NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Tidak Bosan


__ADS_3

Clarissa keluar dengan menebar penuh senyuman pada wartawan yang menunggunya di depan kamar. Para petugas keamanan hotel tak mampu menghalangi para wartawan yang begitu banyak.


"Bukankah anda Nona Clarissa, adik dari istri Tuan Erlan?"


"Apa anda adalah selingkuhan Tuan Erlan?"


"Sudah berapa lama anda berselingkuh dengan Tuan Erlan?"


"Kenapa anda....."


Dan masih banyak pertanyaan yang lainnya.


Clarissa berdiri dihadapan kamera yang menyoroti setiap gerak-geriknya.


Clarissa dengan sengaja menampilkan bagian lehernya yang dipenuhi tanda merah. Membuat para wartawan berbisik-bisik dan semakin berspekulasi tentang apa yang sudah terjadi di kamar.


"Tuan Erlan memang berselingkuh dengan Tuan Erlan." Mereka berbisik-bisik.


Clarissa tersenyum sempurna kemudian mulai berbicara.


"Seperti yang kalian lihat. Aku dan Erlan memang mempunyai hubungan spesial."


Para wartawan semakin berbisik-bisik.


"Berarti anda mengakui perselingkuhan anda dengan Tuan Erlan?" Tanya salah seorang wartawan.


Clarissa tertawa, tingkahnya semakin membuat para wartawan bingung.


"Hubunganku dan Erlan tidak bisa dinamakan perselingkuhan, karena kami memang saling mencintai jauh sebelum Bella datang dengan membawa anaknya dan merusak kebahagiaan kami berdua. Aku dan Erlan sudah dijodohkan. Tapi karena suatu hal, dia malah menikah dengan Bella." Ucap Clarissa percaya diri.


"Bukankah justru Nona Bella yang merupakan wanita yang dijodohkan dengan Erlan dari dulu?"


Lagi-lagi Clarissa tertawa mendengar pertanyaan yang diajukan seorang wartawan.


"Aku tidak mau berkomentar lagi. Yang jelas sudah ku katakan bahwa aku dan Erlan saling mencintai. Kami tidak berusaha menutupi hubungan kami. Bahkan aku sering bertemu Erlan seperti ini. Jika kalian ingin datanya, datang saja ke hotel X. Disana ada bukti bahwa aku dan Erlan pernah menginap. Bahkan ada juga di hotel Y. Dan aku tidak akan menutupi berita bahagiaku pada kalian semua. Sekarang aku tengah mengandung anak Erlan. Jadi sebentar lagi kami akan menikah." Ucap Clarissa sombong.


"Lalu bagaimana dengan nasib Nona Bella?"


"Aku tidak tahu, mungkin saja dia akan bercerai dengan Erlan. Atau dia bisa berbagi suami denganku." Jawab Clarissa lalu melenggang pergi.


Para wartawan kembali berbisik-bisik setelah kepergian Clarissa.


Sementara itu di dalam kamar....

__ADS_1


"Kenapa kau bisa ada disini?" Tanya Bella kesal seraya memandangi tubuh suaminya yang bertelanjang dada itu.


"Sayang, akan aku jelaskan." Jawab Erlan.


"Aku akan percaya padamu. Tapi aku hanya heran kenapa...."


Belum selesai Bella berbicara, Erlan sudah menarik tubuh Bella hingga terjatuh ke atas tempat tidur.


"Kau mau melakukan apa?" Teriak Bella.


"Aku akan menjelaskan semuanya nanti sayang. Tapi sekarang tolong bantu aku." Ucap Erlan memelas.


"Bantu bagaimana?" Tanya Bella bingung.


"Entah karena kau memang polos atau kau hanya berpura-pura polos. Tapi aku tidak perduli, yang penting sekarang bantu aku menyalurkan hasrat ku." Ucap Erlan lagi seraya mulai menciumi Bella.


"Ummmm... Lepaskan." Ucap Bella berusaha menghindari Erlan.


Namun semakin ia berontak membuat Erlan semakin mengeluarkan tenaganya. Entah dari mana ia mendapatkan tenaganya, sementara saat bersama Clarissa tadi dia begitu lemah sampai tak bisa berbuat apa-apa.


"Sayang, wanita itu sepertinya telah memberiku obat per*ngs*ng dengan dosis yang tinggi. Aku bisa gila jika kau tidak membantuku. Aku sudah berusaha menahan diriku sejak tadi. Aku menjaga diriku hanya untuk dirimu. Maafkan aku karena kau harus melihat adegan tadi." Erlan berucap sambil bibir dan tangannya perlahan menyentuh tubuh Bella.


Perlahan Bella akhirnya memberikan apa yang Erlan butuhkan. Ia hanya tak menyangka bahwa Erlan mampu bertahan dengan godaan yang diberikan Clarissa. Bahkan Clarissa sudah begitu tel*nj*ng. Namun tak mampu membuat Erlan sampai tergoda.


"Terima kasih karena sudah mempercayaiku." Balas Erlan.


Keduanya berbaring di tempat tidur dengan tubuh yang dipenuhi peluh. Bella membaringkan kepalanya di dada Erlan. Sementara tubuh mereka tertutupi oleh selimut yang tebal.


"Aku menerima pesan darimu yang memintaku datang kemari. Jadi aku tidak pernah menaruh curiga karena pesan itu berasal dari nomor ponselmu langsung. Jadi siapa yang salah?" Ucap Erlan seraya mencubit hidung Bella yang memang mendongak ke arahnya.


"Maaf, semuanya memang salahku karena tak menjaga ponselku dengan baik." Balas Bella.


Keduanya berangkulan hingga akhirnya tertidur.


Erlan terbangun saat mendengar ketukan di pintu. Ia melihat ke arah dinding yang terdapat sebuah jam yang menunjukkan angka empat.


"Sudah sore rupanya." Ucap Erlan seraya bangun dan mengenakan baju mandi.


Erlan kemudian membuka pintu dan mendapati Pak Bimo tengah berdiri dengan tegap.


"Ada apa?" Tanya Erlan dengan raut wajah dingin.


"Maaf karena mengganggu Tuan Muda. Tapi ada berita yang....."

__ADS_1


"Ayo masuk." Ucap Erlan menyela ucapan Pak Bimo.


Pak Bimo sekilas melirik ke arah tempat tidur dimana Bella tengah berbaring dengan hanya kepalanya yang menyembul dibalik selimut.


Seketika Pak Bimo terkejut saat matanya beralih melihat Erlan yang berdiri dengan tatapan yang dingin dan mengancam pada Pak Bimo.


"Beraninya kau melirik wanitaku yang tengah tidur." Ucap Erlan.


"Ti-tidak Tuan Muda, saya hanya...."


"Sudah diam. Pelan kan suaramu. Aku tidak mau dia terbangun." Lagi-lagi Erlan menyela ucapan Pak Bimo. "Sekarang katakan padaku, ada apa?" Lanjut Erlan.


"Media massa telah dipenuhi berita tentang perselingkuhan Tuan Muda dan Nona Clarissa." Ucap Pak Bimo seraya memberikan sebuah tablet pada Erlan.


Erlan mulai melihat berbagai berita yang dikatakan Pak Bimo.


"Apa-apaan ini?" Teriak Erlan hingga membuat Bella terbangun.


Mendapati dirinya yang hanya mengenakan selimut membuat Bella kembali menutup tubuhnya bahkan sampai kepalanya. Erlan yang menyadari hal itu memerintahkan Pak Bimo agar segera pergi.


"Kau boleh pergi, segera hilangkan berita ini. Dan cari bukti sebanyak mungkin agar aku keluar dari situasi ini." Titah Erlan.


"Baik Tuan Muda, akan segera saya lakukan." Balas Pak Bimo lalu pergi.


Erlan berjalan mendekati Bella yang masih menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Ayo cepat bangun, atau kau mau menggodaku untuk melakukannya lagi. Kalau begitu marilah...."


"Tidaaakk...." teriak Bella seraya dengan segera duduk sambil memegangi selimut agar menutupi dadanya.


Erlan tertawa dan kembali mencium Bella. Saat ciumannya hendak menyasar pada leher Bella, dengan cepat wanita itu menghindar.


"Apa kau tidak bosan?" Protes Bella sambil merapikan selimutnya yang melorot.


"Aku tidak akan pernah bosan jika bersamamu." Balas Erlan yang membuat pipi Bella memerah. "Ayo bangun, bersihkan dirimu. Kita harus segera pulang, aku ingin kau masak yang banyak untukku." Titah Erlan.


"Tidak mau, aku masih betah disini." Balas Bella kembali membaringkan dirinya.


"Kau benar-benar sengaja menggodaku." Ucap Erlan membuka baju tidurnya lalu kembali masuk ke dalam selimut dan menindih tubuh Bella.


"Aampuunnn, jangan lagi." Protes Bella.


"Sudah terlambat." Ucap Erlan seraya kembali menciumi Bella berkali-kali lagi.

__ADS_1


__ADS_2