NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Tuduhan Jimmy


__ADS_3

"Tolong aku Jim...." Ucap Clara.


Jimmy heran, apa yang sebenarnya telah terjadi pada Clara.


'Kenapa dia bisa seperti ini? Bukankah yang seharusnya ada di kamar ini adalah Noah?'


"Ada apa denganmu?" Tanya Jimmy memegang pundak Clara.


"Tolong, panas sekali. Aku mau...."


Cup...!!


Clara tak melanjutkan ucapannya, dia justru langsung mencium Jimmy. Dengan cepat Jimmy melepas pagutan Clara.


"Tidak boleh seperti ini." Ucap Jimmy.


"Tolong aku, hanya dengan cara ini aku bisa terbebas dari rasa ini." Ucap Clara mencoba memaksa Jimmy untuk berhubungan.


"Tidaaak." Teriak Jimmy.


Sebagai lelaki normal, Jimmy memang tergoda melihat tubuh Clara yang tampak polos dihadapannya. Tapi, Jimmy mencintai Clara. Ia tak ingin melakukan sesuatu yang akan merusak diri Clara. Lantas Jimmy mengangkat tubuh Clara yang polos itu, lalu memasukkannya ke dalam bath up.


"Tinggu aku disini. Berendaml ah dulu, aku akan mencari bantuan." Ucap Jimmy.


"Jangan tinggalkan aku, aku mohon tolong aku." Clara menarik lengan Jimmy.


"Tenanglah, aku akan menolong mu. Tapi tidak dengan cara seperti itu. Bersabarlah, lawan semuanya. Aku akan segera kembali." Ucap Jimmy.


Jimmy lalu keluar dari kamar mandi dan mengunci pintunya dari luar. Ia lalu menelepon seorang Dokter yang dipercaya untuk menjaga Noah selama berada di kota ini. Jimmy meminta Dokter itu untuk segera datang ke hotel.


Setelah itu Jimmy berjalan menuju loby hotel dan mencari pelayan wanita yang bisa membantunya untuk menjaga dan memakaikan pakaian pada Clara.


Jimmy kembali ke ruangan pesta dan melihat Noah tengah tertawa bersama Sherly. Jimmy berjalan mendekati Noah dan berdiri dihadapannya dengan tatapan kecewa.


"Ada apa denganmu? Sepertinya kau memiliki dendam padaku. Tatapan mu menunjukkan bahwa kau ingin segera melayangkan pukulan pada wajahku." Ucap Noah duduk santai seraya meminum jus yang tadi diambilkan Sherly.


"Noah. Aku tahu kau tak menyukai Clara. Tapi setidaknya kau jangan bersikap keterlaluan padanya. Selama ini aku selalu mendukungmu. Tapi kali ini aku kecewa akan tindakan yang kau lakukan padanya." Ucap Jimmy.


Sherly yang bingung dengan pembicaraan kedua pria dihadapannya ini langsung berdiri.


"Sebenarnya ada apa dengan kalian berdua? Apa yang kalian bicarakan? Ada apa dengan perempuan yang bernama Clara itu?" Tanya Sherly penasaran.


Namun, baik Jimmy maupun Noah tak ada yang menjawab pertanyaannya. Jimmy hanya terus menatap Noah dengan raut wajahnya yang begitu kecewa.

__ADS_1


'Aku tak pernah menyangka bahwa Noah yang selama inj ku kagumi bisa berbuat sejauh ini pada seorang wanita.' pikir Jimmy.


"Noah yang aku kenal selama ini selalu bersikap dingin pada wanita. Tapi yang kau lakukan hari ini...."


"Berarti kau belum mengenalku dengan baik." Potong Noah.


Raut wajah Jimmy begitu emosi. Dia hampir saja memukuli Noah, jika tidak ada suara kerubutan yang mengalihkan perhatian mereka. Mata Noah memicing memandang ke arah kerumunan orang yang melihat sesuatu. Jimmy yang penasran berjalan mendekat, dan mendapati Clara mengenakan jubah mandi berusaha mendekati para lelaki yang ada di ruangan itu.


Semua tamu undangan yang hadir menatap Clara penuh keheranan.


"Ada apa dengan Clara?" Tanya para tamu perempuan.


"Cepat. Ku mohon tolong aku." Ucap Clara menghiba.


Dari jaraknya berdiri, Noah dapat melihat sosok Clara yang tengah dipengaruhi obat yang tadinya akan ditujukan pada dirinya.


"Apa yang terjadi pada Clara?" Tanya Sherly.


"Dia yang menabur, dia juga yang menuai." Balas Noah.


"Hah.. kamu ngomong apa sih." Tanya Sherly.


"Kau cantik." Ucap Noah pada Sherly.


Sementara ditempatnya berdiri, Clara tampak begitu tersiksa. Jimmy mendekatinya, lalu dihadapan semua orang Jimmy mencium Clara. Clara membalas ciuman Jimmy dengan penuh *****, membuat orang-orang semakin di buat bingung. Jimmy menahan tubuh Clara lalu menggendongnya. Dan berjalan membawanya pergi. Clara lalu memeluk leher Jimmy dengan erat.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Sherly.


"Ayo ikut aku." Jawab Noah seraya menggandeng tangan Sherly.


Acara pesta ulang tahun Clara pun dibubarkan. Para tamu undangan bertanya-tanya, apa sebenarnya yang terjadi.


Apa hubungan antara Jimmy dan Clara?


Kenapa Clara bisa bersikap begitu erotis?


Di dalam kamar nomor 25, semua orang berkumpul melihat Clara yang tengah ditangani Dokter. Ada Noah, Sherly, Jimmy, Dokter, dan dua orang pelayan wanita.


Clara sudah terlelap karena diberi obat penenang oleh Dokter. Clara diberikan obat tidur, agar ia tak lagi bertingkah aneh. Setelah selesai, Dokter pun pamit meninggalkan Noah dan orang-orang lainnya.


Sebelum Jimmy berbicara, Noah langsung menjentikkan tangannya. Dua orang laki-laki masuk dengan membawa sebuah televisi, lalu memutar sebuah video dihadapan semua orang.


Tampak Clara berbicara pada seorang pelayan. Tak lama kemudian pelayan itu berjalan mengambil minuman ke arah meja lalu memasukan sesuatu ke dalam gelas yang tadinya diberikan Clara. Namun, saat pelayan itu hendak berjala mendekati Noah. Seorang pria berpakaian hitam mencegah pelayan itu dan memberikannya minuman yang baru.

__ADS_1


Tanpa di duga, pelayan yang menjadi suruhan Clara itu justru kembali menuang seseuatu ke dalam gelas air putih yang diminum Clara di dalam kamar tadi. Pelayan itu tampak masuk ke dalam kamar, tepat saat Noah keluar dari kamar itu.


Tak berselang lama Clara masuk ke dalam kamar, dan tak keluar lagi.


Jimmy menatap Noah dengan perasaan bersalah.


"Sebelum kau menuduh orang sembarangan. Carilah bukti terlebih dahulu untuk menguatkan tuduhanmu itu. Aku tahu kau menyukai gadis itu, tapi jangan karena cinta kau menjadi buta." Ucap Noah.


"Noah, aku...."


Belum sempat Jimmy melanjutkan bicaranya, Noah sudah beranjak keluar dari dalam kamar itu meninggalkan Jimmy dan yang lainnya.


"Apa kau menuduh Noah melakukan semuanya pada Clara?" Tanya Sherly. Namun, Jimmy hanya terdiam.


"Aku pikir kalian sahabat dekat. Tapi, hanya seorang wanita. Kalian berdua jadi terlibat masalah ini. Kau harus minta maaf." Ucap Sherly seraya menepuk pundak Jimmy lalu berjalan keluar kamar.


Kini, hanya ada Jimmy dan para pelayan. Jimmy mulai menanyakan satu persatu orang yang sekiranya terlibat dalam perbuatan Clara yang tadinya ingin menjebak Noah, malah menjebak dirinya sendiri.


Setelah mendapatkan semua bukti, Jimmy semakin merasa bersalah pada Noah.


'Kenapa bisa-bisanya aku menuduhnya seperti itu? Apa memang cinta yang aku punya untuk Clara membuatku buta?' ucap Jimmy dalam hati.


Sementara itu, di taman hotel. Noah duduk di temani Sherly yang mengikutinya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Sherly.


"Kau tahu? Selama ini, aku tidak pernah memiliki seorang sahabat dekat. Aku terlalu sibuk dengan sekolahku. Terlalu sibuk mengembangkan kemampuanku dalam bermusik. Hingga aku tak memiliki teman yang begitu dekat." Ucap Noah. "Aku mengenal Jimmy selama lima tahun belakangan ini. Ku pikir karena sudah berteman selama itu, kami bisa saling mempercayai. Nyatanya aku salah." Lanjut Noah.


"Aku mengerti bagaimana perasaanmu. Karena aku juga pernah merasakan, bagaimana rasanya saat tidak dipercayai oleh orang yang selama ini selalu bersama kita." Balas Sherly. "Aku datang ke negara ini saat usiaku 20 tahun. Orang tuaku keduanya sudah meninggal, dan aku tidak punya siapa-siapa lagi. Jadi aku memutuskan untuk datang ke negara ini untuk mencari kehidupan yang lebih layak. Sekarang sudah lima tahun aku disini, dan bisa dikatakan aku ini penduduk gelap." Ucap Sherly sambil tertawa. "Aku selalu menghindari pihak imigrasi, berharap mereka tak pernah menemukan aku dan mengirimku kembali ke negara asalku. Dulu, disana aku punya orang tua angkat yang menyayangiku seperti puteri kandung mereka sendiri. Tapi sejak mereka memiliki anak biologis, kasih sayang mereka berubah. Aku tak lagi dihiraukan, bahkan kesalahan anak mereka dilimpahkan kepadaku. Pernah satu hari anak mereka, dia lima tahun lebih muda dariku, namanya Yohan. Dia menuduhku mengambil uang ibunya. Sejak saat itu juga aku diusir dan mulai hidup di jalanan. Hingga aku melihat sebuah iklan tentang pariwisata di negara ini. Aku kemudian mengumpulka uang selama satu tahun, hingga tepat di usiaku yang ke 20 tahun. Aku datang kemari dan menetap hingga kini."


Noah menatap Sherly yang pandangannya menatap lurus ke depan dengan sendu.


"Menangislah...!" Seru Noah.


"Apa?" Ucap Sherly menengok ke arah Noah yang tengah menatapnya sendu. "Hei, untuk apa kau menyuruhku menangis. Aku sudah terbiasa dengan hidupku. Jangan kasihani aku." Ucap Sherly penuh semangat. "Lihat aku sekarang, aku bisa menjadi manager di sebuah anak perusahaan kenamaan di negara ini. Hidupku memang penuh keberuntungan." Ucap Sherly.


Noah tersenyum, ia menatap Sherly dengan begitu takjub.


'Hanya wanita inilah yang pantas menjadi isteriku.' pikir Noah.


"Hei, tadi kau bilang kau bersekolah musik? Kau sekolah dimana?" Tanya Sherly.


"Mmmm itu, aku bersekolah di... Ah kenapa harus membahas tentang aku. Lebih baik ceritakan saja tentang dirimu." Ucap Noah.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2