
Konser Orkestra akan segera dimulai. Para penonton mulai berdatangan, mulai dari pejabat, artis ibu kota sampai pengusaha terlihat hadir di konser yang akan menampilkan dua komposer.
Seorang komposer senior akan tampil pertama, dan Noah sebagai komposer muda akan tampil di penutup acara.
Erlan terlihat sangat tampan dengan jas warna hitam yang ia kenakan. Para wartawan yang tengah meliput acara itu seketika berlarian menuju Erlan.
"Itu Erlan Alexander kan? CEO grup Xander yang memiliki kekayaan terbesar di negara ini."
"Iya, kenapa dia bisa ada disini. Sebelumnya aku tidak pernah melihatnya berada di acara musik seperti ini."
"Cepat-cepat, ambil gambar. Ini adalah moment yang sangat langka, bisa mengambil gambar Tuan Erlan."
Seperti itulah percakapan antara para wartawan saat melihat Erlan keluar dari dalam mobil.
Sementara di rumah, Bella sudah bersiap-siap. Ia memilih gaun berwarna hitam dengan glitter yang semakin membuat penampilan Bella terlihat anggun. Bentuk leher gaun yang digunakan Bella berbentuk V hingga membuat leher dan belahan dadanya terlihat sangat putih.
Bella menatap dirinya di cermin.
"Wah, sepertinya terakhir kali aku berpenampilan seperti ini adalah tujuh tahun yang lalu." Ucap Bella.
Bella keluar dari dalam rumah, dan mendapati Pak Bimo dan dua orang pria berpakaian serba hitam tengah berdiri menunggunya.
"Kenapa kalian disini?" Tanya Bella.
"Mari Nona ikut saya. Saya akan mengantar anda ke teater." Ucap Pak Bimo.
"Tidak, aku bisa pergi sendiri." Balas Bella.
"Tolong Nona jangan menyusahkan saya." Ucap Pak Bimo.
"Aku buka Nona mu, namaku Bella."
"Anda nantinya akan menjadi Nona muda kami. Jadi mari ikut saya." Titah Pak Bimo.
"Tidak...."
Pak Bimo menghela nafas panjang.
"Baiklah kalau Nona menolak, maka biar Tuan Muda sendiri yang datang menjemput anda. Sekedar informasi, anda belum tahu apa yang bisa dilakukan Tuan Muda jika sudah marah." Ucap Pak Bimo berusaha membujuk Bella dengan ancaman.
Bella merinding, terbayang akan wajah Erlan yang menyeramkan saat marah.
"Baik-baik, aku ikut." Ucap Bella masuk ke dalam mobil dengan wajah masam.
Mobilpun berjalan perlahan, Pak Bimo terdiam sepanjang perjalanan membuat Bella menjadi bosan.
"Apa si buaya itu selalu memaksakan kehendaknya?" Tanya Bella memecah kebisuan.
"Buaya?" Ucap Pak Bimo heran.
"Iya, buaya. Boss kalian si buaya." Ucap Bella.
__ADS_1
Pak Bimo tersenyum simpul.
"Nona, perlu anda tahu, Tuan Muda selama ini tidak pernah mengejar wanita manapun sebelum anda."
"Bohong!" Seru Bella.
"Saya tidak meminta Nona Bella untuk percaya pada Tuan Muda. Tapi saya dengan serius mengatakan bahwa saya tidak pernah melihat Tuan Muda begitu serius mencintai seorang wanita selain anda." Tegas Pak Bimo lagi.
Bella terdiam.
"Perlu Nona tahu, selama tujuh tahun belakangan ini, Tuan Muda terus saja berupaya menemukan anda. Dia tak pernah menyerah, bahkan saat Tuan Besar menjodohkannya, Tuan Muda dengan tegas menolak karena Tuan Muda hanya mencintai anda Nona."
'Apa seperti itu? Apa bisa di percaya?' pikir Bella.
"Beri Tuan Muda kesempatan untuk menunjukkan cintanya pada Nona." Ucap Pak Bimo lagi.
Hingga tanpa Bella sadari, mobil yang ditumpanginya sudah berhenti.
Dari luar, Erlan sudah berdiri dengan senyum yang mengembang menunggu Bella.
Pak Bimo membuka pintu mobil untuk Bella lalu langsung disambut oleh Erlan dengan mengulurkan tangannya. Bella tak dapat menolak uluran tangan Erlan, karena Bella melihat sorot mata Erlan yang begitu tulus.
Wajah Erlan yang awalnya tersenyum sumringah berubah menjadi amarah. Ia menatap Bella dengan penuh amarah.
'Apa salahku? Kenapa dia terlihat begitu marah?' pikir Bella.
"Kau pikir, pakaian apa yang kau kenakan ini hah?" Bentak Erlan seraya membuka jasnya dengan cepat lalu memasangkannya pada tubuh Bella.
Erlan terlihat semakin geram, sambil menutupi bagian depan tubuh Bella dengan jasnya.
"Pak Bimo...." Teriak Erlan.
"I-iya Tuan Muda." Jawab Pak Bimo.
'Kenapa dia bisa marah? Apa aku melakukan kesalahan?' pikir Pak Bimo.
"Dari mana kau mendapatkan gaun yang jelek dan murahan seperti ini?" Teriak Erlan.
"I-itu dari....."
"Sudahlah, aku ingin kau menutup semua butik milik desainer yang membuat gaun ini. Dia tidak boleh membuat pakaian lagi." Teriak Erlan yang semakin membuat Bella bingung.
"Sekarang kau carikan Bella gaun yang lebih baik dan tertutup." Titah Erlan.
"Baik Tuan Muda." Ucap Pak Bimo.
Beberapa orang wartawan yang sejak tadi ingin mengambil gambar Erlan tak dapat berkutik karena dihalangi banyak pengawal Erlan.
"Pakaianmu terlalu terbuka, hal ini akan mengundang banyak pria melihatmu. Tapi tenang saja, aku ada bersamamu. Aku akan melindungi mu, dari pandangan-pandangan jahat pria hidung belang." Ucap Erlan seraya menggandeng Bella masuk ke ruang teater.
Bella terdiam, ditatapnya sosok lelaki yang menggandengnya erat dengan sorot mata yang terus menatap kedepan.
__ADS_1
'Kenapa aku malah merasa aman berada disamping lelaki ini.' pikir Bella.
Di sepanjang jalan, para wartawan berusaha mati-matian mengambil gambar Erlan yang tengah menggandeng Bella. Namun sia-sia, para pengawal Erlan yang berperawakan besar dan tinggi menghalangi pandangan mereka.
Setelah berganti gaun dengan yang lebih tertutup, Bella berjalan dengan anggun ke arah Erlan yang setia menunggunya di luar toilet.
"Bagaimana dengan gaun yang ini?" Tanya Bella.
"Buang saja." Balas Erlan santai sambil melempar gaun itu ke arah Pak Bimo yang berdiri disamping Erlan.
Bella menggeleng pelan, tak tahu harus berkomentar apa.
Keduanya masuk ke gedung teater dengan seluruh pasang mata memandang ke arah mereka.
"Bukankah itu Erlan Alexander? Siapa wanita yang digandengnya?"
"Aku tahu, wanita itu adalah ibu dari anak yang akan tampil sebagai komposer muda malam ini."
"Apa hubungan mereka?"
Sayup-sayup suara orang-orang terdengar di telinga Bella. Hingga akhirnya mereka sampai di kursi tempat duduk mereka yang berada di baris paling depan.
Konser Orkestra pun dimulai, sampai tiba saat Noah tampil, semua mata tertuju padanya. Sebuah stasiun televisi menyiarkan acara ini secara langsung. Membuat wajah Noah tampil di televisi dan dilihat jutaan pasang mata yang ikut menonton dari rumah.
Tak terkecuali Pak Indra, ia menatap layar televisi yang tengah menampilkan cucunya tengah memimpin sebuah orkestra yang menghasilkan musik yang begitu indah.
Air mata Pak Indra mengalir begitu saja, sama halnya dengan Bella yang menonton putera geniusnya itu secara langsung. Tak henti-henti air matanya mengucur deras ke pipinya.
Erlan yang berada disamping Bella, mengusap lembut punggung Bella seraya matanya terus menatap ke atas panggung dimana Noah tengah tampil.
Sementara di kediaman Erlan, Tuan Adam dan Vino juga tengah menonton acara konser itu lewat siaran televisi.
"Vino, apa kau memperhatikan wajah bocah yang menjadi komposer itu?" Tanya Tuan Adam.
"Iya Pah? Ada apa?" Tanya Vino.
"Dia sangat mirip dengan Erlan waktu kecil. Coba kau ambilkan album foto di dalam laci itu." Ucap Tuan Adam menunjuk ke arah sebuah meja.
Dengan cepat Vino mengambil album foto yang diminta Tuan Adam.
"Lihatlah, sangat mirip sekali." Ucap Tuan Adam.
Vino seakan tak percaya, apa yang dikatakan papanya memang benar. Foto Erlan saat kecil memang bak pinang dibelah dua dengan Noah, sangat mirip.
Layar televisi menampilkan sosok Erlan yang tengah duduk bersama seorang wanita yang wajahnya tak terlihat jelas karena menunduk.
"Pa, lihat itu. Kak Erlan ada disana, siapa wanita yang dirangkulnya?" Ucap Vino.
Tuan Adam menatap layar televisi dengan serius.
'Apakah wanita itu yang selama ini dikatakan Erlan? Apakah anak yang menjadi komposer itu anak Erlan dan wanita itu?' pikir Tuan Adam.
__ADS_1