NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Salah Paham


__ADS_3

Pagi ini langit masih berawan dan hujan yang jatuh sejak semalam, belum juga ada tanda-tanda untuk berhenti. Namun, hujan pagi ini tidak begitu deras, tetapi tidak​ juga gerimis. Riuh air yang menghempas aspal terdengar rapat sambil​ sesekali diselingi bunyi cipratan air di hentak kaki orang berlari lalu-lalang ingin berlindung dari hujan karena takut basah. Kicauan burung pun tak terdengar. Mungkin sedang berteduh di sarangnya sambil menikmati suasana sebagaimana yang sedang Noah lakukan di rumah.


'Mungkin sekarang jatahnya gemuruh yang unjuk suara.' ucap Noah dalam hati.


Entah kenapa hujan pagi-pagi itu adalah saat-saat yang paling disukai oleh Noah. Suasananya damai, saking damainya sampai terkadang ia jadi enggan pergi dari rumah. Terbayang masa-masa ketika masih harus sekolah. Setiap hari masuk jam 6.45 dan cuaca saat itu persis seperti saat ini. Suasana yang sangat cocok dinikmati di rumah tersebut terpaksa dinikmati di kelas.


Hujan seakan-akan memiliki kekuatan untuk mengendalikan kehidupan manusia. Hanya karena turun hujan, orang jadi menunda waktu bepergian, membatalkan urusan, tidak jadi menjemur pakaian, atau lebih hati-hati dalam berkendara. Seakan ia memiliki suatu kemampuan untuk memperlambat pergerakan manusia.


Kekuatan itu juga mungkin yang membuat suasana hujan, terutama di pagi hari, terasa menyenangkan untuk dinikmati. Sebagian​ orang mungkin menganggapnya biasa saja, atau bahkan membencinya yang padahal seharusnya tidak perlu dibenci. Tetapi Noah menganggap hujan adalah waktu yang tepat untuk sejenak rehat dari kesibukan dengan menikmati pemandangan lebih dari triliunan butir air terjun dari langit berselimut putih awan.


Hujan seolah berkata padanya,


“Hei, sedang apa sih kamu? Kelihatannya sibuk sekali, sudahlah, istirahat dulu, nih, ku kasih air untuk kamu nikmati sejenak.”


Dengan begitu Noah pun seolah terhipnotis untuk menghentikan sejenak kegiatan-kegiatannya untuk melihat ke luar. Noah menutup matanya dan memfokuskan pendengarannya pada tiap tetes hujan yang mengenai setiap benda yang terkena hujan. Denting suara botol kaca yang terkena rintik hujan seolah menjadi musik yang merdu di telinga Noah.


Suara benda-benda yang terkena rintik hujan seolah menjadi simfoni di telinga Noah.


Pintu kamar Noah tiba-tiba terbuka dan membuat fokusnya teralihkan. Tampak sosok Jimmy sudah berdiri di pintu dengan berpakaian rapi.


"Kau sedang apa?" Tanya Noah.


"Aku mau mengajakmu ke pasar." Jawab Jimmy.


"Kau ini...." Ucap Noah lalu kembali menjatuhkan dirinya ke tempat tidur.


"Kau sudah tahu aku mau ke kantor. Masih saja bertanya." Balas Jimmy berjalan mendekat ke arah Noah.


Jimmy lalu mendekat ke arah lemari Noah dan membukanya lalu memilih setelan jas yang akan dikenakan Noah.


"Ayo cepat bersiap. Kita harus berangkat sekarang juga." Titah Jimmy.


"Sebenarnya yang Bos itu, aku atau kamu?" Tanya Noah.


"Kau lah Bos nya, Tuan Muda ku. Tapi, sebagai sekretaris tugas ku juga mencakup segala hal. Selain membantumu dengan urusan kantor, aku juga bertugas untuk memastikan setiap pekerjaan dan janji bisnismu berlangsung. Aku juga harus menjaga keamanan dirimu, bahkan aku juga yang harus menyiapkan keperluan harian mu. Berupa, makan, pakaian...."


"Bla... Bla... Bla...." Ucap Noah seraya menarik selimut menutupi tubuh hingga kepalanya.


"Ayolah Bos, hari ini kau ada pertemuan dengan seorang produser musik kenamaan di daerah ini. Bukankah kau sendiri yang ingin bertemu dengannya guna...."


"Bisakah kita pergi dilain waktu saja. Hari ini aku ingin bersantai di rumah." Ucap Noah malas.


Hari ini, mood Noah untuk bekerja sedang tidak baik. Ia ingin menghabiskan waktu di rumah saja seharian ini.


"Kau juga ada jadwal untuk menemani Sherly untuk pergi berdua ke...."


"Ayo berangkat." Ucap Noah seraya berjalan ke arah pintu.


Jimmy terbahak melihat tingkah Tuan Muda nya itu.


"Setidaknya ganti pakaian dulu Bos."


Noah yang hendak keluar kamar segera tersadar bahwa ia masih mengenakan jubah mandi.


'Sial.' umpat Noah dalam hati.

__ADS_1


"Keluar sana." Titah Noah.


Jimmy berjalan keluar kamar dengan tawa renyahnya.


"Kalau kau masih mau menerima gaji mu, berhenti tertawa."


Seketika tawa Jimmy hilang, bibirnya terkunci rapat.


'Ancaman itu selalu saja tentang gaji.' ucap Jimmy dalam hati seraya keluar dari kamar Noah.


************


Tiba di kantor, Noah langsung menuju ruangan Sherly. Pagi ini agenda pekerjaannya sebagai sekretaris Sherly adalah menemani Sherly untuk meninjau langsung ke bagian produksi.


Noah masuk ke dalam ruangan Sherly. Namun, tak mendapati si pemilik ruangan.


'Apa mungkin karena masih hujan, jadi dia datang terlambat.'


Hujan memang belum mau berhenti. Diluar sana banyak karyawan Noah yang tampak banyak karyawan yang sibuk mencopot jas hujan yang mereka kenakan.


Tiba-tiba Noah merasa ingin buang air kecil. Karena Sherly tak ada di dalam ruangannya, Noah pun hendak menggunakan toilet pribadi milik Sherly yang ada di dalam ruangannya itu.


Saat membuka pintu, mata Noah langsung membulat sempurna karena ia mendapati Sherly tengah mengganti pakaiannya.


Keduanya saling menatap dengan bola mata yang membulat sempurna. Tak ada yang bersuara. Keduanya seperti patung. Noah sontak berbalik dan menutup pintu toilet itu meninggalkan Sherly yang masih berdiri mematung dengan tangan yang melipat menutup dadanya.


'Ya Tuhan, bagaimana ini?' pikir Noah.


"Aaaaaahhh Noaaaah. Apa yang kau lakukaaan?" Teriak Sherly dari dalam toilet.


Noah tak tahu harus menjawab apa. Ia hanya bisa menunggu Sherly sampai keluar dan baru menjelaskannya.


"Cepat katakan! Kenapa kau disini?" Teriak Sherly masih tak keluar.


'Bagaimana ini? Aku malu menampakkan wajahku.' pikir Sherly.


Cukup lama Noah menunggu Sherly, tapi tak kunjung keluar. Noah lalu berdiri di depan pintu toilet dan menaruh telapak tangan dan telinganya di pintu. Tak terdengar suara apapun dari dalam toilet.


"Maafkan aku. Aku tak sengaja." Ucap Noah dengan telinganya yang menempel di pintu.


"Kau bohong." Balas Sherly.


"Demi Tuhan, aku tak sengaja. Aku ingin menggunakan toilet mu karena berpikir kau tak ada disini. Sungguh aku tak sengaja."


Hening...


Tak ada jawaban dari Sherly.


'Bagaimana ini? Apa dia masih marah?'


Tiba-tiba pintu terbuka membuat tubuh Noah tak seimbang karena bersandar di pintu. Tangan Noah yang tadinya menyandar di pintu langsung berpindah tempat ke dada Sherly.


Sesaat Sherly terdiam, dan saat menyadari dimana tangan Noah mendarat, ia langsung berteriak dan mendorong Noah.


"Kau memang mesum. Keluar sana, kau di pecat." Teriak Sherly.

__ADS_1


'Aduuh bagaimana ini?' tanya Noah dalam hati.


Noah berusaha mendekati Sherly. Namun, Sherly menjauh.


"Menjauh dariku..." Ucap Sherly.


Noah mematung, ia melihat wajah Sherly seperti marah padanya.


"Aku benar-benar tidak sengaja. Aku minta maaf." Ucap Noah mengatupkan tangannya.


"Keluar." Titah Sherly.


"Tidak sebelum kau memaafkan aku." Balas Noah.


Saat Noah berusaha mendekat ke arah Sherly. Gadis itu berlari ke arah pintu dan keluar. Noah menepuk kepalanya dan berjalan cepat keluar mengejar Sherly.


Noah melihat Sherly sudah masuk ke dalam lift. Karena ingin cepat mengejar Sherly, Noah terpaksa menggunakan lift khusus yang diperuntukkan untuk direktur.


"Hey, karyawan biasa tak boleh lewat situ." Teriak salah seorang karyawan.


Noah tak menggubrisnya dan langsung menutup pintu lift.


Tiba di lobi kantor, Noah melihat Sherly berjalan hendak keluar kantor. Dengan cepat ia berlari dan menarik tangan Sherly. Keduanya menjadi pusat perhatian para karyawan yang datang.


"Lepaskan tanganku." Ucap Sherly.


"Tidak sebelum kau memaafkan aku." Balas Noah.


Sherly terdiam dan wajahnya melihat ke arah lain. Ia tak mau melihat Noah.


"Dengarkan aku, aku minta maaf. Sungguh aku tak ada niatan sama sekali untuk melakukan hal itu. Lihat aku, apa wajahku ini menyiratkan aku tengah berbohong." Ucap Noah.


Sherly lalu memandangi wajah Noah.


"Katakan padaku. Apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkan aku." Ucap Noah.


"Berlutut..." Jawab Sherly.


"A-apa?"


"Kau telah membuatku malu padamu. Dan kini, aku akan membuatmu malu juga." Balas Sherly.


Tanpa pikir panjang, Noah berlutut seperti tengah melamar Sherly. Dengan sebelah tangannya memegang tangan Sherly, ia mengucapkan kata maaf.


"Sherly maafkan aku. Aku berjanji tak akan melakukannya lagi." Ucap Noah.


Sherly tersenyum penuh kemenangan.


"Aku terima permintaan maaf mu. Sekarang bangunlah. Semua orang pasti berpikir kau tengah melamar ku." Ucap Sherly.


Noah melihat sekeliling dan melihat banyak pasang mata melihat ke arah mereka berdua. Ia mendapati sosok Jimmy tengah menggeleng-geleng kan kepalanya.


'Lihat saja Sherly, aku akan mengerjai mu suatu saat nanti.' ucap Noah dalam hati.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2