
Mobil Pak Indra masuk ke halaman rumahnya yang bernuansa klasik.
Bu Maya dan Clarissa sudah duduk menunggunya di ruang keluarga. Wajah Pak Indra begitu sumringah saat masuk ke dalam rumah.
"Papa kelihatannya bahagia banget. Kemana saja semalaman?" Tanya Bu Maya penuh selidik.
Pak Indra duduk selonjoran di kursi depan televisi.
"Papa sedang senang, karena akhirnya semalam Papa bisa bertemu Noah cucu Papa."
Bu Maya dan Clarissa saling pandang.
"Jadi Papa sudah menemui anak memalukan itu?" Ucap Bu Maya sinis.
"Jaga bicaramu Maya. Bella tidak seperti yang kalian pikirkan. Kalian berdua sudah membuatku salah paham pada anakku sendiri. Aku bahkan sampai hati mengusirnya dari rumah ini."
"Alah, dia memang pantas diusir. Kelakuannya sudah membuat keluarga malu. Dia sudah tidur dengan lelaki lain, sekarang malah merebut calon suamiku dengan membawa seorang anak yang dikatakan anak dari Erlan. Siapa yang tahu sudah berapa banyak pria yang tidur dengannya. Bisa jadi anak itu bukan anak Erlan. Hih dasar perempuan tak tahu malu." Ucap Clarissa.
Plakk...!!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Clarissa membuat wanita itu terhuyung.
"Papaa...." Teriak Bu Maya segera mendekati Clarissa.
"Aku sudah cukup sabar dengan kelakuan kalian selama ini. Asal kalian berdua tahu, Bella sendiri yang memintaku untuk tidak lagi membesar-besarkan semua masalah ini. Karena dia sudah merasa hidupnya bahagia sekarang. Dia tak ingin lagi mengingat masa lalu. Tapi kalian berdua masih saja bersikap seperti ini, padahal sudah jelas-jelas kalian yang bersalah atas semua kejadian yang menimpa Bella."
"Apa maksud Papa? Kenapa aku dan Mama yang malah disalahkan?" Teriak Clarissa seraya memegangi pipinya yang memerah.
"Apa kau pura-pura lupa atau memang lupa? Bukankah malam itu kau sendiri yang mengatakan bahwa Bella meninggalkan kamu demi pergi dengan pacarnya? Padahal pada kenyataannya dia merasa pusing dan memintamu membawanya pulang. Tapi kau tidak mau kan?" Ujar Pak Indra.
"Bella bohong Pa. Dia mengatakan kebohongan, apa yang aku katakanlah yang sebenarnya terjadi." Balas Clarissa berusaha meyakinkan Pak Indra.
"Sudahlah Papa lebih percaya pada Bella. Dan untuk kamu Maya." Pak Indra menatap Bu Maya dengan tajam. "Kau yang mengatakan bahwa Keluarga Alexander sudah mengetahui tentang perbuatan Bella, nyatanya tidak. Dan yang lebih parahnya kalian mengatakan bahwa foto syur Bella sudah tersebar di duni maya. Dan pada kenyataannya pun tidak terjadi apa-apa. Sungguh Papa sangat kecewa dengan kalian berdua."
Pak Indra berdiri hendak berjalan menuju kamarnya sebelum akhirnya berbalik badan.
"Satu hal lagi, pertunangan antara Bella dan Erlan sebentar lagi akan terlaksana. Papa harap kalian berdua bisa berubah."
__ADS_1
Pak Indra lalu masuk ke dalam kamarnya.m
"Aaaahhhh siaaall..." Teriak Clarissa. "Kenapa anak itu selalu mendapatkan apa yang dia inginkan sementara aku tidak Ma."
"Tenanglah sayang, kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan." Balas Bu Maya.
"Gimana bisa tenang Ma, sebentar lagi Erlan akan bertunangan dan bahkan akan menikah dengan wanita itu. Lalu bagaimana denganku? Apa yang bisa aku lakukan?"
Bu Maya terlihat berpikir, lalu tersenyum licik.
"Seperti yang Papa kamu katakan, kita harus mulai bersikap baik kepada Bella."
"Maksud Mama apa?"
"Kita hanya perlu berpura-pura sayang. Dengarkan rencana Mama." Ucap Bu Maya kemudian berbisik pada Clarissa.
Raut wajah Clarissa berubah cerah, sakit di area pipinya sudah tak dirasakan lagi. Yang menjadi fokusnya sekarang adalah bagaimana cara memisahkan Bella dengan Erlan.
Keesokan paginya....
Mata Bella nanar memandang rumah yang tujuh tahun lalu harus terpaksa ia tinggalkan. Dengan menggandeng tangan Noah, Bella berjalan pelan memasuki rumah itu.
Rumah dimana Bella kecil tumbuh menjadi gadis cantik. Rumah dimana Bella mendapat kasih sayang Sang Papa. Tiba-tiba air mata Bella jatuh tak tertahankan.
"Mama kenapa?" Tanya Noah yang menatap Bella tengah menitikkan air mata.
"Mama gak kenapa-kenapa sayang. Mama hanya bahagia, karena akhirnya Mama bisa menginjakkan kaki di rumah ini lagi." Jawab Bella.
"Noah heran dengan orang dewasa. Kalau sedih mereka menangis bahkan tengah bahagia pun mereka juga menangis. Sebenarnya menangis itu menandakan orang bersedih atau bahagia ya Ma?"
Bella tersenyum hendak mencium Noah. Tapi secara tiba-tiba Clarissa hadir dan merangkul Noah.
"Waahh akhirnya kalian tiba. Hai Noah, namaku Clarissa. Aku adalah adik dari Mama kamu, jadi aku ini Tante kamu." Ucap Clarissa mencubit pipi Noah gemas.
'Bau-bau orang jahat.' pikir Noah.
"Maaf Tante, aku pikir Tante ini tidak benar-benar menyukai aku dan Mama." Ucap Noah blak-blakan.
__ADS_1
"Nooaah...!" Seru Bella.
"Kenapa Ma? Apa Noah salah? Memang pada kenyataannya Tante ini tidak tulus menyukai kita. Apa Mama tidak bisa melihat dengan jelas dimatanya kalau dia ini sangat membenci Mama?"
"Ka-kamu salah paham sayang." Balas Clarissa terbata-bata.
"Sudahlah, kami tidak punya waktu untuk meladeni Tante. Kalau bukan karena Opa Indra yang meminta kami datang kemari. Kami berdua enggan datang kesini." Ucap Noah seraya berjalan masuk sampai menggandeng tangan Bella.
'Dasar bocah nakal. Awas saja kau, akan ku buat kau menderita.' pikir Clarissa.
Keluarga Dinata akhirnya bisa berkumpul lengkap seperti dulu. Pak Indra duduk berdampingan dengan Bu Maya sambil memangku Noah.
Sementara Bella duduk berhadapan dengan Clarissa.
"Bagaimana kabarmu selama ini Bell?" Tanya Bu Maya.
"Baik." Balas Bella singkat.
'Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana pada mereka berdua. Sejak kecil Mama Maya memang memperlakukan aku berbeda dengan Clarissa.' ucap Bella dalam hati.
"Bell, apa kamu tidak pernah bertemu atau menikah dengan lelaki manapun selama tujuh tahun ini?" Tanya Clarissa.
"Karena aku wanita yang cantik, jadi tentu saja banyak pria yang mendekati aku. Meski aku tengah hamil Noah, mereka bahkan bersedia menikahi aku dan menjadi Papa dari Noah. Tapi aku bukan wanita yang bisa menerima laki-laki sembarangan masuk dalam hidupku. Kau sendiri sudah tahu kalau sejak dulu aku sudah dijodohkan dengan seorang laki-laki tampan yang ternyata itu adalah Erlan yang memang ditakdirkan menjadi pendampingku dimasa depan. Dan hal yang paling indah diantara semuanya, Erlan adalah Papa kandung Noah dan dia sangat mencintai aku." Ucap Bella penuh penekanan. "Aku harap tidak ada wanita pengacau yang akan mengganggu hubungan kami." Lanjut Bella.
"Tentu saja tidak akan ada orang yang mengganggu kebahagiaan kalian." Balas Pak Indra.
Raut wajah Clarissa memerah, ia merasa sangat marah mendengar ucapan Bella. Bu Maya yang menyadari hal itu meminta Clarissa menuju dapur mengambilkan minuman dan beberapa camilan untuk Bella dan Noah.
Tak lama Clarissa kembali dengan membawa lima gelas jus jeruk dan beberapa camilan.
Clarissa menyerahkan segelas jus pada Bella.
'Rasakan kau Bella!' pikir Clarissa.
Saat Bella hendak meminumnya tiba-tiba Erlan datang dan memanggil nama Noah.
"Noaahh..." Teriak Erlan.
__ADS_1