NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Berstamina


__ADS_3

Jam dinding menunjukkan pukul enam petang saat Erlan dan Bella bersiap meninggalkan hotel.


"Cepatlah, aku lapar." Rengek Erlan yang tak sabar melihat Bella berjalan pelan saat keluar kamar.


"Siapa suruh kau melakukannya lagi. Pinggang ku rasanya mau patah. Sakit sekali." Protes Bella.


Erlan tersenyum kemudian menggendong Bella masuk ke dalam lift.


"Hey, apa yang kau lakukan? Cepat turunkan aku, memalukan nantinya jika dilihat orang."


Erlan diam dan tak menggubris ucapan Bella.


"Lepaskan aku, kalau tidak..."


Cup!!!


Lagi-lagi Erlan mencium bibir Bella yang berada dalam gendongannya.


"Kalau kau tak diam juga, aku akan mencium mu sepanjang lobi hotel nanti."


Seketika Bella terdiam dan semakin mengeratkan kedua tangannya pada leher Erlan lalu membenamkan wajahnya di dada Erlan saat pintu lift terbuka.


'Ya Tuhan.... Memalukan sekali.' pikir Bella.


Terlihat sepanjang perjalanan mereka keluar dari lobi hotel, semua pasang mata memandang ke arah mereka. Terdengar suara mereka berbisik-bisik, ada yang kagum bahkan ada yang mencibir.


"Lihat, Tuan Erlan dan Nona Bella romantis sekali ya?"


"Bisa saja romantisnya hanya didepan orang, padahal nyatanya mereka tengah menutupi semua skandal yang terjadi."


"Benar juga, aku tidak menyangka Tuan Erlan bisa bersikap begitu."


"Lebih tidak disangka lagi, Nona Bella mau di madu dengan adiknya sendiri."


Sayup-sayup percakapan itu terdengar di telinga Bella saat Erlan tengah berbicara dengan Manager hotel.


"Sekali lagi, maafkan saya Tuan Erlan. Saya tidak dapat menghalangi para wartawan itu mengambil berita." Ucap Manager hotel.


"Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Kau sudah melakukan yang terbaik. Sisanya tolong kau periksa semua CCTV yang ada di hotel ini. Cari semua gerak-gerik yang mencurigakan. Orang ku akan datang kemari untuk melakukan penyelidikan." Ucap Erlan panjang lebar.


"Baik Tuan, saya akan melakukan yang terbaik." Balas Manager hotel.


'Ada apa sebenarnya?' pikir Bella.


Erlan kembali berjalan keluar hotel, namun ia kembali mendengar suara orang berbisik-bisik, membuat Erlan berhenti dan langsung menatap mereka dengan dingin.


Seketika seisi ruangan lobi terdiam, dan suasana berubah menjadi dingin.


"Jika aku sampai mendengar kalian berkomentar negatif tentang kehidupan keluargaku, aku tidak akan segan-segan menghancurkan kalian semua." Teriak Erlan.

__ADS_1


Bella semakin bingung akan apa yang tengah terjadi. Ia tak lagi mendengar suara orang-orang. Sunyi. Semuanya mendadak menjadi sunyi. Kini yang terdengar hanya derap langkah kaki Erlan saja.


*******


Bella dan Erlan tiba di sebuah villa milik keluarga Alexander. Ini merupakan kali pertama Bella mengunjunginya.


"Untuk apa kita kemari?" Tanya Bella.


"Jangan banyak bertanya, masuklah. Aku sudah lapar." Jawab Erlan menggandeng Bella masuk.


Tiba di dalam rumah, Bella dikejutkan dengan meja yang sudah penuh dengan hidangan makan malam.


"Duduk dan makanlah." Titah Erlan.


Dengan patuh Bella menurut dan mulai makan dalam diam bersama Erlan.


'Kenapa Erlan tiba-tiba bersikap serius begini. Biasanya dia yang selalu menurut padaku.' ucap Bella dalam hati.


"Bagaimana rasanya, enak tidak?" Tanya Erlan memecah keheningan diantara mereka.


"Iya enak." Balas Bella sambil mengangguk.


"Ini semua bukan aku yang masak." Ucap Erlan dengan nada yang terdengar sombong, membuat Bella menahan tawa. "Jangan terlalu banyak berharap bahwa kau akan memiliki suami tampan yang perfeksionis seperti di dunia komik. Dimana memiliki suami yang tampan, kaya dan bahkan pandai memasak. Aku hanya memiliki ketampanan dan kekayaan saja. Selebihnya aku hanya mempunyai cinta yang besar untukmu." Lanjut Erlan yang kini merubah wajah Bella bersemu merah.


Keduanya kemudian kembali terdiam hingga makan makan malam usai.


"Duduklah." pinta Erlan pada Bella di ruang tengah.


"Kenapa harus duduk begini?"


"Aku tidak mau jauh darimu." Balas Erlan sambil mulai memperlihatkan sesuatu pada Bella di layar tablet.


Bella memperhatikan layar tablet yang diperlihatkan Erlan.


"Aku tidak mau menutupi semua ini padamu, tapi aku hanya ingin kau tahu...."


"Aku percaya padamu, dan akan selalu seperti itu." Potong Bella.


Erlan melepaskan tabletnya dan mulai mencium Bella lembut.


"Terima kasih sayang." Ucap Erlan setelah melepaskan ciumannya.


"Sekarang, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Bella.


"Aku sudah memerintahkan orang-orang ku untuk menyelidiki semuanya. Aku hanya tak habis pikir, bagaimana bisa namaku tercantum check in di hotel itu." Ujar Erlan terlihat bingung.


"Ini semua pasti akal-akalan dari Clarissa. Kamu tenang saja. Kita hanya perlu membuktikan bahwa semua ini hanya berita palsu. Kau harus membersihkan namamu, apalagi dia mengaku tengah hamil anak darimu." Balas Bella.


"Sayang, apa kau baik-baik saja?" Tanya Erlan menatap serius wajah Bella yang masih duduk dipangkuan nya.

__ADS_1


"Seharusnya aku yang bertanya padamu, apakah kau baik-baik saja? Nama baikmu tengah dicoreng di muka umum."


"Aku tidak perduli dengan nama baik ku, mau tercoreng atau tidak. Yang ku pikirkan adalah perasaanmu tentang berita ini. Orang-orang sudah berkomentar negatif yang menyudutkan dirimu juga." Ucap Erlan.


Bella tersentuh, 'Jadi dia tidak memikirkan dirinya dan malah memikirkan bagaimana perasaanku.' pikir Bella.


Bella lalu memeluk Erlan erat dan berinisiatif sendiri mencium Erlan dengan lembut. Perlahan Erlan membalas ciuman Bella yang terasa semakin agresif.


Erlan yang terpancing seketika membalik posisi membuat Bella berbaring di atas sofa dan menindihnya.


"Erlan pleasee... Jangan lagi. Aku udah gak sanggup." Lirih suara Bella memohon.


"Kau yang sudah memancingku, jadi kau harus bertanggung jawab." Balas Erlan lalu memulai serangannya.


Bella mengerang, tak pernah terbayangkan bagi Bella bahwa suaminya memiliki stamina yang begitu kuat.


"Erlaaann...." Suara lirih Bella semakin membuat Erlan bersemangat dan mereka pun kembali menyatu.


'Tak pernah terpikirkan bahwa aku malah merasa ketagihan dengan setiap sentuhan yang dilakukan Erlan. Meski awalnya tubuhku begitu lelah, tapi sentuhan demi sentuhan yang dilakukannya malah membuatku kembali bersemangat. Ah, suamiku, aku mencintaimu.' ucap Bella dalam hati.


******


Di kediaman Keluarga Adinata...


Clarissa pulang ke rumah setelah seharian pergi. Pak Indra yang sudah melihat berita tentang skandal yang menimpa Erlan dan Clarissa menunggu Clarissa dengan wajah emosi di ruang keluarga ditemani Bu Maya.


"Pulang juga kau akhirnya." Ucap Pak Indra saat Clarissa masuk ke ruang keluarga.


Dengan santai Clarissa malah duduk selonjoran di sofa panjang yang tersedia. Bu Maya duduk disamping Clarissa dan menatapnya penuh tanda tanya.


"Clarissa kau...."


"Sudahlah Pa." Potong Clarissa. "Papa pasti sudah tahu semuanya, seharusnya Papa membantu aku untuk meminta pertanggung jawaban dari Erlan untuk menikahi aku. Karena bagaimanapun aku tengah mengandung anaknya." Lanjut Clarissa.


"Apa kau tidak tahu malu merebut suami kakak mu sendiri?" Teriak Pak Indra.


"Papa harusnya mengerti keadaan yang menimpa Clarissa. Dia juga korban. Sekarang dia tengah hamil anak Erlan yang merupakan cucu Papa juga. Pokoknya Mama mau Papa bantu Clarissa minta pertanggung jawaban pada Erlan." Ucap Bu Maya kemudian menggandeng Clarissa masuk ke kamarnya.


Pak Indra berdiri memandangi punggung Bu Maya dan Clarissa yang berjalan menjauh.


'Aku yakin, semua ini tidak benar. Pasti ini semua sudah direncanakan Clarissa.' pikir Pak Indra.


Bersambung.....


*Hai semuanya, apa kabar???


Terima kasih ya, sudah setia menunggu update dari Novel ini. Jangan lupa tinggalkan lime, komen, vote dan hadiahnya juga ya, sekalian beri rating dan tekan tombol favorite*... ❤️❤️


Sekali lagi terima kasih banyak ya... 😘😘

__ADS_1


*Salam sayang....


La-Rayya*


__ADS_2