NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Cemburu


__ADS_3

Konser Orkestra Noah berjalan lancar, semua orang berdecak kagum akan penampilan Noah yang begitu sempurna.


Bella dan Erlan berjalan bersama menuju belakang panggung. Noah melihat mereka berdua berjalan mendekat ke arahnya. Wajah Noah begitu sumringah dan berlarian ke arah mereka. Tanpa disangka, Noah malah menghambur ke pelukan Erlan. Ada perasaan takut dan jengkel di hati Bella.


"Papa Erlan terima kasih ya, sudah mau menonton acara konser Noah. Padahal Papa Erlan pasti sedang sibuk." Ucap Noah.


"Tentu saja Papa Erlan akan datang melihat konser Noah. Meski sepenting apapun pekerjaan yang lainnya, tapi Noah tetaplah yang paling utama." Balas Erlan.


'Kenapa mereka begitu dekat? Noah bahkan melupakan aku. Bagaimana jika benar dia adalah papanya Noah? Kalau benar, dia akan mengambil Noah dariku. Tidak, aku tidak akan membiarkannya melakukan semua itu.' pikir Bella.


Bella memegang punggung Noah yang tengah digendong Erlan.


"Sayang, sudah larut. Kita pulang yuk." Ucap Bella.


"Eh Mama, sampai lupa." Ucap Noah.


Noah mencium pipi Bella saat ia berada di gendongan Erlan.


"Gimana tadi penampilan Noah Ma?"


"Keren banget sayang." Balas Bella. "Sekarang ayo turun, kita pulang." Lanjut Bella.


"Tidak apa-apa. Aku senang bisa menggendong Noah." Ucap Erlan.


Bella mencebik kesal.


"Papa Erlan mau antar Noah sama Mama pulang gak?"


"Tentu saja." Balas Erlan.


"Anda tidak perlu mengantar, kami berdua bisa pulang sendiri." Ucap Bella ketus.


"Aku tidak meminta pendapat siapapun. Kalau aku bilang akan mengantar kalian, maka akan aku lakukan. Kecuali Noah sendiri yang mengatakan aku tidak boleh mengantarnya pulang." Balas Erlan serius.


'Aku tidak mengerti dengan wanita ini. Tadi dia terlihat baik-baik saja. Kenapa sekarang berubah jadi ketus.' pikir Erlan.


Saat hendak keluar gedung, Erlan dihadang oleh dua orang berpakaian rapi.


"Selamat malam Tuan Erlan." Sapa keduanya.


"Selamat malam." Balas Erlan cuek.


"Saya lihat, Tuan Erlan sepertinya begitu dengan dengan komposer muda kita ini."


"Seperti yang kau lihat. Kalau tak ada hal lain yang ingin kau sampaikan, aku akan pergi sekarang juga. Waktuku sangat penting, dan aku tidak suka menghabiskan waktuku hanya untuk berpura-pura berbincang dengan orang yang tak ku kenal." Ucap Erlan kemudian berjalan santai melewati dua pria itu.

__ADS_1


Bella mengangguk sopan pada kedua laki-laki itu.


'Sungguh tak berperasaan.' pikir Bella.


"Sialan, sombong sekali si Erlan itu. Kalau saja dia bukan orang terpandang dan terkaya, sudah ku tendang dia."


"Sudahlah, kenapa kau harus marah. Yang bisa kita lakukan adalah, bersikap baik pada Tuan Erlan, agar dia mau bekerjasama dengan perusahaan kita."


Tiba di mobil, Erlan membukakan pintu untuk Bella dan Noah. Kali ini Erlan akan menyetir sendiri, dan Noah memutuskan untuk duduk di depan bersama Erlan. Sementar Bella dibiarkan duduk sendiri di belakang.


Saat Erlan akan masuk ke dalam mobil, seorang wanita berjalan mendekati Erlan dan memeluknya dari belakang.


"Erlan, kemana saja kamu? Aku sudah sangat merindukannmu." Ucap seorang wanita berpakaian seksi.


"Apa-apaan itu? Siapa wanita centil itu?' pikir Bella yang hanya melihat dari daam mobil.


Erlan melepaskan pelukan wanita itu perlahan, lau memutar tubuhnya agar berhadapan dengan wanita itu.


"Hai Marisa? Tak sangka bisa bertemu denganmu disini. Apa kabarmu?" Tanya Erlan. "Kapan kau pulang dari Amerika?"


"Aku baik, aku kembali kemari sejak tadi siang. Apa kamh tahu, orang pertama yang ingin aku temui saat pertama kali turun dari pesawat adalah kamu Erlan. Aku sangat merindukanmu." Ucap Marisa seraya mengalungkan tangannya ke leher Erlan.


"Khem.... Khem.... Apa kita bisa pulang sekarang?" Ucap Bella dari dalam mobil. "Kalau tidak, lebih baik aku dan Noah naik taxi saja, kalian bisa lanjutkan acara pacaran kalian." Ucap Bella ketus.


'Apa-apaan dia. Berani-beraninya bermesraan di depanku. Bukannya Pak Bimo bilang dia hanya mencintai aku. Bahkan dia mencariku selama tujuh tahun ini. Dasar buaya....' pikir Bella.


"Mama kenapa?" Tanya Noah yang menyadari raut wajah Bella.


"Gak ada apa-apa." Balas Bella.


'Ada apa denganku, kenapa aku harus cemburu.' pikir Bella lagi.


Erlan lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi disamping Noah.


"Sudah selesai? Kalau sudah, cepetan jalan. Aku ngantuk." Ucap Bella ketus.


"Noah ada apa dengan Mama Noah? Kenapa dia terlihat marah?" Goda Erlan.


"Sepertinya Mama marah karena Papa Erlan dekat dengan wanita yang tadi." Balas Erlan polos.


"Tidak. Noah, kamu jangan mengada-ada ya. Untuk apa Mama marah."


"Karena kau cemburu." Ucap Erlan cepat.


"Terserah. Cepat antar kami pulang." Balas Bella.

__ADS_1


*******


Erlan tiba di rumah pukul sepuluh malam setelah mengantar Bella dan Noah pulang. Ternyata di ruang tamu, Tuan Adam dan Vino sudah menunggu kedatangan Erlan.


"Papa belum tidur?" Tanya Erlan.


"Papa lagi nungguin kamu."


Erlan lalu duduk di samping Tuan Adam.


"Lihat ini." Tuan Adam menyodorkan album foto yang memperlihatkan wajah Erlan saat masih kecil.


"Kenapa dengan foto ini Pa?" Tanya Erlan lagi.


"Apa kakak tidak menyadari satu hal?" Ucap Vino ikut berkomentar.


"Apa?" Tanya Erlan bingung.


Tuan Adam menghela nafas panjang.


"Kenapa wajahmu dengan wajah anak yang Papa lihat di televisi tadi terlihat begitu mirip? Kau juga terlihat dekat dengan Ibu dari anak itu. Apa jangan-jangan wanita itu adalah wanita yang selama tujuh tahun ini kau cari-cari?" Tanya Tuan Adam beruntun.


Erlan memandang Sang Papa kemudian memegang tangannya.


"Wanita itu memang benar wanita yang selama ini aku cari Pa."


"Kalau begitu segera lakukan tes DNA dengan anak itu karena Papa yakin dia adalah anakmu." Ucap Tuan Adam.


"Aku belum bisa memastikan bahwa dia anakku atau bukan. Karena sejujurnya aku melakukan kesalahan dengan berhubungan dengan dia sekali. Setelah itu dia menghilang. Semuanya terjadi karena suatu kecelakaan. Aku memang akan melakukan tes DNA. Walaupun begitu, jika hasilnya negatif, aku akan tetap menikahi wanita itu. Karena aku mencintainya Pa." Ucap Erlan panjang lebar.


"Wah kau memang perkasa Kak. Satu kali main langsung tokcer." Ucap Vino.


Erlan menyentil telinga Vino yang selalu saja tak bisa berbicara serius.


"Kalau begitu, Papa tidak akan menghambatmu. Kejarlah wanita yang memang kau cintai. Tapi satu hal yang dapat Papa pastikan, anak yang bernama Noah itu memang adalah anakmu." Balas Tuan Adam.


"Waaahh berarti aku sudah punya keponakan. Keponakanku juga sangat jenius. Aku bisa memintanya mengajariku memainkan berbagai alat musik." Ucap Vino girang.


"Aku harus memastikan semuanya dengan tes DNA. Agar Mama dari Noah tidak berpikir bahwa aku hanya mengada-ada." Ucap Erlan.


"Segera bawa dia dan Noah pulang ke rumah, Papa tak sabar untuk bertemu dengan cucu Papa."


"Aku juga tak sabar bertemu dengan keponakanku yang genius." Lanjut Vino.


"Segera setelah semuanya terbukti, jika Noah benar-benar anakku Pa." Balas Erlan.

__ADS_1


__ADS_2