
Minggu pagi, jam dinding menunjukkan pukul sembilan pagi saat Erpan terbangun.
"Hari ini lebih baik, aku ke rumah Bella saja, bermain dengan Noah sekaligus mengambil hati ibunya." ucap Erlan seraya berjalan menuju kamar mandi.
Satu jam berikutnya, Erlan sudah tiba di rumah Bella dengan menyetir mobil sendiri.
Dari dalam mobil, Erlan melihat Bella tengah sibuk menata tanaman hiasnya bersama Noah. Erlan kemudian turun dari dalam mobil dan berjalan mendekat ke arah rumah Bella sambil membawa beberapa paper bag.
"Om Erlaaann...." Teriak Noah membuat Bella berbalik dan menatap Erlan yang tersenyum.
'Dia lagi, dia lagi.' pikir Bella kemudian melanjutkan pekerjaannya lagi.
"Apa ini Om?" Tanya Noah.
"Ini semua buat Noah dan Mama." Ucap Erlan.
"Waah Om Erlan baik ya. Terima kasih Om." Ucap Noah sambil memeluk Erlan.
Erlan membalas pelukan Noah sambil terus menatap ke arah Bella.
"Cinderella, hari ini kau terlihat sangat cantik." Ucap Erlan.
"Cih, dasar buaya."
"Dimana buayanya? Jangan takut sini biar aku yang lawan."
"Hahaha, disini mana ada buaya Om." Ucap Noah.
Erlan mengusap kepala bocah genius itu lembut.
"Om, boleh tidak Noah panggil Om dengan sebutan Papa?" Tanya Noah.
Mata Erlan berbinar, ada perasaan haru dan bahagia sekaligus yang menguasai hatinya.
"Tentu saja." Balas Erlan.
Sementara Bella terlihat tidak suka dengan ucapan Noah.
"Noah, jaga sikap. Dia bukan Papa Noah, jadi jangan panggil dia Papa." Ucap Bella ketus.
"Apa salahnya Ma? Noah hanya ingin punya seseorang yang bisa dipanggil Papa. Selama ini Om Erlan baik sama Noah, Noah sudah merasa Om Erlan ini sudah seperti Papa Noah sendiri." Balas Noah tegas.
"Noah, Mama sudah bilang, dia itu bukan Papa Noah. Jadi Noah tidak boleh. . . "
"Kalau begitu dimana Papa Noah?" Tanya Noah penuh penekanan pada Bella membuat Bella terdiam.
'Jadi selama ini, Noah tidak pernah bertemu Papa nya? Kenapa? Atau jangan-jangan . . . .'
Tiba-tiba suara ponsel Erlan berbunyi, menampilkan nama Pak Bimo tengah memanggil.
(Kalau sampai hal yang kau sampaikan tidak penting, aku akan memecat mu sekarang juga Pak Bimo) teriak Erlan.
__ADS_1
(Saya tidak tuli Tuan Muda. Tidak perlu berteriak seperti itu) balas Pak Bimo.
(Katakan ada masalah apa?) Tanya Erlan.
(Maafkan saya sebelumnya telah mengganggu waktu kesenangan Tuan Muda. Tapi ini terkait Tuan Besar)
(Jangan bertele-tele Pak Bimo, katakanlah ada masalah apa dengan Papa?) Tanya Erlan lagi.
(Tuan Besar, ingin Tuan Muda pulang sekarang juga. Karena akan ada tamu yang datang untuk bertemu dan makan siang bersama di rumah) balas Pak Bimo.
'Tamu?' pikir Erlan.
(Saya harap Tuan Muda segera pulang) ucap Pak Bimo.
(Iya, tenang saja. Sebentar lagi aku akan berjalan pulang) balas Erlan lalu memutuskan sambungan telepon.
"Papa Erlan mau pulang?" Tanya Noah dengan nada manja.
'Papa? Iihh Noah....' ucap Bella dalam hati.
"Iya Noah sayang. Papa Erlan mau pulang sebentar. Noah jangan nakal ya, dengerin semua ucapan Mama." Ucap Erlan pada Noah.
Noah mengangguk sambil tersenyum lalu memeluk Erlan.
"Aku pamit Cinderella." Ucap Erlan pada Bella.
"Pulang ya pulang aja, untuk apa memberitahu ku." Balas Bella dengan ketus.
"Jangan pegang-pegang." Ucap Bella menampik tangan Erlan.
"Cinderella-ku, aku pamit padamu, karena aku takut kau akan mengkhawatirkan aku nantinya."
Bella memutar bola mata malas.
"Terserah kau saja."
Erlan cekikikan, lalu kembali menatap ke arah Noah.
"Om pulang dulu ya Noah." Ucap Erlan kemudian mencium pucuk kepala Noah.
Tiba di rumah . . . .
Erlan disambut oleh beberapa orang yang sudah duduk di ruang tamu. Vino yang duduk disamping Tuan Adam beranjak bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Erlan.
"Calon istrimu tuh Kak. Lumayan sih, kalau gak mau, boleh kok buat aku." Bisik Vino.
Erlan melengos pergi tanpa menghiraukan celotehan Vino.
"Huh, dasar kulkas." Rutuk Vino yang kemudian mengekor dibelakang Erlan.
Erlan duduk dengan posisi kaki yang ia naikkan diatas meja.
__ADS_1
"Erlaann...." Teriak Tuan Adam.
"Ada apa Pa?" Tanya Erlan bersikap cuek.
Tuan Adam menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Pak Indra, aku pikir yang akan dijodohkan dengan Erlan adalah puteri pertama anda." Ucap Tuan Adam.
Pak Indra yang tak lain papa Bella merasa bingung untuk menjawab apa.
'Bukannya Maya dan Clarissa bilang bahwa foto syur Bella yang dahulu itu sudah diketahui keluarga Alexander.' pikir Pak Indra seraya menatap Bu Maya dan Clarissa yang duduk disampingnya.
"Eh begini Tuan Adam. Puteri pertama kami sejak awal menolak untuk dijodohkan dengan keluarga ini. Karena dia sudah mencintai pria lain." Ucap Bu Maya cepat. "Iya kan Pa?" Sambung Bu Maya bertanya pada Pak Indra.
"I-iya." Balas Pak Indra.
'Tidak mungkin kan aku mengatakan Bella telah berbuat yang tidak senonoh dengan pria lain.'
"Oh begitu, Bella memang gadis yang baik. Jadi wajar saja dia tidak mau dijodohkan dengan Erlan, dia pasti mencari lelaki yang jauh lebih baik dari Erlan.
Erlan yang mendengar nama Bella disebut langsung terlihat bersemangat dan segera menatap Clarissa dengan tajam.
"Mah lihat deh, Erlan lagi lihatin aku. Kayaknya dia terpesona deh sama aku." Bisik Clarissa pada sang mama.
"Kau benar, dia pasti menyukai kamu." Balas Bu Maya.
"Jadi karena alasan Bella itulah, yang membuat kami ingin menjodohkan puteri kami Clarissa dengan Erlan, karena dari segi apapun Clarissa ini jauh lebih baik dari Bella." Ucap Bu Maya pada Tuan Adam
Sementara Erlan terus saja menatap Clarissa.
'Sepertinya aku pernah melihat wanita itu. Tapi dimana?'
'Wanita yang disebut bernama Bella itu, apakah Cinderella-ku?'
Segala pertanyaan itu memenuhi pikiran Erlan. Hingga Vino yang ada disampingnya mencolek dagu Erlan.
"Kak, aku tahu calon isterimu cantik. Tapi jagalah harga dirimu, kau memandangnya terus sampai air liur mu menetes." Ucap Vino.
Ctakk!!!
Kening Vino memerah karena disentil Erlan. Semua orang langsung menatap Vino yang meringis kesakitan.
"Maaf Pa, sudah aku katakan sebelumnya. Aku tidak dapat menerima perjodohan ini karena aku sudah memiliki calonku sendiri. Aku merasa tidak cocok dengan Clarissa, lebih baik kalian jodohkan saja dia dengan Vino, karena sejak tadi Vino lah yang terpesona padanya." Ucap Erlan melenggang pergi.
Semua orang menatap ke arah Vino, membuatnya menjadi mati kutu.
'Awas kau kak.'
Clarissa dan Bu Maya terlihat kesal atas sikap Erlan, sementara Pak Indra tak menunjukkan ekspresi apapun, ia hanya menunduk.
Di dalam kamar, Erlan telah menyadari satu hal. Clarissa adalah gadis yang bersama Bella dulu, di malam saat pertama kali Erlan melihat Bella.
__ADS_1
"Berarti wanita yang ingin dijodohkan papa denganku dulu adalah Bella. Bella si Cinderella-ku." Ucap Erlan tersenyum.