
Hari ini, Bella beserta Sherly dan Clara pergi ke salon untuk melakukan perawatan. Besok adalah hari besar, dimana pernikahan Sherly juga Clara akan berlangsung. Sepanjang malam, Sherly terus saja merasa bersalah karena telah membohongi keluarga Alexander.
Sementara di rumah, Noah dan Jimmy tengah bermain game bersama. Erlan datang menghampiri mereka di ruangan yang khusus dijadikan tempat bermain game oleh Noah.
"Kalian berdua itu besok mau menikah. Kenapa malah enak-enakan main game sekarang. Bukannya malah mempersiapkan diri." Protes Erlan.
"Ayolah Pa. Memang harus persiapan apa lagi sih?" Balas Noah tanpa menoleh ke arah Erlan yang berdiri di depan pintu.
"Setidaknya, kalian itu harus mempersiapkan mental, fisik, hati..."
"Sudahlah Om. Kami sudah menyiapkan semuanya. Termasuk obat kuat untuk malam pertama." Ucap Jimmy seraya tertawa.
Noah yang tadinya fokus bermain tiba-tiba hilang konsentrasinya dan membuatnya kalah dari Jimmy.
"Yeeesss. Akhirnya aku bisa menang melawan mu Boss." Teriak Jimmy girang.
Noah langsung bangun lalu berjalan keluar.
"Ada apa dengan anak itu?" Tanya Erlan.
"Gak tau Om. Mungkin grogi karena besok mau nikah." Jawab Jimmy.
Erlan berjalan mendekati Jimmy dan duduk disampingnya.
"Om mau bertanya sesuatu sama kamu." Ucap Erlan.
"Silahkan Om." Balas Jimmy.
"Apa benar Noah bertemu Sherly di luar negeri saat kuliah dulu?" Tanya Erlan.
Jimmy terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa. Jika dia bicara jujur, Noah tidak akan memaafkannya. Jika dia bohong, Erlan bisa saja memecatnya.
"Emmm itu..."
Erlan mengernyitkan dahinya.
"Anu Om.... Itu..."
"Kamu ini bicara apa sih. Itu.... anu... itu.... anu...."
"Sebenarnya..."
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu terdengar, membuat Erlan mengalihkan perhatiannya ke arah pintu yang terbuka. Nampak sosok pria tinggi dengan pakaian serba hitam
"Maaf mengganggu anda Tuan. Tapi seseorang di luar sana sedang mencari Tuan." Ucap pria itu.
__ADS_1
Erlan berjalan keluar, sementara Jimmy bisa bernafas lega.
Erlan tiba di ruang tamu dan mendapati seorang pria berpakaian rapi mengenakan jas warna abu-abu. Pria itu tersenyum ramah pada Erlan.
"Selamat pagi Tuan Erlan." Sapa pria itu.
"Selamat pagi. Maaf anda siapa ya?" Tanya Erlan.
"Perkenalkan, saya Andre dari pihak imigrasi." Jawab pria itu.
"Imigrasi? Apa yang membuat anda ingin bertemu dengan saya?" Tanya Erlan lagi.
"Saya kira anda perlu tahu tentang masalah yang sedang dihadapi calon menantu anda." Ucap Pria bernama Andrew itu.
"Sherly? Ada apa dengannya?"
"Wah, sepertinya anda memang tidak mengetahui asal usul dari calon menantu anda." Balas Pak Andre. "Begini, Sherly itu adalah bukan warga negara ini. Dia berasal dari negara tetangga yang sudah menyalahi aturan tinggal disini. Jadi beberapa hari yang lalu saya menemuinya dan mengatakan dia akan di deportasi dari Negara ini. Tapi entah bagaimana ceritanya dia malah mengatakan akan menikah dengan putera Tuan Erlan yang sebenarnya saat itu saya tidak mengetahui siapa Noah sebenarnya. Setelah saya menyelidiki lebih jauh, saya pun menemukan fakta bahwa Noah adalah putera tunggal dari Tuan Erlan Alexander. Jadi saya datang kemari untuk memastikan semuanya." Ujar Pak Andre.
Erlan terdiam, berbagai pertanyaan mulai muncul dibenaknya.
"Saya hanya datang untuk mengingatkan, semoga Sherly tidak memanfaatkan kesempatan terhadap putera anda hanya untuk mendapat status kewarganegaraannya saja." Lanjut Pak Andre.
"Kalau begitu, anda lebih baik menunggu disini sampai Sherly kembali. Dia tengah pergi bersama isteri saya. Kita berdua bisa menginterogasinya." Ucap Erlan. "Tapi lebih baik anda menunggu di ruang kerja saya saja." Lanjut Erlan dibalas anggukan Pak Andre.
Sementara di salon langganan Bella, Sherly tengah mendapat perawatan lengkap. Mulai dari merapikan rambut hingga melakukan perawatan kulit juga pedicure.
Clara tersenyum dan mengangguk. Sementara Sherly hanya terdiam.
"Sherly, kamu sekarang sudah menjadi anggota keluarga Alexander. Dan Mama harap kamu bisa menerima Noah dengan segala keanehannya." Ucap Bella.
Sherly masih saja terdiam.
"Apa kau tahu Sherly? Sejak dulu, Mama ingin sekali memiliki anak perempuan setelah Noah berangkat ke Amerika untuk melanjutkan pendidikannya. Tapi Tuhan nyatanya tak kunjung memberikan Mama kesempatan untuk bisa mengandung. Dan sekarang, Mama bahagia sekali karena langsung diberikan dua puteri yang sangat cantik." Ujar Bella.
"Mama bisa aja." Ucap Clara lalu pamit pergi ke kamar kecil.
Kini, tinggal Sherly dan Bella duduk berdua sambil menikmati pijatan di kepala mereka.
"Ma, aku boleh nanya?" Ucap Sherly.
"Tentu saja." Balas Bella.
"Ma, gimana kalau aku hanya memanfaatkan Noah?" Tanya Sherly to the poin.
Bella sontak menoleh dan menatap Sherly dengan lekat.
"Mama yakin kamu orang baik. Kamu tidak akan melakukan sesuatu yang akan merusak citra kamu sendiri." Balas Bella santai.
__ADS_1
Sherly menghela nafas panjang.
'Maaf Ma, aku tidak sebaik yang Mama pikirkan.' ucap Sherly dalam hati.
Setelah berjam-jam melakukan perawatan, ketiganya lalu kembali pulang ke rumah. Dalam perjalanan pulang, Sherly semakin berpikir bahwa ia ingin mengakhiri semua sandiwara yang ia lakukan. Ia tidak ingin menipu keluarga Alexander yang sudah sangat baik padanya.
'Aku akan mengatakan kebenarannya pada semua orang saat aku tiba di rumah nanti.' pikir Sherly.
Mobil yang mereka tumpangi, akhirnya tiba di rumah. Bella dan Clara langsung berjalan masuk. Sementara Sherly masih di dalam mobil membereskan barang-barangnya. Saat turun dari dalam mobil, seorang pelayan menghampiri Sherly.
"Nona Sherly, tolong ikut dengan saya." Ucap pelayan itu.
Sherly tanpa ragu mengikuti langkah pelayan itu. Tanpa disengaja, Noah yang tengah duduk di halaman depan melihat saat pelayan itu mengajak Sherly pergi. Noah pun bergegas mengikuti langkah pelayan itu dan Sherly.
Pelayan itu membawa Sherly ke dalam ruang kerja Erlan. Saat Sherly masuk ke dalam ruangan itu, ia terkejut saat mendapati bahwa ada Pak Andre dari pihak imigrasi yang duduk bersama Erlan.
"A-ada apa ini?" Tanya Sherly gugup.
"Sherly, saya ingin kamu menjelaskan semua tentang asal usul kamu." Ucap Erlan. "Kamu sepertinya sudah tahu, siapa orang yang ada dihadapanku ini. Dia mengatakan padaku, bahwa kau memanfaatkan Noah untuk mendapatkan status kewarganegaraan mu. Apa itu benar?" Tanya Erlan.
Sherly menunduk, ia merasa begitu malu. Tak tahu harus mulai menjelaskan dari mana.
"A-aku..." Sherly semakin gugup.
"Apa kau tega membohongi semua keluarga Alexander demi keuntungan mu sendiri?" Tanya Pak Andre. "Aku memberimu saran untuk membatalkan pernikahanmu dan kembali ke negara asal mu. Keluarga Alexander adalah keluarga terpandang di negara ini. Dan aku yakin kau orang yang baik dan tidak akan memanfaatkan orang lain."
Sherly menunduk, ia memang berniat untuk mengatakan semuanya. Tapi, tidak dengan cara seperti ini. Jujur saja, sejak awal bertemu, Sherly memang sudah menyukai Noah. Tapi, dia begitu pandai menyimpan perasaannya.
"A-aku..." Sherly semakin terbata-bata.
"Aku mencintai Sherly." Ucap Noah tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu.
"Ha...!" Sherly begitu terkejut dengan ucapan Noah.
"Sherly tidak pernah memaksa atau memanfaatkan aku untuk kepentingannya. Aku mau menikah dengan Sherly karena aku mencintainya." Lanjut Noah dengan serius.
Sherly semakin terdiam, ia tak dapat berkata-kata. Jantungnya berdegup kencang setelah mendengar ucapan Noah.
'Apa dia serius dengan ucapannya?' pikir Sherly.
"Noah, Papa hanya...."
"Sudah Pa. Tidak perlu dibicarakan lagi. Sudah aku katakan, bahwa aku mencintai Sherly dan kami akan menikah besok." Ucap Noah menyela ucapan Erlan. "Papa hanya perlu merestui pernikahanku dengan Sherly. Itu saja pintaku." Lanjut Noah seraya menarik tangan Sherly keluar dari ruangan itu.
Saat sudah keluar dari dalam ruangan itu, dengan cepat Noah melepaskan genggaman tangannya pada Sherly lalu pergi menjauh.
'Hahaha Sherly... Sherly... Sadarlah! Kenapa kau bisa berpikir bahwa Noah mencintaimu? Dia hanya kasihan padamu dan ingin membantumu. Itu saja.'
__ADS_1
Bersambung ....