NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Tanda Merah


__ADS_3

Erlan membuka pintu kamar dan menemukan Bella yang sedang berdiri tepat di depan cermin besar di ruang tengah. Bella, walaupun dia tidak sering menggunakan make up tapi dia sangat memperhatikan penampilannya agar terlihat sempurna.


'Dan itu lah yang aku tidak suka darinya. Selalu saja membiarkan kecantikannya itu dinikmati oleh semua orang.'


“Kau masih sibuk? Ayo berangkat.” Erlan berjalan mendekat ke arahnya kemudian duduk di sofa panjang tepat di belakangnya yang sedang berdiri di depan cermin.


Erlan memperhatikan gerakan Bella dari pantulan cermin yang menghadapnya, Bella masih sibuk mengatur letak scraft yang melingkar di lehernya.


'Aneh, mengapa musim panas menggunakan scfart seperti itu?'


“Kau ini korban fashion, atau memang tidak mengerti geografi huh? Ini musim panas, dan kita berada di pantai. Jika kau menggunakan scraft seperti itu, terlihat sangat aneh” Ujar Erlan dengan nada mencibir.


Erlan bangkit dari posisinya dan menyilang kan kedua tangan di dadanya kemudian memutari tubuh Bella. Bella yang kesal akhirnya berbalik menatapnya dengan tajam. Kemudian menarik scraft-nya hingga terlepas


“Ini semua gara-gara kamu Tuan Muda Erlan. Kau yang membuatnya seperti ini.” Bella menunjuk beberapa tanda merah yang ada di lehernya.


'Haha, aku tidak menyangka akan berbekas seperti itu. Apa ciumanku tadi pagi benar-benar sebuas itu sampai tanda merah menjalar di lehernya. Ya Tuhan, apa aku ini vamvire?'


“Ahahaha, aku tidak menyangka akan meninggalkan bekas seperti itu” Ujar Erlan sembari terkekeh puas hingga terbungkuk-bungkuk dan memegangi perutnya sendiri.


Bella yang kesal akhirnya meninju pelan lengan Erlan sehingga membuatnya kembali tegak dan segera menghentikan tawanya yang menggema di ruang tengah.


“Kau harus bertanggung jawab.” Bella menggembungkan pipinya dengan kesal dan mengerucutkan bibir mungilnya.


'Bella, jika seperti ini, aku malah ingin mencium mu Nyonya Erlan.'


“Sayang, aku kira tidak akan berbekas seperti itu. Tapi kau tidak perlu mengenakannya. Sudah ku katakan di pulau ini hanya ada kita berdua, tidak ada orang lain.”


Erlan menarik kedua tangan Bella agar mendekat kearahnya kemudian mengambil scraft dalam genggamannya, dan meletakkannya diatas sofa.

__ADS_1


“Kemana cincinmu?” Tanya Erlan ketika menyadari benda itu tidak ada di jari lentik Bella.


“Aku melepaskannya. Aku takut cincin itu hilang, jadi aku menaruhnya di tempat yang aman. Aku tidak mau mengenakan cincin itu saat kita mengelilingi pulau ini dan akhirnya hilang."


'Apa cincin itu benar-benar berharga untukmu, huh? Istriku sayang.'


Cincin milik mendiang Mama Erlan yang diberikan Erlan sebagai cincin pertunangan itu, kini menjadi milik Bella sepenuhnya. Sebagai tanda bahwa dia menjadi Nyonya Erlan Alexander dan akan menjaga Erlan juga sebagai suaminya.


'Isabella, kau benar-benar membuatku semakin mencintaimu. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya jika aku benar-benar memperistrinya, karena aku hampir putus asa mencarinya selama bertahun-tahun. Dan sekarang kau telah menjadi milikku sepenuhnya. Sebuah kenyataan paling indah yang pernah aku terima.'


“Aku mencintaimu.” ucap Erlan seraya mencium kening Bella.


Beberapa saat Erlan menahan bibirnya disana, membuat Bella sama sekali tidak bisa berkata-kata. Erlan benar-benar sangat mencintai wanita yang ada di hadapannya.


'Kurasa aku benar-benar tidak bisa terlepas darinya, karena ikatannya padaku terlalu kuat.'


******


Erlan bahkan menggoda Bella dengan memeluknya di dalam air. Bagi Bella semuanya masih terasa canggung karena bermesraan di tempat terbuka. Meski ia tahu kalau di pulau itu hanya ada mereka berdua.


Kini mereka sudah berada di dalam kamar. Setelah seharian mengeksplorasi pulau dan berakhir dengan makan malam romantis di atas kapal pesiar dengan pemandangan sunset yang luar biasa indah.


Bella keluar dari kamar mandi setelah berganti baju. Kali ini ia mengenakan dress tidur berwarna putih tanpa lengan dengan 3 kancing di atasnya. Bella melihat Erlan yang sedang sibuk dengan ponsel di tangganya, dia duduk di atas ranjang dan meluruskan kakinya, seluruh perhatiannya tertuju pada layar ponsel, sampai dia tidak sadar kalau Bella sudah duduk di sampingnya.


“Kau sedang apa?” Tanya Bella kemudian memajukan kepalanya untuk melihat layar ponselnya.


“Menghubungi Pak Bimo untuk menanyakan keadaan perusahaan hari ini” Ujar Erlan tanpa mengalihkan perhatiannya sedikitpun pada Bella.


Bella yang tidak tahu harus berbuat apa akhirnya mengambil ponselnya yang terletak begitu saja diatas meja. Mengirim pesan pada Noah untuk menanyakan bagaimana kabarnya.

__ADS_1


[Noah sayang, apa yang Noah lakukan hari ini?]


Bella menggenggam ponsel di tangannya, tak sabar menunggu balasan dari Noah. Beberapa saat kemudian ponsel di tangannya bergetar.


[Hari ini masih seperti biasa, latihan dan latihan. Yang lainnya, Noah belajar main catur dengan Opa. Cuma butuh dua kali latihan, Noah sudah bisa mengalahkan Opa dalam lima kali permainan berikutnya.]


'Ternyata dia bisa baik-baik saja tanpa aku disisinya. Syukurlah.'


“Kau sedang apa?” Kali ini Erlan yang penasaran akhirnya mendekatkan wajahnya untuk melihat layar ponsel Bella.


Tapi Bella segera menutupnya dengan telapak tangannya agar dia tidak bisa melihatnya. Bella melirik ke meja kecil di sampingnya dan ternyata Erlan sudah meletakan ponsel hitam miliknya itu disana.


“Ini, sudah malam. Letakan ponselmu” Erlan mencoba meraih ponsel yang masih dalam genggamannya, tapi Bella menghindarinya.


“Erlan, aku sedang menghubungi Noah.” Jawab Bella dengan tidak peduli.


“Istriku sayang, sekarang pukul 9 malam bukankah sudah waktunya Noah untuk tidur.” Noah mengelus rambut Bella dengan lembut.


'Mencoba merayu rupanya, huh?'


“Aku tahu. Tapi aku bosan karena kau sendiri juga sibuk dengan ponselmu. Kau bahkan tidak memperhatikanku sama sekali." Bella menggembungkan pipinya dengan kesal kemudian menarik sudut bibirnya mencibir Erlan.


“Maafkan aku, sayang. Aku hanya menanyakan kabar perusahaan pada Pak Bimo. Bagaimanapun juga aku tidak boleh melepaskan tanggung jawab begitu saja.” Erlan meraih tangan kanan Bella yang masih menggenggam ponsel.


“Hem, terserah kau” Ujar Bella masih dengan nada tidak peduli. Bella sama sekali tidak menatap wajah Erlan yang kini sangat dekat dengan wajahnya.


“Ayolah, jangan seperti ini. Kita kan sedang honeymoon. Jadi kumohon kurangi kebiasaan mengomel mu itu, sayang.” Erlan merapikan rambut Bella yang sedikit berantakan, kemudian mengusap punggungnya dengan lembut.


Bella tidak dapat membalas perkataannya karena tiba-tiba dia menarik ponsel dalam genggaman Bella.

__ADS_1


Erlan menunjukan cengiran lebar sembari meletakan ponsel Bella di atas meja kecil di samping tepat tidur mereka. Setelah itu dia menatap tajam ke arah Bella, membuatnya menjadi salah tingkah ketika melihat tatapan mata Erlan yang terasa aneh.


'Mau apa dia?'


__ADS_2