NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Bertemu


__ADS_3

Noah berjalan keluar bandara menuju mobilnya dengan langkah yang gontai. Ia menyesali bahwa dirinya tak sempat memberi tahu Sherly bahwa ia mencintai Sherly.


'Entah sejak kapan rasa itu bisa ada. Tapi aku baru menyadarinya sekarang.'


Noah masuk ke dalam mobil dengan pikiran yang tak menentu. Kenangan tentang Sherly kembali terlintas dipikirannya. Bagaimana ia bisa bertemu gadis itu untuk pertama kali. Bagaimana untuk pertama kalinya ia bisa menyukai seorang gadis.


Mobil Noah kembali masuk ke dalam halaman kediaman Alexander setelah 40 menit berkendara dari bandara. Ia keluar mobil dengan wajah yang kusut. Ia lalu berjalan masuk ke dalam rumah yang masih ramai dengan orang-orang dan keluarga yang merayakan pernikahan Clara dan Jimmy. Semua orang menatap Noah yang baru saja datang. Bella berlarian mendekati puteranya.


"Mana menantu Mama?" Ucap Bella sambil melihat ke arah pintu.


Noah tak menjawab, ia justru memilih merebahkan dirinya di sofa.


"Pestanya belum selesai juga?" Tanya Noah mengalihkan pembicaraan.


Bella yang seolah mengerti tentang duka yang dirasakan puteranya berbisik ke arah Erlan yang juga ikut berdiri di sampingnya. Erlan mengangguk lalu berjalan meninggalkan keduanya menuju para tamu undangan.


Satu persatu tamu undangan pun pergi. Kini di rumah, hanya tersisa keluarga inti, termasuk Jimmy. Tuan Besar Adam duduk di samping Noah. Semua orang duduk melingkar di sofa ruang keluarga. Pandangan mereka fokus ke arah Noah. Belum sempat Tuan Besar Adam bertanya, Noah sudah berbicara lebih dulu.


"Dia sudah pergi, dan dia tak akan kembali. Dia berasal dari negara tetangga dan tidak memiliki siapapun. Kedua orang tuanya telah meninggal. Dia datang ke negara ini untuk mencari kehidupan baru. Namun, tahun ini dia sudah melewati batas masa tinggalnya. Jadi, dia harus di deportasi." Ucap Noah menghela nafas panjang.


Noah mengubah posisi duduknya dengan menunduk dengan kedua siku bertumpu pada pahanya, sedangkan kedua tangannya saling mengait dengan dagu yang bertumpu pada kepalan tangannya.


"Aku tak tahu sejak kapan aku mulai mencintainya. Tapi, sejak awal bertemu dengannya, gadis itu memang sudah menarik perhatianku. Aku bahkan rela menyamar jadi sekretarisnya demi tetap berada di dekatnya dan menyusahkan Jimmy dengan pekerjaan yang semakin menumpuk." Ucap Noah dengan menyisipkan tawa yang justru terlihat menyedihkan.


Noah menghela nafas panjang, sementara semua orang terdiam dan terus membiarkannya bicara.


"Hari ini aku bahkan bertindak bodoh dengan mengejarnya sampai ke bandara. Padahal aku sendiri belum tahu apakah dia juga memiliki perasaan yang sama sepertiku." Lanjut Noah kemudian kembali menyandarkan kepalanya ke sofa.


Bella menitikkan air mata. Membayangkan rasa sakit yang dirasakan puteranya itu.


"Sayang, gadis itu pasti juga memiliki perasaan yang sama denganmu." Ucap Bella yang membuat Noah kembali duduk tegak. "Coba lihat. Sekarang dia pergi meninggalkan pernikahan yang dapat menyelamatkannya agar tidak di deportasi. Tapi, nyatanya dia memilih pergi karena pasti dia tak ingin menyusahkan keluarga kita dan juga karena dia jatuh cinta padamu. Dan dia tak ingin terikat dengan pernikahan palsu." Lanjut Bella.


Mata Noah awalnya berbinar, tapi tampak kembali redup.


"Kalaupun benar dia mencintaiku, semuanya sudah terlambat. Dia sudah pergi dari negara ini. Dan aku tidak tahu harus mencarinya dimana. Negara tetangga itu luas, dan tak akan mudah mencari seseorang yang bahkan aku tidak tahu alamat aslinya." Balas Noah.


"Siapa bilang." Ucap Erlan yang membuat semua orang beralih menatapnya. "Papa yakin sekali kalau Sherly belum pergi dari negara ini." Lanjut Erlan.


"Maksud Papa?" Tanya Noah.


"Dia pasti akan kembali ke kota sebelah dan membereskan semua berkas-berkas di kantor imigrasi. Dia juga pasti lebih dulu kembali ke kantor untuk membereskan barang-barangnya." Jawab Erlan.


Noah langsung berdiri dan mendekati Erlan.


"Apa itu artinya aku masih bisa menemuinya?" Tanya Noah.


"Tentu saja." Jawab Erlan yang langsung dipeluk Noah.


"Terima kasih Pa. Aku akan berangkat sekarang juga."


"Pergilah kejar cintamu. Jangan biarkan dia pergi atau kau akan menyesal." Ucap Erlan.


Noah mengangguk penuh senyuman.


"Jimmy segera hubungi pilot pribadi Papa. Minta dia bersiap-siap untuk membawaku ke kota Y. Aku akan berangkat sekarang juga." Titah Noah.


"Siap Boss." Jawab Jimmy cepat.


Sebelum pergi, Noah memeluk Bella dan juga Erlan serta Sang Opa.

__ADS_1


"Doakan agar aku bisa membawa kembali menantu kalian." Ucap Noah sumringah.


"Tentu saja." Jawab Bella dan Erlan serta Tuan Besar Adam bersamaan.


Setelah Noah pergi, Erlan meraih pinggang Bella.


"Aku tak ingin putera kita mengalami hal yang dulu pernah aku rasakan kala kehilangan jejak akan dirimu. Aku ingin dia bahagia dengan wanita manapun yang dia cintai. Tak perduli siapapun wanita itu. Selama Noah kita bahagia, maka aku juga akan bahagia." Ucap Erlan.


"Terima kasih sayang. Aku mencintaimu." Ucap Bella.


"Aku lebih mencintaimu." Balas Erlan.


***********


Noah tiba di kota Y, pukul 13:00. Sesuai dengan yang dikatakan Erlan, Noah langsung menuju kantor. Ia bepergian seorang diri karena tak mungkin merepotkan Jimmy yang memang tengah menjadi pengantin baru. Noah bergegas menuju kantor setibanya di bandara. Saat masuk ke dalam mobil, dengan cepat Noah mengambil ponsel dan mencoba menelepon Sherly.


'Nomor yang anda tuju, tidak dapat dihubungi.'


"Aaarrrgghh..." Noah berteriak di dalam mobil.


Pikiran Noah semakin tak karuan, ia hanya bisa berharap bahwa Sherly belum berangkat ke luar negeri. Noah kembali menelepon seseorang di kantor.


"Megan, apa Sherly ada di kantor?" Tanya Noah.


"A-ada Tu-tuan." Balas Megan yang baru saja mengetahui bahwa Noah adalah anak dari CEO Xander Group.


Sebelumnya semua orang di kantor memang menganggap bahwa Noah adalah seorang sekretaris. Namun, saat berita pernikahan Noah dengan Sherly di publish ke publik, identitas Noah yang sebenarnya mulai diketahui orang banyak termasuk para karyawan yang bekerja di kantor.


Sementara itu, Sherly tengah membereskan barang-barangnya di ruang kerjanya. Para karyawan yang ada di depan ruangannya mulai berspekulasi yang tidak-tidak terhadap dirinya. Sejak pertama Sherly datang ke kantor tadi semua mata sudah tertuju padanya. Kebanyakan para karyawati yang mulai bergosip tentangnya.


"Lihat tuh, gak jadi nikah sama pewaris Xander Group. Siapa sangka Tuan Noah nyatanya putera tunggal Tuan Erlan pemilik kantor kita ini dan belum lagi kantor-kantor yang lainnya."


"Pasti Tuan Noah sudah tahu kalau Sherly itu hanya mau memanfaatkan dia."


"Kasihan, sudah batal nikah, di pecat, dan gak tahunya mau di deportasi."


Dan masih banyak ucapan-ucapan lainnya yang membuat telinga Sherly memanas. Namun, ia tak mau menggubris ucapan orang-orang itu dan memilih melanjutkan berkemas-kemas. Setelah selesai, Sherly membawa keluar sebuah map warna biru dan berjalan mendekati sebuah meja tempat seorang karyawan bernama Roni duduk.


"Roni, tolong berikan dokumen ini pada atasan, aku....."


"Sherly....." Teriak seseorang yang membuat jantung Sherly berdegup kencang.


"Sherly...." Teriakan itu menggema di seluruh ruangan yang membuat para karyawan yang penasaran berdiri.


'Noah...!'


Semua karyawan terduduk saat melihat sosok yang berteriak adalah Noah. Noah berdiri dengan jarak sepuluh meter dari Sherly. Keduanya saling menatap dari kejauhan. Semua karyawan terdiam dan melihat ke arah keduanya.


"Kenapa kau pergi begitu saja?" Teriak Noah.


"Lalu kau mau aku melakukan apa?" Balas Sherly berteriak.


"Kau bodoh. Wanita mana yang meninggalkan pengantin pria seorang diri menunggu di tempat pernikahan. Kau membuatku malu." Teriak Noah lagi.


"Aku tidak bisa menipu keluargamu." Balas Sherly.


"Apa itu artinya kau menyukaiku?" Teriak Noah seraya berjalan pelan mendekati Sherly.


"Stop. Diam disitu dan jangan kemari. Atau..."

__ADS_1


"Atau apa?" Noah kembali berteriak. "Atau kau akan menciumku di hadapan semua orang." Lanjut Noah.


Mata Sherly terbelalak, begitu juga dengan para karyawan yang mendengar perdebatan keduanya.


"Bicara apa sih kamu?" Ucap Sherly.


"Bukankah malam itu saat kau tidur, kau mencuri ciuman pertamaku. Kau menarikku dalam pelukanmu dan menciumku dengan paksa." Ujar Noah.


Semua karyawan mulai berbisik-bisik.


"Omong kosong." Teriak Sherly dengan pipi memerah.


'Berarti malam itu aku benar-benar menciumnya. Aku pikir itu hanya mimpi.' ucap Sherly dalam hati.


Noah sudah berdiri di depan Sherly dan memandangnya penuh senyuman.


"Lihat, pipimu memerah. Apa kau sudah mengingatnya?" Ucap Noah lagi.


Sherly terdiam, ia menunduk dan tak mau menatap Noah karena malu.


"Aku mau mengambil ciuman pertamaku darimu." Ucap Noah dengan mengangkat dagu Sherly.


"Maksud...."


Cup!


Belum selesai Sherly berbicara, Noah sudah menciumnya dihadapan semua karyawan yang tampak kaget dengan tindakan yang dilakukan Noah. Cukup lama Noah mencium Sherly hingga akhirnya melepaskan ciumannya. Perlahan Noah berlutut dan mengeluarkan cincin dari dalam saku celananya.


"Sherly, aku tak tahu sejak kapan aku jatuh cinta padamu. Tapi, aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu. Menikahlah denganku?" Ucap Noah serius.


Sherly terdiam, ia tak menyangka ternyata Noah juga mencintainya.


"Aku gak mimpikan?" Tanya Sherly.


"Cubit pipimu sendiri. Kalau sakit, berarti kau tidak sedang bermimpi." Jawab Noah.


"Kenapa kau menyukaiku? Aku tidak cantik, tidak pintar, dan tidak kaya. Aku bahkan tidak memiliki keluarga." Ucap Sherly.


"Itu karena aku sudah memiliki semuanya. Aku tampan, aku pintar, dan aku kaya, dan aku juga punya keluarga besar yang bisa menjadi keluargamu juga. Lantas apa yang aku cari lagi? Karena itu, kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri, itu sudah cukup untukku. Sekarang jawablah, apakah kau mau menjadi the next Nyonya Alexander? Lutut ku sudah sakit."


Sherly mengangguk dengan air matanya yang jatuh berlinang. Noah berdiri dan mengusap air mata di pipi Sherly.


"Aku heran. Kenapa kalian wanita ini selalu saja menangis. Entah itu sedih ataupun bahagia." Ucap Noah.


"Kau tidak akan mengerti." Balas Sherly.


Noah langsung memeluk Sherly.


"Aku mencintaimu." Ucap Noah.


"Aku juga mencintaimu." Balas Sherly.


Semua karyawan tetap saja diam, tak berani bersuara sedikitpun.


"Apakah kalian semua mau aku pecat. Cepat bersorak dan bertepuk tangan, karena Boss besar kalian akan segera menikah." Ucap Noah.


Setelah itu semua karyawan baru bersorak dan bertepuk tangan. Sementara Sherly hanya bisa tertawa.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2