NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Pembahasan Pernikahan


__ADS_3

"Bagaimana menurutmu Cinderella-ku? Kapan kau mau kita menikah? Kalau kau mau besok atau malam ini juga tidak masalah." Ucap Erlan.


Bella terdiam, memikirkan bagaimana bisa ia menikah tanpa adanya Sang Papa yang akan mendampinginya.


Noah datang mendekati Bella yang terlihat melamun.


"Mama kenapa?" Tanya Noah membuyarkan lamunan Bella.


"Mama gak apa-apa sayang. Mama hanya tengah memikirkan sesuatu."


"Apa itu Mah?" Tanya Noah lagi.


"Mama itu lagi mikirin kapan baiknya menikah sama Papa." Celetuk Erlan.


Noah menatap Bella dan Erlan bergantian.


"Mah, kalau mau menikah bukannya orang tua Mama harus ada menemani Mama. Karena Oma sudah meninggal jadi seharusnya Opa kan yang menemani Mama."


Semua orang menatap Bella.


'Bagaimana aku bisa lupa.' pikir Erlan.


"Wah bagaimana bisa, bocah sekecil kamu begitu pintar Noah." Ucap Vino.


"Karena dia adalah anakku. Putera dari Erlan Alexander yang genius. Bukan seperti kamu yang dungu." Balas Erlan.


"Aku juga genius." Balas Vino.


Tuan Adam menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan kedua puteranya yang memang selalu seperti kucing dan tikus.


"Opa, Om Vino dan Papa memang selalu seperti itu ya?" Tanya Noah.


"Maksud Noah apa?" Ucap Tuan Adam balik bertanya.


"Seperti anak kecil. Selalu bertengkar." Jawab Noah.


Untuk pertama kalinya, Tuan Adam bisa tertawa lepas. Pak Bimo yang duduk di ruangan lain bahkan dapat mendengar suara tawa Tuan Besarnya.


'Kehadiran bocah itu memang membawa kebahagiaan di rumah ini. Syukurlah.' pikir Pak Bimo.

__ADS_1


"Noah memang cucu Opa yang sangat pintar." Ucap Tuan Adam.


Sementara Erlan dan Vino terlihat komat-kamit.


'Aku tak menyangka, lelaki dingin seperti dia ternyata punya sifat yang jahil juga terhadap adiknya.' pikir Bella.


"Oh ya Bella, bagaimana kalau Papa meminta Papa kamu untuk datang kemari agar kalian bisa bertemu." Ucap Tuan Adam.


"Papa benar, lebih baik kita undang Pak Indra untuk datang kemari dan bertemu Bella. Sekaligus untuk membahas tentang pernikahan aku dan Bella.," Erlan berucap seraya merangkul pundak Bella.


"Pah, jangan terlalu mesra dengan Mama. Pikirkan perasaan tiga orang lelaki yang tidak memiliki pasangan disini." Protes Noah.


"Tiga orang lelaki? Maksud Noah, Opa dan Om Vino kan? Lalu yang satunya siapa?" Tanya Tuan Adam.


"Tentu saja Noah." Balas Noah diikuti tawa dari semua orang yang duduk di ruang keluarga.


"Ada-ada saja." Ucap Bella.


"Oh ya Bella, bagaimana kalau malam ini kamu bertemu dengan Papa kamu di rumah ini!" Seru Tuan Adam.


'Bertemu Papa disini? Apa Papa bisa memaafkan aku?'


Bella mengangguk tanda setuju.


"Tentu saja." Balas Bella.


Siang berganti dengan malam. Rumah keluarga Alexander semakin terlihat berdiri dengan megah dan begitu kokoh. Cahaya lampu di rumah keluarga Alexander membuat rumah itu terlihat begitu indah di malam hari.


Bella duduk di tepian kolam yang ada di samping rumah. Lampu-lampu kecil berwarna warm menghiasi teras samping rumah. Sementara Noah dan Vino tengah bermain game di sebuah ruangan yang terletak di lantai atas.


Erlan datang menghampiri Bella dengan kakinya yang tengah diayun-ayunkan didalam air kolam renang.


"Kau terlihat senang sekali duduk disini." Ucap Erlan.


"Iya, aku sejak dulu memang menyukai suasana hangat seperti ini." Balas Bella.


Erlan lalu melipat celananya yang panjang kemudian ikut duduk disamping Bella.


"Apa kau bahagia Bell?"

__ADS_1


"Tentu saja aku bahagia." Balas Bella dengan cepat. "Apa kau tahu, sejak kecil aku pernah punya mimpi jika kelak saat dewasa akan ada laki-laki baik yang datang mempersunting ku dan membawaku pergi dari rumah dan tinggal bersamanya di sebuah istana yang nyaman hingga kami memiliki anak-anak." Ujar Bella.


Erlan terlihat serius mendengarkan ucapan Bella.


"Tapi, setelah kejadian tujuh tahun lalu, semua mimpi itu buyar. Aku malah hidup terlunta-lunta diusir oleh Papa yang menyangka aku telah mempermalukan keluarga. Kemudian aku menyadari bahwa hidup harus terus berlanjut, apalagi saat aku mengetahui di dalam perutku ada sebuah kehidupan yang menjadi tanggung jawabku." Lanjut Bella.


Erlan memeluk Bella dengan erat.


"Maafkan aku karena telah membuat hidupmu menderita. Aku salah karena telah berbuat seperti itu padamu. Tapi, aku sudah mencari mu selama tujuh tahun ini. Hanya saja mungkin Tuhan sedang tidak berpihak padaku selama itu hingga kita tak pernah dipertemukan." Ucap Erlan semakin mengeratkan pelukannya.


Bella menghela nafas panjang, kemudian membalas pelukan Erlan.


"Terima kasih sudah mencari ku selama ini. Terima kasih sudah mencintaiku seperti ini. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, aku harus hidup menderita itu semuanya bukan karena kesalahan kamu." Ucap Bella.


"Maksud kamu?" Tanya Erlan seraya melepas pelukannya. "Bukannya kamu bilang, Papa kamu mengusir kamu karena kejadian di malam tujuh tahun yang lalu?"


"Memang benar. Tapi mengingat foto yang ditunjukkan Papa, laki-laki yang berada di dalam foto bersamaku itu bukan kamu. Melainkan seorang laki-laki yang bertubuh kekar. Kalau kau ingat, dia itu laki-laki yang membawaku pergi dari pesta malam itu lalu membawaku ke hotel." Jawab Bella menjelaskan.


"Iya aku ingat. Tapi aku bisa jamin, dia tidak melakukan apapun padamu. Lalu bagaimana bisa dia mendapatkan foto bersamamu. Apa mungkin sebelum aku datang, dia telah mengambil foto denganmu dulu? Ahh kenapa tidak pernah terpikirkan sama sekali. Yang ada dalam pikiranku hanya dia mencoba berbuat jahat kepadamu. Sial."


"Kau tahu, yang membuatku tidak habis pikir adalah bagaimana bisa Clarissa yang mendapatkan foto itu lalu mengatakan pada Papa bahwa foto itu sudah tersebar di dunia maya bahkan sudah diketahui oleh calon besan Papa yang tak lain ternyata Papa kamu." Ucap Bella.


"Aku pikir ada orang yang sengaja menjebak mu. Apa mungkin laki-laki itu? Apa kau ada masalah dengannya?" Tanya Erlan lagi.


"Aku tidak mengenalnya sama sekali. Tapi sejujurnya, aku mencurigai bahwa Clarissa, adikku sendirilah yang menjebak ku." Jawab Bella. "Hanya saja aku tidak memiliki bukti yang kuat."


"Kalau begitu biar aku yang urus semuanya." Ucap Erlan.


"Sudahlah, jangan diungkit lagi semua masalah itu. Semua itu hanya masa lalu ku. Yang terpenting sekarang adalah aku dan Noah sudah bahagia bersama kamu dan keluarga ini."


Erlan tersenyum, lalu memegang dagu Bella. Suasana malam yang romantis membuat keduanya larut, hingga bibir keduanya bertemu dan bersentuhan lembut.


"Kau tahu, seumur hidup aku belum pernah begitu menginginkan seorang wanita sebelum aku bertemu denganmu. Aku menggila selama tujuh tahun karena mencari dimana keberadaan mu. Kini kau ada didepan mataku, semuanya masih terasa seperti mimpi. Bella aku mencintaimu, dan aku berjanji tidak akan pernah melepaskanmu lagi." Ucap Erlan penuh keseriusan.


"Katakan itu nanti saat kau mengucapkan janji pernikahan."


"Tentu saja." Balas Erlan tersenyum kemudian kembali mencium Bella dengan lembut.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2