
Sudah satu minggu Noah berpisah dari orangtuanya yang tengah berbulan madu. Meski setiap hari ia disibukkan dengan kegiatan latihan di sekolah, Noah tetap merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya.
"Noah kenapa?" Tanya Tuan Adam yang melihat Noah tengah bermain piano dengan malas.
Noah tidak menggubris, jemarinya tetap saja menekan tuts-tuts piano dengan lamban. Tuan Adam yang di dorong seorang pelayan mendekat ke arah Noah.
"Noah rindu dengan Mama dan Papa ya?" Tanya Tuan Adam lagi.
"Iya Opa. Ini sudah satu minggu, Mama dan Papa belum pulang juga." Akhirnya Noah mau bersuara.
Tuan Adam mengibaskan tangannya tanda untuk meminta si pelayan meninggalkan dirinya dan Noah berduaan.
Tuan Adam mengelus pucuk kepala cucu kesayangannya itu.
"Bukannya Noah mau punya adik?" Tuan Adam memegang pundak Noah.
"Tentu saja mau. Akan sangat menyenangkan kalau Noah punya adik. Dia akan menjadi teman bermain Noah."
"Kalau begitu bersabarlah. Papa dan Mama Noah kan sudah berjanji untuk kembali sebelum keberangkatan Noah ke Jerman, untuk sekarang apa Noah mau Opa melakukan sesuatu untuk Noah?"
"Hmmmm tidak ada. Tapi... Apa Opa bisa membawakan Noah satu orang anak untuk bermain? Sepertinya Noah sudah terlalu sibuk berlatih musik sampai Noah lupa bagaimana caranya menjadi seorang anak kecil yang senang bermain."
Tuan Adam merasa prihatin terhadap cucunya itu. Memang benar, selama ini Noah tidak pernah terlihat bermain bersama anak seusianya. Noah benar-benar sibuk dengan dunia musiknya.
"Kalau begitu, nanti Opa panggilnya seorang anak perempuan untuk menemani Noah. Kebetulan rumahnya dekat dengan rumah ini. Apa Noah mau?"
"Boleh saja. Tapi kalau bisa ada anak laki-lakinya juga. Karena sepertinya akan canggung jika bermain dengan anak perempuan saja. Apalagi anak perempuan itu taunya cuma main boneka dan masak-masak saja." Balas Noah.
Tuan Adam tertawa seraya mengusap kepala cucu kesayangannya itu.
*******
Kediaman Keluarga Dinata...
Clarissa tengah bersiap-siap hendak pergi ke suatu tempat. Ia menuruni anak tangga ke lantai dasar dengan bersenandung.
Bu Maya yang tengah menonton televisi berdiri dan mendekati Clarissa.
"Mau kemana?" Tanya Bu Maya.
"Mau ke kediaman Keluarga Alexander." Jawab Clarissa santai.
"Untuk apa kau kesana?"
"Ma, aku mau memulai rencana besar ku. Dan langkah pertamaku adalah mendekati Noah."
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Sudahlah Ma. Duduk dan lihatlah apa yang akan terjadi nantinya. Sekarang Mama hanya perlu mendukungku untuk mendapatkan apa yang aku inginkan."
"Tentu saja Mama akan mendukung apapun yang kamu lakukan dan inginkan."
"Mama memang yang terbaik." Sorak Clarissa seraya mencium pipi Bu Maya. "Aku berangkat Ma." Lanjutnya.
Clarissa mulai berjalan keluar rumah dan segera meluncur ke rumah Keluarga Alexander. Ia berhenti di sebuah toko membelikan Noah sebuah alat musik.
"Aku yakin dia akan menyukai ini." Ucap Clarissa kemudian masuk ke dalam mobil dan bergegas menuju Kediaman Alexander.
Butuh waktu tiga puluh menit bagi Clarissa berkendara sendirian menggunakan mobil sporty warna merahnya untuk tiba di Kediaman Alexander.
Clarissa turun dari mobil dan berjalan mendekati pintu depan. Saat pintu dibuka seorang pelayan, terdengar suara anak kecil yang tengah tertawa.
'Apa ada anak kecil lain disini selain Noah?' pikir Clarissa.
Clarissa kemudian melangkahkan kakinya menuju ruang tengah, dimana Noah dan dua orang teman barunya tengah bermain. Sementara Tuan Adam duduk memperhatikan mereka semua.
Noah terlihat tengah bermain monopoli bersama dua anak lainnya. Satu anak laki-laki, dan satu anak perempuan.
"Selamat sore semuanya." Sapa Clarissa.
Semua orang terdiam dan menatap Clarissa.
"Selamat sore." Balas Tuan Adam ramah.
"Maaf Om, saya tiba-tiba datang. Kebetulan tadi lewat sini, sekalian anterin ini untuk Noah." Clarissa menyodorkan bingkisan yang dibelinya tadi.
Tuan Adam hanya mengangguk.
"Noah kemari sebentar. Coba lihat apa yang tante Clarissa bawakan buat Noah." Sambung Clarissa.
"Javi, Lika, sebentar ya. Aku mau kesana sebentar." Ucap Noah pada kedua teman barunya.
Noah berjalan mendekat ke arah Clarissa.
"Ini buat Noah."
"Apa ini?" Tanya Noah.
"Sejujurnya Tante juga tidak tahu apa dan bagaimana cara memainkannya. Tapi penjualnya tadi bilang ini adalah Kalimbas."
"Kalimbas?" Ucap Noah dibalas anggukan Clarissa.
Noah membuka bingkisan yang dibawa Clarissa dan melihat sebuah alat musik yang bernama Kalimbas itu.
"Tante harap Noah suka."
__ADS_1
"Noah tahu cara memainkannya?" Tanya Tuan Adam yang ikut penasaran.
"Sepertinya bisa. Noah cuma perlu mempelajarinya sebentar."
Sesaat Noah memperhatikan alat musik itu dan mulai memainkannya dengan nada yang belum beraturan. Butuh waktu sekitar lima menit, akhirnya Noah mulai dapat memainkan Kalimbas dengan merdu.
Kedua teman baru Noah, Javi dan Lika yang mendengar suara yang dihasilkan Kalimbas mendekat ke arah Noah.
"Javi, Noah hebat ya.." Ucap bocah perempuan bernama Lika.
"Iya, suaranya merdu sekali." Balas Javi.
"Ini adalah sebuah alat musik yang juga dikenal sebagai piano ibu jari, dan ini adalah bagian dari keluarga instrumen perkusi. Alat ini terbuat dari buluh atau ujung, yang kemudian dipetik dengan ibu jari atau jari orang yang bermain dan getaran dari buluh ini kemudian diperkuat melalui kotak resonator berongga atau papan suara untuk menciptakan musik." Ucap Noah menjelaskan.
Dua bocah yang berada didekatnya menganga.
"Maksud kamu apa Noah?" Tanya Javi.
"Sudahlah kalaupun aku jelaskan, kalian berdua tidak akan mengerti. Sekarang, dengarkan saja." Ucap Noah.
Tuan Adam tersenyum melihat tingkah cucunya yang memang terlihat sedikit sombong dan bersikap dingin itu persis seperti Erlan saat masih kecil.
"Terima Kasih Tante Clarissa, Noah suka." Ucap Noah.
'Bagus, aku sudah bisa menarik perhatian anak ini.' pikir Clarissa.
"Bagaimana kalau Tante temenin kalian main?"
Noah tak menggubris, ia mulai sibuk kembali memainkan Kalimbas dan berjalan menjauh diikuti kedua orang temannya. Clarissa terlihat kesal.
"Clarissa..." Panggil Tuan Adam.
"Iya Om." Balas Clarissa.
"Kalau kamu tidak sibuk, apa kau bisa menemani anak,-anak itu dulu. Noah sangat merindukan Mama dan Papanya. Setiap sore sebenarnya dia akan bermain dengan Vino. Tapi kebetulan hari ini sejak pagi tadi Vino ada urusan di kampusnya. Jadi tidak bisa menemani Noah. Apa kamu...."
"Tentu Om. Serahkan semuanya padaku." Potong Clarissa.
Tuan Adam kemudian meminta sang perawat membawanya ke kamar. Tuan Adam ingin mandi dan mengganti pakaiannya. Sementara Clarissa berjalan mendekati dimana Noah dan kedua temannya tengah duduk.
"Hai Noah, bisa kenalkan Tante dengan teman-temanmu?" Sapa Clarissa.
"Tante kan bisa bertanya pada mereka langsung." Jawab Noah cuek.
Clarissa menahan nafas dengan kelakuan keponakannya itu.
'Aku harus sabar demi mendapatkan apa yang aku inginkan.' pikir Clarissa seraya menghela nafas kasar.
__ADS_1