NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Pembahasan Pernikahan


__ADS_3

Setelah menemui pihak imigrasi, Sherly dan Noah lalu pergi ke sebuah restoran untuk makan siang. Pihak imigrasi sempat meragukan tentang pernikahan yang akan mereka lakukan. Namun, Noah berhasil meyakinkan pihak imigrasi bahwa keduanya memang sudah ingin melakukan pernikahan sejak lama. Hingga pihak imigrasi pun mempersilahkan mereka pergi setelah memberitahu syarat-syarat yang harus mereka lengkapi jika akan menikah.


Tiba di restoran, Sherly langsung permisi pergi ke toilet. Sementara Noah duduk santai dengan wajahnya yang tampak sumringah. Suara ponsel Noah berdering. Dengan cepat ia mengangkat telepon tersebut.


"Apa yang terjadi?" Tanya seorang pria dari seberang telepon yang tak lain adalah Jimmy.


"Aku akan menikahi Sherly." Jawab Noah.


"Apa? Kau bercanda ya? Aku tahu kau menyukai wanita itu. Tapi, tidak secepat ini kan kau menikahinya. Bukankah tindakanmu ini terlalu gegabah?" Balas Jimmy.


"Aku yakin dengan pilihanku. Jika aku harus menikah sekarang ataupun tahun depan. Wanita yang harus aku nikahi hanyalah Sherly."


"Lalu bagaimana dengan orang tuamu? Apa kau yakin mereka akan setuju begitu saja? Apalagi mereka sama sekali tak mengenal siapa itu Sherly."


"Aku punya cara."


"Apa itu?" Tanya Jimmy penasaran.


"Lihat saja nanti." Ucap Noah seraya memutuskan panggilan.


Jimmy mendengus kesal karena Noah memutuskan panggilan secara sepihak.


Sementara itu di kamar kecil, Sherly membasuh wajahnya dan menatap pantulan dirinya di cermin. Ia menatap wajahnya dengan serius.


"Aku akan menikah dengan Noah?" Ucap Sherly seorang diri. "Meski pernikahan kami hanya pura-pura, tapi kenapa jantungku seolah tak mau berhenti berdetak dengan kencang. Ada apa sebenarnya?"


Sherly lagi-lagi menggeleng. Ia tak habis pikir bahwa ia akan segera menikah dengan Noah dan akan menjadi janda juga setelah mendapatkan status kewarganegaraannya. Sherly menghembuskan nafasnya perlahan lalu berjalan keluar dari kamar kecil.


Saat duduk berhadapan dengan Noah, jantungnya semakin berdegup kencang.


"Ada apa denganmu?" Tanya Noah seraya meminum jus jeruk yang dipesannya tadi.


"Tidak ada apa-apa." Balas Sherly canggung.


Makanan pesanan Noah pun datang. Noah memilih memesan hot pot dan berbagai menu lainnya. Sherly yang terbiasa makan di warung pinggir jalan semakin bertanya-tanya. Sebenarnya siapa pria yang ada dihadapannya sekarang ini. Terlebih sejak kejadian kemarin, Sherly semakin yakin bahwa Noah bukanlah orang biasa. Ditambah lagi gaya bicara dan pakaian serta mobil yang Noah pakai hari ini sangat tidak memungkinkan bahwa dirinya hanyalah seorang sekretaris.


Keduanya lalu makan siang dalam diam. Sebenarnya Sherly ingin bertanya pada Noah. Namun, saat tatapan mata keduanya beradu, dengan cepat Sherly mengalihkan pandangannya.


Makanan di meja pun habis, hanya menyisakan kuah hot pot yang berwarna merah. Sherly mengelus perutnya yang kekenyangan. Lalu wajahnya langsung bersemu merah saat mendapati Noah tengah menatapnya.


"Apa lihat-lihat." Ucap Sherly.


"Itu ada sesuatu di...." Ucap Noah dengan nada yang terdengar ketakutan.


"Ada apa? Jangan membuatku takut." Balas Sherly.


"Mendekat lah." Titah Noah yang membuat gadis itu memajukan badannya.


Noah ikut memajukan badannya hingga wajah keduanya berjarak sangat dekat. Noah lalu membisikkan sesuatu di telinga Sherly,

__ADS_1


"Ada biji cabai nyangkut di gigimu."


Blush!


Wajah Sherly langsung memerah karena malu. Ingin sekali marah, tapi tetap saja malu. Sementara Noah tampak menahan tawa.


"Jangan tertawa." Ucap Sherly. "Sekarang katakan, kapan kau akan menikahi ku?"


"Kalau kau mau, sekarang juga boleh." Balas Noah.


"Ha?" Sherly tampak bingung.


"Hahaha, pertama-tama kau harus ikut bersandiwara denganku dulu. Kau harus mengakui kepada orangtuaku bahwa kita sudah menikah secara agama." Ucap Noah.


"Hah? Kenapa begitu?"


"Karena orang tuaku sudah sangat sering menjodohkan aku. Tapi, aku belum mau menikah. Dengan langsung mengatakan kepada mereka bahwa aku ingin menikahi mu. Mereka pasti tidak akan setuju apalagi mereka tidak pernah mengenalmu sama sekali."


"Tapi, apa kita tidak bisa menikah diam-diam tanpa di ketahui orang tuamu?" Tanya Sherly.


"Aku bukan orang sembarangan yang bisa menikah begitu saja. Aku ini anak semata wayang. Aku tidak mau mengecewakan kedua orang tuaku." Jawab Noah.


"Lalu katakan padaku, siapa kau sebenarnya?"


"Aku Noah." Balas Noah.


"Aku tahu, maksudku kau ini.... Ah sudahlah. Aku tidak perduli siapapun kau, yang penting kau setuju untuk menikah denganku. Tapi yang membuatku tak ingin menikah diketahui oleh orang tuamu adalah, bagaimana caranya kita bercerai nanti? Apa yang akan dikatakan kedua orang tuamu?"


"Apa? Satu tahun? Bukankah itu terlalu lama?"


"Apa kau ingin menikah denganku hanya satu bulan? Apa kau tak memikirkan perasaan orang tuaku? Pihak imigrasi juga pasti mengetahui kau hanya berpura-pura menikah denganku untuk mendapatkan status warga negara disini." Ucap Noah.s


Sherly tampak berpikir.


'Bermimpi la untuk bercerai denganku.' ucap Noah dalam hati.


Sherly menghela nafas panjang lalu melipat tangan di dadanya.


"Baiklah, aku setuju. Tapi kau harus berjanji untuk tidak melakukan apapun padaku selama kita menikah." Ucap Sherly.


"Aku tidak doyan dengan wanita berbodi rata sepertimu." Balas Noah.


"Apa kau bilang? Aku berbodi rata? Apa kau mau melihat...."


Noah langsung berdiri menghalangi Sherly yang hendak membuka kancing kemeja yang ia kenakan. Tatapan mata keduanya beradu. Membuat debaran jantung Sherly semakin tak karuan.


"Apa kah sudah gila?" Bentak Noah seraya berusaha mengatur nafasnya. Hampir saja ia melihat dada Sherly.


"Maaf." Balas Sherly.

__ADS_1


Keduanya kembali duduk berhadapan. Seorang pelayan datang dan membereskan meja mereka karena dipanggil Noah. Noah kembali memesan dua cangkir kopi.


"Kita harus kembali ke kantor." Ucap Sherly.


"Tidak perlu. Urusan kita lebih penting sekarang." Balas Noah.


Keduanya lalu menikmati kopi yang diantarkan pelayan. Noah tampak sibuk dengan ponselnya dan tak lama kemudian terdengar suara alunan musik yang merupakan nada dering dari ponsel Noah.


'Nada yang indah.' ucap Sherly dalam hati.


"Hai, Ma, Pa." Ucap Noah sambil menghadapkan layar ponsel ke wajahnya.


"Noah Alexander, cepat katakan pada Papa mana wanita yang sudah kau nikahi itu." Terdengar suara pria yang tak lain adalah Erlan, Papa Noah.


'Apa itu suara Papa nya?' pikir Sherly.


'Tunggu dulu, apa tadi dia menyebut nama Noah Alexander? Alexander?'


"Aku akan segera membawanya pulang. Aku harap Papa dan Mama bisa menerimanya sebagai menantu." Balas Noah.


"Setidaknya perlihatkan bagaimana wajahnya kepada kami." Ucap Bella.


'Itu pasti Mamanya.' pikir Sherly lagi.


"Kalian akan melihatnya nanti saat aku sudah membawanya pulang." Ucap Noah.


"Baik kalau begitu segera bawa dia pulang. Mama dan Papa akan memgurus segala persiapan pernikahan kalian. Kalian harus menikah ulang." Ucap Bella.


"Siap Ma. Besok aku akan sampai di rumah." Balas Noah lalu memutuskan panggilan video.


Sherly terdiam, ia masih mencerna apa yang sudah didengarnya.


'Alexander? Apa jangan-jangan dia....'


"Kenapa?" Tanya Noah.


"Tidak ada apa-apa." Balas Sherly.


'Ah, dia tidak mungkin keturunan Alexander yang itu,...' ucap Sherly dalam hati berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


"Kau sudah dengar apa yang dikatakan kedua orang tuaku. Persis seperti yang aku katakan. Mama dan Papa tidak akan menolak mu jika aku mengatakan bahwa kita sudah menikah siri." Ucap Noah.


"Kenapa kau mau menolongku?" Tanya Sherly tiba-tiba.


"Anggap saja karena aku menyukaimu." Balas Noah keceplosan.


"Apa?" Tanya Sherly kaget.


"Maksudku anggap saja karena aku kasihan padamu." Jawab Noah.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2