
Satu minggu berlalu....
Suasana duka masih menyelimuti keluarga Bella. Bella masih belum bisa menerima kenyataan, bahwa sang Papa tercinta sudah tak bisa dilihatnya lagi.
Noah yang tengah duduk bersama Bella di ruang tengah sore harinya di kediaman keluarga Alexander, berusaha menghibur Bella.
"Mah, sudah satu minggu Mama seperti ini terus. Noah tahu Mama kehilangan Opa. Kita semua juga kehilangan Opa. Kalau Mama sedih karena kehilangan adik bayi yang Mama kandung, bayangkan juga bagaimana sedihnya Noah yang setiap hari ini tak pernah melihat Mama senyum. Jangankan senyum, untuk sekedar menyapa Noah, menanyakan apa Noah sudah makan atau belum saja tidak pernah Mama lakukan."
Ucapan Noah menyadarkan Bella bahwa seminggu ini ia tak berlaku adil pada Noah. Bella sibuk berduka akan kematian sang Papa. Terlebih lagi ia juga kehilangan bayinya.
"Noah juga anak Mama. Noah butuh per....."
"Maafkan Mama sayang." Bella menyela ucapan Noah. "Sekali lagi maafin Mama karena berlaku gak adil sama Noah. Sejak Noah pulang, Mama tak pernah menghiraukan Noah. Mama mengaku salah, tolong maafin Mama sayang." Ucap Bella.
"Noah akan maafin Mama kalau Mama mau senyum." Balas Noah.
Seketika Bella tersenyum dan memeluk Noah erat.
"Noah bisa mainin musik gak buat Mama. Mainin piano itu." Pinta Bella.
"Tentu saja."
***********
Seminggu sudah kepergian Pak Indra. Namun, Erlan belum juga dapat menemukan pelaku yang menembak mertuanya itu hingga meregang nyawa.
Erlan yang tengah duduk di ruang CEO grup Xander terlihat antusias saat seorang informan nya masuk.
"Cepat katakan apa kau sudah menemukannya?" Tanya Erlan.
"Sudah Tuan. Selama ini dia bersembunyi di sebuah desa yang sangat terpencil. Kami sudah menangkapnya dan kini dia ada di sebuah gudang terlantar di pinggiran kota." Jawab sang informan.
"Akhirnya, setelah satu minggu menunggu kau dapat memberiku kabar baik." Ucap Erlan. "Pak Bimo, segera berikan bonus kepada mereka semua yang sudah bekerja keras untuk menemukan si pembunuh itu. Malam ini juga aku akan menemuinya."
"Baik Tuan." Ucap Pak Bimo yang ikut berdiri di ruangan Erlan.
Sang informan dan Pak Bimo keluar dari ruangan Erlan. Raut wajah Erlan seketika berubah ganas membayangkan pertemuannya dengan pembunuh itu.
"Pihak kepolisian memang tak bisa diandalkan. Lama sekali mereka menemukan pelaku. Tapi, ada bagusnya juga. Biar ku patahkan dulu semua tulangnya, baru ku serahkan dia ke polisi." Ucap Erlan seorang diri.
Malam harinya, sesuai dengan yang dikatakan Erlan. Dia mengunjungi gudang tempat si pelaku pembunuhan Pak Indra di sekap.
Wajah si pelaku sudah babak belur saat pertama kali Erlan melihatnya.
"Tuan, dia tak mau mengaku siapa orang yang telah menyuruhnya untuk melakukan penculikan terhadap Tuan Muda Noah." Ucap salah seorang pengawal Erlan.
"Tidak mau mengaku ya." Ucap Erlan seraya melepaskan jasnya, kemudian melipat lengan kemejanya.
"Hari ini akan ku buat kau mengakui semuanya." Lanjut Erlan.
Plak! Bugh! Ctak!!
Erlan mulai meninju, menendang, memukul si pembunuh dengan membabi buta.
"Ini untuk isteriku yang kau buat sampai keguguran." Erlan meninju tepat di perut si pelaku.
"Ini untuk puteraku karena kau telah mengancamnya." Erlan kembali meninju pria yang sudah babak belur itu tepat di rahangnya.
Pria itu terbatuk hingga mengeluarkan darah dan salah satu giginya tanggal.
__ADS_1
Semua pengawal termasuk Pak Bimo yang melihat adegan itu meringis.
"Tuan Erlan benar-benar menakutkan." Ucap mereka.
Si pelaku itu menangis, ia merintih dengan sangat kesakitan. Seluruh tubuhnya remuk, bahkan ia sudah tak bisa berdiri lagi. Tulang kaki dan tangannya dibuat patah oleh Erlan.
"Sialan, masih tidak mau buka mulut juga." Teriak Erlan.
Seorang informan Erlan kembali mendekat memberikan laporan baru pada Erlan.
"Tuan Erlan, saya sudah menemukan dimana pria ini tinggal. Dia tinggal di daerah X, memiliki seorang istri dengan dua anak laki-laki dengan usia masing-masing tiga dan tujuh tahun. Apa kita perlu menyiksa keluarganya agar mengaku Tuan Erlan?"
"Tidak perlu. Aku bukan orang seperti itu, aku tidak akan menggunakan orang tak bersalah untuk menghukum yang sesungguhnya bersalah." Ucap Erlan.
Mendengar ucapan Erlan, si pelaku seketika tersedu-sedu.
"Tu- tuan Ta-ma. Tuan Tama lah dalang dibalik semuanya." Ucap si pelaku.
"Kenapa kau baru mau mengakuinya sekarang setelah wajahmu ini sudah tidak berbentuk lagi." Bentak Erlan.
"To-tolong selamatkan keluargaku Tuan Erlan. Tuan Tama mengancam akan membunuh mereka semua kalau aku membocorkan semuanya pada Anda. Ku mohon Tuan, selamatkan keluargaku. Aku yakin sekarang di rumahku sudah ada orang suruhan Tuan Tama yang mengawasi mereka."
Erlan terdiam, ia terlihat berpikir.
"Apakah yang kau maksud adalah Tuan Tama yang mempunyai hotel dan klub malam itu?" Tanya Erlan.
"Be-benar Tuan." Balas si pelaku.
"Tuan Muda, pria yang bernama Tama ini adalah rival Tuan Besar Adam sejak masa SMA dulu. Rumor yang saya dengar, sekarang dia dikabarkan melakukan bisnis gelap. Tapi saya tidak dapat menemukan motif kenapa dia harus melakukan semua ini." Ucap Pak Bimo.
"Itu semua karena Tuan Tama diminta oleh istri barunya." Ucap si pelaku.
"Ka-kalau ti-dak salah namanya Nyonya Maya. Di-dia memiliki puteri yang bernama Clarissa."
Deg!
"Bu Maya! Clarissa!" Erlan begitu kaget mendengar ucapan si pelaku. "Aku sama sekali tak menyangka bahwa otak dibalik semua ini adalah mereka berdua."
Erlan begitu geram hingga ia meninju tembok yang ada di belakang si pelaku hingga retak.
"Bawa pria pembunuh ini ke rumah sakit. Obati semua lukanya, setelah itu baru kalian serahkan dia ke polisi. Yang lainnya, segera amankan keluarga pria ini. Untuk rencana selanjutnya kita perlu berkoordinasi dengan polisi. Kita harus mencari bukti yang akan semakin memberatkan si Tama itu. Bila perlu pasal berlapis. Dan jangan lupakan juga dua wanita rubah itu. Aku tidak akan memaafkan mereka berdua kali ini." Ucap Erlan.
Sementara itu di kediaman Tuan Tama. Clarissa yang tengah mengandung empat bulan tampak susah untuk tidur. Malam ini ia benar-benar tak bisa tidur. Perasaan bersalah selalu menghantui dirinya.
Saat ia dapat memejamkan mata untuk tidur, ia selalu bermimpi bertemu dengan Pak Indra yang selalu mengejarnya.
"Pa.... Tolong ampuni aku. Aku tidak sengaja. Aku tidak bermaksud membunuh Papa. Bukan aku yang membunuh Papa. Stop hantui aku Pa. Aku hanya meminta mereka memberikan pelajaran pada Bella. Aku hanya iri pada Bella yang bisa bahagia sementara aku menderita dengan kehamilan ini Pa." Rengek Clarissa dalam mimpi.
"Kau jahat Clarissa. Padahal Papa selalu menyayangi kamu seperti puteri kandung Papa sendiri. Tapi, kamu selalu saja iri pada Bella. Kau bahkan memerintahkan orang untuk membunuh Papa. Kau harus menanggung akibatnya Clarissa."
Dalam mimpi Clarissa merasa Pak Indra tengah mencekiknya hingga ia kesusahan bernafas. Pada kenyataannya Clarissa sendiri yang tengah mencekik dirinya dengan kedua tangannya sendiri.
Hingga ia bangun karena kesulitan bernapas, ia mendapati tangannya tengah mencekik lehernya sendiri.
"Ya Tuhan, syukurlah ternyata cuma mimpi." Ucap Clarissa.
************
Pagi harinya di kediaman Alexander...
__ADS_1
Bella bangun pagi-pagi sekali. Ia tengah menyiapkan sarapan untuk Noah dan Erlan dan juga sang mertua.
"Sayang, kau tidak perlu melakukan semua ini. Sudah ada koki yang memasak. Lagipula kau baru pulih. Lebih baik istirahat saja. Biarkan para koki yang menyiapkan semuanya." Ucap Erlan yang baru turun dari kamarnya yang ada di lantai atas.
"Aku sudah baikan kok. Aku hanya ingin menyiapkan semuanya untuk keluargaku. Apa salah?"
"Bukan begitu sayang. Tapi, kalau kau yang masak, untuk apa jadinya aku menggaji koki itu mahal-mahal." Erlan menarik Bella untuk duduk di pangkuannya.
"Sesekali kan tidak apa-apa sayang. Sudah ya, jangan pagi-pagi seperti ini. Malu nanti jika ada yang melihat." Bella berusaha bangun dari pangkuan Erlan.
Dengan cepat Erlan melingkarkan tangannya ke pinggang Bella.
"Kenapa harus malu, kau itu isteriku. Nyonya jadi rumah ini. Jadi kita bebas melakukan apapun di rumah ini. Termasuk...."
Erlan hendak mencium Bella tepat saat Noah datang bersama Tuan Besar Adam.
"Khem... Khemm...." Noah berdehem keras.
Pipi Bella merona merah karena malu, ia kemudian melanjutkan menata piring diatas meja.
"Kalau mau bermesraan itu lihat tempat. Ini meja makan, tempat untuk makan. Bukan tempat untuk melakukan hubungan itu." Ejek Tuan Besar Adam.
Wajah Bella semakin memerah, ia malu karena untuk pertama kalinya ia diejek oleh sang mertua.
'Awas kau Erlan, ini semua gara-gara kamu.' ucap Bella dalam hati.
Mereka semua lalu mulai menyantap sarapan yang dibuat Bella, berupa nasi goreng dengan omelette. Sementara untuk Tuan Besar Adam, Bella menyiapkan oatmeal.
"Oh ya, bagaimana perkembangan kasus Pak Indra? Apakah sudah ada titik temu?" Tanya Tuan Besar Adam.
"Sudah Pa. Kemarin aku sudah memberikan pelajaran pada si pelaku. Dan hari ini dia akan aku serahkan ke pihak yang berwajib." Jawab Erlan kemudian mengunyah nasi goreng buatan Bella.
Mendengar nama Pak Indra disebut, Bella kembali merasakan sakit dihatinya.
'Pa, pelakunya sudah tertangkap. Semoga dia diberikan hukuman yang setimpal. Dan Papa bisa tenang di alam sana.'
Noah yang dapat melihat sang Mama tengah melamun memikirkan sesuatu, dengan cepat memegang tangan Bella.
"Ma, Noah mau lagi." Ucap Noah.
"Eh, mau tambah lagi?" Tanya Bella dibalas anggukan oleh Noah.
"Tapi, kali ini Mama yang suapin ya." Pinta Noah.
"Aduuh, yang mau manja-manja sama Mama. Papa juga mau dong disuap Mama." Ucap Erlan.
"Gak boleh." Balas Noah. "Pokoknya selama Noah di rumah, Mama harus suapin Noah makan. Gak boleh suapin Papa." Lanjutnya.
Ruan Besar Adam tertawa melihat tingkah anak, menantu, dan cucunya itu.
"Papa sudah selesai. Kalian lanjut ya sarapannya." Ucap Tuan Besar Adam kemudian pergi ke taman depan rumah di antar oleh perawat yang senantiasa membantunya.
"Papa gak kerja?" Tanya Noah.
"Gak. Papa mau di rumah aja. Mau main sama kalian berdua." Jawab Erlan.
"Waahh bagus kalau begitu." Teriak Noah.
Bersambung.....
__ADS_1