NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Memaafkan


__ADS_3

Semua orang duduk dalam diam. Bu Maya duduk berdampingan dengan Clarissa berhadapan dengan Pak Indra, Erlan, Bella dan juga Noah bak tengah disidang.


"Jadi bagaimana sekarang Noah?" tanya Erlan sambil mengusap kepala puteranya itu.


"Noah mau semua orang yang ada di ruangan ini memaafkan Tante Clarissa dan Oma Maya."


Pak Indra tampak terkejut atas jawaban Noah.


"Kenapa bisa begitu Noah?" tanya Pak Indra heran.


"Opa, berilah kesempatan kepada Tante Carissa dan Oma Maya untuk berubah. Sebagai sesama manusia setidaknya bisa saling memaafkan. Tuhan saja bisa memaafkan segala kesalahan hambanya."


'Kenapa anak sekecil ini bisa menjadi begitu bijak?' tanya Bella dalam hati.


"Mama dan Papa tidak keberatan kan?" tanya Noah.


Erlan dan Bella saling menatap satu sama lain. Keduanya terdiam dan tak menjawab pertanyaan Noah. Sementara Bu Maya tampak menahan senyumannya.


"Bell, tolong maafkan Mama dan Clarissa. Kami berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi, kami akan berubah." ucap Bu Maya memasang wajah penuh penyesalan.


Bella masih saja terdiam, ia masih memikirkan apa alasan Clarissa sampai melakukan semuanya.


"Jujur sebenarnya Papa sulit untuk memaafkan kalian berdua. Mengingat semua kesalahan yang telah kalian perbuat. Sekarang yang bisa papa lakukan adalah menyerahkan semua keputusan kepadamu Bella." balas Pak Indra.


"Seperti yang sudah Noah katakan, aku ingin memberikan kesempatan kepada kalian berdua. Tapi aku ingin bertanya sesuatu, kenapa kalian berdua bisa melakukan ini semua kepadaku?" ucap Bella akhirnya membuka suara.


Bu Maya menyenggol lengan Clarissa. Seolah meminta dirinya untuk berbicara.


Clarissa menatap Bella dengan tajam, sorot matanya menunjukkan kebencian.


"Semua ini karena aku membenci Bella. Aku membencinya karena dia mendapatkan semua yang dia inginkan, sementara aku tidak. Aku iri kepadanya, dia selalu menjadi prioritas utama Papa. Papa lebih memperhatikan dirinya dibanding aku. Bahkan, Papa menjodohkan dirinya dengan laki-laki yang aku sukai. Aku mengaku salah, tapi semuanya murni aku lakukan karena aku merasa semua orang lebih menyayangi dirinya." ucap Clarissa dengan raut wajah yang penuh kejujuran.


"Aku kasihan sekali padamu. Hanya karena merasa iri kau bisa melakukan semuanya terhadap saudara mu sendiri." balas Erlan yang tak pernah melepaskan pelukannya dari pinggang Bella.


Pak Indra memijit pelipisnya, lalu menatap ke arah Clarissa seraya menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Papa tak menyangka bahwa kau memiliki perasaan iri terhadap Bella. Padahal selama ini yang Papa selalu memperhatikan kalian berdua secara bersama-sama. Papa tidak pernah membedakan perlakuan Papa terhadap kalian berdua."


"Sudahlah!" seru Noah. "Sekarang lebih baik saling memaafkan. Setidaknya karena kesalahan yang dibuat Oma Maya dan Tante Clarissa, ada satu hal baik yang terjadi."


Semua orang menatap Noah dengan heran.


"Jangan menatap Noah seperti itu! Yang Noah katakan memang benar. Satu hal yang baik itu adalah Mama dan Papa bisa bertemu dan akhirnya Noah hadir di dunia ini. Bukan begitu Mah, Pah? Coba kalau tidak ada kejadian ini? Apa Noah akan tetap hadir di lahirkan Mama?"


Erlan dan Bella saling menatap lalu tertawa bersamaan.


Akhirnya mereka semua sepakat untuk memaafkan Clarissa dan Bu Maya atas desakan Noah.


Sore harinya, Bella dan Noah berpamitan untuk kembali pulang ke rumah Erlan. Sebenarnya Pak Indra ingin sekali melihat mereka tinggal di rumahnya, tapi Erlan tidak setuju. Karena meski belum menikah Bella dan Noah sudah menjadi bagian dari keluarga Alexander.


"Papa harap kalian berdua memang benar-benar bisa berubah, dan tidak ada lagi niatan kalian untuk mengacaukan hubungan keluarga kita." Ucap Pak Indra setelah Erlan dan Bella pergi.


Bu Maya mengikuti Clarissa masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamar Clarissa mulai mengamuk. Ia mulai membuang semua barang-barang yang ada di meja riasnya hingga hancur berantakan.


"Ada apa denganmu?" Teriak Bu Maya mencoba menghalangi Clarissa.


"Mama masih bisa nanya ada apa denganku?" Clarissa begitu marah. "Sekarang semuanya sudah gagal. Bella bakalan nikah sama Erlan. Sementara aku hanya bisa diam menatap kebahagian mereka. Apa yang bisa aku lakukan sekarang. Apa aku harus diam aja?" Teriak Clarissa.


Di perjalanan pulang, Noah yang duduk disamping Pak Bimo terlihat sibuk dengan tablet yang dipegangnya.


"Apa yang sedang Tuan Kecil Noah lakukan?" Tanya Pak Bimo sambil tetap fokus menyetir.


"Noah sedang membuat tangga nada dengan menggunakan instrument musik dari gadget." Jawab Noah cepat.


"Maksudnya?"


"Sudahlah. Kalaupun Noah menjelaskan semuanya, Pak Bimo pasti tidak akan mengerti. Lebih baik tetap fokus pada pekerjaan Pak Bimo. Menyetir lah dengan baik, bawa kami pulang dengan selamat sampai ke rumah."


"Hahahahaha...."


Dari jok belakang, terdengar gelak tawa Erlan memenuhi seluruh mobil.

__ADS_1


"Tuan Muda, ternyata Tuan Kecil Noah sama persis dengan Tuan Muda saat masih kecil." Ucap Pak Bimo.


"Tentu saja karena dia puteraku." Balas Erlan.


'Putera yang lebih pintar darimu.' Ucap Pak Bimo dalam hati.


Bella tersenyum, sambil menatap ke arah luar jendela.


"Aku perhatikan sejak tadi kau suka sekali melihat keluar jendela." Protes Erlan.


"Eh iya. Kenapa memangnya?" Tanya Bella.


"Apa yang sedang kau lihat?"


"Tidak ada. Aku hanya menyukai bunga-bunga yang bermekaran."


"Berhenti menatap keluar jendela. Kau lebih baik menatap wajahku. Jika kau memang menyukai bunga-bunga itu, akan aku datangkan tukang kebun khusus untukmu. Kau bisa meminta mereka membuat taman bunga sesuai dengan impianmu." Erlan menarik kepala Bella pelan agar menatap wajahnya.


"Aku sudah melihat wajahmu seharian. Jadi wajar saja aku ingin melihat yang lainnya."


"Oh berarti kau bosan melihat wajahku? Kalau begitu kau perlu ku hukum atas ke'tidaksopanan mu."


Dengan cepat Noah mengambil earphone yang ada disaku celananya, kemudian menyambungkannya ke tablet lalu mendengarkan musik dengan volume yang cukup besar.


'Aman, aku tidak perlu mendengarkan suara aneh yang dibuat Mama Papa.' ucap Noah dalam hati.


"Lepaskan aku, apa kau tidak malu melakukan ini dihadapan anakmu sendiri." Pekik Bella berusaha melepaskan diri dari pelukan Erlan.


"Dia tidak akan melihat dan mendengar apa yang kita lakukan dibelakang sini. Dan jika kau merasa malu karena keberadaan Pak Bimo anggap saja dia tidak ada. Dia bisa menjadi patung atau bahkan aku bisa memintanya untuk menutup matanya." Ucap Erlan seraya kembali berusaha mencium Bella.


"Jangan, apa kau sudah gila. Untuk apa kau mau meminta Pak Bimo menutup mata, dia sedang menyetir. Ayolah, kau bisa melakukan ini di rumah. Jangan disini." Protes Bella.


Namun Erlan tak menggubris ucapan Bella, ia terus menarik Bella kedalam pelukannya hingga akhirnya berhasil mencium Bella.


"Hemmmppphh...."

__ADS_1


'Ya Tuhan, Tuan Muda begitu bersemangat terhadap Nona Bella. Bagaimana nantinya jika sudah menikah? Sepertinya mereka harus tinggal di sebuah rumah yang jauh dari orang-orang. Aku harus segera mempersiapkannya. Tapi dimana? Ah, aku tahu. Sepertinya Villa yang ada di pulau pribadi Tuan Muda jadi tempat yang cocok untuk berbulan madu.' pikir Pak Bimo seraya tersenyum.


Bersambung...


__ADS_2