
Dua hari berikutnya, Noah mulai sering menghilang saat jam makan siang karena takut ditraktir oleh Sherly. Sejak hari pertama berpura-pura bekerja sebagai sekretaris Sherly, Noah selalu diajak makan bersama oleh Sherly karena hasil kerjanya yang memuaskan.
Hari minggu pagi, Noah dan Jimmy tengah melakukan jogging di taman yang di pusat kota tempat mereka tinggal sekarang. Satu jam berlalu, mereka akhirnya duduk dibawah sebuah pohon yang rindang. Menikmati semilir angin yang berhembus. Sambil memakan roti sebagai pengganjal perut yang tadinya di beli Jimmy di minimarket yang berada dekat dengan Taman Kota.
Noah meminum air mineral yang dibelikan Jimmy. Sesekali Noah mengelap wajahnya yang berkeringat dengan tissue.
"Apa kau tak tertarik sedikitpun dengan Clara? Sejak hari pertama kita mulai bekerja di kantor, dia selalu perhatian padamu. Bahkan setiap harinya dia menyiapkan makan siang untukmu. Dan kau malah memberikannya untuk OB. Dia wanita cantik, baik dan pintar masak." Ucap Jimmy.
"Dari mana kau tahu dia pintar masak? Apa kau memakan makanan yang selalu diberikannya? Bukankah aku memintamu untuk memberikannya pada OB." Balas Noah santai.
"Kau benar-benar tidak berperasaan. Setidaknya hargailah sedikit usaha wanita itu. Dia sudah...."
"Kalau kau suka, silahkan kejar dia." Ucap Noah menyela Jimmy.
"Sudahlah." Ucap Jimmy seraya kembali mengunyah roti.
Cukup lama keduanya duduk-duduk, kadang-kadang sesekali Jimmy berpose didepan kamera lalu menguploadnya ke media sosial.
(Jogging...) Tulis Jimmy di akun sosial medianya.
"Apa kau harus mengupload setiap kegiatanmu?" Tanya Noah yang duduk bersandar.
"Begitulah zaman sekarang. Kau harus selalu memposting setiap kegiatanmu agar diketahui orang lain." Balas Jimmy.
"Maksudmu pamer?" Ucap Noah.
Jimmy tak menjawab, ia sibuk berbalas komentar dengan orang-orang yang mengomentari foto yang dipostingnya. Orang-orang lebih banyak mengomentari ketampanan Noah yang terlihat di foto yang diupload Jimmy.
"Lihat, orang-orang bukannya fokus padaku, tapi malah fokus dengan wajahmu yang tak sengaja ikut terfoto." Ucap Jimmy menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan foto selfie Jimmy dan terlihat Noah dibelakangnya tampak dari samping.
Ada begitu banyak komentar tentang ketampanan Noah.
'Salfok dengan yang dibelakang.'
'Yang belakang lebih ganteng.'
'Mau dong nomor hp yang dibelakang.'
Dan masih banyak komentar yang lainnya. Jimmy mengomel terus-terusan membuat Noah kesal.
"Siapa yang mengizinkanmu mengunggah foto diriku?" Ucap Noah dengan raut wajah yang marah.
"Maafkan aku Bos, aku tidak sengaja." Balas Jimmy.
Selama ini, Noah memang tak gemar memposting fotonya di media sosial. Ia hanya memposting foto dirinya jika bersama kedua orang tuanya. Itu pun dengan emoticon yang menutup wajahnya. Noah seolah ingin menjadi orang yang tak di kenal di negaranya. Padahal di negara luar, nama Noah terkenal akan kesuksesannya di bidang musik.
"Sudahlah aku lapar." Ucap Noah.
Tiba-tiba...
"Hey.... Jogging juga?" Ucap Sherly yang tiba-tiba ada dibelakang mereka.
Noah terdiam melihat penampilan Sherly yang berbeda. Sherly mengenakan celana pendek dan baju tanpa lengan. Baju yang ia kenakan membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas. Kulit Sherly sedikit memerah karena terkena sinar matahari pagi yang mulai panas.
Sherly tampil tanpa mengenakan kacamata dan tanpa polesan make up diwajahnya.
'Sangat cantik.' ucap Noah dalam hati.
Jimmy yang duduk disamping Noah juga tampak melongo. Ia sama sekali tak menyadari bahwa Sherly adalah gadis yang lumayan cantik dan memiliki tubuh yang seksi.
"Hei, kenapa diam?" Ucap Sherly lagi.
"Aku lapar." Ucap Noah sembarangan bicara.
"Wah, kalau begitu ayo aku traktir." Ucap Sherly.
__ADS_1
Noah baru tersadar saat Sherly mengatakan mau mentraktirnya.
"Ah tidak-tidak. Aku akan sarapan di rumah saja." Ucap Noah menolak.
'Aku tidak mau, nanti bisa-bisa diminta makan kaki ayam.' pikir Noah.
"Tenang saja. Kali ini bukan mi ayam. Tapi gado-gado." Ucap Sherly. "Kalian pasti tahu gado-gado kan? Ayo cepat ikut aku. Kalau tidak, aku akan memecat mu." Ancam Sherly seraya berjalan lebih dulu.
Noah dan Jimmy berdiri berbarengan lalu berjalan perlahan dibelakang Sherly.
"Cepat katakan padaku. Apa itu gado-gado?" Bisik Noah.
"Tenang saja. Itu semacam salad sayuran yang diberi saus kacang." Jawab Jimmy.
"Syukurlah." Ucap Noah mengusap dadanya.
Jimmy tertawa dalam hati, ia tahu betul bahwa Noah bukan tipe orang yang pernah makan makanan warung di pinggir jalan, termasuk makanan tradisional. Meski dulu saat masih kecil Noah hidup kekurangan bersama Mamanya, Bella, tapi dia tak pernah makan makanan yang tak dimasak oleh Bella.
Bella selalu menyiapkannya makanan ala koki di rumahnya dulu sebelum dirinya diusir dari rumah. Jadi, sedari kecil, Noah memang terbiasa makan makanan sehat sepeti salad ataupun kue-kue buatan Mamanya sendiri.
Tepat pukul sembilan pagi, mereka berhenti di sebuah warung gado-gado di pinggir jalan.
"Disini tempatnya?" tanya Noah.
"Iya. Ini nih warung gado-gado langganan aku." Jawab Sherly. "Ayo masuk."
Sherly dan Jimmy berjalan masuk ke dalam warung tersebut, sementara Noah masih berdiri diluar.
"Woy, katanya lapar, ayo sini." teriak Sherly.
Noah tampak ragu-ragu untuk masuk ke dalam warung itu. Kemudian ia duduk dan melihat poster bergambar menu-menu yang tersedia. Selain gado-gado, warung tersebut juga menyajikan menu lainnya berupa rujak.
"Mana, yang paling banyak dicari?" tanya Noah menunjuk poster bertuliskan jenis rujak dan gado-gado yang ada.
"Aku." jawab Sherly, lalu terbahak.
"Jangan mancing-mancing, beneran aku beli nanti." Ucap Noah.
Kali ini Jimmy yang terbahak.
Sherly menoleh sekilas ke arah Jimmy dengan mimik kesal. "Saya pecat kamu." Ucap Sherly yang membuat Jimmy langsung terdiam. "Rujak cingur mau?" tawar Sherly pada Noah.
"Apaan itu?" Tanya Noah lagi.
Jimmy terlihat menahan tawa, ia tak dapat membayangkan bagaimana ekspresi Noah jika mengetahui apa itu rujak cingur.
"Kamu beneran gak tahu apa itu rujak cingur?" Tanya Sherly.
Noah menggeleng.
"Ya ampun, kalian orang asli negara ini gak sih. Aku aja orang yang berasal dari negara tetangga tahu semua makanan enak disini."
Noah dan Jimmy saling pandang. Keduanya tampak bingung saat Sherly mengatakan ia bukan orang asli negara tempat dia tinggal saat ini.
"Aku yakin kalian bertanya-tanya, aku berasal dari mana? Dan kok bisa aku fasih berbahasa negara ini." Ucap Sherly. "Tapi, sudahlah kalian tidak perlu tahu. Oh ya, rujak cingur itu adalah makanan yang sejenis dengan gado-gado. Hanya saja rujak cingur itu terbuat dari moncong sapi." Ujar Sherly.
Sontak mata Noah melotot, ia begitu kaget saat Sherly mengatakan semuanya.
"Mo-moncong sapi?" Tanya Noah memastikan.
"Iya." Balas Sherly. "Bagaimana? Mau rujak cingur atau gado-gado?" Tanya Sherly lagi.
"Boleh tidak, aku tidak jadi makan." Ucap Noah.
"Nggak boleh. Kamu ini kenapa sih, gak pernah menghargai ketulusan bos kamu." Sherly tampak kecewa.
__ADS_1
"Bu-bukan begitu...." Balas Noah.
"Enak kok." Ucap Jimmy berusaha membujuk Noah dengan berbisik.
"Awas kalau kau bohong." Bisik Noah.
Jimmy mengangkat dua jarinya tanda bersumpah.
"Ada apa?" Tanya Sherly.
"Tidak ada apa-apa. Aku pesan gado-gado saja." Ucap Noah.
Akhirnya, ketiganya memilih gado-gado. Tak menunggu lama, pesanan mereka pun datang.
"Silakan dinikmati, jangan lupa berdoa," ucap Sherly semanis mungkin, sambil menyerahkan seporsi gado-gado pada Noah.
Awalnya Noah terlihat ragu-ragu untuk memakan gado-gado yang ada dihadapannya. Sherly memandangnya heran.
"Ayo dimakan." ucap Sherly.
"A-aku belum pernah makan ini." balas Noah.
"Apa!" seru Sherly kaget. "Seriusan?" tanya Sherly lagi.
"Iya, ini yang pertama kalinya." jawab Noah.
"Kalau rujak cingur sih wajar kamu gak pernah. Tapi gado-gado?" Sherly terlihat tak percaya.
Noah kemudian perlahan mulai memakan gado-gado tersebut.
"Wow!" Tiba-tiba saja Noah berteriak dan membuat Sherly terlonjak kaget, pun dengan Jimmy.
"Amazing! Luar biasa! Apa ini namanya?" ucap Noah bertanya dengan nada berteriak.
"Gado-gado." jawab Sherly yang mendadak terbata dan bingung.
Sementara Jimmy tampak menahan tawa, sambil terus menikmati gado-gado nya.
"Woww. Makanan yang unik! Rasanya gimana, ya?" Noah mulai mengigit makanan itu dengan gaya yang menurut Sherly lebay, Noah tampak memejamkan matanya.
"Rasanya ... seperti menjadi Bruno Mars. Luar biasa! Tolong pesankan lima porsi lagi, aku mau ketemu dengan lawan bisnisku. Kami akan bertemu nanti siang," lanjut Noah.
"Ha? A-pa?" Sherly mendadak linglung melihat tingkah Noah. Terlebih saat mereka menjadi pusat perhatian.
Jimmy pun tampak mengusap wajahnya melihat tingkah spontan yang dilakukan Noah.
Noah tampak sangat menyukai gado-gado yang dimakannya. Hingga ia memesan porsi kedua.
Sherly dan Jimmy tampak bingung.
'Suka sih suka, tapi kenapa dia bertingkah bodoh seperti itu?' ucap Jimmy dalam hati.
"Jimmy, beneran ya dia pertama kali makan gado-gado?" tanya Sherly.
Jimmy hanya mengangguk, dan memilih diam.
Noah kemudian merogoh ponselnya yang terkenal mahal dengan logo buah itu.
"Hay, Mom, Dad, you should try this food. This is gado-gado, I eat this for the first time, so delicious." (Hai, Mama, Papa, kalian harus coba makanan ini. Ini gado-gado, aku memakannya untuk pertama kali, sangat enak.) ucap Noah sambil mengarahkan wajahnya pada layar ponselnya.
Sherly terlihat semakin bingung dengan tingkah Noah. Jimmy yang menyadari tingkah laku Noah akan semakin mengungkap jati dirinya dihadapan Sherly segera menarik tangan Noah untuk bangun.
"Emmm terima kasih untuk traktirannya Bu Sherly. Kami harus pamit dulu. Noah lupa minum obatnya." Ucap Jimmy kemudian menarik Noah keluar dari warung gado-gado.
Sherly yang bingung tak dapat berkata apa-apa, ia hanya melambaikan tangannya saat Jimmy berjalan keluar.
__ADS_1
"Aneh..." Ucapnya.
Bersambung ....