NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Rencana Clarissa


__ADS_3

Hari semakin gelap, matahari mulai kembali di peraduannya. Di dalam dapur kediaman Alexander terlihat Bella tengah sibuk menyiapkan sup ayam untuk Noah.


Sore tadi Noah langsung meminta Bella membuatkan sup ayam untuk dirinya.


"Noah kangen masakan Mama. Buatin Noah sup ayam ya Ma!" Pinta Noah pada Bella.


Tentu saja Bella menyanggupi. Dan disinilah Bella sekarang, ia terlihat sibuk memotong sayur-sayuran.


"Nona Muda kenapa tidak membiarkan para koki saja untuk memasak. Nona Muda tidak harus turun langsung ke dapur." Ucap Bu Dira kepala pelayan di kediaman Alexander.


"Tidak apa-apa Bu Dira. Mereka semua bisa menyiapkan menu makanan yang lainnya. Aku sedang membuatkan pesanan Noah." Balas Bella ramah.


Bu Dira mengangguk lalu berjalan pergi meninggalkan dapur.


Clarissa datang menemui Bella di dapur.


"Kak Bella, ada yang bisa aku bantu?" Tanya Clarissa.


'Aku tidak tahu, wanita ini benar-benar sudah berubah atau hanya berpura-pura.'


Bella menatap Clarissa dengan lekat.


"Kau belum pulang juga ya?" Tanya Bella.


"Eh, kakak tidak suka aku ada disini ya. Kalau begitu aku akan pulang saja."


"Bukan begitu maksudku. Aku hanya bertanya."


'Kenapa dia jadi begitu sensitif.'


"Sejak tiga hari yang lalu, aku sudah sering terlambat pulang karena menemani Noah bermain. Hingga aku jadi terbiasa. Kalau Kak Bella tidak suka aku ada disini, aku bisa pulang sekarang juga."


Bella menghela nafas panjang.


"Sudahlah, aku tidak memintamu untuk pulang. Kalau kau ingin membantu, silahkan saja. Tapi karena aku sekarang sudah pulang, kau tidak perlu merepotkan dirimu untuk menemani Noah." Ucap Bella dengan nada tegas.


'Huh dasar, baru menikah beberapa hari dengan Erlan, sikapnya sudah sok jadi Nyonya Besar. Awas saja, aku harus mencari cara bagaimana agar bisa membuatnya bertengkar dengan Erlan.'


"Kau kenapa diam saja? Kalau hanya berdiri disitu saja lebih baik kau pergilah. Dengan berdiri disitu kau sudah mengganggu para Koki untuk memasak."


Lagi-lagi perkataan Bella semakin membuat Clarissa harus menahan emosinya.


'Aku punya ide.' pikir Clarissa.


"Aku bantu ya. Setelah makan malam, aku akan langsung pulang." Ucap Clarissa sambil mendekat ke arah seorang Koki yang tengah sibuk mencampur terigu dan telur.


"Aku mau bantu." Ucap Clarissa lagi sambil merebut mixer yang dipegang seorang Koki.


"Jangan Nona, biar saya saja. Ini sudah menjadi tugas saya."


"Tidak apa-apa aku bisa." Ucap Clarissa memaksa ikut membantu.


Namun bukan nya membantu, yang ada Clarissa malah mengacaukan semuanya.

__ADS_1


"Jangan Nona lebih baik anda tidak di sini."


Bella yang melihat Koki itu terganggu meminta Clarissa untuk pergi.


"Clarissa lebih baik kau pergi saja. Kau lebih baik menemani Noah atau pulang saja." Kali ini Bella sengaja untuk mengusir Clarissa.


"Maaf jika aku mengacaukan semuanya. Aku hanya ingin membantu." Raut wajah Clarissa berubah sendu, ia berbalik dan menjatuhkan adonan tepat di bagian belakang gaun yang ia kenakan.


Selain gaun, kaki Clarissa pun kini telah penuh dengan adonan yang berwarna putih.


"Maafkan aku, aku tidak sengaja." Ucap Clarissa.


Bella memijit pelipisnya yang berkedut.


Koki itu mulai membersihkan kekacauan yang dibuat Clarissa.


"Sekali lagi maafkan aku, biarkan aku yang membereskan semuanya." Clarissa hendak berjongkok namun ditahan oleh Koki.


"Tidak apa-apa Nona. Biar saya saja, ini sudah menjadi tugas saya."


'Menyusahkan sekali.' pikir Bella.


"Sudahlah Clarissa, lebih baik kau pergi bersihkan dirimu saja. Pakaian dan kakimu kotor." Titah Bella.


"Tapi aku tidak membawa pakaian ganti?"


"Pergi saja bersihkan dirimu, nanti aku akan meminta pelayan untuk mengantarkan pakaian untukmu. Pergilah ke kamar yang ada di dekat ruang perpustakaan. Disana juga ada kamar mandi. Tunggulah sampai pelayan datang mengantarkan pakaianmu."


'Rencanaku berhasil. Erlan tunggu aku sayang.'


Tiba di kamar yang di tunjukan Bella, Clarissa dengan cepat mengganti pakaiannya dengan pakaian mandi. Mengenakan handuk di kepalanya seolah-olah habis keramas.


Clarissa kemudian mengendap-endap menuju ruang atas saat melihat situasi aman. Perlahan ia bergerak masuk ke kamar Erlan.


'Erlan dimana ya? Kenapa tidak ada disini.'


Telinga Clarissa menangkap suara gemercik air dari dalam kamar mandi.


'Pas banget, Erlan pasti lagi mandi.'


Clarissa melihat pantulan wajah dan tubuhnya di cermin.


"Aku lebih cantik dan seksi dari Bella. Erlan pasti tidak akan menolak jika melihat tubuh indah ku." Clarissa membanggakan dirinya sendiri di depan cermin.


Setelah mendengar suara air dimatikan, dengan cepat Clarissa berdiri menghadap lemari pakaian yang berisi pakaian Bella.


"Sayang..."


'Umpan sudah kena.' ucap Clarissa dalam hati.


"Sayang, bukannya kau sedang memasak untuk Noah. Kenapa bisa ada disini? Dimana kau mandi?" Erlan bertanya dengan beruntun lalu memeluk pinggang Clarissa yang dipikirnya Bella.


Karena yang dilihat Erlan dari belakang adalah Bella. Tubuh Bella dan Clarissa memang tidak jauh berbeda. Keduanya memiiki tinggi yang sama, dan tubuh yang nyaris mirip. Yang membedakan keduanya adalah kecantikan wajah dan rambut mereka.

__ADS_1


Erlan memeluk Clarissa erat sambil menaruh dagunya di pundak Clarissa.


"Kenapa kau jadi kaku begini sayang?" Tanya Erlan lagi.


Ingin sekali Clarissa berbalik dan segera mencium Erlan, tapi ia menahan dirinya agar bisa lebih lama merasakan dipeluk Erlan.


Tiba-tiba, pintu kamar terbuka dan menampilkan Bella yang tengah berdiri di pintu.


Erlan yang kaget, sontak berbalik dan matanya sontak membulat sempurna. Dengan cepat ia melepaskan pelukannya. Raut wajahnya terlihat sangat syok.


"Sa-sayang... Jika kau ada disitu, maka dia adalah..."


"Clarissa." Ucap Bella yang membuat Erlan semakin membelalakkan matanya.


Bella berjalan mendekat ke arah Clarissa yang berdiri mematung dengan wajah tetap menghadap ke arah lemari pakaian yang masih terbuka.


Bella mengambilkan sebuah kemeja dan meleparkannya ke wajah Erlan.


"Segera kenakan pakaianmu." Titah Bella pada Erlan.


Erlan yang hanya mengenakan handuk, segera menyambar kemeja yang dilemparkan Bella dan mengenakannya tanpa banyak bertanya.


Bella lalu memegang pundak Clarissa dan membalikkan badannya. Clarissa tampak menunduk, dan menahan senyumannya.


'Rencana ku berhasil.' pikir Clarissa.


"Angkat kepalamu dan tatap aku." Teriak Bella.


Clarissa memasang tampang bersalah pada Bella.


"A-aku bisa jelaskan semuanya Kak." Clarissa membuat suaranya agar terdengar gugup.


"Kau mau jelaskan apa?" Tanya Bella dengan nada mengejek.


"Aku minta maaf, karena masuk sembarangan ke kamar ini. Aku hanya ingin segera mengganti pakaianku agar bisa cepat pulang. Aku berharap Kak Bella tidak keberatan aku menggunakan baju Kakak."


"Tentu saja aku keberatan. Aku tidak akan membiarkan wanita yang ingin menggoda suamiku masuk ke kamarku dan menggunakan pakaianku." Bella menatap Clarissa penuh amarah.


"Kak, kau salah paham. Aku tidak bermaksud..."


"Hah, apa kau ingin aku percaya bahwa kau tidak sengaja masuk kesini untuk mengambil pakaianku? Aku tidak sebodoh itu Clarissa. Sekarang kau lebih baik keluar dari kamarku dan jangan pernah kembali lagi ke rumah ini."


"Kak Bella..."


"Keluar, dan dengarkan aku baik-baik. Aku tidak perduli apapun rencana mu nantinya. Tapi satu hal yang perlu ku katakan padamu, rencana kotor mu tidak akan pernah berhasil untuk memisahkan aku dengan Erlan."


Clarissa berjalan keluar dari kamar Bella dengan perasaan kesal.


'Sialan...' rutuk Clarissa dalam hati.


Sementara di dalam kamar, Erlan terdiam tak tau harus berkata apa pada sang istri yang kini terlihat seperti singa yang siap menerkamnya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2