
"Mau ke tempat Papa ku!" Seru Clarissa sedikit kaget.
"Iya, ayo jalan." Titah Bu Maya menarik Clarissa.
"Emang Mama tau dimana tempatnya?"
"Jelas saja tahu. Tapi, sebelum kesana kita makan dulu. Perut Mama sudah lapar."
Keduanya bergegas menuju sebuah cafe yang letaknya tak jauh dari tempat mereka duduk.
Setelah memesan makanan yang cukup banyak, keduanya tak lama menghabiskan makanan mereka dan hendak pergi. Namun, langkah mereka terhenti karena dihalangi pihak cafe disebabkan belum membayar tagihan.
"Gimana ceritanya gak bisa sih Mbak. Ini udah kartu yang ketiga loh." Protes Clarissa.
Sudah tiga buah kartu kredit yang ia berikan kepada kasir untuk membayar tagihan. Namun, tetap saja gagal.
"Gimana dong Ma? Semua kartu kredit aku sepertinya sudah diblokir dama Papa., Sekarang gimana kita bisa bayar semuanya Ma." Ucap Clarissa.
"Ini semua gara-gara Mas Indra mengusir kita." Bu Maya menggerutu.
"Makanya Bu, kalau gak punya uang gak usah sok-sok mau makan di di restoran mewah." Ucap salah seorang pelayan.
"Heh jaga mulut kamu ya. Aku bisa meminta manager disini buat pecat kamu." Bentak Bu Maya.
"Kenyataan kan emang anda tidak bisa bayar." Balas sang pelayan.
"Kamu....." Bu Maya hendak menampar pelayan itu tapi dihalangi Clarissa.
"Sudahlah Ma, gak usah buat keributan. Ini mbak, coba aja scan pakai barcode." Ucap Clarissa seraya menyodorkan ponselnya.
Beberapa saat menunggu, Bu Maya dan Clarissa kembali dibuat pusing karena belum juga bisa membayar makanan yang mereka pesan.
"Maaf Mbak, gagal juga." Ucap pelayan.
"Ya Tuhan. Sekarang bagaimana Ma?" Clarissa mengacak rambutnya kesal.
"Gak tahu juga." Balas Bu Maya bingung.
Keduanya duduk dan berpikir bagaimana membayar tagihan. Hingga manager restoran datang mendekati mereka.
"Maaf sebelumnya, saya manager disini. Restoran kami sebelumnya tidak pernah kedatangan customer yang tak mampu membayar. Jadi, sebagai ganti rugi atas tagihan itu kalian berdua harus mencuci piring dan mengepel seluruh ruangan nantinya setelah restoran tutup." Ucap seorang wanita berpakaian modis itu.
"Apa? Jangan sembarangan ya main nyuruh-nyuruh. Kamu tidak tahu siapa saya ha?" Teriak Bu Maya.
__ADS_1
"Saya tidak peduli, sekalipun anda istri jendral kalau anda tidak bisa membayar berarti anda harus melakukannya." Balas manager restoran itu tak kalah sengit.
"Tapi kenapa sanksinya seberat itu?" Teriak Bu Maya lagi.
"Anda pasti tahu sendiri, ini restoran mewah. Tidak sembarangan orang bisa masuk. Tapi dilihat dari gaya kalian, kalian berdua ini orang kaya. Tagihan kalian itu dua juta tiga ratus lima puluh empat ribu. Justru sanksi yang saya berikan ini tidak seberapa. Karena jumlah tagihan kalian itu setidaknya menjadi gaji satu bulan tukang bersih-bersih di restoran ini. Jadi, saya tidak mau tahu. Kalian berdua harus....."
"Sudahlah Ma lebih baik kasih aja tuh cincin Mama." Ucap Clarissa memotong ucapan sang Manager restoran.
"Kamu gila ya? Ini tuh cincin berlian yang Mama beli dengan harga selangit." Balas Bu Maya.
"Kalau begitu Ibu bisa tinggalkan cincin itu kepada kami sebagai jaminan." Usul manager.
"Enak saja. Aku tidak mau." Bu Maya tampak geram.
"Ya kalau begitu, lakukan sanksi yang saya katakan. Sekarang juga silahkan ikut saya ke belakang. Ada banyak piring yang harus di cuci." Balas Manager.
"Ayolah Ma. Aku gak mau seharian harus cuci piring. Apalagi sampai pel tempat sebesar ini." Clarissa mencoba membujuk Bu Maya.
Setelah beberapa saat berpikir, Bu Maya akhirnya setuju memberikan cincin berliannya sebagai jaminan pada manager restoran.
"Saya akan kembali nanti. Awas saja kalau kau sampai menukar cincinku dengan yang palsu." Ancam Bu Maya.
Manager restoran itu hanya tersenyum.
"Silahkan kembali secepatnya Bu. Agar cincin ini dapat kembali lagi kepada anda."
"Ini semua gara-gara kamu Mas Indra. Lihat saja, aku akan membuat perhitungan dengan kamu." Ucap Bu Maya.
"Sekarang gimana Ma? Kita gak punya uang untuk kemana-mana. Kalau mau naik taxi bayarnya pakai apa?" Tanya Clarissa.
"Udah, cari aja taxi. Mama masih punya pegangan seratus ribu. Cukup kok sampai tempat Papa kamu." Ujar Bu Maya.
Keduanya lalu menaiki taxi dan berangkat menuju tempat yang ingin dituju Bu Maya. Sekitar lima belas menit, taxi berhenti di depan sebuah hotel.
"Mau ngapain kesini Ma? Bukannya ini tempat..."
"Sudah diam. Ikutin Mama, kamu gak perlu banyak tanya."
Mereka lalu masuk ke sebuah hotel dan langsung menuju lantai khusus klub. Di depan pintu tampak dua orang penjaga berseragam hitam. Dua laki-laki itu bertugas untuk memastikan setiap pengunjung tidak membawa senjata dan alat perekam.
Hentakan musik DJ makin terasa ketika keduanya masuk ke dalam menuju meja kasir.
'Ku pikir tempat ini hanya buka malam hari. Ternyata jam segini juga tetap buka.' pikir Clarissa dalam hati.
__ADS_1
Keduanya lalu diberi gelang bernomor, fungsinya untuk pembayaran segala transaksi apapun yg terjadi selama di dalam.
Ruangan itu sangat besar. Terdapat panggung utama di depan dengan beberapa penari berpakaian minim bahan. Sebagian pengunjung berjoget, melantai ikuti alunan DJ. Beberapa yang lain open table ditemani gadis pemandu. Sedangkan di sudut ruangan terdapat sofa memanjang diisi perempuan-perempuan dengan pakaian seksinya.
"Ma kita mau ngapain ke tempat seperti ini?" Teriak Clarissa karena suara musik yang keras membuat orang-orang sulit untuk berkomunikasi.
Tak lama pramusaji datang membawa nampan berisi banyak gelas berisi minuman keras. Di belakangnya dua orang pria kekar pemandu mengekor pramusaji itu.
Bu Maya menolak tawaran pramusaji dan memilih untuk memesan 2 botol bir. Pramusaji pun hendak pergi ke meja lain.
"Hey tunggu sebentar." Ucap Bu Maya.
"Anda mau pesan apa lagi Nyonya?" Tanya Pramusaji.
"Dimana aku bisa bertemu dengan Tuan Tama?" Tanya Bu Maya.
"Maaf Nyonya, apa anda sudah membuat janji dengan Tuan Tama?"
"Aku tidak perlu membuat janji dengannya. Katakan saja padanya bahwa Maya ingin bertemu dengannya." Balas Bu Maya.
"Tapi....."
"Baiklah. Jika Tuan Tama nanti tahu kamu menghalangi aku untuk menemuinya. Aku yakin kamu akan dipecat."
Tak ingin berdebat lagi, pramusaji wanita itu kemudian pergi ke ruangan bos nya yang bernama Tuan Tama.
Terlalu banyak minum, Clarissa izin pada Bu Maya untuk pergi ke toilet. Rupanya tidak ada toilet khusus pria atau wanita yang artinya ini toilet campur. Banyak keluar masuk perempuan berbaju seksi.
Clarissa keluar diikuti dua orang laki-laki dibelakangnya.
"Hai Nona. Kau cantik sekali. Sepertinya kau bukan gadis-gadis yang bekerja disini. Tapi, karena kau bisa ada di tempat ini, bukankah itu menunjukkan bahwa kau bukan gadis baik-baik." Ucap salah seorang laki-laki.
Clarissa hanya tersenyum nakal.
"Maafkan aku Tuan-Tuan. Kalian sudah salah orang. Aku tidak doyan dengan laki-laki seperti kalian." Balas Clarissa.
"Mulutmu pedas juga ya."
Kedua laki-laki itu hendak menjamah tubuh Clarissa. Tapi, dua orang penjaga menghalangi mereka.
"Nona Clarissa, mari ikut kami." Ucap kedua penjaga bertubuh kekar itu.
Clarissa kemudian berjalan mengikuti kedua penjaga itu menyusuri sebuah lorong sempit. Dan tepat di depan pintu, Bu Maya telah berdiri menunggunya.
__ADS_1
"Kenapa lama sekali?" Tanya Bu Maya.
"Ada laki-laki yang menggodaku." Jawab Clarissa.