
Satu jam berlalu...
Noah berjalan masuk ke ruangan Sherly dengan memberikannya laporan yang sudah dikerjakan Jimmy.
"Ini laporannya sudah selesai saya kerjakan Bu Sher." Ucap Noah seraya menyerahkan sebuah map tebal pada Sherly yang tengah menatap layar komputernya.
"Kau memanggilku apa tadi?" Ucap Sherly sambil memandangi Noah dengan tajam.
"Bu Sher..." Balas Noah.
"Buser? Apa maksudmu memanggil namaku begitu?" Ucap Sherly dengan raut wajah kesal.
"Ya, Bu Sher. Bu Sher-ly." Ucap Noah lagi.
"Aku tidak sukaa..." Teriak Sherly.
"Kalau begitu saya panggil Bu Ly saja bagaimana?" Ucap Noah lagi.
"Buly? Wah, kau ini mau main-main ya denganku." Ucap Sherly semakin marah.
Noah berusaha menahan tawanya, ia senang sekali telah mengerjai Sherly.
"Jangan pernah kau menyingkat namaku, itu perbuatan yang tidak sopan. Kalau aku masih mendengar mu memanggilku dengan sebutan itu, aku akan langsung memecat mu." Ancam Sherly.
"Baik bos... Mmmm Bu Sherly." Ucap Noah.
"Kau boleh keluar." Titah Sherly selanjutnya.
Noah keluar dari ruangan Sherly dengan penuh bahagia. Baru kali ini ia senang menggoda seorang wanita. Dan hal itu membuat Noah sampai senyum-senyum sendiri hingga masuk ke ruangan yang bersebelahan dengan Sherly.
"Kau kenapa? Sejak keluar dari ruangan wanita itu kau terus senyum-senyum sendiri?" Tanya Jimmy.
"Bukan urusanmu." Balas Noah dengan raut wajah yang kembali dingin.
Waktu berlalu hingga jam makan siang tiba...
Noah keluar dari ruangan sekretaris bersama Jimmy dan hendak menuju ruangan yang memang khusus disediakan untuknya di lantai atas. Namun, baru saja hendak berjalan menuju lift, dia sudah dihadang oleh Clara.
"Hey, mau kemana? Ayo ikut makan siang denganku." Ucap Clara seraya menggandeng tangan Noah.
Noah tak menggubris, ia hanya melihat ke arah tangannya yang digandeng erat Clara dengan wajah dinginnya.
Jimmy yang mengerti bahwa Noah tak pernah suka disentuh orang lain terutama wanita, segera melepas gandengan tangan Clara terhadap Noah.
"Maafkan aku Clara. Sahabatku ini paling anti jika dipegang oleh lawan jenis. Dia alergi." Ucap Jimmy melebih-lebihkan.
__ADS_1
Sontak Noah melotot ke arah Jimmy seolah mengatakan, 'apa yang sudah kau katakan?'
Jimmy juga seolah membalas Noah dengan sorot matanya, 'berterima kasihlah. Aku sudah menolong mu.'
"Kenapa kalian berdua saling pandang? Apa kau alergi terhadap perempuan karena kau menyukai....." Tiba-tiba Sherly berbicara dihadapan mereka dengan kacamata yang sudah dibuat bertengger diatas kepalanya.
"Tidak... Tidak." Ucap Noah spontan. "Bukan seperti itu. Dia hanya mengada-ada."
"Kalau begitu sekarang kau ikut makan siang denganku, sebagai ucapan terima kasih karena sudah menyelesaikan pekerjaanmu dengan baik." Ucap Sherly seraya menarik tangan Noah menjauh dari Clara dan Jimmy.
Jimmy terdiam melihat Noah yang digandeng menjauh oleh Sherly.
'Ada apa dengan si kulkas berjalan itu? Tidak biasanya dia mau diperlakukan seperti itu oleh seorang wanita.' pikir Jimmy.
'Siapa wanita itu? Berani-beraninya dia merebut Noah dariku.' pikir Clara.
"Mmmm Clara, bagaimana kalau kita saja yang makan siang berdua." Ucap Jimmy.
"Tidak, terima kasih. Aku sudah kenyang." Balas Clara seraya berlalu meninggalkan Jimmy.
"Sok jual mahal." Ucap Jimmy kemudian berjalan mengikuti arah kemana Noah pergi.
"Kira-kira wanita itu mau membawa Noah makan kemana ya? Secara, selama ini Noah kan makanannya selalu di jaga oleh keluarga Alexander." Ucap Jimmy saat memasuki lift.
Jimmy berjalan menuju kantin kantor. Namun, ia tak mendapati sosok Noah dimanapun.
Jimmy memilih duduk di kursi yang tersedia di kantin kantor lalu mengambil ponselnya hendak menghubungi Noah. Tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk dari Noah.
[Cepat kemari, tolong aku. Aku tidak tahu bagaimana cara memakan benda ini.] Tulis Noah.
Jimmy mulai panik, bagaimanapun Noah adalah Bos nya. Erlan sudah menugaskan dirinya untuk menjaga Noah.
"Aduh, kalau sampai Noah salah makan dan sakit perut. Aku juga yang akan kena masalah." Ucap Jimmy seraya berjalan keluar dari kantor.
Noah sudah memberi tahukan kepada Jimmy dimana lokasinya berada bersama Sherly. Hingga tak butuh waktu lama bagi Jimmy untuk menemukan dimana Noah berada.
"Kenapa tidak dimakan?" Tanya Sherly.
"Eehh iya." Balas Noah seraya mengaduk-aduk makanan yang ada didepannya.
'Apa ini?' pikir Noah.
Di hadapannya sudah ada semangkok mi ayam lengkap dengan bakso dan dua buah ceker ayam berukuran jumbo. Dan minuman yang dipesan Sherly juga es cendol berwarna hijau.
'Ya Tuhan, aku tak pernah melihat ini. Kenapa ukuran mi nya terlalu besar? Kenapa ada kaki ayam? Yang bulat ini juga apa?' tanya Noah dalam hati.
__ADS_1
Ia melirik ke arah Sherly yang lahap memakan mi ayam disampingnya. Sementara dari luar tenda warung mi ayam, Jimmy menahan tawa melihat raut wajah Bos nya yang kebingungan.
Noah yang tanpa sengaja melihat ke arah Jimmy, langsung melotot saat pandangan mata keduanya beradu. Sontak nyali Jimmy ciut lalu dengan segera masuk ke dalam tenda warung mi ayam.
"Eh, kau juga disini?" Ucap Sherly sambil mengunyah satu buah bakso di mulutnya.
'Bagaimana bisa makanan seukuran itu masuk begitu saja ke dalam mulutnya?' pikir Noah.
"Eemmm anu...."
Belum selesai Jimmy menjawab, Sherly sudah kembali berucap.
"Apa jangan-jangan, kalian ini berpacaran?" Tanya Sherly yang membuat Noah terperanjat.
'Wanita ini!'
"Eh, bukan begitu. Aku ini.... emmm anu... Sepupunya Noah. Aku kemari mau memberi tahu mu, bahwa Noah tidak pernah makan ini." Ucap Jimmy seraya menunjuk mangkok mi ayam yang ada dihadapan Noah.
Sherly menatap Noah dengan tatapan yang heran.
"Orang macam apa yang tidak pernah makan mi ayam." Ucap Sherly lalu menyeruput es cendol yang ada di depannya. "Apa kau ini orang kaya yang tak pernah makan di pinggir jalan? Lalu kenapa kau bekerja menjadi sekretaris ku?" Cecar Sherly.
"Eh bukan begitu." Jawab Jimmy.
"Aku tidak bertanya padamu. Tapi dia..." Ucap Sherly seraya menepuk pundak Noah.
"Aku hanya tidak terbiasa. Karena selama ini selalu makan masakan rumahan." Jawab Noah spontan.
"Oh, begitu. Lalu kau mau makan apa?" Tanya Sherly lagi.
"Roti saja." Balas Noah.
"Kenapa tidak bilang dari tadi. Ayo kita ke warung sebelah. Disana ada roti bakar yang enak. Dijamin kau akan suka." Ucap Sherly hendak menarik tangan Noah.
"Eh tidak-tidak jangan. Kebetulan tadi, aku sudah membawakan dia bekal dari rumah." Ucap Jimmy.
"Kalian tinggal bersama?" Tanya Sherly lagi.
"Mmmm iya. Kami tinggal di sebuah rumah yang sama. Maklum pendatang." Ucap Jimmy.
"Pendatang? Dari mana?" Lagi-lagi Sherly bertanya.
"Eh itu ...."
"Maaf Bu Sherly, aku permisi dulu. Mau ke toilet." Ucap Noah berjalan keluar dari tenda warung mi ayam di susul Jimmy.
__ADS_1
"Mereka aneh sekali." Ucap Sherly.
Bersambung....