NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Konser di Jerman


__ADS_3

Clarissa tiba di rumahnya tepat tengah malam. Pak Indra dan Bu Maya sudah menunggunya di ruang tamu.


"Kemana saja kamu? Kenapa lama sekali pulang? Mau jadi apa kamu? Anak gadis keluyuran malam-malam dan baru pulang tengah malam begini!." Ucap Pak Indra penuh emosi.


"Aku kan udah bilang dari tadi siang itu aku di rumahnya Om Adam. Main sama Noah, sekalian lihat Kak Bella baru pulang dari honeymoon nya. Sudah ah, aku capek, mau istirahat." Balas Clarissa santai.


"Clarissa..!!" Pak Indra berteriak dengan wajah begitu marah.


"Kamu pikir Papa akan percaya ucapan kamu begitu saja? Cepat katakan kamu darimana? Papa tadi sudah menelepon Bella dan dia bilang kamu sudah pulang beberapa jam yang lalu."


"Aaahh sudahlah. Papa memang selalu lebih percaya sama Bella. Papa memang lebih sayang sama Bella. Sementara aku ini..... Sudah seperti anak tiri buat Papa." Ucap Clarissa tak kalah berteriak lalu berlari menuju kamarnya.


Pak Indra menghela nafas panjang, lalu menatap Bu Maya yang tak berkata apa-apa.


"Temui anakmu, dan ajari dia sedikit sopan-santun pada orang tua. Kau tentu sudah tau sendiri, aku tidak pernah membedakan perlakuanku terhadap dia ataupun Bella. Buat dia mengerti atau aku sendiri yang harus turun tangan." Pak Indra berlalu menuju kamarnya.


Bu Maya sangat mengetahui bagaimana sikap suaminya itu. Memang benar, Pak Indra tak pernah membedakan perlakuannya terhadap Clarissa dan Bella. Hanya saja rasa iri yang ditanamkan Bu Maya pada Clarissa lah yang membuat gadis itu merasa kurang diperhatikan.


Bu Maya lalu masuk ke dalam kamar Clarissa yang memang tidak dikunci.


"Apa yang sudah kamu lakukan akhir-akhir ini? Kamu jarang berada di rumah. Lebih sering di rumah Keluarga Alexander. Mama yakin kau sudah merencanakan sesuatu."


Clarissa yang tadinya tengah berbaring dalam posisi terlungkup, seketika bangun dan duduk di samping Bu Maya.


"Aku bingung Ma, aku sudah berusaha memisahkan Erlan dan Bella. Tapi rencana ku selalu saja gagal, mereka berdua selau saja bersama. Semakin kuat aku mencoba merusak kepercayaan Bella terhadap Erlan, tetap saja keduanya malah tambah makin mesra."

__ADS_1


"Memang hal apa yang sudah kamu lakukan?" Tanya Bu Maya penasaran.


Clarissa lalu menceritakan semuanya.


"Kamu memang gila." Ucap Bu Maya ketika Clarissa selesai menceritakan semuanya.


"Menurut Mama sekarang aku harus bagaimana?"


"Saran mama untuk sementara ini kamu harus sabar. Jangan lakukan apapun, biarkan mereka bahagia dulu. Setelah ada celah kamu bisa langsung merusak kebahagiaan mereka. Kamu tenang saja, Mama akan selalu dukung kamu. Tapi untuk sekarang berusahalah bersikap baik dihadapan Papa kamu. Jangan sampai dia mengetahui niat kamu. Papa kamu sudah pernah kecewa satu kali, jangan sampai terulang lagi."


Clarissa mengangguk-angguk.


*********


Pagi ini Erlan dan Bella akan bertolak ke Jerman untuk menemani Noah melakukan sebuah pertunjukan perdananya di luar negeri.


"Kak, aku butuh uang." Ucap Vino seraya duduk disamping Erlan.


"Untuk apa?" Tanya Erlan.


"Ya buat jajan, sekali-kali mau lah jalan-jalan sama temen. Traktirin mereka makan atau minum gitu."


Selama ini memang Erlan lah yang mengatur segala urusan dengan Vino. Mulai dari biaya kuliah sampai memberikan uang saku bulanannya. Erlan bahkan membatasi jumlah yang ia berikan pada Vino, karena takut pria tengil itu tidak dapat mengontrol dirinya.


"Baiklah. Aku pikir kau sudah lebih dewasa sekarang." Erlan mengeluarkan dompetnya kemudian mengeluarkan sebuah kartu dan memberikannya pada Vino. "Aku percayakan kartu kredit ini padamu. Aku harap kamu bisa menggunakannya dengan bijaksana. Kau tahu sendiri akibatnya jika berlebihan." Lanjut Erlan bernada ancaman.

__ADS_1


"Waahh terima kasih banyak Kak Erlan yang tampan tiada tara. Kau memang kakak terbaik yang pernah ada. Aku janji akan menggunakannya dengan baik. Lagipula aku tidak mau kalau semua fasilitas yang ku dapat akan dicabut begitu saja hanya karena aku boros. Sekali lagi terima kasih ya. Sekarang juga aku mau berangkat ke kampus. Hati-hati ya dalam perjalanan ke Jerman. Titip salam ku untuk Toni Kroos." Ucap Vino seraya berjalan keluar rumah.


****


Erlan, Bella dan Noah akhirnya tiba di Jerman. Setelah persiapan demi persiapan dilakukan, konser orkestra Noah pun akan segera terlaksana.


Berpusat di kota Berlin, gedung orkestra tempat Noah akan menampilkan nada-nada indahnya berdiri dengan megah. Para penonton dari berbagai kalangan sudah mulai berdatangan.


Erlan dan Bella tampil serasi dengan mengenakan pakaian berwarna senada, yaitu hitam. Keduanya duduk di bangku paling depan, agar bisa melihat Noah dengan jelas.


Grand Concert' pertama Noah ini, menyajikan cerita fase kehidupan dalam balutan orkestra, melalui kolase lagu dengan genre yang beragam. Semua lagu yang dibawakan berhasil mengajak penonton untuk kembali menikmati perjalanan kehidupan manusia dari kecil hingga dewasa.


Pembukaan konser dimulai dengan mereka ulang masa kanak-kanak dalam lantunan lagu-lagu anak-anak mulai terdengar. Seorang bocah bernama Dominique bernyanyi dan bermonolog dengan suaranya yang riang dan lugu khas anak-anak. Suasana gedung orkestra berhasil dihidupkan dengan lantunan lagu yang menggambarkan kegembiraan dan keceriaan baik dari melodi, tempo, serta liriknya.


Setelah berhasil menyelesaikan tugasnya, Dominique turun dari panggung digantikan oleh tiga gadis berpakaian remaja. Masuknya ketiga gadis ini, menggambarkan masa remaja dengan cerita masa sekolah yang penuh kisah cinta dan semangat. Mereka mulai menebarkan perasaan bahagianya kepada penonton. Tempo musiknya yang agak cepat membuat adanya kesan semangat dalam diri seorang remaja mampu mengajak penonton untuk melebur dan mengiringi lagu dengan tepuk tangan.


Cahaya panggung meredup diiringi dengan pergantian suasana di atas panggung. Kini, suasana sendu mulai terasa dari atas panggung. Kisah cinta remaja telah sampai pada tahap pengujian oleh jarak. Cerita ini diwakilkan dengan lagu yang menceritakan tentang cinta jarak jauh ini membuat para penonton merasakan bagaimana sulitnya menjalani cinta yang harus terpisah oleh jarak.


Lagu yang mewakili kisah penantian yang diwarnai dengan kesedihan dan kegembiraan. Awalnya, perasaan sedih sangat terasa dari lagu ini sebab musik yang disajikan pelan dan temponya lambat. Namun, ketika memasuki bagian akhir lagu, tempo lagu mulai menjadi lebih cepat dan memberikan kesan semangat pada penonton.


Erlan dan Bella bergenggaman tangan dengan erat. Keduanya terbayang akan tujuh tahun belakangan, saat yang sangat sulit bagi keduanya. Dimana Erlan harus mencintai seorang wanita yang tidak bisa ia temukan dimanapun. Sementara Bella harus menjalani hidupnya yang menyedihkan bersama seorang putra yang merupakan anak dari laki-laki yang selama ini mencintainya.


"Aku mencintaimu." Ucap Erlan berbisik di telinga Bella.


"Aku juga mencintaimu." Balas Bella.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2