
Setelah puas bermain, Erlan akhirnya mengantar Noah pulang ke rumah tepat jam enam petang.
"Rumah Noah dimana?" Tanya Erlan.
"Belok kanan Om, tapi tidak perlu antar sampai rumah. Nanti ketahuan Mama."
Erlan tertawa seraya mengusap kepala Noah.
"Ya sudah, kamu hati-hati ya. Benar gak mau Om belikan makanan?"
"Gak usah Om, Mama pasti sudah masak. Lain kali kalau Om sudah berkenalan dengan Mama, Noah akan undang Om untuk makan bersama di rumah. Om pasti akan suka masakan Mama." Ucap Noah.
'Seperti apa rupanya mama dari anak ini? Dia saja sudah sangat tampan, bagaimana mamanya.' pikir Erlan.
"Om, Erlan pamit ya. Sampai ketemu lain waktu." Ucap Noah kemudian mulai berjalan menuju rumahnya.
Erlan baru pergi saat bayangan Noah sudah tak terlihat lagi.
"Jalan Pak Bimo." Titah Erlan.
Pak Bimo mulai melajukan mobilnya.
"Tuan Muda! Kenapa Tuan Muda begitu perhatian pada anak itu?" Tanya Pak Bimo.
"Sebenarnya aku juga tidak tahu. Tapi aku merasa memiliki ikatan dengan anak itu. Aku merasa seolah-olah dia itu anakku sendiri." Balas Erlan.
Pak Bimo terdiam, tak tahu harus berkata apa.
Tiba di rumah, Noah langsung duduk di ruang tamu karena Bella sudah duduk menunggunya sejak tadi.
"Kenapa hari ini pulangnya terlalu larut?"
"Itu Mah, Noah kan sudah bilang kalau Noah lagi latihan untuk konser itu Mah."
"Tapi kenapa harus sampai jam segini?"
"Itu . . . . Ah sudahlah, Mama memang tak suka kalau Noah melakukan semua ini." Ucap Noah pura-pura mengambek.
'Maafin Noah Ma. Noah harus bohong sama Mama. Kalau nggak, Mama gak akan izinin Noah ketemu Om Erlan nantinya.' ucap Noah dalam hati.
"Bukan begitu sayang. Mama cuma khawatir sama Noah. Mama selalu mendukung apapun itu yang Noah suka." Ucap Bella berusaha membujuk Noah yang membelakangi dirinya.
"Makan yuk, mama udah masakin sup ayam kesukaan Noah." Lanjut Bella.
__ADS_1
Noah membalikkan tubuhnya menghadap Bella, lalu memeluk Bella.
"Makasih ya Mah. Noah mau mandi dan ganti baju dulu, habis itu baru makan." Ucap Noah.
********
Hari demi hari berlalu, Noah berlatih dengan keras. Selain berbagai jenis alat musik biasa yang digunakan dalam orkestra, yaitu alat musik gesek, seperti biola, cello, dan viola. Ada perkusi, seperti drum dan piano. Juga ada woodwinds, alat musik tiup seperti terompet, flute, dan trombon dan masih banyak yang lainnya.
Noah juga membawa peluit dan lonceng angin. Tak lupa Noah juga menambahkan delapan gelas yang diisi air dengan takaran yang berbeda sebagai tambahan yang akan digunakan sebagai instrument musiknya.
Noah dipercaya memimpin hampir seratus orang dalam pertunjukan orkestra yang akan dilaksanakan kurang dari satu minggu lagi.
Berita tentang konser orkestra yang dibawakan komposer muda menjadi berita utama di media online dan elektronik.
Hal itu membuat wajah Noah mulai dikenal banyak orang. Begitu juga dengan Bella, ia sebagai orang tua tunggal Noah mulai diwawancarai oleh wartawan tentang kegeniusan anaknya itu. Wajah Bella pun berseliweran dimana-mana.
Pak Indra, papa Bella hari itu tengah menonton televisi. Tak sengaja ia menonton berita tentang Noah. Awalnya Pak Indra tak terlalu menghiraukan berita itu, ia malah fokus meminum kopi yang ada dihadapannya.
Namun, saat nama Bella disebut sebagai orang tua Noah, Pak Indra langsung mengeraskan volume televisi yang ditontonnya.
Mata Pak Indra membelalak saat ia melihat wajah puteri yang selama ini dirindukannya tampil dilayar kaca.
"Bella . . . " Ucap Pak Indra lirih.
'Noah memang sudah menunjukkan kemampuannya dalam bermusik sejak ia masih berusia tiga tahun. Dibanding dengan anak-anak lainnya yang suka mainan robot, Noah lebih suka mainan yang menghasilkan musik. Bahkan Noah lebih suka memainkan alat-alat dapur yang menghasilkan irama. Seperti piring, mangkok ataupun yang lainnya.' tutur Bella di televisi.
Pak Indra semakin dibuat haru saat Bella dan Noah ditampilkan dalam satu frame.
'Mama lah yang menjadi inspirasi Noah. Selama ini Noah dan Mama hanya tinggal berdua, tak ada keluarga yang lainnya. Jadi konser ini nantinya Noah persembahkan secara khusus untuk Mama.' ucap Noah.
"Cucu ku. . . . " Ucap Pak Indra.
Bu Maya dan Clarissa yang baru pulang shopping dari mall, kaget mendapati Pak Indra yang terisak didepan televisi.
"Pa. . . . Papa kenapa?" Tanya Clarissa.
Bu Maya yang melihat gambar Bella di televisi mencebik kesal.
"Bagaimana mungkin anak memalukan itu bisa masuk televisi? Dan itu apa? Dia sudah punya anak. Pasti anak hasil hubungan terlarangnya itu dulu." Cibir Bu Maya.
Clarissa lalu menyadari hal itulah yang membuat Pak Indra marah.
"Untuk apa sih Papa nangisin dia." Ucap Clarissa kesal.
__ADS_1
"Papa mau menemui Bella dan cucu Papa." Balas Pak Indra seraya mengusap air matanya.
"Gak boleh." Teriak Bu Maya.
"Iya Pa. Untuk apa coba Papa mau menemui Bella. Apa Papa lupa, apa yang sudah dia lakukan di masa lalu. Dia sudah mempermalukan keluarga ini, terutama Papa. Papa gak akan lupa itu kan." Sambung Clarissa.
"Mama yakin anaknya itu adalah anak haram. Jadi jangan permalukan diri Papa lagi hanya untuk mau menemui dia." Ucap Bu Maya.
"Sudahlah, Papa malas berdebat sama kalian." Ucap Pak Indra seraya memilih pergi ke arah taman belakang rumah.
"Awas aja kalau Papa berani menemui anak memalukan itu. Harusnya Papa itu pikirin puteri Papa yang ada dihadapan Papa. Usianya sudah dua puluh lima tahun, Papa belum juga membicarakan perjodohannya dengan Tuan . . . ."
"Cukup. Papa bilang cukup." Teriak Pak Indra kemudian membanting pintu belakang rumah.
Pak Indra lalu duduk bersandar di kursi taman belakang rumahnya.
'Maafkan Papa Bella, seharusnya kita tidak berpisah seperti sekarang. Semuanya mungkin kesalahan Papa. Tapi semua bukti menunjukkan kamu bersalah. Kamu memang telah mencoreng nama baik keluarga. Tapi melihatmu sekarang memiliki anak, melihatmu masih sehat, membuat Papa semakin merindukanmu. Tak sehari pun Papa lalui tanpa merindukanmu Bell.'
********
"Karena hari ini Noah libur, bagaimana kalau hari ini ikut Mama aja, kita jenguk Oma." Ucap Bella pada Noah saat keduanya duduk di teras rumah pagi hari.
"Memangnya Noah punya Oma ya Mah? Oma dimana? Kenapa gak dari awal Mama ajak Noah ketemu sama Oma.?"
Bella tersenyum seraya mengusap pucuk kepala Noah.
"Nanti Noah akan tahu, yang penting sekarang bantuin Mama petik bunga mawar ini. Nanti kita kasih ke Oma." Ucap Bella.
Keduanya tiba di pemakaman.
"Loh kok kesini sih Ma?" Tanya Noah polos.
"Sayang, disinilah Oma berbaring." Jawab Bella.
"Maksud Mama, Oma sudah meninggal begitu?"
Bella mengangguk, "iya sayang."
"Hai Oma." Ucap Noah. "Ya Tuhan, tempatkan Oma ditempat yang terbaik disisi-Mu." Ucap Noah.
Bella menitikkan air mata mendengar ucapan Noah.
'Mah, dia adalah cucu Mama, namanya Noah. Dia anak yang genius Mah. Andai Mama masih hidup, Mama pasti bangga memiliki cucu seperti Noah. Seperti aku yang begitu bangga telah dititipkan oleh Tuhan memiliki anak seperti Noah.'
__ADS_1