NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Ketahuan


__ADS_3

Di bawah langit sore, Sherly memarkirkan mobilnya di depan minimarket dan menurunkan jendela kaca mobil untuk menatap ke seberang, pertama kali dia melihat pria yang selama ini menjadi sekretarisnya mengenakan jas lengkap. Sosoknya berdiri di antara cahaya oranye dengan tampang dingin, dia sama sekali tidak terpengaruh oleh keramaian di sekitarnya, jemarinya dengan santai memainkan ponsel yang ada di tangannya.


Noah memang lebih menawan dari kebanyakan pria, dia memiliki ketampanannya tersendiri, sangat memukau, dan begitu menarik, di antara para pria yang pernah dekat dengan Sherly. Noah adalah pria yang mempunyai tampang paling manly, dengan raut muram tersembunyi di antara alisnya, dia adalah contoh klasik pria yang mempunyai hasrat besar, tidak ada orang yang bisa menebak isi hatinya, termasuk Sherly.


"Kenapa aku baru menyadari bahwa dia itu sangat tampan." Ucap Sherly lalu membuka mobilnya berjalan mendekati Noah.


Noah masih saja sibuk, memainkan ponselnya dan begitu terkejut saat Sherly menepuk pundaknya.


"Hey, apa yang kau lakukan disini?" Tanya Sherly.


"Aku.... Aku..." Noah gelagapan. Ia tak tahu harus menjawab apa karena sebenarnya ia baru saja bertemu dengan klien.


"Kenapa kau tumben sekali mengenakan pakaian serapi ini. Tampilan mu benar-benar tampak seperti seorang CEO." ucap Sherly lagi.


"Itu... Aku. Mmm... anu aku sedang bertemu dengan seorang Bos dari sebuah perusahaan di kota. Aku tengah mengajukan pekerjaan di Xander group. Jadi aku harus tampil dengan baik." Balas Noah berhasil mencari alasan.


"Oh pantas saja kau tiba-tiba menghilang tadi di kantor. Apa pekerjaanmu sebagai sekretaris ku membosankan dan membuatmu tidak nyaman sampai kau harus mencari pekerjaan lain."


"Bu-bukan begitu." Balas Noah gagap.


"Kalau begitu ayo ikut aku. Sebagai permintaan maaf mu karena meninggalkan pekerjaan tadi. Sekarang cepat masuk dan menyetir lah. Aku harus menemui klien besar untuk makan malam. Sebagai sekretaris ku, kau harus ikut menemaniku." Ucap Sherly kemudian masuk ke dalam mobil.


Noah memijit keningnya.


'Mau bagaimana lagi.' ucap Noah dalam hati lalu masuk ke dalam mobil.


Keduanya lalu beranjak pergi ke sebuah restoran tempat Sherly akan melakukan pertemuan dengan kliennya. Klien yang di temui Sherly merupakan orang luar negeri. Saat Noah ikut nimbrung berbicara dalam bahasa inggris, Sherly merasa Noah begitu berbeda.


'Kenapa bahasa inggrisnya lebih fasih dariku?' tanya Sherly dalam hati.


Setelah selesai dengan pembahasan pekerjaan, klien Sherly menawarkan sampanye untuk menandakan bukti kerja sama mereka. Noah yang tidak ingin Sherly meminumnya dengan sukarela menggantikan Sherly untuk meminum sampanye itu. Padahal sebelumnya dia sendiri tidak pernah mengonsumsi minuman beralkohol.


Agenda pertemuan selesai, Noah dan Sherly pun segera pulang.


"Biar aku yang menyetir." Ucap Sherly.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Aku bisa." Balas Noah.


Sherly lalu duduk di kursi di sebelah pengemudi. Cahaya lampu dalam mobil menyatu dan menyinari wajah Noah, sosoknya yang tampan dan juga tampak dingin. Setelah terbiasa melihat Noah yang tidak tersenyum dalam balutan pakaian bekerja, dia yang saat ini mengenakan sebuah setelan jas berwarna gelap membuat Sherly semakin terpesona.


Tepat saat Sherly sedang menatap lelaki disampingnya yang tengah fokus mengemudi,


“Tampan?” ucap Noah.


Sherly belum tersadar dengan apa yang Noah katakan,


“Apa yang kamu katakan?”


“Aku tampan nggak?” Noah berkata dengan sedikit mengerling, lalu mencondongkan tubuhnya ke samping, matanya bertemu dengan mata Sherly.


Jarak keduanya sangat dekat, Sherly bahkan dapat melihat sedikit rona merah karena mabuk dari dagu Noah hingga keningnya, dan juga aroma alkohol dari nafasnya.


'Katanya, pria dengan bibir tipis dan mata persik merupakan orang yang ceroboh dan penyayang. Tapi, pasti Noah pengecualian.' pikir Sherly.


Meskipun tampak mabuk, Noah tetap menjaga ketenangan yang membuat orang lain bisa ketakutan.


Sherly berkata dengan suara serak dan penuh perasaan tersirat di ujung matanya, “kau sangat tampan Noah.”


“Pakai lipstik?” tanya Noah.


Belum sempat Sherly menjawab, Noah kembali berkata, “Calon isteriku tidak butuh itu semua.”


'Dia benar-benar mabuk.' pikir Sherly.


Sherly mengulurkan tangan untuk membantu Noah merapikan kerah pakaian. Dia melakukan tindakan paling dekat dengan Noah itu tanpa beban,


“Kalau Noah tidak suka aku berdandan, maka besok aku tidak akan pakai lagi.” ucap Sherly dengan pipi merona.


Noah melirik sekilas jari Sherly yang berada di kerah kemejanya. Lalu kembali bersandar ke kursi.


"Kalau aku nggak suka. Kamu nggak bakal lakuin?” tanya Noah.

__ADS_1


Sherly tahu kalau Noah sedang memberitahunya untuk tidak berlebihan. Karena sejak pertama bertemu dengan Noah, hari ini untuk pertama kalinya Sherly berdandan. Ia melakukannya karena bertemu dengan klien penting.


"Akan aku pertimbangkan." Jawab Sherly kembali mengatur posisi duduknya agar sedikit berjauhan dari Noah.


'Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku sampai sedekat itu dengan dia?' tanya Sherly dalam hati.


Keduanya lalu tiba di depan pintu villa Noah. Noah antara sadar dan tidak, ia membawa Sherly menuju villa nya. Sherly yang tak pernah tau dimana Noah tinggal tampak melongo.


"Bagaimana bisa seorang sekretaris sepertimu bisa memiliki rumah semewah ini?" Tanya Sherly saat masuk ke dalam villa Noah.


Noah duduk di atas sofa dengan tampang kelelahan, ia tak menjawab pertanyaan Sherly. Sherly lalu membuka sedikit gorden jendela, tapi Noah memerintahkannya untuk menutup kembali.


Sherly berjalan ke meja dapur dan menuangkan segelas air untuk Noah. Baru saja Noah ingin mengambilnya, Sherly menahannya, “Aku saja.”


Noah terlihat tersenyum, tapi tatapan matanya tetap saja dingin, “Kerjaan bos ku bisa memberi minum sekretarisnya juga?”


"Aku bertanggung jawab akan yang terjadi padamu hari ini. Jadi aku harus mengurus mu dengan baik.” jawab Sherly.


Noah melepaskan kancing kemejanya, lalu melepaskan ikat pinggang, dia duduk dengan malas-malasan.


“Aku tidur dulu, kau sudah boleh pulang.” ucap Noah seraya berjalan menuju lantai atas dengan meninggalkan Sherly berdiri seorang diri.


Sherly kemudian berjalan keluar villa dengan begitu banyak pertanyaan bersarang di kepalanya. Tepat saat ia hendak membuka pintu mobil, sebuah mobil berhenti di depan mobilnya.


Jimmy keluar dari dalam mobil dan tampak kaget melihat adanya Sherly.


"Ke-kenapa kau disini?" Tanya Jimmy.


"Aku mengantar Noah pulang. Ia tak sengaja mabuk karena diriku." Jawab Sherly.


Keduanya terdiam dan saling memandang.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" Ucap Sherly.


"Maaf, untuk apapun yang mau kau tanyakan. Aku tidak punya jawabannya. Hanya Noah yang bisa menjawab mu besok di kantor. Sekarang pulanglah karena malam semakin larut." Ucap Jimmy kemudian masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Sherly kemudian masuk ke dalam mobil dan mengendarainya keluar dari halaman villa Noah. Pikirannya kembali melayang memikirkan siapa sebenarnya Noah dan juga Jimmy. Kenapa sikap keduanya berbeda hari ini. Jika biasanya Noah dan Jimmy tampak bersikap layaknya seorang pegawai biasa. Malam ini Sherly melihat sikap Noah yang tampak begitu dingin setelah mabuk. Dan yang membuatnya tak habis pikir adalah, kenapa Noah bisa memiliki villa dan mobil semewah yang Jimmy gunakan. Sementara keduanya hanya bekerja sebagai sekretaris dan pegawai biasa di kantor.


'Apa jangan-jangan mereka berdua itu pengawas di kantor?' pikir Sherly.


__ADS_2