NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Kepergian Pak Indra


__ADS_3

Tiba di rumah sakit....


Dokter langsung melakukan tindakan operasi pengeluaran martil yang bersarang pada tubuh Pak Indra. Sementara Bella juga tengah di rawat di ruang ICU.


Di luar ruangan, Erlan tengah hendak berusaha membuat Noah tenang. Namun, tanpa ia duga. Anaknya itu justru bersikap begitu tenang. Noah terlihat tengah menggambar sesuatu di sebuah kertas.


"Noah tengah menggambar apa?" Tanya Erlan duduk disamping puteranya itu.


"Sebentar Pa." Balas Noah yang terus melanjutkan melukis sketsa wajah seseorang.


Setelah beberapa saat, sketsa wajah itu akhirnya selesai. Sketsa itu menampilkan wajah pria sangat yang menculiknya itu.


"Siapa ini?" Tanya Erlan.


"Ini orang yang telah menculik Noah dan Mama. Orang ini juga yang sudah menembak Opa Indra." Ucap Noah.


Erlan langsung mengambil gambar sketsa wajah pria itu dan memotretnya kemudian mengirimnya pada Pak Bimo dan meminta Pak Bimo melaporkan semuanya pada polisi.


Selang beberapa saat, Dokter keluar dari ruangan ICU dimana Bella ditangani.


"Bagaimana keadaan istriku Dokter?" Tanya Erlan was-was.


"Maafkan saya Tuan Erlan. Saya tidak dapat menyelamatkan janin yang ada di dalam kandungan istri Tuan Muda. Tapi sekarang keadaan Nona Bella sudah berangsur stabil. Tuan Muda harus berusaha menjaga emosi Nona Bella agar tetap stabil. Mengingat Nona Bella baru saja keguguran." Jelas Pak Dokter.


Erlan terdiam, ia tak pernah mengetahui bahwa Bella hamil.


"Dokter? Apa istriku benar-benar hamil?" Tanya Erlan memastikan.


"Iya Tuan Muda. Nona Bella tengah hamil dengan usia kandungan baru empat minggu." Jawaban Dokter membuat Erlan semakin merasa bersalah.


'Kenapa aku tidak tahu bahwa istriku sendiri tengah hamil? Suami macam apa aku ini?' pikir Erlan.


Noah yang ikut mendengar ucapan Dokter memeluk pinggang Erlan.


"Pa....." Ucap Noah.


"Maafin Papa yang tidak bisa melindungi kalian. Papa terlambat." Ucap Erlan.


"Gak Pa. Ini semua salah orang yang menculik kami. Papa harus menemukan orang itu." Ucap Noah.


"Tentu, Papa pasti akan menemukan pria itu. Meski, dia bersembunyi di lubang tikus sekalipun. Dia tidak akan bisa menghindar dari Papa." Ucap Erlan penuh amarah.


Belum habis berita buruk yang Erlan terima, kini ia harus menghadapi kenyataan bahwa sang Papa mertua meninggal dunia. Operasi yang dilakukan Dokter tak mampu menyelamatkan nyawa Pak Indra.


"Mohon maafkan kami Tuan Erlan. Seluruh tim Dokter sudah melakukan yang terbaik. Namun, sepertinya Tuhan berkehendak lain. Pak Indra tak mampu bertahan karena peluru yang menembus dadanya tepat mengenai jantung beliau. Hal ini membuat fungsi jantung Pak Indra melemah dan akhirnya Pak Indra menghembuskan nafasnya sebelum kami sempat mengeluarkan martil yang bersarang di tubuhnya." Ucap Dokter menjelaskan.


Erlan lagi-lagi dihadapi pada sesuatu yang sangat menyedihkan. Pertama, isterinya keguguran dan kini ia kehilangan sosok Papa mertua.

__ADS_1


'Apa yang harus aku katakan pada Bella.'


"Papa, apa Opa Indra benar-benar sudah meninggal?" Tanya Noah.


Erlan menjawab pertanyaan Noah hanya dengan sebuah anggukan. Pikirannya kacau. Tak tahu harus berbuat apa.


Erlan kemudian masuk ke ruangan Bella bersama Noah. Tampak Bella berbaring dengan mata yang masih terpejam. Noah duduk disamping tempat tidur sang Mama dan mulai menangis.


"Maa... Bangun Ma. Jangan tinggalkan Noah. Noah sudah kehilangan Opa Indra. Noah tidak mampu kalau sampai harus kehilangan Mama juga." Ucap Noah sendu.


Erlan mengusap pucuk kepala Noah lembut dan memintanya untuk duduk istirahat di sofa yang tersedia di ruangan Bella yang kini menjalani rawat inap.


"Sayang, disini kau berbaring lemah. Dan di satu sisi aku harus mulai mengurus pemakaman Papa." Ucap Erlan sendu.


Erlan tak mampu menahan air matanya, ia menangis dengan mencium tangan Bella.


"Sekali lagi maafkan kesalahanku sayang. Aku tidak bisa melindungi kamu dan juga Papa." Isak Erlan.


Perlahan Bella akhirnya mendapat kesadarannya kembali. Dan ia langsung berteriak.


"Dimana Noah? Dan bagaimana kondisi Papa?" Teriak Bella.


Noah yang tengah berbaring di atas sofa sontak bangun dan mendekati Bella.


"Ini Noah Ma. Noah baik-baik saja." Ucap Noah seraya menggenggam tangan Bella."


Erlan terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa. Ia khawatir dengan kesehatan Bella jika sampai jujur mengenai kondisi Pak Indra.


"Kenapa diam? Dimana Papa?" Tanya Bella lagi.


"Papa...."


"Papa kenapa?" Tanya Bella geram.


"Sayang, sejak kapan kamu hamil?" Tanya Erlan mengalihkan pembicaraan.


"Aku baru mengetahuinya dua hari yang lalu. Aku hendak memberitahu mu hari ini bersamaan dengan adanya Noah di rumah.


Bella baru menyadari bahwa ia merasakan sesuatu yang berbeda pada tubuhnya. Ia mengingat bahwa perutnya sudah di tendang dengan keras oleh seseorang. Bahkan pinggangnya juga sudah ditendang dengan keras.


Bella memegangi perutnya, dan mulai bertanya,


"Apa aku keguguran?" Tanya Bella.


Namun, lagi-lagi Erlan hanya bisa diam. Ia tak mampu menjawab setiap pertanyaan yang terlontar dari mulut Bella.


Bella yang melihat ekspresi Erlan mulai menangis, ia menyadari bahwa dirinya telah keguguran.

__ADS_1


"Maafkan aku sayang. Aku tidak bisa melindungi mu dan bayi kita." Ucap Erlan ikut terisak.


Erlan memeluk Bella dengan erat sambil terus mengucapkan kata maaf.


"Ma, Pa."


Panggilan Noah membuat keduanya tersadar, bahwa dihadapan mereka ada Noah yang tengah menyaksikan keduanya menangis.


"Noah tahu semua ini sangat menyakitkan buat Mama dan Papa. Tapi, lebih menyakitkan lagi untuk Noah karena melihat kedua orang tua Noah bersedih bahkan sampai menangis." Ucap Noah.


Erlan dan Noah bergantian mengucapkan kata maaf pada Noah.


Perlahan, Erlan dapat menjelaskan pada Bella bahwa Pak Indra telah meninggal dunia. Meski awalnya terisak, Bella akhirnya dapat mengendalikan dirinya untuk tidak larut dalam duka.


'Bagaimanapun semua ini sudah takdir yang digariskan Tuhan untukku.' ucap Bella dalam hati.


*********


Sore itu juga, pemakaman Pak Indra dilaksanakan. Suasana haru menyelimuti pemakaman yang dihadiri keluarga dan kerabat dekat dari Bella dan keluarga Alexander.


Meski masih merasakan sakit, Bella memaksakan dirinya untuk hadir di pemakaman sang Papa dengan duduk di kursi roda sambil menggenggam erat tangan Erlan dan Noah.


Tanpa di duga, Clarissa juga menghadiri pemakaman itu. Ia tampak begitu berduka karena kepergian Pak Indra.


'Bagaimanapun, Papa lah yang telah merawat dan membesarkan aku. Maafkan aku Pa, aku tidak pernah menyangka semuanya akan jadi seperti ini.' ucap Clarissa dalam hati.


Sebelumnya di kediaman Tuan Tama....


Tuan Tama mendapat informasi bahwa Pak Indra telah meninggal karena di tembak oleh Roy, yang tak lain adalah si pria sangar. Mendengar informasi itu Clarissa menjadi marah.


"Kenapa bisa Papa Indra di tembak? Bukannya Papa cuma menyuruh si Roy itu untuk menculik dan memberi pelajaran pada Bella. Tapi kenapa malah Papa Indra yang jadi korbannya." Pekik Clarissa.


"Sudahlah Clarissa sayang, semuanya terjadi karena kecelakaan semata. Lagi pula, si Indra itu bukan Papa mu. Aku lah Papa mu." Ucap Tuan Tama.


Clarissa yang kesal, kembali ke kamarnya dan bersiap pergi ke pemakaman.


"Mas, bagaimana kalau si Roy itu buka mulut?" Ucap Bu Maya.


"Tenang saja sayang. Dia tak akan berani melakukan itu sekalipun nyawa menjadi taruhannya. Karena aku sudah mengancam jika dia buka mulut, maka sama halnya dengan dia membunuh keluarganya sendiri." Balas Tuan Tama.


Di pemakaman....


Air mata Bella luruh, ia tak menyangka Papa nya akan meninggalkan dirinya dengan cara yang begitu tragis.


'Maafin aku Pa. Semua ini terjadi karena Papa berusaha melindungi ku. Semoga Papa tenang di alam sana.'


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2