
Clarissa berusaha bersikap semanis mungkin pada Noah. Mengikuti semua yang dikatakan Noah.
"Tante Noah haus. Apa Tante bisa bisa buatkan Noah dan teman-teman jus jeruk?" Pinta Noah.
"Tentu saja." Balas Clarissa, kemudian berteriak, "Pelayan.... Pelayaaann..."
Seorang gadis berpakaian pelayan datang mendekat sambil menunduk.
"Cepat buatkan Tuan Kecil kalian jus jeruk." Titah Clarissa.
"Ba-baik Nona."
"Eitttss... Noah tidak meminta Mbak Nina yang buatin." Ucap Noah sambil berdiri dengan berkacak pinggang. "Noah maunya Tante Clarissa yang buat."
'Awas kau anak nakal.'
"Baik, tentu saja sayang. Tante akan buatkan untuk Noah dan teman-teman. Tunggu sebentar ya."
Clarissa berjalan menuju dapur dengan perasaan yang sangat kesal. Hingga tiba di dapur ia membentak para pelayan yang tengah bersiap memasak makan malam.
"Cepat buatkan Noah jus jeruk." Perintah Clarissa dengan berteriak.
"Maaf Nona, tapi bukannya tadi Tuan..."
"Apa kau mau membantahku. Cepat buatkan saja." Potong Clarissa dengan raut wajah emosi.
Setelah beberapa saat Clarissa kembali dengan membawa jus jeruk. Baru saja ia terduduk di sofa, Noah sudah memerintahkannya lagi.
"Tante, bisa bawakan kami puding coklat yang ada di lemari pendingin."
Dengan terpaksa Clarissa kembali ke dapur mengambil puding cokelat sesuai permintaan Noah.
Saat Clarissa kembali dengan membawa puding cokelat, lagi-lagi Noah memintanya kembali ke dapur mengambil saus coklat untuk ditaburkan diatas puding yang dibawanya tadi.
'Aku sudah seperti pembantu anak nakal itu. Awas saja kalau aku sudah menjadi istri Papa mu, aku akan memberikan pelajaran kepadamu anak nakal.'
Setelah permintaan ketiga Noah selesai dilakukan Clarissa, ia mencoba duduk di sofa.
"Tante...."
"Apa lagi....?" Bentak Clarissa tak dapat menahan amarahnya.
Noah dan teman-temannya terperanjat kaget, karena teriakan Clarissa.
"Kenapa Tante tiba-tiba marah dan berteriak. Padahal Noah hanya mau menawarkan Tante Clarissa puding ini. Tapi...."
__ADS_1
"Ah maafkan Tante, Noah sayang. Tante gak marah sama Noah kok. Tadi tante cuma lagi memikirkan sesuatu yang membuat emosi Tante sedang tidak stabil." Kilah Clarissa.
"Oh gitu, ya udah." Balas Noah kemudian melanjutkan aktivitasnya memakan puding coklat.
Pukul lima sore, Javi dan Lika berpamitan pulang. Rumah keduanya yang hanya berjarak beberapa meter, membuat kedua bocah itu hanya berjalan kaki. Tapi tetap diikuti dua orang pengawal yang diperintahkan Noah untuk mengantar mereka.
Sementara Clarissa, ia belum juga beranjak dari Kediaman Alexander.
"Tante gak pulang?" Tanya Noah.
"Tante masih mau nemenin kamu disini." Jawab Clarissa.
"Oh kalau gitu sekarang Tante harus jongkok." Titah Noah lagi.
"Jongkok? Mau ngapain?" Clarissa balik bertanya.
"Main kuda-kudaan. Setiap hari Noah pasti memainkannya bersama Papa. Tapi setelah Papa dan Mama pergi bulan madu, Noah minta Om Vino yang main. Cuma ya sekarang Tante tau sendirikan Om Vino lagi tidak ada di rumah. Jadi Noah minta Tante saja. Tidak mungkin kan Noah mau ngajak Opa."
"Baiklah akan Tante turuti. Tapi dengan satu syarat."
"Apa itu?"
"Mulai sekarang Noah harus panggil Tante, Mama Clarissa. Bagaimana setuju gak?"
'Oh jadi ini tujuan Tante Clarissa yang sebenarnya. Ingin menggantikan posisi Mama. Tidak akan semudah itu Clarissa.' pikir Noah.
'Andai saja Erlan yang melihat semua ini. Pasti dia akan tergoda.'
Dari arah ruang tamu, Vino berdiri terpaku melihat adegan yang terjadi dihadapannya.
'Wah mimpi apa semalam sampai bisa dapat rezeki nomplok. Uuhh putih sekali.' pikir Vino.
Pikiran Vino mulai melayang kemana-mana saat matanya fokus melihat ke arah bagian belakang Clarissa.
"Om Vinoo..." Teriak Noah melompat dari punggung Clarissa lalu mendekati Vino.
Dengan cepat Clarissa berdiri lalu duduk di sofa. Ia merasakan punggungnya sakit dan mulai memijitnya pelan.
"Noah, maaf ya Om pulangnya terlambat. Sepertinya Noah punya teman baru." Ucap Vino dengan tatapan matanya yang tetap melihat Clarissa.
"Iya Om. Tante, eh maksud Noah, Mama Clarissa datang bawain Noah alat musik baru, terus temanin Noah main."
"Oh, sudah mandi belum? Kalau belum gih sana mandi dulu."
"Siap Om."
__ADS_1
Noah kemudian berlari menuju kamarnya, sementara Vino berjalan mendekati Clarissa dan duduk disampingnya.
"Sakit punggung ya?" Tanya Vino.
"Iya." Balas Clarissa ketus.
"Kalau gitu sini biar aku pijitin."
"Gak perlu." Tolak Clarissa dengan kasar menepuk tangan Vino yang hendak memegangi pundaknya.
"Ya udah kalau gak mau, paling juga punggung kamu bakalan sakit sampai besok. Kalau kamu gak mau aku yang pijitin, kamu boleh pergi ke kamar yang ada dibelakang sana. Disana ada kamar khusus untuk perawatan, seperi massage. Pelayan cewek kok." Tutur Vino kemudian berjalan menuju kamarnya.
Clarissa yang memang merasakan punggungnya sangat sakit mengikuti ucapan Vino. Dia kemudian berjalan menuju ruangan yang ditunjuk Vino.
Di dalam kamar, Vino membayangkan apa yang dilihatnya tadi. Pikiran kotornya mulai memenuhi isi kepalanya.
'Aku harus mendapatkan dia.' pikir Vino kemudian berjalan keluar menuju ruangan yang tadi ditunjukkannya pada Clarissa dengan mengenakan celana pendek.
Di dalam ruangan, Clarissa tengah dipijit pelayan wanita yang memang memiliki kemampuan dalam massage. Tak butuh waktu lama, Clarissa sudah merasa punggungnya jadi lebih baik.
Ia kemudian mandi karena tubuhnya begitu lengket. Vino masuk dengan perlahan dan mendapati Clarissa tengah mandi di dalam kamar mandi yang memang tersedia di ruangan itu.
Saat Clarissa keluar dengan mengenakan pakaian mandi.
"A-apa yang kau lakukan?" Mata Clarissa membelalak menatap Vino yang duduk santai tanpa mengenakan apapun.
"Kau yang sudah membuat aku seperti ini, jadi kau harus bertanggung jawab." Vino mulai mendekat dan mencium Clarissa dengan paksa.
Awalnya Clarissa menolak, namun karena ia yang memang sudah terbiasa melakukan hal itu dengan mantan-mantan kekasihnya malah membalas permainan Vino.
'Sayang banget kalau gak melakukan apapun dengan laki-laki yang punya tubuh seperti dia. Walaupun aku tetap memilih kakaknya.' pikir Clarissa.
Keduanyapun melakukan hubungan terlarang. Dua orang pengawal yang diminta Vino berjaga di depan pintu sampai mengenakan earphone agar tak mendengarkan suara menjijikkan yang mereka lakukan.
"Ku pikir kau masih suci, ternyata kau gadis yang nakal." Ucap Vino.
"Apa jadi masalah untukmu? Aku pun yakin ini bukan kali pertamanya kau melakukan ini." Balas Clarissa.
"Ini menjadi yang pertama bersamamu, tapi bukan menjadi yang terakhir. Aku sepertinya akan ketagihan."
"Boleh saja, asal kau berjanji tidak ada hubungan apapun diantara kita. Karena aku kemari bukan untuk mengejar mu."
Vino mengangguk, 'Terserah kau saja, selama aku bisa menikmati tubuh indah mu, kenapa tidak. Toh, Kak Erlan yang kau inginkan itu tidak akan pernah meninggalkan istrinya. Apalagi demi wanita ****** sepertimu.' pikir Vino.
Alvino Alexander yang tampak kekanakan dimata keluarga, ternyata kini sudah berubah menjadi pria nakal. Perubahannya terjadi karena hatinya disakiti seorang wanita yang sangat dicintainya.
__ADS_1
Dua bulan yang lalu, Vino mendapati kekasihnya tengah berduaan di hotel bersama pria lain. Kekasihnya beralasan Vino terlalu kolot dan tak gentleman karena tak pernah menyentuhnya, hingga membuat Vino marah dan mulai berubah. Sejak saat itu, Vino mulai bermain perempuan.
Bersambung....