bella terus berpikir.


'Kenapa Erlan bilang sudah menungguku? Aku tidak merasa pernah membuat janji dengannya disini.'


"Tidak Nona, tadi pagi-pagi sekali justru seseorang menelepon kami mengatakan akan memesan kamar tipe presidential suite atas nama Nyonya Bella Alexander. Orang itu mengatakan untuk menyiapkan kamar yang indah karena Nona Bella ingin memberi kejutan pada Tuan Erlan." Ujar Manager hotel.


Bella semakin merasa ada hal aneh yang sedang terjadi pada Erlan.


Saat ia dan Manager hotel keluar dari lift, ada banyak wartawan yang menunggu Bella dan langsung mencecar Bella dengan berbagai pertanyaan.


"Nona Bella, apa anda sudah mengetahui perselingkuhan yang dilakukan Tuan Erlan?"


"Nona Bella apa anda datang kemari karena mau menggerebek Tuan Erlan dan selingkuhannya?"


"Apa anda akan mengajukan perceraian?"


"Apa kalian sudah pisah ranjang?"


Dan masih banyak pertanyaan yang lainnya.


'Selingkuh!'


'Perceraian?'

__ADS_1


'Pisah ranjang?'


'Apa yang sedang dikatakan orang-orang ini?' pikir Bella.


"Kenapa tiba-tiba banyak wartawan disini? Apa yang sedang terjadi?" Ucap Manager hotel bingung.


Manager hotel kemudian meminta keamanan untuk menyingkirkan para wartawan agar tak mengganggu Bella dan Erlan.


Tepat saat Bella tiba di kamar Erlan dan membuka pintu. Ia mendapati Erlan tengah ditindih Clarissa tanpa busana. Erlan masih mengenakan celana panjangnya, sementara Clarissa sudah tidak mengenakan sehelai benangpun.


Clarissa tengah berusaha membuka seluruh kain yang menempel di tubuh Erlan, namun terhalang karena kedatangan Bella.


Wajah Erlan memerah menahan gairah yang bergejolak. Ia berusaha sekuat mungkin agar tak sampai menyentuh Clarissa. Dan tepat saat pintu terbuka dan ia melihat Bella yang tengah memandangnya, Erlan merasa lega.


"Tolong aku sayang...." Ucap Erlan lirih.


Clarissa mulai berakting, ia memasang wajahnya yang polos dan mulai memunguti pakaiannya yang berserakan.


'Sial, dia terlalu cepat datang. Tapi tak apa, toh dia sudah melihatku dan Erlan seperti ini.'


Bella berjalan mendekat dan menatap Clarissa tajam. Sementara Manager hotel tak ikut masuk ke dalam kamar. Ia hanya kaget melihat adegan yang terjadi di dalam kamar. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak buka mulut dan tetap menutup mata akan apa yang dilihatnya.


Manager hotel sadar, jika sampai ia buka mulut, sama saja dengan membunuh dirinya sendiri.


"Bella, karena kamu sudah melihat semuanya jadi aku tidak perlu lagi memberitahumu bahwa aku dan Erlan...."


Plakk!!!!


Belum selesai Clarissa berbicara, Bella sudah menamparnya dengan sangat keras. Bukan hanya sekali, Bella bahkan menampar kedua pipi Clarissa.


"Apa yang kau lakukan?" Teriak Clarissa sambil memegang kedua pipinya yang memerah.


"Kau salah jika berpikir aku bisa termakan dengan permainan yang kau buat. Aku percaya pada suamiku." Ucap Bella yang membuat Erlan merasa sangat tenang.


"Terima kasih sayang." Ucap Erlan.


"Diam kamu." Bentak Bella yang terlihat kesal menatap Erlan.


'Alamat bakal diamuk singa ini.' pikir Erlan.


"Dan kamu Clarissa. Aku benar-benar tidak habis pikir sama kamu. Ada ya manusia selicik dan murahan seperti kamu." Ucap Bella sambil menunjuk-nunjuk pundak Clarissa dengan keras seperti tengah mendorongnya.


"Segera kenakan pakaianmu dan keluar dari sini sebelum aku menyeret mu keluar tanpa busana." Ancam Bella.


Dengan kesal Clarissa mengenakan pakaiannya, dan berjalan keluar.

__ADS_1


'Aku belum selesai Bella. Justru ini baru permulaannya.'


Bersambung.....


__ADS_2