NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Tawaran Menjadi Komposer


__ADS_3

Noah semakin menunjukkan kemampuannya melebihi batas usianya. Setiap hari ada saja benda baru yang dapat dijadikan alat musik oleh Noah.


Seperti pagi ini saat Noah tengah sarapan, Bella menuangkan air ke dalam gelas untuk Noah. Noah yang sudah kenyang dengan iseng menyentuh bibir gelas dengan jarinya. Noah memutar-mutar jarinya diujung gelas sehingga menghasilkan nada.


Noah kemudian berlari ke dapur mengambil beberapa gelas dan menuangkan air ke dalam gelas itu dengan takaran yang berbeda.


"Mau ngapain sayang?" Tanya Bella.


"Mama lihat aja nanti." Balas Noah sibuk mulai mengolesi jarinya diujung gelas.


Tak lama kemudian alunan nada-nada mulai terdengar. Gesekan jemari Noah dibibir gelas menghasilkan irama nan merdu.


Bella semakin dibuat kagum oleh anaknya itu.


"Bagaimana bisa?" Tanya Bella.


"Entahlah." Jawab Noah sambil tersenyum. "Kalau gitu Noah berangkat Ma. Mama hati-hati ya di rumah." Lanjut Noah.


"Noah yang seharusnya hati-hati di jalan. Ingat jangan bicara sama sembarangan orang yang tidak kamu kenal. Kalau menyebrang, tunggu lampu merah dulu. Jangan lupa tengok kiri kanan. Dan makan . . . ."


"Makan siang tepat waktu." Potong Noah. "Mama udah sering nasehatin Noah mah, Noah ingat kok. Ini tuh sudah yang ke 14 kali mama ingetin Noah. Noah bukan anak kecil lagi mah." Protes Noah seraya memakai tas punggungnya.


"Ya ampun sayang, kamu itu baru enam tahun. Jadi kategorinya itu masih anak kecil. Sini mama peluk dan cium dulu." Balas Bella hendak mencium Noah.


"Stop." Ucap Noah menghindar.


"Malu mah, Noah sudah bukan anak bayi yang selalu mama peluk dan cium."


Bella tertawa seraya mencubit pipi Noah gemas.


"Noah gak sayang nih sama mama? Masa mama mau peluk dan cium Noah aja gak boleh?"


"Ya sudah, karena Noah sayang sama mama. Mama boleh peluk dan cium Noah, tapi dengan syarat hanya di rumah. Kalau diluar atau di tempat umum gak boleh."


Bella tersenyum kemudian memeluk lalu mencium Noah berkali-kali, sampai membuat Noah berontak.


"Ahh mama, sudah cukup. Noah mau berangkat. Nanti telat lagi. Noah berangkat mah." Ucap Noah seraya mencium tangan Bella.


Sejak dua minggu yang lalu, Noah memang tak ingin lagi diantar ke sekolah oleh Bella. Selain karena jarak sekolah yang lumayan dekat, alasan Noah juga tak mau merepotkan mama nya.


Dalam perjalanan pergi ke sekolah, Noah mulai menyadari, ada begitu banyak suara-suara benda yang jika digabungkan dapat menjadi melodi nan indah untuk didengar.


Noah berdiri dibawah pohon yang ada disekitar trotoar. Ia memejamkan matanya dan mulai fokus mendengar suara-suara disekitarnya.


Pertama, telinga Noah fokus pada suara klakson motor dan mobil yang bersahutan. Kemudian ia mendengar suara peluit yang ditiup juru parkir. Noah juga mendengar suara dentingan mangkok yang dipukul menggunakan sendok oleh tukang bakso yang lewat. Dan masih banyak suara yang lainnya.

__ADS_1


Di telinga Noah, suara-suara itu bersahutan menjadi sebuah melodi nan indah. Noah tersenyum lalu kemudian tertawa senang.


"Nak, mana orang tua kamu? Kamu kesasar ya?" Tanya seorang kakek tua dari belakang Noah.


Noah yang kaget, seketika beringsut mundur. Ia menatap kakek tua yang berpakaian lusuh itu. Kakek tua itu memikul sebuah karung di atas punggungnya.


"Kamu kesasar?" Tanya kakek itu lagi.


"Eh tidak kakek. Saya mau berangkat sekolah, tapi berhenti karena senang mendengar suara musik." Balas Noah sopan.


"Musik dari mana? Kenapa kakek tidak mendengar apa-apa. Yang kakek dengar hanya suara bising motor-motor dan mobil yang lewat." Ucap kakek itu lagi, yang hanya dibalas senyuman oleh Noah.


"Kamu sekolah dimana? Kalau dilihat-lihat seusia kamu ini masih sekolah dasar. Tapi kenapa pakaian kamu berbeda?" Tanya kakek itu lagi.


"Saya sekolah disana kek." Jawab Noah menunjuk sekolahnya yang ada di seberang jalan.


Kakek itu memicingkan matanya sambil menatap ke arah bangunan yang ditunjuk Noah.


"Loh, itu bukannya sekolah untuk orang-orang besar. Kakek tidak pernah melihat anak seusia kamu bersekolah disana."


"Saya suka musik kek." Balas Noah sekenanya. "Oh ya, ini buat kakek. Sepertinya kakek belum makan. Wajah kakek terlihat lemas." Lanjut Noah sambil menyerahkan bekal makanannya.


"Wah terima kasih. Tapi nanti kamu makan apa?"


Saat Noah hendak berjalan pergi, kakek itu mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya lalu memberikannya pada Noah.


"Ini buat kamu. Dulu anak kakek sering memainkannya. Tapi sekarang dia sudah hilang entah kemana. Kakek tidak bisa memainkannya, jadi buat kamu saja." Ucap kakek itu menyodorkan sebuah benda pada Noah.


"Ini kalau tidak salah namanya harmonika kan?" Ucap Noah dibalas anggukan oleh kakek itu.


"Kalau saya ambil, nanti kakek tidak bisa lihat lagi barang peninggalan anak kakek."


"Tidak apa-apa. Lagipula barang itu tidak berguna untuk kakek."


Wajah Noah terlihat berbinar, harmonika yang dipegangnya terlihat masih sangat terawat dan baru.


"Terima kasih kek. Saya pergi dulu. Sampai jumpa lain waktu kek." Ucap Noah lalu pergi.


Di sekolah, setelah membersihkan harmonika itu, Noah pergi ke taman dan mulai meniup harmonika itu.


Awalnya suara yang Noah hasilkan memang masih tak teratur, tapi lima menit berikutnya suara harmonika yang ditiup Noah mulai terdengar sangat merdu. Bahkan beberapa siswa yang lainnya terdiam dibelakang Noah mendengar alunan suara harmonika yang dimainkannya.


Tepuk tangan dan sorakan terdengar riuh dari belakang Noah, hingga membuatnya berbalik.


"Kau benar-benar hebat Noah." Ujar siswa lainnya.

__ADS_1


Noah hanya tersenyum, kemudian seorang siswa mendekatinya.


"Noah, kau dipanggil untuk menghadap ke ruangan kepala sekolah oleh Bu Sindy."


'Aku salah apa ya, sampai dipanggil menghadap ke kepala sekolah?' pikir Noah.


Di dalam ruangan kepala sekolah, sudah ada beberapa orang yang menunggu kedatangan Noah.


"Selamat siang semuanya." Ucap Noah penuh percaya diri.


Semua orang memandangnya lalu memandang Bu Sindy bergantian.


"Maaf sebelumnya Noah. Mereka adalah para komposer senior yang ingin bertemu denganmu. Apa aku bisa meminjam buku tangga nada mu untuk ditunjukkan kepada mereka?" Ucap Bu Sindy.


"Tentu saja, asal Bu Sindy bisa menjamin bahwa mereka tidak akan mencuri karyaku." Balas Noah.


Semua orang yang ada si ruangan itu tertawa.


"Aku suka kepercayaan dirimu anak muda." Ucap kepala sekolah.


Para komposer senior itu mulai melihat buku nada yang dibuat Noah. Mereka seakan tidak percaya bahwa tangga nada yang dilihat mereka itu adalah karya dari bocah berusia enam tahun yang ada dihadapan mereka.


"Bagaimana bisa kau menciptakan tangga nada yang serumit ini?" Tanya seorang komposer senior.


"Mudah saja. Hanya dengan mendengar dan berimajinasi." Balas Noah.


"Bu Sindy, dari mana kau mendapatkan bocah kecil ini? Kenapa dia terlihat begitu sombong tapi sangat menggemaskan." Ucap seorang komposer yang berambut putih.


"Saya tidak sombong pak tua. Saya hanya punya kepercayaan diri yang tinggi." Balas Noah.


"Hahaha aku mau satu yang seperti ini Bu Sindy."


"Aku juga."


Begitulah ucapan para komposer senior yang gemas akan tingkah Noah.


"Noah, kedatangan mereka kemari selain untuk bertemu langsung denganmu. Mereka juga ingin menawari mu untuk ikut dalam sebuah konser orkestra yang akan dilakukan dua minggu lagi. Apa kamu sanggup?" Tanya kepala sekolah.


"Tentu saja pak. Sudah pasti saya siap." Balas Noah.


"Kalau begitu, mulailah latihan mu dari hari ini. Kau harus menampilkan yang terbaik. Karena akan ada banyak orang yang akan menonton."


"Siap Pak." Balas Noah.


Semua orang yang ada di ruangan itu tertawa dan mulai membicarakan Noah saat dia sudah keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2