
Setelah sarapan, Erlan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena memasak tadi.
"Bisa tolong aku?" Ucap Erlan dari dalam kamar mandi.
"Ada apa?"
"Tolong siapkan pakaian dan celana yang aku kenakan."
“Dimana kau menyimpannya?” Bella berteriak dengan volume tinggi, agar Erlan bisa mendengarnya dengan jelas.
“Cari di dalam lemari, aku sudah memindahkannya pagi tadi.!” Erlan membalas dengan berteriak juga dari dalam kamar mandi.
Segera Bella melangkahkan kakinya menuju lemari, menarik gagang pintu lemari lalu mulai memilihkan kemeja berwarna abu-abu dan celana pendek berwarna coklat untuk Erlan.
“Apa sudah kau siapkan?” Erlan menyentuh pundak Bella dari belakang.
Bella dapat merasakan tangan dinginnya karena baru saja selesai mandi. Bella mengeluarkan pakaian yang dipilihnya lalu membalikan badannya menghadap Erlan yang tepat berada dibelakangnya, tapi kemudian Bella menyadari bahwa saat ini Erlan tidak memakai baju ketika keluar dari kamar mandi.
“AAAAaaaaa…….. apa yang kau lakukan” Teriak Bella histeris, sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan untuk menghindari pemandangan yang disuguhkan di hadapannya.
'Bagaimana mungkin dia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan sehelai handuk yang melingkar di pinggangnya.'
“Kamu kenapa, Sayang?” Erlan mencoba menarik kedua tangan yang menutupi wajah Bella.
Tapi kemudian Bella segera menundukkan wajahnya dan menutup mata rapat-rapat.
“Erlan, apa yang kau lakukan. Cepat pakai bajumu! Mengapa keluar dalam keadaan seperti itu?” Bella membalikkan badannya membelakangi Erlan agar bisa membuka mata dan bernafas lega.
Tapi bukannya pergi Erlan malah memeluk Bella dari belakang dan menyangga dagunya di bahu Bella. Bella yang benar-benar merasa terkejut hanya bisa menerima perlakuan Erlan saat ini.
Bella dapat merasakan nafas Erlan yang terasa menggelitik di lehernya. Membuat dia merinding selama beberapa saat.
'Aduh, apa ada seorang yang mati hanya karena sebuah pelukan?'
Bella benar-benar merasa sangat sesak dengan perlakuan Erlan seperti ini. Bukan karena pelukannya yang terlalu kencang. Hanya saja, Bella merasa jika pelukan Erlan ini bisa menghentikan detak jantungnya.
“Aku bahkan sudah melihat seluruh tubuhmu. Dan sekarang kau hanya melihat aku bertelanjang dada saja kau masih menutup rapat matamu seperti itu, kenapa huh? Kau gugup?”
__ADS_1
Erlan berbicara masih dalam posisi yang sama, dan udara yang keluar dari mulutnya terasa hangat masuk ke dalam telinga Bella.
“Aaa… itu…”
Bella memang benar-benar gugup dengan perlakuan Erlan seperti ini. Semalam keduanya memang sudah melakukannya, tapi tetap saja saat ini Bella merasa jantungnya jadi berdebar tidak karuan.
'Aaaa aku belum terbiasa....' teriak Bella dalam hati.
“Kenapa sayang. Kenapa kau tiba-tiba diam seperti ini, huh?” Erlan menyingkirkan rambut panjang Bella yang menjulur ke depan, kemudian mengecup lehernya dari samping.
Bella benar-benar tidak dapat bergerak saat ini. Kedua kakinya terasa lemas, Bella bahkan kesulitan untuk mengartikulasikan kata-kata dari mulutnya.
'Bagaimana mungkin dia bisa melakukan ini padaku sepagi ini?''
“Apa kau pikir ini terlalu pagi?"
'Ha, bagaimana bisa dia membaca pikiranku?'
"Sayang, kita disini hanya berdua. Jadi kita bisa melakukan apa saja, mau itu siang, malam ataupun pagi. Kau tidak keberatan kan? Aku pikir kau menyukainya, bukankah semalam kau terlihat sangat menikmati semua yang aku lakukan.”
Bella tidak dapat berkata-kata ketika bibir Erlan mulai menjelajahi leher dan bahunya yang terbuka, karena saat ini Bella menggunakan tanktop dan celana jeans pendek. Bella hanya bisa terdiam sambil mengigit bibir bawahnya, menahan suara menjijikkan yang mungkin akan keluar begitu saja dari mulutnya.
Kedua kaki Bella terasa sangat lemas, tapi ia berusaha melangkah untuk maju dan menjauhi tubuh Erlan. Kedua tangannya masih melingkar di perut Bella, tapi Bella segera melepaskannya.
“Hahahahaha”
Tiba-tiba suara tawa itu membuat Bella sepenuhnya sadar dari situasi yang cukup membuat darahnya mengalir deras. Spontan Bella segera berbalik dan menatapnya dengan murka.
“Kau ini, kenapa wajahmu merah seperti itu? Kau takut? Kau ini sudah menjadi isteriku, bahkan sudah aku katakan tadi. Apa kau tak ingat kejadian semalam? Kenapa sekarang masih malu-malu. Huh.” lanjut Erlan kemudian kembali terkekeh puas.
'Bagus Erlan, mau bermain-main denganku huh? Ini masih pagi dan dia sudah menggodaku seperti ini. Mau mati rupanya.'
PLETAK….
Sebuah jitakan yang lumayan keras akhirnya mendarat di kepala Erlan.
“Sayang, kenapa kau tiba-tiba galak seperti ini. Kurasa tadi kau benar-benar menikmatinya?”
__ADS_1
'Haish, kenapa masih membahas hal itu. Aku jadi malu mendengarnya. Dasar kurang ajar, bagaimana mungkin dia mengatakan hal itu padaku. Bodoh.'
“Berhenti tertawa. Sekarang cepatlah, kau bilang mau membawaku jalan-jalan mengelilingi pulau. Kalau kau terus menggodaku, aku tidak akan pergi denganmu.” Ujar Bella dengan nada tinggi.
Bella memasang tampang kesal dan berjalan keluar dari kamar.
******
Bella menarik nafas dalam-dalam dan mengusap wajahnya berkali-kali untuk menghilangkan bayangan aneh yang berkeliaran di otaknya.
“Fiuh….” Bella menghembuskan nafas berat dan melihat bayangannya sendiri di cermin besar yang ada di ruang tengah. Bella merapikan rambut panjangnya yang sedikit berantakan.
“Ya Tuhaan?” Bella benar-benar kaget ketika melihat beberapa tanda merah di lehernya.
'Apa ini? Apa tanda ini sudah ada sejak semalam atau barusan?'
Dengan cepat Bella melihat ke dalam tanktop yang ia kenakan.
'Apa jangan-jangan semua tanda yang dia tinggalkan ada disini juga?'
Dan benar saja, di bagian dada Bella terdapat banyak sekali tanda merah yang ditinggalkan Erlan.
'Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Apa aku tidak memperhatikannya saat mandi tadi? Aish sungguh memalukan.'
Bayangan tubuh Erlan kembali terlintas di pikiran Bella.
'Sejak kapan ya dia mempunyai six pack yang terlihat sangat indah itu? Benar-benar keren. Aku benar-benar tidak sadar semalam. Semuanya berjalan begitu cepat.'
"Erlan, awas saja kalau dia berani memperlihatkan tubuh indahnya itu pada gadis lain."
Di dalam kamar....
Erlan masih saja terkekeh geli sembari memasangkan kancing kemeja yang dipilihkan Bella untuknya.
'Haha, dia benar-benar lucu, padahal kami sudah melakukannya semalam, tapi kenapa dia masih gugup sampai mau pingsan seperti itu? Aku menjadi sangat gemas dengan tingkahnya.'
Erlan memang hanya berniat menggoda Bella dengan cara memeluknya dari belakang. Tapi ketika melihat bahu Bella yang terbuka, juga leher jenjang Bella yang terpampang indah di hadapannya, Erlan mulai kehilangan akal sehatnya hingga akhirnya menjadi seperti itu.
__ADS_1
'Untung saja aku bisa menghentikannya dan dapat mengendalikan diriku sendiri. Ah, jika tidak. Entah apa yang akan terjadi di pagi yang cerah ini. Rancana berkeliling kita akan batal. Bella, memikirkannya saja membuatku hampir gila.'