NOAH: The Genius Musical

NOAH: The Genius Musical
Duka Sherly


__ADS_3

Pernikahan Noah dan Sherly segera terlaksana. Tak membutuhkan waktu yang lama bagi keluarga Alexander untuk mempersiapkan semuanya. Para keluarga Alexander tampak begitu sumringah karena pewaris keluarga akan segera melepas masa lajangnya.


Kali ini pernikahan Noah dan Sherly akan diadakan secara mewah. Tuan Besar Adam tak lagi ingin acara pernikahan cucu kesayangannya dilangsungkan sederhana. Bahkan Tuan Besar Adam sudah meminta untuk mengadakan pesta tujuh hari tujuh malam. Namun, Noah dengan tegas menolak hal itu.


"Pesta nya boleh mewah. Terserah dengan konsep seperti apa. Tapi pestanya tidak perlu sampai seperti itu. Jika Opa tetap bersikeras mengadakannya, akan lebih baik jika dananya Opa sumbangkan pada mereka yang lebih membutuhkan." Ucap Noah yang membuat Tuan Besar Adam mengurungkan niatnya.


Di lain sisi, calon pengantin wanita malah tengah merasakan sedih di dalam hatinya. Semua pengantin berharap kebahagiaan pernikahannya lengkap dengan kehadiran orang tua. Namun, bila takdir Tuhan telah memanggil ibu atau ayah terlebih dulu, pasti terselip perasaan duka di tengah kebahagiaan pernikahan. Dan itulah yang di rasakan Sherly.


Pernikahan merupakan satu tahapan hidup yang pasti dialami hampir semua manusia. Terkhusus dalam hal percintaan, pernikahan itu merupakan satu tahap sakral di mana kedua belah pihak yang terlibat dalam hubungan, secara sadar memilih satu sama lain sebagai pendamping hidupnya, selamanya. Pernikahan itu mengikat, dan kata orang pernikahan itu berat. Kamu harus menemukan pasangan yang tepat, agar semua hal berat tersebut dapat dilalui dengan tetap menyenangkan dan penuh rasa syukur. Dan, tanpa dibayangkan Sherly sebelumnya, sosok pria yang akan dinikahinya adalah Noah Alexander.


Sherly diam-diam mencari tahu tentang Noah melalui browsing di internet dan mendapatkan fakta bahwa Noah adalah pria yang terlahir jenius. Bukan hanya dalam hal musik. Namun, masih banyak yang lainnya. Noah juga dikelilingi keluarga lengkap yang menyayanginya. Berbanding terbalik dengan Sherly yang sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi.


Sherly sebagai seseorang yang menurut opini masyarakat sudah memasuki umur cukup untuk sebuah pernikahan, berusaha memahami apa yang ada di depan sana. Dia berusaha untuk melangkah dengan hati-hati, dan sadar. Tak peduli seberapa banyak cinta-cintaan yang ia konsumsi setiap harinya, itu membuat mabuk.


Berbagai contoh tentang kehidupan pernikahan bisa Sherly dapat dengan mudah dari sekitarnya. Tak semuanya baik, tapi semuanya memudahkan dirinya untuk belajar. Ada yang memberi Sherly pelajaran lewat kesuksesan membina hubungan nan harmonis selama berpuluh-puluh tahun, ada yang terlihat dingin tapi ternyata β€˜ikatan’ di antara keduanya begitu erat dan hangat, ada juga yang memberi pelajaran dari kegagalan; untuk kemudian membuat Sherly berpikir dan menganalisa, apa yang salah serta bagaimana untuk menghindari kesalahan tersebut dalam hubungannya dengan Noah dimasa yang akan datang.


'Aku tak pernah menyangka jika aku akhirnya menikah dengan pria sehebat Noah. Takdir Tuhan memang luar biasa.' ucap Sherly dalam hati.


Satu hal lagi yang membuat pernikahan tampak istimewa, terutama bagi Sherly, adalah fakta bahwa dia akan menikah tanpa kehadiran kedua orangtuanya.


Kebanyakan orang mungkin memandang pernikahan sebagai sebuah momen yang membahagiakan, penuh suka cita dan air mata bahagia. Namun bagi Sherly, setidaknya saat ini, pandangan tentang pernikahan itu tak terlepas dari kesedihan saat membayangkan di hari besar itu, bukan tangan Sang Papa yang akan dijabat oleh lelaki pilihannya untuk mengucap sumpah pernikahan atas nama Tuhan.


Bukan tangan Papa dan Mama nya yang akan dia cium untuk meminta restu, mengalihkan bakti dari dirinya ke suami yang ia pilih.


Tidak semua orang merasakan kesedihan ini, tapi ini adalah kesedihan yang lazim dialami seorang anak perempuan yang tidak lagi memiliki sosok ayah dan ibu di sisinya, saat memandang tentang pernikahan.


Sherly terisak seorang diri di dalam kamar. Esok pagi adalah hari yang besar untuknya. Namun, lagi-lagi kesedihan akan mengingat pernikahan tanpa orang tua maupun sanak keluarga membuat matanya memanas.


'Seharusnya kau bahagia Sherly. Akhirnya kau tak lagi hidup sendirian. Kau akhirnya punya seseorang yang akan berjanji untuk menjagamu, menemanimu kala suka dan duka.'


Berulang kali Sherly berusaha menguatkan dirinya, tapi air mata itu terus saja keluar dan membasahi pipinya. Pintu kamarnya yang masih terbuka, membuat calon mertuanya leluasa masuk ke dalam kamarnya. Bella yang tengah membawa sebuah kotak perhiasan langsung berjalan dengan cepat saat mendengar tangisan Sherly.


"Ada apa sayang? Kenapa kamu menangis?" Tanya Bella langsung duduk di samping Sherly.


Sherly langsung memeluk Bella dan menumpahkan semua lara nya. Bella dengan lembut mengusap punggung calon menantunya itu.


"Menangis lah jika itu bisa mengurangi duka mu. Setelah itu ceritakan pada Mama apa yang tengah kau pikirkan." Ucap Bella.


Cukup lama Sherly terisak hingga akhirnya tangisnya mereda. Ia meminta izin pada Bella untuk ke kamar mandi. Ia ingin membasuh wajahnya agar merasa lebih segar. Saat ia keluar dari kamar mandi, ternyata Bella sudah duduk bersama dengan Noah.


"Kamu kenapa?" Tanya Noah.


"Mama justru mau nanya sama kamu. Kamu sudah apain Sherly sampai dia menangis?" Tanya Bella dengan nada yang memarahi Noah.


"Loh! Kok aku sih? Aku justru baru tahu kalau dia nangis." Balas Noah.


Sherly tersenyum dan duduk disamping Bella.


"Ma, ini semua gak ada hubungannya sama Noah." Ucap Sherly.


"Tuh kan Mama dengar sendiri. Mama itu asal nuduh saja."


"Iya-iya, Mama salah. Tapi awas aja kalau kamu buat menantu Mama ini sedih. Mama akan minta Papa buat coret kamu dari ahli waris." Ancam Bella.


"Waahh, Mama gak bener ini. Anak Mama itu aku atau Sherly?" Protes Noah.


"Mama milih Sherly, karena dia manis dan mau dipeluk dan dicium Mama. Beda sama kamu yang sejak kecil gak mau Mama peluk dan cium." Balas Bella.

__ADS_1


"Ya Tuhan, ampuni dosa Mama yang sudah tak mau menganggap anak kandungnya lagi." Ucap Noah seraya menengadahkan tangannya ke atas.


Plak...!


Bella memukul punggung Noah dengan kotak perhiasan yang ia bawa.


"Sudah sana keluar. Mama mau bicara berdua dengan menantu Mama. Kamu tidak dibutuhkan lagi disini." Ucap Bella.


"Lihat Sherly. Belum resmi menikah saja, kau sudah membuat Mama mengusirku dari kamarku sendiri. Bagaimana nanti jika kau sudah menjadi isteriku. Bisa-bisa Mama akan mengusirku keluar dari rumah jika aku membuatmu menangis." Ucap Noah seraya berdiri dan hendak berjalan keluar.


Namun, Noah berjalan ke arah Sherly dan berbisik di telinganya.


"Kau harus membayar semua ini besok malam. Aku akan mencabik-cabik dirimu." Ucap Noah dengan nada yang terdengar begitu menggoda di telinga Sherly.


Sontak saja wajah Sherly memerah. Bella dengan cepat mendorong Noah.


"Sana keluar. Sherly alergi dekat-dekat sama kamu. Lihat itu wajahnya sudah memerah." Ucap Bella berusaha menahan tawa.


"Hahaha iya-iya. Aku keluar nih. Tapi ingat ya Sherly, besok malam kamar ini kembali jadi kamarku juga. Dan saat itu, mau kau berteriak meminta pertolongan pada Mama sekalipun. Mama tidak berhak untuk menolong mu. Karena kau sudah menjadi milikku." Teriak Noah di ambang pintu.


Sekuat tenaga Sherly melempar sebuah bantal ke arah Noah yang tertawa. Sementara Bella menggeleng-geleng kan kepalanya.


"Noah mirip sekali dengan Papa nya jika sedang jatuh cinta. Sikap nya yang dingin berbanding terbalik saat merasakan cinta padamu. Dia akan bertindak dan bahkan berbicara bodoh." Ucap Bella.


"Apa Papa juga seperti itu?" Tanya Sherly.


Bella tersenyum sembari mengangguk.


"Papa nya Noah terkenal dengan sikapnya yang dingin. Tapi dihadapan Mama, dia tak lebih seperti suami yang takut pada isteri." Jawab Bella seraya tertawa kecil.


'Ah Erlan, aku benar-benar mencintaimu.' ucap Bella dalam hati.


"Oh ya, sekarang kembali lagi pada masalahmu. Kenapa kau menangis tadi? Apa ada yang mengganjal di hatimu?" Tanya Bella.


Sherly menghela nafas panjang. Pertanyaan Bella kembali membuat dirinya teringat akan sosok kedua orang tuanya. Dia pun menjelaskan pada Bella tentang rasa sedih yang ia rasakan karena pernikahannya yang tak dihadiri kedua orang tuanya.


"Di antara serentetan kesedihan sepeninggal Papa dan Mama, ada satu yang paling menyakitkan. Yakni ketika beliau datang ke mimpi dan membicarakan sesuatu, tentang pernikahan. Masih sangat jelas dalam ingatan, bagaimana alur di mimpi itu membawa saya beserta Papa dan Mama pada sebuah percakapan empat mata. Tak banyak yang mereka bicarakan, hanya memberitahu bahwa mereka takkan ada untuk menemani di hari pernikahanku nanti. Mimpi itu tak berlangsung lama, tapi patah hatinya masih aku rasakan, bahkan tak pernah berkurang sejak hari pertama aku merasakannya.


Aku seringkali berpikir apa yang akan dikatakan Papa dan Mama jika mereka masih ada. Apakah mereka akan meminta ku lekas menikah saja? Apakah mereka juga akan menodong lelaki itu agar segera menikahi tuan putrinya ini? Atau hanya akan bersikap dingin dan berbicara sebutuh nya, sambil setengah menahan cemburu karena tahu cinta sang putri terhadap mereka telah terbagi ke lelaki lain?


Tak ada yang bisa aku lakukan untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu secara langsung. Namun di dalam doa, aku sering berbicara tentang Noah pada mereka. Menceritakan apa yang telah dilakukannya untuk ku yang pasti akan membuat Papa dan Mama sedikit lega di surga.


Hanya melalui doa itu juga aku memohon restu. Entah dengan cara apa aku bisa menerima jawabannya, tapi aku tak bosan-bosan meminta, 'Pah, Mah, aku mau menikah dengannya. Tolong berikan restu kalian, tolong berikan jawaban melalui pertanda, apapun bentuknya..” Ujar Sherly panjang lebar.


Bella tersenyum dan menggenggam erat tangan Sherly.


"Sayang, nasib Mama mungkin bisa dikatakan lebih buruk darimu. Mama sebenarnya tidak ingin menceritakan hal ini kepada siapapun. Tapi karena Mama tahu kamu adalah menantu Mama yang baik, jadi Mama akan mengatakan suatu cerita kehidupan Mama padamu." Ucap Bella serius.


Sherly memperbaiki posisi duduknya dan memasang telinga untuk mendengarkan cerita yang akan disampaikan Bella.


"Kamu terhitung masih beruntung sayang, karena bisa merasakan kasih sayang orang tua yang lengkap hingga dewasa meski akhirnya orang tua kamu meninggalkan kamu. Tapi Mama, Mama tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu. Karena wanita yang melahirkan Mama meninggal dunia saat Mama dilahirkan." Ucap Bella.


Bella kembali menghembuskan nafasnya dengan berat. Ia kembali mengingat rentetan kejadian dalam hidupnya. Bagaimana ia difitnah dan diusir dari rumah hingga melahirkan Noah seorang diri. Namun, kini Tuhan memberikannya kebahagiaan yang berlipat ganda. Bella tak pernah menyangka bahwa ia akhirnya bersatu dengan pria yang merupakan Papa dari anak yang ia lahir kan seorang diri. Kegeniusan Noah, menghantarkan dirinya bertemu dan bersatu dengan Erlan.


Kali ini, kebahagiaan Bella semakin bertambah karena satu lagi tugasnya sebagai orang tua akan segera terlaksana.


"Jadi Sherly, jangan terlalu larut dalam kesedihanmu sayang. Papa dan Mama kamu pasti bahagia melihat kamu bahagia. Dan Mama berjanji akan selalu menyayangi kamu seperti anak Mama sendiri." Ucap Bella.

__ADS_1


Sherly kembali memeluk Bella dengan erat. Ia tak pernah menyangka bahwa nasib yang dialami Mama mertuanya lebih sakit dari yang ia rasakan.


'Terima kasih Tuhan, telah mempertemukan aku dengan keluarga ini.' ucap Sherly dalam hati.


"Khem.... Khemmm...." Suara deheman Erlan terdengar dari pintu kamar.


Erlan tampak berdiri mengenakan piyama tidurnya.


"Aku sudah mencari mu di sekeliling rumah. Ternyata kau ada disini. Sedang apa kau disini dengan memeluk Sherly? Seharusnya kau memeluk suamimu." Ucap Erlan sinis.


Bella tertawa dan berjalan mendekat ke arah Erlan dan langsung memeluknya.


"Ayolah sayang. Kau tidak mungkin cemburu dengan menantu perempuanmu sendiri kan?" Ucap Bella manja. "Aku kemari hanya untuk memberikan perhiasan pernikahan pada Sherly." Lanjut Bella dengan bergelayut manja pada Erlan.


Wajah Erlan yang tadinya marah berubah manja. Erlan sontak langsung menggendong Bella, membuat wanita yang sudah berusia kepala empat itu malu karena dilihat Sherly.


"Sayang, cepat turunkan aku. Malu..." Ucap Bella membenamkan wajahnya di dada Erlan.


"Kenapa harus malu. Aku ini suamimu." Balas Erlan. "Oh ya, untukmu menantuku. Lain kali kau dilarang untuk memeluk isteriku tanpa seizin ku. Kau lebih baik memeluk suamimu." Ucap Erlan seraya berjalan meninggalkan kamar Sherly.


"Tunggu sebentar." Teriak Bella yang membuat langkah Erlan terhenti. "Sherly, jangan lupa pakai perhiasan itu ya besok." Teriak Bella lagi.


Tanpa menunggu jawaban Sherly, Erlan sudah membopong tubuh Bella berjalan ke arah kamar mereka. Sementara Sherly hanya bisa menahan tawa.


"Ya Tuhan, bantu aku bertahan dalam keluarga yang penuh keromantisan ini." Ucap Sherly seraya berjalan ke arah pintu.


Saat hendak menutup pintu, Sherly dikagetkan dengan kehadiran Noah yang tiba-tiba muncul dihadapannya.


"Aku akan memperlakukanmu lebih romantis dari yang dilakukan Papa pada Mama. Tunggu saja besok malam." Ucap Noah kemudian mencium bibir Sherly yang melongo dengan cepat lalu berlari menjauh.


Sepersekian detik hingga akhirnya Sherly tersadar lalu meraba bibirnya.


"Kau sama bodohnya dengan Papa mu." Teriak Sherly.


Saat ia menyadari ucapannya dengan cepat Sherly menutup pintu kamarnya, dan berjalan ke arah tempat tidur. Sherly hanya berharap apa yang ia ucapkan tak di dengar oleh Papa mertuanya.


"Ya Tuhan, lindungi aku." Ucap Sherly lalu memejamkan matanya.


Bersambung....


Hai semuanya....


Apa kabar? 😊😊


Maaf ya, akhir-akhir ini, jadi jarang upload. Karena ada banyak kesibukan di dunia nyata... 😁😁


Semoga kalian masih setia dengan menunggu update dari novel ini ya. Terima kasih banyak untuk semua dukungan kalian... πŸ₯°πŸ₯°


Oh ya, kemarin tepat 16 November, Author merayakan hari jadi loh. Ada yang mau ucapin atau mendoakan... 🀭🀭


Semoga kita semua tetap sehat dan diberikan umur panjang ya... Aamiin... πŸ™πŸ™


Salam sayang,


La-Rayya


__ADS_1


__ADS_2