NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Kembali Ke Kota


__ADS_3

Setelah drama pengungkapan cinta dan melamar di kantor di hadapan para karyawan, Noah dan Sherly akhirnya akan segera kembali ke kota. Namun sebelum itu, keduanya harus menuju kantor imigrasi. Kali ini mereka akan di interogasi dengan serius oleh pihak imigrasi.


Sepanjang perjalanan keduanya selalu bergenggaman tangan masuk ke kantor imigrasi.


"Sekarang aku harus menanyakan kalian berdua sejauh mana kalian saling mengenal." Ucap Pak Andre.


"Apakah ini termasuk sebagai persyaratan untuk kami bisa menikah?" Tanya Noah.


"Aku hanya ingin memastikan bahwa kali ini kalian benar-benar menikah karena memang saling mencintai. Bukan karena ingin menyelamatkan Nona Sherly dari di deportasi." Jawab Pak Andre.


"Kalau begitu silahkan tanyakan saja." Ucap Noah santai.


Pak Andre tersenyum lalu duduk bersandar di kursi kerjanya sambil melipat tangan.


"Sekarang, Nona Sherly. Katakan padaku tanggal lahir dari calon suamimu?" Tanya Pak Andre.


Sherly terdiam, dia sama sekali tak tahu kapan ulang tahun Noah.


"Hmmm itu...." Sherly melirik ke arah Noah yang juga duduk dengan melipat tangannya ke dada.


Noah tersenyum dan mengerlingkan mata ke arah Sherly.


"Nona Sherly bagaimana? Apakah anda tidak tahu tanggal lahir dari calon suami anda sendiri?" Tanya Pak Andre lagi.


"Mana ku tahu. Memang aku ibu yang melahirkannya." Jawab Sherly dengan perasaan gondok.


"Hahahaha...." Noah tertawa mendengar jawaban wanita yang baru saja dilamarnya itu.


Sementara Pak Andre tampak menahan tawa dan melihat ke sebuah kertas.


"Biar ku beritahu Nona Sherly. Calon suami anda, Noah Alexander lahir pada tanggal 29 Februari." Ucap Pak Andre.


Sherly sontak saja kaget mendengar ucapan Pak Andre dan melihat ke arah Noah. Noah yang tahu bahwa Sherly kebingungan segera mengangguk, membenarkan ucapan Pak Andre.


"Yang benar saja?" Teriak Sherly yang membuat Pak Andre kaget. "Jarang ada orang yang lahir di tanggal itu." Lanjut Sherly.


"Itulah kenapa aku menjadi orang yang spesial. Seharusnya kau merasa beruntung karena akan menjadi isteriku." Ucap Noah yang membuat Pak Andre menggeleng-gelengkan kepala.


"Sekarang jawab bersamaan. Apa warna favorite Noah." Tanya Pak Andre yang membuat Noah dan Sherly terlihat bingung.


Keduanya terdiam dan saling menatap lalu bergantian menatap ke arah Pak Andre.


"Ayo jawab." Ucap Pak Andre lagi.


"Putih..." Jawab Noah.


"Hitam..." Jawab Sherly.

__ADS_1


Keduanya menjawab bersamaan, namun dengan jawaban yang berbeda. Hal itu membuat Pak Andre tertawa.


"Bagaimana mungkin kalian saling mencintai dan ingin menikah jika kalian berdua tidak saling mengenal dengan begitu dalam."


Noah menatap Pak Andre dengan tajam. Raut wajahnya tampak begitu serius.


"Pak Andre, apa salahnya jika aku dan Sherly memutuskan untuk langsung menikah tanpa penjajakan lebih jauh. Aku memang tidak mengetahui tanggal lahir, warna favorite, makanan favorite, ataupun semua kebiasaan yang Sherly lakukan. Tapi, aku bisa menjamin padamu bahwa aku sangat mencintai Sherly dan akan menjadikannya ratuku. Maka saat itu juga aku akan mengetahui semua hal tentang dirinya." Ucap Noah yang membuat Sherly terpesona. "Lagipula, apa urusannya denganmu menanyakan hal-hal seperti ini. Tugasmu hanya menyiapkan semua dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk mengurus pernikahanku dan Sherly."


Ucapan Noah sontak membungkam Pak Andre yang langsung terdiam. Sementara Sherly hanya bisa terdiam dan tak mengatakan apapun. Noah meraih tangan Sherly kemudian berdiri.


"Kalau sudah tidak ada yang Pak Andre bicarakan, kami berdua harus pergi." Ucap Noah menarik tangan Sherly tanpa menunggu Pak Andre berbicara.


Noah dan Sherly tiba di bandara dan langsung naik pesawat. Noah bahkan tak membiarkan Sherly mengambil kopernya, ia langsung membawa Sherly begitu saja menuju bandara.


"Kenapa terburu-buru sekali? Aku bahkan tidak membawa koper ku? Bagaimana aku bisa mengganti pakaianku nanti?" Tanya Sherly dengan nada protes.


"Apa aku ini tampak miskin hingga tak mampu membelikanmu pakaian baru? Lupakan pakaian lamamu. Aku akan memberikanmu pakaian baru. Jika kau tidak suka, kau boleh memilih sendiri yang mana yang kau suka. Aku akan membawamu ke butik setiba kita di kota nanti." Balas Noah.


'Ya Tuhan, pria ini....'


Sherly memilih diam dan duduk bersandar. Sementara Noah tampak sibuk dengan ponselnya.


Sekitar satu jam perjalanan, pesawat pun mendarat di bandara kota XXX. Sebuah mobil berukuran besar dengan seorang sopir yang sudah menunggu kedatangan Noah dan Sherly di bandara.


"Mari Tuan Muda, semua orang sudah menunggu di rumah." Ucap sopir itu.


Hari yang sudah mulai gelap, membuat pemandangan jalanan mulai di terangi lampu-lampu jalan yang begitu terang. Sepanjang perjalanan, Sherly disuguhkan dengan permainan lampu LED dari berbagai gedung yang di lewati mobil yang ia tumpangi.


"Sedikit." Jawab Sherly.


"Bagaimana kalau kita berhenti di restoran dulu untuk makan...."


"Maaf menyela ucapan anda Tuan Muda. Tapi, Nyonya besar meminta Tuan Muda dan Nona Sherly untuk makan malam di rumah." Ucap Sopir.


"Mama pasti mengerti, dia tak akan mungkin membiarkan isteriku mati kelaparan." Ucap Noah. "Sekarang menepi lah di restoran yang ada di depan sana." Titah Noah.


"Tidak perlu Pak, lanjut saja. Saya akan makan malam di rumah saja." Ucap Sherly.


"Apa kau yakin?" Tanya Noah. "Bagaimana kalau nanti kau sakit perut karena kelaparan? Atau yang lebih parah kau pingsan. Ah tidak, tidak boleh begitu. Kau harus...."


Cup!


Dengan malu-malu Sherly mencium pipi Noah yang langsung berhenti bicara.


"Tenanglah. Aku tidak akan apa-apa. Dengan melihatmu saja aku sudah kenyang." Ucap Sherly seraya mengerlingkan matanya ke arah Noah.


Noah menyeringai dan menarik Sherly mendekat kepadanya.

__ADS_1


"Kau sudah membangunkan singa yang sedang tidur." Ucap Noah dengan tatapannya yang nakal.


"Ayolah. Kau mau apa? Jangan macam-macam ya. Kita belum menikah, dan disini ada orang lain." Ucap Sherly berusaha menggeser tubuhnya menjauh dari Noah.


Namun, Noah dengan keras menarik Sherly ke dalam pelukannya.


"Aku tidak akan melewati batas. Aku hanya ingin memelukmu. Lagipula, kau malu dengan siapa. Tidak ada siapa-siapa disini selain kita berdua."


"Apa kau gila atau buta? Di depan sana, apa dia itu bukan orang?" Pekik Sherly.


"Aku tidak melihat siapapun." Ucap Noah.


"Ya Tuhaaann. Pak Sopir....."


"Nona, anda seharusnya tidak bicara pada batu. Anggap saja aku tidak ada disini. Nona bisa menganggap aku sebagai batu." Ucap Sopir itu menyela ucapan Sherly lalu terdiam.


Noah tertawa dan mulai menghujani ciuman di pipi dan kepala Sherly.


"Aaa dasar mesum..." Teriak Sherly.


Noah hanya tersenyum kecil sambil terus menghujani Sherly dengan ciuman. Sementara sang Sopir yang memang masih berstatus bujang hanya bisa menghela nafas.


'Ya Tuhan, kuatkan aku menghadapi cobaan ini.' ucapnya dalam hati.


******


Mobil pun tiba di kediaman Alexander tepat pukul 07.00 malam. Bella langsung menyambut Sherly dengan pelukan hangat. Bella merasa begitu lega karena Noah bisa membawa Sherly kembali ke rumah mereka. Bella sudah merasa begitu dekat dengan Sherly.


"Ayo sayang, cepat masuk. Kalian berdua pasti sudah lapar. Mama sudah masak banyak, khusus untuk kalian berdua." Ucap Bella.


Semua orang menyambut Sherly dengan ramah. Termasuk Clara dan juga Jimmy yang memutuskan untuk makan malam bersama keluarga besar Alexander.


"Aku pikir kalian sudah ke hotel untuk malam pertama." Ucap Noah tanpa basa-basi.


Ucapan Noah membuat Clara tersedak dan terbatuk-batuk. Sebagai suami, Jimmy langsung memperlihatkan perhatiannya pada Clara dengan memberikannya minum dan mengelus punggungnya lembut.


Sherly memelototi Noah karena bicara sembarangan.


"Apa? Aku bicara apa adanya. Memang benar kan pengantin baru itu harus...."


"Sudah, sudah. Waktunya makan, jangan bicara yang macem-macem." Protes Bella.


Semua orang langsung fokus pada makanan mereka, terutama Erlan. Ia tak ingin melihat Bella mengomel.


'Aku cari aman saja.' pikir Erlan.


Sherly tersenyum, ia merasa begitu bahagia akan atmosfer di ruang makan saat ini. Sudah lama ia tak merasakan suasana kekeluargaan seperti ini.

__ADS_1


'Terima kasih Tuhan, atas kebahagiaan ini.'


Bersambung....


__ADS_2