
Hari ini, Noah dan Sherly akhirnya memutuskan untuk berangkat ke ibu kota untuk bertemu keluarga besar Noah sekaligus menjalankan pernikahan mereka.
Sepanjang perjalanan, Sherly terus bertanya dalam hati. Siapa sebenarnya Noah? Sekaya Noah dia hingga mampu menyewa pesawat jet pribadi untuk pergi ke kota.
Sementara Noah sendiri tengah sibuk mengurus pekerjaannya selama penerbangan. Dia meninggalkan Jimmy untuk mengurus semua pekerjaan.
"Kau tega sekali. Kenapa aku harus tinggal disini, sementara kau pulang ke kota untuk menikah." Protes Jimmy.
"Aku bukan akan langsung menikah besok. Aku baru akan menikah setelah semua persiapan selesai dilakukan. Persiapan tidak bisa selesai dalam waktu satu atau dua hari. Jadi kau harus tetap tinggal untuk mengurus semuanya. Dan jika waktunya sudah tiba, kau pasti bisa pulang untuk menjadi pendampingku." Ucap Noah.
"Terserah kau saja. Kau memang sengaja menyiksaku." Lagi-lagi Jimmy protes.
"Bukankah kau ingin dekat dengan Clara. Jika kau ikut pulang, selain tidak ada yang mengurus pekerjaan disini, kau juga bisa lebih dekat dengan Clara." Bujuk Noah.
Hingga akhirnya Jimmy pun bersedia untuk ditinggal.
Pesawat akhirnya mendarat di bandara ibu kota. Sherly menghela nafas panjang seraya menyemangati dirinya sendiri. Dia begitu gugup karena akan bertemu dengan keluarga Noah. Turun dari pesawat, keduanya langsung di sambut Pak Gun. Anak dari Pak Bimo yang dulu menjadi tangan kanan Erlan yang kini sudah menggantikan posisi sang ayah yang sudah berhenti bekerja.
"Selamat datang Tuan Muda." Sapa Pak Gun.
Noah menepuk pundak Pak Gun yang tampak bugar. Ia hampir seusia dengan Erlan, Papa nya.
"Mari Tuan Muda." Ucap Pak Gun lagi.
Dua orang lainnya mengambil koper dan barang-barang Noah dan Sherly. Sementara Sherly berjalan mengekor dibelakang Noah. Ia tampak semakin bingung dengan apa yang terjadi.
'Siapa sebenarnya pria ini?' pikir Sherly yang terus menatap punggung Noah.
Brukk!
Sherly menabrak punggung Noah yang tiba-tiba berhenti berjalan.
"Ada apa denganmu?" Tanya Noah berbalik.
"Mmmm aku hanya masih mabuk udara." Jawab Sherly asal.
Noah menggeleng lalu masuk ke dalam mobil. Pak Gun lalu membukakan pintu untuk Sherly masuk ke dalam mobil.
"Silahkan lewat sini Nona." Ucap Pak Gun.
Sherly berjalan memutar untuk bisa masuk ke dalam mobil. Ia lalu duduk disamping Noah dengan perasaan tak karuan. Sementara pria yang disampingnya masih saja sibuk dengan ponselnya.
"Tuan Besar dan Nyonya sudah menunggu kedatangan Tuan Muda dan Nona. Semua persiapan pernikahan masih di proses. Tuan Besar ingin mengadakan pernikahan yang mewah." Ucap Pak Gun seraya mengemudi dengan serius.
"Hmmm..." Balas Noah.
Sherly yang mendengar ucapan Pak Gun semakin dibuat bingung.
'Tuan Muda, Tuan Besar, Nyonya...? Siapa Noah sebenarnya?'
Lagi-lagi pertanyaan itu terlintas dipikiran Sherly. Hingga ia merasa pusing sendiri. Sejak malam ia mengantar Noah ke villa waktu itu, Sherly merasa bahwa Noah sudah berubah. Ia tak lagi sama seperti Noah yang dulu pertama kali ia temui.
Setelah satu jam perjalanan, mobil akhirnya berhenti di gerbang besar kediaman Alexander. Terpampang jelas nama bertuliskan 'Alexander' di gerbang itu.
'Alexander!' seru Sherly dalam hati.
Mobil berhenti, dengan cepat Pak Gun membuka pintu untuk Noah lalu membuka pintu untuk Sherly.
"Kemari." Ucap Noah pada Sherly.
Dengan patuh Sherly mendekat. Seketika jantungnya berdegup kencang saat Noah menggenggam erat tangannya.
"Ayo masuk." Ajak Noah seraya berjalan dengan menggandeng tangan Sherly.
Saat pintu terbuka, Erlan, Bella dan Tuan Adam sudah menunggu kedatangan Noah.
"Selamat datang sayang." Ucap Bella langsung memeluk Noah.
Sementara Tuan Adam dan Erlan tampak menatap Sherly dengan serius.
"Selera putramu bagus juga." Bisik Tuan Adam.
"Tentu saja." Balas Erlan. "Lihat siapa papa nya."
Bergantian Noah memeluk kedua orang tuanya hingga memeluk sang opa yang hingga kini masih duduk di kursi roda. Sementara Sherly yang berdiri dibelakang Noah sudah menyadari satu hal.
'Tidak salah lagi. Dia adalah Noah Alexander yang itu.' ucap Sherly dalam hati.
"Ma, Pa, kenalkan. Dia Sherly isteriku." Ucap Noah seraya memegang pundak Sherly.
"Selamat sore Om, Tante." Sapa Sherly dengan raut wajah gugup.
"Panggil Mama." Ucap Bella seraya memeluk Sherly hangat. "Kamu sudah jadi menantu di keluarga ini. Jadi kamu harus panggil Mama, Papa dan Opa." Lanjut Bella.
__ADS_1
"I-iya Ma." Balas Sherly.
Sherly kemudian menyalami Erlan dan Tuan Adam satu persatu. Setelahnya, mereka semua lalu berjalan masuk ke ruang keluarga. Beberapa pelayan mendekat dengan membawakan makanan kecil dan minuman. Semua orang duduk di ruang keluarga. Sekedar berbincang dengan Noah dan sesekali menanyakan Sherly.
"Noah, bisa tidak malam nanti mainkan piano untuk Opa." Tanya Tuan Adam.
"Tentu saja Opa." Balas Noah.
"Oh ya Sherly, dimana orang tuamu?" Tanya Erlan.
"Sudah meninggal." Balas Noah singkat.
Bella menggeser duduknya mendekat ke arah Sherly dan mengelus punggung tangan gadis itu lembut. Bella jadi mengingat masa lalunya yang harus kehilangan sosok ibu sebelum ia dapat melihatnya.
"Sekarang kamu punya Mama dan keluarga yang lainnya." Ucap Bella.
"Terima kasih." Balas Sherly.
"Oh ya, kau berasal dari kota mana?" Tanya Erlan lagi. "Bagaimana kalian bisa bertemu dan kenapa secepat itu memutuskan untuk menikah tanpa memberi tahu keluarga?"
"Sherly dari kota X. Kami bertemu di Amerika. Sudah mengenal sejak lama. Dan memilih menikah dua minggu lalu secara diam-diam. Karena aku takut Mama dan Papa juga Opa tidak setuju dengan pilihanku." Lagi-lagi Noah yang menjawab.
"Noah, biarkan isterimu yang menjawab. Papa itu bertanya padanya." Balas Erlan.
"Maaf semuanya, aku rasa Sherly lelah dan butuh waktu untuk istirahat sebentar." Ucap Noah.
"Ah tentu saja. Ayo sayang Mama antar ke kamar." Ucap Bella.
"Mah. Noah bukan bocah lagi. Lihat sekarang, Noah sudah punya isteri." Ucap Noah seraya merangkul Sherly.
Sherly tersenyum canggung, dan berusaha melepas rangkulan Noah.
'Pria ini cari-cari kesempatan.' ucap Sherly dalam hati.
"Baiklah. Pergilah istirahat. Turunlah malam nanti. Mama akan masak makanan kesukaan kamu." Ucap Bella.
Noah mengangguk dan melingkarkan tangannya ke pinggang Sherly yang ramping lalu berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Keduanya berjalan berbarengan hingga masuk kamar. Tiba di kamar, Sherly langsung menepis tangan Noah untuk melepaskan rangkulannya. Noah tersenyum lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
'Waaahh kamar ini luas sekali.' ucap Sherly dalam hati.
"Mimpi apa aku bisa masuk ke rumah keluarga Alexander. Bahkan aku akan menikah dengan pewaris keluarga ini. Meski hanya pura-pura. Tapi, kenapa bisa Noah mau menikahi aku. Padahal dia pasti punya pilihan lain. Lalu kenapa dia...."
"Tidak apa-apa." Ucap Sherly gugup.
"Mandi dan ganti pakaianmu. Badanmu bau keringat." Ucap Noah.
Dengan wajah kesal, Sherly masuk ke kamar mandi. Ia kembali dibuat takjub dengan luasnya kamar mandi. Bahkan ternyata di dalam kamar mandilah terdapat lemari besar untuk pakaian. Dan disana lah tempat mengganti pakaian. Bersebelahan dengan tempat mandi yang di lengkapi bath up dan juga shower.
Malam pun tiba, keduanya turun untuk makan malam bersama keluarga. Menu makanan favorit Noah tersedia diatas meja. Tampak sebelum makan, Tuan Adam memimpin doa. Hal ini membuat Sherly takjub akan keluarga Alexander. Bahkan tak ada yang berbicara sedikitpun kala mereka mulai makan.
Setelah selesai makan, Sherly hendak membereskan piring bekas mereka makan. Dengan cepat Bella melarangnya.
"Kau tidak perlu melakukannya sayang. Sudah ada pelayan yang melakukannya." Ucap Bella.
Sherly mengangguk, Noah kemudian berdiri dan mendekat ke arahnya. Noah tak ingin ada pertanyaan yang akan mempersulit Sherly nantinya dari orang tuanya. Hingga ia memilih mengajak Sherly kembali ke kamar.
"Semuanya, aku dan Sherly ke kamar dulu." Ucap Noah menarik Sherly.
"Loh, langsung mau tidur? Gak ngobrol dulu sama Mama." Protes Bella.
"Ya ampun sayang. Seharusnya lebih mengerti dong. Mereka kan pengantin baru. Wajar saja kalau... Khemm..." Ucap Erlan yang membuat pipi Sherly memerah.
"Ayo." Ucap Noah menarik tangan Sherly.
"Opa, Ma, Pah. Sherly ke kamar dulu." Ucap Sherly pamit.
"Benar-benar gadis yang sopan." Ucap Tuan Adam.
Tuan Adam juga kembali ke kamarnya. Sementara Erlan berjalan mendekat ke arah Bella.
"Sayang, bagaimana kalau kita anu juga..." Ucap Erlan.
"Iihh kamu tuh ya." Balas Bella berjalan meninggalkan Erlan.
"Tunggu sayang." Erlan berjalan cepat menyusul Bella.
Sementara di dalam kamar, Sherly tampak gugup karena memikirkan dimana ia harus tidur.
"Kamu tidur di bawah." Ucap Noah.
"Hah, apa? Kamu tega banget minta aku tidur di bawah." Ucap Sherly.
__ADS_1
"Terus kamu mau tidur diatas bareng aku?" Balas Noah.
"Ti-tidak."
"Ya sudah. Ini, selimut kamu." Ucap Noah seraya melempar selimut ke wajah Noah.
'Pria ini benar-benar berubah saat identitasnya terbongkar.'
Perlahan Sherly meletakkan bantal di sebuah karpet bulu di depan tempat tidur. Ia ingin tidur di sofa panjang yang tersedia. Namun, mengingat dirinya yang tak bisa diam saat tidur, membuat ia mengurungkan niatnya karena takut terjatuh.
Baru saja Sherly meletakkan kepalanya di bantal, suara ketukan di pintu membuatnya langsung duduk. Noah juga yang sudah berbaring di kasur empuknya langsung bangun.
"Noah, Sherly. Kalian belum tidur kan. Ini Mama bawakan camilan." Terdengar suara Bella di depan pintu.
Noah memberi kode pada Sherly agar segera naik ke tempat tidur. Dengan cepat Sherly membereskan bantal dan selimut yang ia kenakan dan langsung naik ke atas tempat tidur.
"Masuk Ma. Pintunya gak dikunci." Teriak Noah.
"Mama masuk ya." Ucap Bella.
Noah menarik kepala Sherly agar bersandar di dadanya. Sementara selimut sudah menutupi kaki hingga pinggang mereka.
"Aduuhh kalian ini romantis sekali. Ini mama bawakan kue coklat kering sebagai camilan sembari menonton TV." Ucap Bella tersenyum lalu meletakkan nampan yang ia bawa ke atas meja.
"Mama gak perlu repot-repot begini. Kan sudah ada pelayan yang bisa mengantarnya." Ucap Noah.
"Tidak apa-apa. Ya sudah, Mama keluar ya." Bella berjalan menuju pintu yang terbuka.
Tiba-tiba Erlan menampakkan kepalanya dari luar kamar.
"Selamat bersenang-senang dan jangan lupa kunci kamar kalian. Takutnya Mama kalian masuk gitu aja saat kalian asyik-asyik...."
Plak..!!
Bella menepuk punggung Erlan.
"Bicara apa sih. Ayo cepat. Jangan ganggu mereka." Ucap Bella lalu menutup pintu kamar Noah.
Noah dan Sherly akhirnya bisa bernapas lega.
"Cepat sana kunci pintu." Titah Noah.
"Mmmm aku boleh tidur diatas gak?" Ucap Sherly.
"Jangan. Aku takut kau menodai ku." Balas Noah santai.
"Iih. Apaan sih." Ucap Sherly kesal seraya berjalan menuju pintu dan mengunci ya cepat lalu kembali naik ke tempat tidur.
"Hei..."
"Apa?" Teriak Sherly. "Pokoknya aku tidur disini." Lanjutnya seraya memasang guling di tengah-tengah mereka. "Ini jadi batas buat kita. Awas saja kalau kamu melewati batas." Ucap Sherly.
Noah membelakangi Sherly dan tersenyum. Dengan sekali tepukan tangan, lampu kamar Noah pun mulai redup.
'Wihh canggih banget.' ucap Sherly dalam hati.
Tak butuh waktu lama bagi Sherly untuk tidur. Namun, kenyataan yang berbeda terjadi pada Noah. Ia begitu sulit untuk tidur terlebih saat Sherly mulai sering bergerak. Guling yang menjadi pembatas mereka sudah hilang entah kemana karena di pindahkan Sherly secara tidak sadar.
Noah berbalik dan menatap wajah Sherly yang juga menghadap dirinya.
'Wanita ini. Tak bisakah tidur dengan wajah yang menggemaskan. Kalau begini, aku tidak bisa menahan diri.'
Tanpa disadari, Sherly justru memeluk Noah dan mulai mengigau.
"Hei kau pangeran tampan. Bawalah aku dengan kuda putih mu. Jadikan aku isterimu." Ucap Sherly.
"Pffftttt...." Noah menahan tawa melihat Sherly yang mengigau.
"Kenapa kau pergi? Pangeran jangan tinggalkan aku." Ucap Sherly dengan berteriak.
"Tenanglah, aku tidak akan meninggalkanmu." Balas Noah seraya menahan tawa.
"Terima kasih. Izinkan aku..."
Tanpa melanjutkan bicaranya Sherly menarik wajah Noah untuk mendekat ke wajahnya. Perlahan Sherly mencium bibir Noah. Noah yang untuk pertama kalinya bersentuhan dengan wanita gelagapan. Ia tak menyangkan bahwa Sherly akan melakukan hal itu.
'Bagaimana ini?' pikir Noah berusaha melepaskan diri dari Sherly.
Namun, Sherly semakin menarik leher Noah dan menciumnya lebih dalam. Noah yang terpancing kemudian membalas ciuman Sherly. Hingga akhirnya ia tersadar bahwa yang dilakukannya adalah salah. Perlahan Noah melepaskan ciuman Sherly dan berjalan ke kamar mandi. Noah lalu membasuh wajahnya.
Setelah berdiam diri beberapa saat, Noah keluar lalu mengambil selimut dan memilih tidur di sofa.
Bersambung....
__ADS_1