NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Taman Bermain


__ADS_3

Hari berikutnya, Noah mulai lebih sering berkirim pesan dengan Erlan.


Di ruang rapat Erlan malah lebih fokus dengan ponselnya dan terkadang sesekali senyum sendiri.


"Bos kenapa ya? Terlihat berbeda sekali hari ini." Bisik pegawai Erlan.


"Iya, mungkin sudah punya pacar."


"Mungkin mau nikah."


"Khemmm!!"


Pak Bimo berdehem membuat ketiga pegawai wanita itu terdiam mematung.


"Kalian digaji bukan untuk bergosip, fokus pada rapat. Kalau sampai sekali lagi kalian berbisik-bisik, bersiaplah untuk angkat kaki dari perusahaan ini." Ucap Pak Bimo.


Erlan terlihat tak perduli dengan apa yang terjadi, ia hanya fokus pada layar ponselnya.


"Pak Bimo menurutmu, anak kecil suka diajak pergi kemana?" Tanya Erlan tiba-tiba.


Semua orang di ruangan rapat terdiam, ingin mengatakan sesuatu tapi takut ditegur Pak Bimo yang memang terkenal tegas.


"Itu . . . ." Pak Bimo terlihat berpikir, 'apa ya?'


"Ke taman bermain Tuan Erlan." Ucap salah seorang pegawai wanita yang ada di dalam ruangan rapat itu.


Namun dengan cepat pegawai wanita itu menutup mulutnya.


Erlan langsung menaruh ponselnya diatas meja, dan menatap pegawai wanita itu dengan tajam.


'Mati aku, alamat bakal dipecat ini. Ini mulut benar-benar.' ucap pegawai itu dalam hati.


"Siapa namamu?" Tanya Erlan.


"Dona, Tuan." 'Nama pegawai sendiri gak dihafal. Sudahlah, toh bakal dipecat.' ucap pegawai itu dalam hati.


"Pak Bimo, naikkan jabatan Dona dan berikan dia bonus lima juta." Ucap Erlan.


"Ha!" Semua pegawai yang ada di ruang rapat itu kaget.


Tak terkecuali Dona, ia bahkan hampir saja berjalan keluar karena berpikir Erlan akan memecatnya.


"Kenapa kalian semua heran. Aku memberikan dia reward karena dia sudah memberikan saran yang benar-benar bagus untukku." Ucap Erlan.


Erlan lalu berdiri disusul semua orang seisi ruangan.


"Pak Bimo, kau urus semuanya. Hei kau siapa tadi namamu?" Tanya Erlan menunjuk Dona.


"Dona Tuan."

__ADS_1


'Padahal baru saja aku menyebut namaku tadi.'


"Oh ya, siapapun namamu berikan nomor rekeningmu pada Pak Bimo."


"Baik Tuan Muda terima kasih." Balas Dona.


Erlan kemudian berjalan keluar, tak lama Pak Bimo menyusul.


"Segera booking taman bermain hanya untukku dan Noah. Aku tidak mau ada orang lain yang menggangguku bermain bersamanya." Ucap Erlan.


'Apa perlu, sampai harus menyewa taman bermain demi anak itu? Begitu peduli kah Tuan Muda pada bocah yang bernama Noah itu.' pikir Pak Bimo.


**********


Mobil Erlan berhenti di depan sekolah musik Noah.


"Apa Tuan Muda yakin anak itu bersekolah disini? Bukannya ini khusus untuk orang-orang yang memiliki musikalitas tinggi?"


"Apa kau pikir aku tidak bisa membaca? Noah menuliskan alamat ini. Mana mungkin dia membohongiku." Ucap Noah.


Pak Bimo kemudian turun dari dalam mobil, lalu membukakan pintu untuk Erlan.


Erlan melihat jam ditangannya menunjukkan pukul satu siang.


'Aku tidak bisa menunggu lama disini. Lebih baik aku masuk.'


"Apa kau memang bodoh atau pura-pura bodoh? Kau berhenti di depan sekolah ini, sudah tentu aku akan masuk ke dalam sekolah ini. Tidak mungkin kan aku mau pergi ke Belanda." Jawab Erlan ketus.


'Ya Tuhan, kenapa aku selalu saja salah.' ucap Pak Bimo dalam hati.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan Pak Bimo. Kau memang selalu salah, mungkin sudah saatnya aku harus mencari sekretaris baru sebagai penggantimu." Ucap Dimas.


'Sudahlah.' batin Pak Bimo.


Erlan berjalan masuk ke dalam sekolah Noah. Beberapa orang menatap ke arah Erlan. Terutama para gadis yang berusia delapan belas hingga dua puluhan tahun.


"Ya Tuhan ganteng banget."


"Dia siapa ya? Sepertinya pernah ku lihat."


"Semoga saja jodohku seperti itu."


"Pak Bimo apa ada yang salah dengan wajah atau penampilanku? Kenapa semua orang menatapku?" Tanya Erlan.


"Mereka semua pastinya mengagumi ketampanan Tuan Muda."


"Oh sudah tentu, aku memang tampan." Ucap Erlan menyombongkan diri.


Pak Bimo terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ada apa Pak Bimo, apa yang aku katakan salah? Apa kau memang menganggap ku jelek?"


"Tidak Tuan Muda. Tuan Muda adalah lelaki tertampan yang pernah ada di dunia ini."


"Hahaha Pak Bimo, sepertinya kau harus melakukan pemeriksaan mental. Jangan bilang kau juga sama dengan gadis-gadis itu, mengagumi ketampanan ku."


'Ya Tuhan, aku sudah terlalu tua untuk pekerjaan ini. Kenapa aku harus melayani orang seperti dia.' pikir Pak Bimo.


Setelah berjalan-jalan ke dalam sekolah Noah, akhirnya Erlan dapat bertemu dengan Noah.


Keduanya kemudian pergi ke taman bermain.


"Kenapa tidak ada orang Om?" Tanya Noah.


"Semua tempat ini sudah Om sewa khusus untuk Noah."


"Wah Om memang orang yang sangat kaya raya." Balas Noah.


"Oh ya Noah sudah bilang sama Mama kalau akan terlambat pulang karena main sama Om?"


"Tadi Noah bilang sama Mama kalau Noah akan telat pulang sekolah karena latihan." Balas Noah.


"Wah, jadi anak baik itu tidak boleh bohong." Ucap Erlan seraya memberikan permen kapas berbentuk panda kepada Noah.


"Wah permen kapasnya lucu Om." Ucap Noah. "Oh ya, secara teknis Noah gak bohong kok Om. Noah kan memang lagi latihan di sekolah."


"Latihan? Kalau Om boleh tahu latihan apa?"


"Latihan buat jadi komposer Om. Noah bakal tampil di gedung teater yang ada di pusat kota itu. Menampilkan musik orkestra karya Noah sendiri. Dan Noah akan jadi komposer termuda di acara itu."


Pak Bimo berdiri dibelakang mereka berdua kaget setelah mendengar ucapan Noah, spontan air yang tengah diminum Pak Bimo menyembur keluar.


"Dia siapa Om? Sopir Om ya?" Tanya Noah.


"Jangan bahas dia , dia itu tidak penting, sekarang kamu kasih tahu Om saja. Apa yang kamu katakan tadi itu benar."


"Waah Om gak percaya ya sama Noah. Noah bisa main semua alat musik loh Om. Di konser orkestra itu nanti, Noah akan memainkan musik karya Noah sendiri. Kalau Om gak percaya datang aja ke teater itu dua minggu lagi."


'Cih, dasar bocah, mimpinya terlalu tinggi. Teater itu dikhususkan untuk pertunjukkan musik kelas atas.' cibir Pak Bimo dalam hati.


"Pokoknya Om harus berjanji untuk datang menonton pertunjukan musik Noah."


"Iya . . . Iya. Om pasti akan datang.


Erlan dan Noah lalu mulai bermain di berbagai wahana yang ada di taman bermain itu. Erlan ingin sekali memberikan mainan kepada Noah, tapi Noah mengatakan ia tidak tertarik pada mainan.


"Lagipula Mama Noah pasti akan bertanya dari mana Noah mendapatkan mainan." Ucap Noah menolak mainan yang ingin diberikan Erlan.


Untuk pertama kalinya, Noah merasa begitu bahagia. Ia merasa seperti memiliki Papa yang sama persis seperti yang ia inginkan dan rindukan selama ini.

__ADS_1


__ADS_2